Kisah Kesalehan Eyang Suaeb cikadu lumbir
Kisah kesalehan Eyang Suaeb Cikadu Lumbir. Kedermawanan, kesederhanaan hidup, dan tanda husnul khatimah di akhir hayat beliau. Baca selengkapnya di bawah ini.
DAFTAR ISI - Klik untuk buka
Muqoddimah
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala, Dzat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
Semoga kisah kesalehan Eyang Su’aeb ini menjadi cermin bagi kita semua keturunan Cikadu Lumbir untuk meneladani kedermawanan, kesederhanaan, dan husnul khatimah.
Kehidupan Sederhana Eyang Suaeb
Di masa hidup Eyang Su’aeb, sewaktu masih remaja dibawa jin/kelong, di hari tua beliau sangat penakut, ke mana-mana ditemani. Kehidupan beliau sangat sederhana, di samping guru mengaji, Eyang Su’aeb mencari nafkah sebagai pengrajin anyaman dari bambu (misal bikin tampah, kusan, ilir dll).
Kisah Kedermawanan Eyang Suaeb
Menceritakan kepada kami Ibu Lasiyah: kehidupan di masa itu sangat sulit, banyak masyarakat kekurangan dan kelaparan, banyak yang mengemis/minta makan. Karena kasihan, Eyang Su’aeb setiap hari menanak nasi dicampur oyek, terus dibungkus dan dibagi-bagikan kepada masyarakat.
Sempat beliau berhutang untuk membeli singkong dibikin oyek, padahal beliau hidup sederhana. Kami yang menulis sangat terharu (meneteskan air mata), bisakah kita zaman sekarang mencontoh beliau! Demi orang lain beliau rela berhutang.
Sungguh mulia akhlak beliau. Sedekah di masa sulit itulah yang paling dicintai Allah. Nabi ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ
"Amalan yang paling dicintai Allah adalah kegembiraan yang engkau masukkan ke hati seorang muslim." [HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Ausath no. 6026]
Allah juga memuji orang yang mendahulukan orang lain:
وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
"Dan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam keadaan kekurangan." [QS. Al-Hasyr: 9]
Beda zaman sekarang, hidup penuh dengan persaingan masalah dunia, berlomba-lomba memperbanyak harta. Islam tidak melarang mengumpulkan harta, akan tetapi janganlah karena mencari harta melalaikan kehidupan abadi yaitu akhirat.
Allah mengingatkan kita:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari dunia." [QS. Al-Qashash: 77]
Di samping Eyang Su’aeb membuat kerajinan, istri beliau Eyang Ratem sebagai tukang bekam/turak dan alhamdulillah kami pribadi, mungkin ada keturunan dan diberikan kesempatan memiliki alat bekam, sudah banyak yang kami bekam.
Baca juga: Kisah Eyang Suaeb Dibawa Jin Cikadu Lumbir
Di Akhir Hidup Eyang Suaeb
Ibu Lasiyah menceritakan: sebelum detik-detik meninggal dunia, sempat Eyang Su’aeb bilang kepada Ibu Lasiyah ”Ibu Lasiyah! di dinding/ternit ada cahaya/bentuk seperti orang.” Ibu Lasiyah bingung, ga ada apa-apa, kok Eyang Su’aeb melihat ada cahaya/bentuk seperti orang.
Tanda Kebaikan Saat Wafat
Peristiwa melihat cahaya atau sosok orang menjelang wafat termasuk kabar gembira dari Allah. Para ulama menjelaskan itu bisa jadi malaikat pembawa rahmat yang datang menjemput ruh orang beriman.
Allah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu." [QS. Fushshilat: 30]
Nabi ﷺ juga bersabda tentang ruh orang mukmin:
يَأْتِيهِ مَلَكُ الْمَوْتِ حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ... فَيَقُولُ اخْرُجِي أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ
"Malaikat maut datang lalu duduk di dekat kepalanya... lalu berkata: Keluarlah wahai jiwa yang baik menuju ampunan Allah dan keridhaan-Nya." [HR. Ahmad no. 18534, dishahihkan Al-Albani]
Maka mudah-mudahan apa yang dilihat Eyang Su’aeb itu benar tanda husnul khatimah. Wajah bercahaya, ketenangan, dan melihat sosok baik menjelang wafat adalah di antara tanda-tanda orang yang diridhai Allah.
Apakah yang dilihat oleh Eyang Su’aeb sebelum meninggal tanda kebaikan beliau? Mudah-mudahan apa yang dilihat Eyang Su’aeb merupakan tanda husnul khatimah. Kami berdo’a, mudah-mudahan Allah Ta'ala memberikan Surga Firdaus kepada beliau… Aamiin.
Lumbir, 7 Agustus 2016
Penulis: Suyitno
