Takut Kepada Allah Azza wazalla
Halaman ini berisi transkrip Khutbah Idul Fitri 1443 H tentang Takut Kepada Allah Azza Wa Jalla oleh Khatib Ustadz Sri Kusdiyono. Klik daftar isi di bawah untuk langsung ke pembahasan.
DAFTAR ISI - Klik untuk buka
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا، أَمَّا بَعْدُ
فَإِنْ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
Jamaah Id yang dimuliakan Allah Ta'ala,
Kita masih bisa menikmati seluruh kenikmatan yang diberikan oleh Allah Ta'ala pada hari yang mulia ini. Pada hari kemenangan bagi orang-orang yang berpuasa. Allah masih memberikan kita rahmat-Nya, hidayah-Nya, maupun inayah-Nya. Sehingga kita masih mau untuk menjalankan ibadah kepada Allah Ta'ala pada kesempatan yang mulia ini.
Kami akan sedikit memberikan khutbah dengan judul: Takut kepada Allah 'Azza wa Jalla
Sedikitnya Manusia yang Takut kepada Allah
Jamaah rahimakumullah, pada saat sekarang ini sudah sangat sedikit manusia yang merasa takut kepada Allah dengan sebenar-benar takut kepada-Nya. Padahal Allah Ta'ala sudah memperingatkan kepada kita umat manusia bahwa Allah 'Azza wa Jalla sangat keras siksa-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ
Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri-Nya, dan hanya kepada Allah tempat kembali. (QS. Ali Imran: 28)
Takutlah kalian kepada Allah karena sesungguhnya Allah Maha keras siksa-Nya. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak pernah merasa takut kepada Allah sehingga bermudah-mudahan dalam bermaksiat kepada Allah Tabaraka wa Ta'ala. Kita harus senantiasa menyadarinya bahwa Allah Maha keras siksa-Nya.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamd.
Keagungan Allah dan Hakikat Dosa
Allah Maha Besar. Allah-lah yang terbesar di antara yang besar. Allah-lah yang mengurus seluruh kebutuhan makhluk-Nya. Allah-lah yang mengurus langit bumi dan segala isinya. Bahkan Allah-lah yang memberi makan kita semuanya, Allah-lah yang memberi minum kita semuanya, Allah-lah yang mengurus kebutuhan kita semuanya.
Bermaksiat kepada Allah, berdosa kepada Allah tidak seperti berdosa kepada sesama manusia. Seorang yang bijak berkata:
Janganlah kau melihat kecilnya suatu dosa, tetapi lihatlah dengan siapa kalian berurusan dengan dosa tersebut.
Maksiat kepada Allah adalah perkara yang luar biasa besar. Kenapa demikian? Karena Allah-lah yang mengurus kita semuanya. Kita sebagai manusia sangat bergantung pada Allah Ta'ala.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ أَن تَزُولَا وَلَئِن زَالَتَا إِنْ أَمْسَكَهُمَا مِنْ أَحَدٍ مِّن بَعْدِهِ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا
Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi agar tidak lenyap, dan jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang dapat menahannya selain Dia. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun. (QS. Fathir: 41)
Ketika Allah sudah berkehendak untuk menghancurkan langit, untuk menghancurkan bumi, apa daya kita sebagai manusia?
Bermaksiat kepada Allah Ta'ala dosanya sungguh sangat besar. Hak Allah atas hamba-Nya sungguh sangat kecil dibandingkan dengan rahmat Allah kepada kita semuanya. Apa yang diperintah oleh Allah kepada kita umat manusia tidaklah sebanding dengan pahala yang dipersiapkan oleh Allah untuk kita.
Apalah artinya amal kita yang secuil? Apalah artinya sedekah kita yang sedikit? Apalah artinya puasa kita yang hanya satu bulan? Jika dibandingkan dengan surganya Allah Ta'ala yang akan kita dapatkan, tidak ada bandingannya.
Makanya ketika kita bermaksiat kepada Allah Ta'ala itu dosanya besar. Bahwasanya dosa kepada Allah jangan pernah anggap itu remeh. Seseorang ketika memandang dosa-dosa pada dirinya sendiri ada yang menganggap seperti kotoran yang ada di hidungnya, tidak pernah kelihatan. Bahkan banyak di antara umat manusia melakukan dosa sambil tertawa, berbangga-bangga dengan dosa-dosanya.
Kita kaum muslimin semestinya senantiasa merasa takut kepada Allah dengan dosa-dosa kita yang banyak, berusaha untuk senantiasa memperbaiki diri, memperbaiki amal kita. Allah Zat Yang Maha Tinggi, Zat yang mengatur alam semesta.
Allah Pengatur Segala dan Kelalaian Manusia
Allah yang mengatur seluruh sendi kehidupan kita, dari mulai kita bangun sampai kita tidur. Tidak mungkin panjenengan bisa bangun di pagi hari kalau Allah tidak berkehendak untuk membangunkan panjenengan. Tidak mungkin kita bisa minum di pagi hari kalau Allah tidak mengizinkan kita minum.
Makanya jemaah rahimakumullah, takutlah kepada Allah, takutlah kepada siksa Allah Tabaraka wa Ta'ala.
Manusia sekarang kebanyakan mereka tidak merasa takut kepada Allah. Mereka bermaksiat kepada Allah dengan gagah, melakukan banyak dosa dengan bangga, bahkan memamer-mamerkannya di hadapan manusia yang lain. Na'udzubillah. Tidak pernah merasa diawasi oleh Allah, tidak pernah merasa dia punya tanggung jawab bahwasanya itu semuanya akan dipertanggungjawabkan nanti di Yaumul Kiamat.
Bagaimana kita akan menghadap Allah Subhanahu wa Ta'ala kalau kita bergelimang dengan dosa-dosa yang sangat banyak? Allahu Akbar Walillahilham.
Jemaah rahimakumullah, sebuah kemaksiatan itu pasti akan mendatangkan hukuman. Sejarah umat manusia sudah mengabarkan tentang hal itu.
Ibrah dari Kisah Para Nabi dan Malaikat
Kita lihat para nabi, para rasul. Mereka semuanya yang pernah bermaksiat kepada Allah Ta'ala, mereka sangat takut.
Yang pertama, Bapak kita Adam sudah melakukan kemaksiatan kepada Allah dengan hanya melanggar satu perintah Allah Ta'ala, akan tetapi dia menyesal selama 300 tahun. Subhanallah. Kita banyak berbuat dosa tapi penyesalannya jarang.
Yang kedua, Nabi Nuh 'alaihissalam beliau juga pernah berdosa kepada Allah dengan memohon ampunan untuk anaknya yang jelas melakukan kemaksiatan kepada Allah. Akhirnya beliau ditegur oleh Allah. Dia menyesal seumur hidupnya, pernah melakukan kesalahan hanya karena salah mendoakan anaknya. (QS. Hud: 45-47)
Yang ketiga, Nabi Yunus 'alaihissalam dia marah karena kaumnya tidak mau mengikuti seruan beliau. Akhirnya dia pergi meninggalkan kaumnya. Apa yang terjadi? Dia diadzab oleh Allah dengan dimakan oleh ikan paus. (QS. Al-Anbiya: 87)
Itu para nabi ya akhi. Setiap kemaksiatan yang mereka lakukan akan mendatangkan siksa Allah Tabaraka wa Ta'ala. Bagaimana dengan kita? Kita yang banyak bermaksiat kepada Allah tidak pernah mau menyadarinya.
Berapa banyak orang yang tidak mau shalat? Berapa banyak orang yang tidak mau berpuasa? Ini kemaksiatan kepada Allah. Apakah mereka mengira akan aman dari azab Allah? Tidak akan. Tidak akan ada orang yang luput dari azab Allah, ya akhi.
Nabi Ibrahim 'alaihissalam dalam hidupnya tiga kali pernah berdusta kepada manusia. Dia senantiasa takut bahwa kedustaannya itu akan membuat dia diadzab oleh Allah. (HR. Bukhari no. 3358, Muslim no. 2371). Sekarang kita bertanya kepada diri kita: berapa kali kita pernah berdusta? Setiap kedustaan adalah kemaksiatan. Setiap kedustaan adalah dosa yang pasti akan dihisab oleh Allah.
Orang-orang kafir, orang munafik senantiasa menganggap enteng dosa-dosa mereka. Sedangkan orang beriman semestinya merasa takut, merasa takut atas dosa-dosa yang sudah dia lakukan.
Bahkan para malaikat, ciptaan Allah Ta'ala, mereka senantiasa takut kepada Allah. Padahal malaikat lebih gagah dari panjenengan, malaikat lebih kuat daripada kita. Akan tetapi tunduk patuh kepada perintah Allah. Tidak pernah sedikit pun mereka membangkang perintah Allah. Apapun yang diperintah oleh Allah, mereka laksanakan dengan tunduk patuh. Sedangkan manusia, apa yang dibanggakan? Sebentar lagi juga mati, sebentar lagi juga dikubur.
Kematian, Surga Neraka dan Sifat Orang Bertakwa
Apa yang kita banggakan? Tidak ada. Ketika kematian menjemput kita, tidak ada yang dapat menolong kecuali kita taat kepada Allah Ta'ala, kecuali kita mendapatkan rahmat Allah. Kita selamat di dunia dan akhirat.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ هُم مِّنْ خَشْيَةِ رَبِّهِم مُّشْفِقُونَ وَالَّذِينَ هُم بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ وَالَّذِينَ هُم بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan azab Tuhan mereka, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Tuhan mereka, dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka, dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut, karena mereka tahu bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. (QS. Al-Mu'minun: 57-60)
Orang-orang yang benar keimanannya kepada Allah Ta'ala senantiasa takut akan azab Allah dan mengharapkan untuk dimasukkan ke dalam surga. Karena sesungguhnya azab Tuhan kalian itu tidak akan ada yang merasa aman.
Kemaksiatan, dosa yang kita lakukan itu semuanya akan diadzab oleh Allah Ta'ala kalau kita tidak sempat untuk taubat, kalau Allah tidak mengampuni, kalau Allah tidak menghapuskan dosa-dosa kita. Nerakalah tempat tinggal kita.
Mumpung kita masih diberi kesempatan oleh Allah untuk menghirup udara, mumpung kita masih diberi kesempatan untuk bertobat, taubat sekarang. Jangan tunggu mati.
Jemaah rahimakumullah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika berkhutbah di hadapan manusia, sungguh sangat berapi-api mengingatkan. Karena Rasulullah sangat sayang kepada umatnya, mengingatkan bahwa azab Allah itu sangat keras.
Ketika seorang dimasukkan ke dalam neraka dia akan disiksa selama-lamanya. Tidak akan hidup dan tidak mati selamanya, kan disiksa. Mereka senantiasa setiap hari mengharapkan kematian akan tetapi kematian tersebut tidak datang. Itulah azab Allah Ta'ala. (QS. Fathir: 36)
Ketika Allah dan Rasul-Nya mengabarkan kepada kita semuanya tentang dahsyatnya neraka, tentang bagaimana Allah mempersiapkan bagi orang-orang yang durhaka kepada Allah, yang tidak mau mengikuti perintah Allah.
Akan kekal kehidupan kita di dunia berapa tahun lagi? Berapa sisa umur kita? Ketika kita sudah dijemput oleh malaikat maut, kita akan hidup selamanya. Tempatnya hanya ada dua: di surga atau neraka. Hanya itu pilihannya. Yang menentukan hari ini kita mau masuk ke mana.
Allah sudah membuka pintu taubat selebar-lebarnya, memudahkan jalan bagi umat manusia untuk bertobat. Ketika nanti ada umat manusia yang masuk ke neraka, bukan karena Allah zalim, akan tetapi kita yang zalim pada diri kita sendiri.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
اطَّلَعْتُ فِي الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا الْفُقَرَاءَ، وَاطَّلَعْتُ فِي النَّارِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ
Aku mendatangi surga, kulihat kebanyakan penduduknya adalah para fakir miskin. Dan aku mendatangi neraka, maka aku lihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita. (HR. Bukhari no. 3241, Muslim no. 2737)
Para istri, para ummahat, para kaum muslimat yang dirahmati oleh Allah, ingat: kebanyakan penghuni neraka adalah kaum wanita, kata Rasulullah. Karena mereka banyak mengumpat, karena mereka banyak mencaci suami, tidak bersyukur.
Itu bukan dosa besar ya, mengumpat, tidak bersyukur. Berbeda dengan dosa ketika kita meninggalkan shalat. Ini maklum untuk para kaum wanita, kaum muslimah: segera berbuat baik sebanyak-banyaknya agar Allah mengampuni. Karena setiap kebaikan pasti akan menghapus keburukan-keburukan. Perbanyak amal, perbanyak sedekah agar supaya menghapuskan dosa.
Bahaya Harta dan Kewajiban Zakat
Begitu juga kepada para pemilik harta. Mumpung masih diberi kesempatan oleh Allah, jangan sampai harta panjenengan menjadikan panjenengan ditimpa oleh Allah.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
مَا مِنْ صَاحِبِ ذَهَبٍ وَلَا فِضَّةٍ لَا يُؤَدِّي مِنْهَا حَقَّهَا إِلَّا إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ صُفِّحَتْ لَهُ صَفَائِحُ مِنْ نَارٍ فَأُحْمِيَ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَيُكْوَى بِهَا جَنْبُهُ وَجَبِينُهُ وَظَهْرُهُ كُلَّمَا بَرَدَتْ أُعِيدَتْ لَهُ
Siapa saja yang memiliki emas dan perak tetapi tidak mengeluarkan zakatnya, melainkan pada hari kiamat nanti akan disepuh untuknya lempengan dari api, dan punggungnya akan disetrika dengan lempengan tersebut. Setiap kali lempengan tersebut dingin akan disepuh kembali. (HR. Bukhari no. 1402, Muslim no. 987)
Siksaan Allah tidak ada bandingnya. Tidak ada orang yang bisa menyiksa dibandingkan dengan siksaan Allah. Tidak ada orang yang bisa mengikat dibandingkan dengan ikatan Allah Ta'ala.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka berilah mereka kabar gembira dengan azab yang pedih. (QS. At-Taubah: 34)
Penutup dan Muhasabah Pasca Ramadan
Itulah gambaran dari Allah Ta'ala. Ketika kita sudah mendapatkan gambaran hal tersebut, kita bertanya kepada diri kita masing-masing: apakah taubat kita diterima? Apakah amalan-amalan kita yang selama kita kerjakan diterima oleh Allah Ta'ala?
Siapakah yang menjamin? Dosa dan kemaksiatan sudah pasti kita lakukan, sudah tercatat di dalam kitab amal kita. Tetapi ampunan dari Allah Ta'ala tidak ada yang bisa menjamin kita diampuni. Tidak ada.
Bahkan orang yang rajin shalat, rajin puasa, siapa yang menjamin dia masuk surga? Tidak ada yang bisa, kecuali orang yang sudah digambarkan oleh Rasulullah untuk masuk surga.
Jamaah rahimakumullah, kita terkadang tertipu dengan merasa aman bahwasanya kita ketika sudah berpuasa sebulan seperti sudah tidak punya dosa. Sehingga sehabis berpuasa kita kembali melakukan kemaksiatan-kemaksiatan pada Allah.
Padahal di antara tanda diterimanya sebuah amal saleh adalah amal yang berkelanjutan. Barang siapa yang diterima amalnya, dia akan senantiasa istiqomah di jalan kebenaran. Akan tetapi ketika setelah Ramadhan ini kita melemah, kita tidak bersemangat lagi dalam beribadah, itu tandanya amalan kita belum tentu diterima oleh Allah Ta'ala.
Sekali lagi: dosa dan kemaksiatan kita sudah jelas tertulis, sudah pasti. Sedangkan amalan-amalan kita belum pasti diterima oleh Allah.
Untuk itu jamaah yang dirahmati oleh Allah, marilah kita senantiasa berusaha untuk meningkatkan diri kita, meningkatkan amal ibadah kita, dan senantiasa berusaha untuk memperbaikinya. Dengan senantiasa memohon kepada Allah agar Allah senantiasa memberikan kekuatan kepada kita untuk beramal saleh, untuk beramal sebanyak yang mungkin kita bisa.
Mumpung kita masih diberi kesempatan oleh Allah. Ketika kita pernah berbuat zalim kepada siapapun juga, halalkan hari ini. Jangan sampai kita tunda sampai nanti mati. Karena ketika mati kita sudah tidak punya apa-apa. Kesalahan yang kita lakukan hari ini, tuntaskan hari ini, sewaktu di dunia, selagi kita masih hidup. Agar kita kembali kepada Allah Ta'ala tidak terlalu banyak membawa bekal dosa.
Jamaah shalat Id yang dirahmati oleh Allah, pada akhirnya marilah kita berdoa:
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ مُبَارَكًا عَلَيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا فَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اَللَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
اَللَّهُمَّ رَبَّ الْعَالَمِينَ أَقُولُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Komentar
Posting Komentar