Sejarah Agama Islam Di Cikadu Lumbir
Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wash shalatu was salamu ‘ala asyrafil anbiya’i wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.
Mukadimah & Niat Penulisan
Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan hidayah Islam ke bumi Lumbir lewat tangan para pendahulu kita. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, suri teladan dalam dakwah dan kesabaran.
Menulis sejarah bukanlah untuk berbangga-bangga dengan masa lalu. Tapi untuk tiga hal: bersyukur kepada Allah, berterima kasih kepada para Eyang yang jadi wasilah hidayah, dan memberi pijakan kepada anak cucu agar tahu dari mana mereka berasal.
Allah berfirman:
وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنفَعُ الْمُؤْمِنِينَ
"Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. [QS. Adz-Dzariyat: 55]
Semoga tulisan yang sedikit ini jadi pengingat dan wasilah silaturahmi keluarga besar Cikadu Lumbir.
Keterbatasan Data & Kejujuran Penulis
Untuk pembahasan kali ini kami akan menceritakan sedikit Sejarah Agama Islam di Desa Lumbir. Kami sadar tulisan ini masih jauh dari lengkap. Keterbatasan informasi jadi kendala utama kami.
Sebabnya sederhana : Eyang kita terdahulu tidak meninggalkan tulisan. Mereka juga jarang bercerita panjang kepada anak-anaknya. Mungkin dulu kesibukan hidup lebih utama daripada mencatat sejarah.
Bangun pagi ke sawah, pulang maghrib, capek, tidur. Nulis? Kertas aja susah. Akibatnya, ketika kami menelusuri dan bertanya kepada orang yang sudah lanjut usia, kebanyakan dari mereka juga tidak mengetahui secara detail. Ingatannya sudah dimakan usia, atau memang dulu tidak diceritakan.
Karena itu, di sini kami tidak berani memastikan kapan dan bagaimana awal Islam masuk ke Desa Lumbir. Kalau kami langsung menulis dengan gaya "dulu kejadiannya begini tanggal sekian", itu namanya mengada-ada. Kami hanya bisa menukil perkataan dari orang yang pernah kami temui. Apa yang mereka ingat, itu yang kami tulis. Selebihnya kami serahkan kepada Allah Yang Maha Mengetahui.
Jejak Eyang Sanraji & Pertanyaan Besar
Bab yang telah lalu dari Sililah Keluarga Eyang Sanraji, kami telah menceritakan sedikit kehidupan beliau. Tapi sebelum beliau datang ke Desa Lumbir, kami tidak mengetahui Desa Lumbir dihuni oleh berapa keluarga, berapa orang. Data kependudukan zaman itu memang tidak ada yang menyimpan. Belanda aja mungkin belum masuk sedalam itu.
Yang jadi pertanyaan besar: silsilah keluarga kan banyak. Tidak keluarga Eyang Sanraji saja. Ada Eyang Mursyid, ada Eyang Madiksan, ada Eyang Jaya Mustama, dan lainnya. Lalu apakah orang pertama dari silsilah keluarga yang lain sudah beragama Islam? Atau mereka masuk Islam setelah Eyang Sanraji datang dan mengajar? Pertanyaan ini penting, karena menyangkut asal-usul akidah kita. Tapi jawabannya belum kami temukan. Masih jadi tanda tanya besar.
Upaya Penelusuran & Nama-nama Eyang
Kami sendiri sudah berusaha mencari orang yang sepadan umurnya, sezaman dengan Eyang Sanraji. Kami jalan ke rumah Mbah ini, ke rumah Mbah itu. Sayangnya kebanyakan yang kami temui adalah pendatang dari luar Lumbir. Untuk orang pribumi asli Desa Lumbir, jejaknya sulit kami lacak. Mungkin karena waktu sudah terlalu jauh, mungkin karena memang tidak ada yang mencatat, mungkin juga karena dulu perpindahan penduduk memang tinggi.
Misalkan silsilah dari Eyang Mursyid, Eyang Madiksan, Eyang Jaya Mustama, Eyang Martawi, Eyang Jaya Nangga, Eyang Lebe. Orang tua mereka mungkin sezaman dengan Eyang Sanraji. Kalau Eyang Lebe kami dengar berasal dari Cidora. Nama-nama itu masih kita sebut sampai sekarang. Tapi untuk semua nama itu, kami belum menemukan bukti kuat berupa catatan, prasasti, atau cerita turun-temurun yang jelas bahwa mereka terkenal menyebarkan Agama Islam. Ada yang shalih, ada yang disegani masyarakat, ada yang ahli silat, tapi peran mereka dalam dakwah secara khusus belum bisa kami pastikan.
Ini bukan berarti jasa mereka kecil. Bisa jadi mereka berjasa besar, cuma kita yang belum tahu. Makanya penelitian harus jalan terus.
Seruan Mengumpulkan Kepingan Sejarah
Karena keterbatasan ini, kami membuka pintu lebar-lebar. Kami nggak mau sejarah ini mati di tangan kami. Barang kali Bapak, Ibu, Saudara/saudari khususnya masyarakat Desa Lumbir ada yang mengetahui. Entah itu cerita dari kakek-nenek waktu masih kecil, catatan tua di lemari, foto makam Eyang, nama masjid/mushalla pertama di Cikadu, atau bahkan sekedar nama dukuh yang punya makna Islami. Satu keping informasi dari Panjenengan bisa menyambung sejarah yang putus. Jangan disimpan sendiri. Tulis, rekam, kirim ke kami.
Pembaca yang budiman, mari kita bayangkan sejenak: sebelum Eyang Sanraji datang ke Desa Lumbir, agama apa yang mereka yakini? Apakah Animisme, Dinamisme, Kejawen, Aboge, Abangan, atau yang lainnya? Suasana Lumbir dulu seperti apa? Ada masjid belum? Adzan berkumandang dari mana?
Kami tidak mengetahui. Dan kami memilih untuk tidak menebak. Karena menebak sejarah tanpa dalil dan saksi itu sama saja berbohong kepada anak cucu kita kelak. Lebih baik kita tulis "kami belum tahu" daripada menulis cerita yang salah.
Kesimpulan Sementara
Yang pasti dan yang bisa kami simpulkan dari data yang ada sekarang: Pembawa Agama Islam yang pertama dan yang menyebarkan Agama Islam sampai sekarang di Cikadu Lumbir yaitu Eyang Sanraji. Jasa beliau nyata. Mushalla berdiri, anak-anak ngaji, adzan 5 waktu. Ajarannya masih hidup di anak cucu. Itu bukti paling kuat.
Pelajaran yang Bisa Kita Ambil
1. Sejarah lisan itu rapuh. Kalau nggak segera ditulis, 10 tahun lagi hilang. Makanya ayo kita catat sekarang.
2. Jangan malu bilang "nggak tahu". Itu adab ulama. Yang bahaya itu sok tahu.
3. Eyang Sanraji ngajarin kita: dakwah nggak butuh panggung besar. Cukup istiqomah ngajarin satu orang, nanti jadi banyak.
4. Tugas kita sekarang nerusin. Nerusin ngaji, nerusin shalat, nerusin akhlak baik. Itu bentuk terima kasih paling nyata ke Eyang.
Catatan Penulis
Tulisan ini kami buat apa adanya. Yang ada datanya kami tulis. Yang belum ada datanya kami kosongkan dan kami akui keterbatasan kami. Tujuannya bukan untuk menggurui, tapi untuk mengajak semua keturunan Cikadu Lumbir bareng-bareng mengumpulkan kepingan sejarah. Kalau ada kekeliruan, itu dari kami. Kalau ada benarnya, itu taufik dari Allah.
Doa Penutup
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِسَانْرَاجِي وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَاجْعَلْ قَبْرَهُ رَوْضَةً مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ
"Ya Allah, ampunilah Sanraji, rahmatilah dia, selamatkanlah dia, maafkanlah dia, dan jadikanlah kuburnya taman dari taman-taman surga.
آمِينَ يَا رَبَّ العَالَمِينَ
Jakarta, 32 Juli 2016
Penulis : Suyitno
Refisi,10 Juni 2026
