Keutamaan Menyambung Silaturahim


Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillahirabbil ‘alamin, wasshalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya-i wal mursalin, Sayyidina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Sesungguhnya menyusun silsilah keluarga bukanlah perkara yang mudah. Ia menuntut kerja keras, ketelitian, serta kesabaran yang panjang. Perlu menelusuri satu persatu, bertanya dari keluarga yang satu kepada keluarga yang lain, membuka kembali ingatan yang mulai samar, dan menyambung benang sejarah yang terkadang telah terputus oleh waktu.

Terlebih lagi, banyak dari keluarga kita sendiri yang sudah tidak lagi mengetahui nama-nama leluhur secara lengkap. Jarak yang memisahkan, zaman yang terus berganti, serta wafatnya para sesepuh yang menjadi sumber cerita, menjadikan ikhtiar ini semakin berat. Namun demikian, semua itu tidak menyurutkan niat kami untuk tetap berikhtiar menyusun dan mendokumentasikannya.
Keutamaan Menyambung Silaturahi,hiasa plafon dinding masjid yang indah
Tautan Penting
→ Empat Jalur Penulis Silsilah Keluarga Cikadu Lumbir: cek di sini. 
→ Kumpulan Tulisan Admin Lumbir Mengaji: buka di sini. 

Kami menyadari sepenuhnya, bahwa apa yang kami tulis dan kami publikasikan di blog serta media sosial ini tentu masih jauh dari sempurna. Masih banyak kekurangan, masih banyak nama yang belum tercantum, bahkan mungkin ada kekeliruan dalam penulisan. 

Untuk itu, dengan segala kerendahan hati dan lapang dada, kami sangat membuka pintu untuk masukan, koreksi, serta kritik yang membangun dari seluruh keluarga. Sebab kami yakin, silsilah ini bukan milik kami pribadi, melainkan milik kita semua.

Kami tidak berharap sanjungan. Kami juga tidak alergi terhadap perbedaan pendapat. Ada yang pro, ada pula yang kontra, dan itu adalah hal yang wajar. Yang terpenting, niat kami hanya satu: agar tali silaturahim di antara kita tidak terputus oleh sebab ketidaktahuan.

Sekali lagi kami tegaskan, tujuan utama kami menelusuri dan mempublikasikan silsilah keluarga ini adalah sebagai wasilah untuk saling mengenal.
Barangkali ada di antara keluarga yang ingin mengetahui asal-usulnya, ingin tahu ia keturunan siapa, maka cukuplah dengan melihat tulisan ini. Walaupun sederhana, semoga ia bisa menjadi jembatan penghubung hati.

Tauhid ,Bakti Orang Tua dan Silaturahmi Kerabat.

Allah Ta'ala berfirman:  

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا  

“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri”[QS. An-Nisa: 36]

Penjelasan:
Allah langsung gandeng 3 hal dalam satu ayat: tauhid, bakti ke orang tua, dan silaturahim ke kerabat. Bahkan dilanjut ke anak yatim, orang miskin, tetangga, sampai hamba sahaya. Ini nunjukin bahwa Islam itu agama yang sempurna. Ibadah ke Allah nggak bisa dipisah dari akhlak ke sesama manusia. Orang yang ngaku bertauhid tapi durhaka ke ortu dan mutusin hubungan sama saudara, berarti ada yang cacat dalam agamanya. Allah tutup ayat ini dengan ancaman buat orang sombong. Karena biasanya yang mutusin silaturahim itu sebabnya sombong, merasa nggak butuh keluarga.

Ayat yang lain Allah Ta'ala berfirman: 
 
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا  

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak” [QS. Al-Isra: 23]

Penjelasan:  
Di ayat ini Allah pakai kata "qadha" artinya menetapkan dengan keputusan yang nggak bisa ditawar. Setelah larangan syirik, kewajiban pertama yang disebut adalah berbuat baik ke orang tua. Dari orang tua inilah lahir semua kerabat kita: paman, bibi, kakek, nenek, sepupu. Jadi birrul walidain itu pintu gerbang menuju silaturahim. Kalau sama ortu aja nggak baik, gimana mau nyambung sama kerabat yang lain.

Sebab sungguh, di antara keutamaan menyambung silaturahim adalah dilapangkannya rezeki dan dipanjangkannya umur. 

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:  

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ  

“Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” [HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557]

Penjelasan:  
Hadits ini jaminan langsung dari Nabi. Mau rezeki lancar? Mau umur berkah? Kuncinya sambung silaturahim. Ulama jelasin "dipanjangkan umur" itu bisa dua makna: pertama umur kita beneran ditambah sama Allah, kedua umur kita berkah walau pendek tapi bekas kebaikannya panjang. Banyak diingat orang, pahalanya ngalir terus.

Dan telah berkata sahabat yang mulia, Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma:  

مَنِ اتَّقَى رَبَّهُ وَوَصَلَ رَحِمَهُ نُسّىءَ فِي أَجَلِه وَثَرَى مَالَهُ وَأَحَبَّهُ أَهْلُهُ  

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Rabb-nya dan menyambung silaturahmi, niscaya umurnya akan diperpanjang, hartanya akan diperbanyak, serta keluarganya akan mencintainya.”[Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 58, hasan]

Penjelasan:  
Ini pengalaman sahabat Nabi al. Beliau ngeliat sendiri, orang yang takwa dan nyambung silaturahim hidupnya 3 dapat: umur berkah, harta nambah, disayang keluarga. Kebalikannya, orang yang mutusin silaturahim hidupnya sempit walau hartanya banyak.

Sebaliknya, Allah juga mengancam orang yang memutus silaturahim. 

Allah Ta'ala berfirman:  

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ  

“Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” [QS. Muhammad: 22]

Penjelasan:  
Allah samain orang yang mutusin silaturahim sama orang yang bikin kerusakan di bumi. Berat  ancamannya. Karena putusnya silaturahim itu awal dari permusuhan, dendam, sampai pertumpahan darah. Makanya Islam keras banget soal ini.


Dengan mengetahui silsilah keluarga, meskipun kita belum mampu untuk saling berkunjung ke rumah karena jarak dan kesibukan, setidaknya kita sebagai seorang muslim bisa saling mendoakan kebaikan. Kita sebut nama-nama mereka dalam doa-doa kita. 

Semoga dengan itu, hati kita menjadi lembut, tidak ada lagi permusuhan, dan hubungan kekeluargaan kita semakin erat karena Allah ta’ala.

Demikian sedikit ulasan sebagai penutup dari kami. Kami memohon kepada Allah agar tulisan yang penuh kekurangan ini dicatat sebagai amal shalih, menjadi pemberat timbangan kebaikan, serta menjadi sebab tersambungnya kembali tali persaudaraan di antara kita semua.

Mohon maaf atas segala khilaf dan kekurangan. Kesempurnaan hanyalah milik Allah, sedangkan kesalahan dan kealpaan adalah dari kami sebagai manusia.

Wallahu a’lam bish shawab. 

Jakarta, 31 Oktober 2016  
Penulis: Suyitno

Komentar