Tujuan Didirikannya Lumbir Mengaji
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rabb semesta alam yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada keluarga beliau, para sahabatnya, dan seluruh pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.
Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rahmat-Nya yang tiada terhingga, kita sebagai hamba-Nya yang lemah ini diberikan begitu banyak nikmat. Nikmat sehat, nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat bisa bernafas di pagi hari. Namun di zaman sekarang ini, ada satu nikmat yang mungkin dulu tidak terbayangkan oleh para ulama terdahulu: yaitu nikmat dimudahkannya kita dalam menuntut ilmu.
Dulu, untuk mendapatkan satu kitab, seseorang harus berjalan berhari-hari, menyeberangi lautan, menanggung lelah dan lapar. Sekarang, dengan satu klik di HP, ribuan kajian ulama, tafsir Al-Qur’an, dan buku-buku Islam bisa kita akses. Inilah yang disebut nikmat teknologi.
Internet mungkin sudah tidak asing lagi, baik bagi masyarakat kota maupun desa. Manfaatnya sangat besar, terutama bagi perangkat desa yang butuh informasi, guru dan pelajar yang butuh referensi, karyawan kantor yang butuh wawasan, hingga ibu rumah tangga yang ingin belajar agama dari rumah.
Bagi kami pribadi, bisa berbagi melalui media ini adalah anugerah yang sangat besar. Dulu, ketika pertama kali mengenal warnet dan internet, hati ini hanya bisa berucap syukur. Karena kami sadar, semua ini bukan karena kepintaran atau kehebatan kita. Bisa punya HP Android, bisa ngetik walau 2 jari, bisa upload video walau sinyal naik-turun, semua itu murni taufik dan hidayah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Seandainya Allah tidak izinkan, mau secanggih apapun teknologi di tangan kita, ia akan terasa hampa. Maka pantaslah kita selalu mengucapkan “Alhamdulillah” atas nikmat yang satu ini.
Mengapa Bernama “Lumbir Mengaji”?
Adapun tujuan kami membuat saluran Youtube,Blog Facebook, dan Instagram, tidak lain adalah untuk ikut andil dalam perintah Allah untuk tolong-menolong dalam kebaikan. Sebagaimana firman-Nya dalam Surat Al-Maidah ayat 2:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”
Ayat ini menjadi pijakan kami. Kami bukan ustadz, bukan kyai, bukan orang alim. Kami hanya pedagang roti keliling yang ingin “nebeng pahala” dengan cara menyebarkan kebaikan lewat tulisan dan video.
Lalu, kenapa kami memberi judul “Lumbir Mengaji”?
Jawabannya sederhana, tapi penuh makna: karena tempat lahir kami adalah Desa Lumbir, tepatnya dari Cikole/Grumbul Cikadu, Desa Lumbir, Kecamatan Lumbir, Kabupaten Banyumas. Tanah kelahiran itu tidak bisa dilupakan. Dari sanalah kami belajar bicara, belajar ngaji Iqro’, dan belajar arti hidup sederhana.
Kami ingin membawa nama kampung halaman ke dunia maya. Agar orang di Jakarta, di Depok, bahkan di luar negeri kalau searching “Lumbir” yang muncul bukan hanya berita banjir atau jalan rusak, tapi juga muncul kajian, ayat Al-Qur’an, dan nasehat kebaikan.
Pasti ada yang bertanya lagi: “Lumbir kan nama desa, kenapa ditambah kata Mengaji?”
Izinkan kami jelaskan 2 alasannya:
1. Kata “Lumbir”
Kami sengaja memakai nama desa, bukan nama grumbul seperti Surandaka atau Cikole. Karena “Lumbir” lebih luas jangkauannya dan mudah dikenal masyarakat umum. Harapannya, siapa saja yang kangen kampung halaman, atau penasaran dengan Desa Lumbir, bisa mampir ke blog ini dan pulang membawa ilmu.
2. Kata “Mengaji”
Kami terinspirasi dari semangat Bapak Sri Kusdiono dalam menyampaikan dakwah. Beliau gigih mengajak orang ke majelis ilmu. Kami tidak bisa seperti beliau, maka kami ambil peran kecil: membantu mendokumentasikan dan menyebarkan.
Dengan adanya Youtube, kami bisa upload video pengajian. Dengan adanya Blog/Web, kami bisa menyimpan artikel agar tidak hilang dimakan zaman.
Makna “Mengaji” di sini sangat luas. Mengaji tidak harus duduk bersila di masjid dengan kitab kuning. Mengaji bisa dengan scroll artikel 5 menit sebelum tidur. Mengaji bisa dengan dengerin murottal sambil dorong gerobak roti. Mengaji bisa dengan nonton video 3 menit tentang adab. Intinya, selama hati kita teringat akhirat, itu sudah termasuk mengaji.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” HR. Ibnu Majah no. 224, dishahihkan Syaikh Al-Albani
Hadits ini peringatan keras untuk kita. Menuntut ilmu bukan hanya untuk santri di pesantren. Tapi wajib untuk pedagang, petani, PNS, ibu rumah tangga, semuanya. Karena tanpa ilmu, ibadah kita bisa salah. Tanpa ilmu, hidup kita bisa melenceng.
Harapan dan Doa Kami
Lumbir Mengaji kami awali dengan menulis silsilah keluarga dan kondisi masyarakat lingkungan kami. Bukan untuk pamer, tapi agar pembaca tahu: yang nulis ini orang biasa, orang desa, orang yang sama-sama sedang belajar.
Harapan kami sederhana: semoga semakin banyak yang mengunjungi Blog/Web Lumbir Mengaji. Semoga Allah mudahkan kami untuk terus berbagi artikel-artikel tentang perkara agama, walau ilmunya setetes. Karena setetes air yang terus menetes bisa melubangi batu.
Kami tidak berharap dipuji, tidak berharap viral, tidak berharap Adsense gede. Kami hanya berharap satu: semoga Allah menerima amal kecil ini. Semoga setiap huruf yang diketik, setiap video yang diupload, jadi saksi kebaikan di hadapan Allah kelak.
Siapa tahu, ada satu orang yang tadinya malas shalat, lalu baca artikel di blog ini lalu tersentuh. Ada satu ibu yang tadinya ghibah, lalu nonton video nasehat lalu bertaubat. Pahala itu akan terus mengalir kepada kami, meski jasad sudah terkubur di Cikadu.
Kami sadar, tulisan ini jauh dari sempurna. Pasti banyak typo, banyak kekurangan ilmu, banyak bahasa yang kaku. Karena kami memang bukan penulis profesional. Kami hanya hamba Allah yang sedang belajar, terus belajar, dan berusaha mengamalkan semampunya.
Maka, jika pembaca menemukan kebaikan di blog ini, itu semua karena Allah. Jika ada kesalahan, itu murni kebodohan dan kelalaian kami. Kami mohon maaf dan mohon diluruskan.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan usaha kecil ini bermanfaat untuk umat, menjadikannya ikhlas 100% karena-Nya, dan menjadikannya pemberat timbangan amal kebaikan pada hari kiamat kelak.
Aamiin, aamiin, ya Rabbal ‘alamin.
Jakarta, 11 September 2016
Penulis: Suyitno
Komentar
Posting Komentar