Bersyukur Menjadi Warga Cikadu Lumbir



Renungan Mengamalkan Syariat di Tengah Masyarakat

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruh. Wa asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh.

Pada kesempatan kali ini kami menceritakan perjalanan seorang muslim mengamalkan syariat, dari dulu sampai sekarang. Perbedaan dalam masalah agama, baik akidah, ibadah, muamalah, adalah takdir dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah sudah memberi fasilitas dan akal untuk membedakan yang baik dan buruk.


Perbedaan dalam agama adalah takdir  

Setiap perbedaan Allah beri pilihan. Kewajiban kita mencari kebenaran dengan belajar dan mengaji.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَمَا اخْتَلَفُوا إِلَّا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ
  
“Dan mereka tidak berselisih kecuali setelah datang kepada mereka ilmu, karena kedengkian di antara mereka” [QS. Asy-Syura: 14]

Perselisihan tercela jika sudah jelas dalilnya tapi masih ditolak karena hawa nafsu.


Kewajiban mencari kebenaran dengan ilmu  

Setelah belajar, kadang ada amalan yang menyelisihi kebiasaan masyarakat. Menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya terasa berat karena ejekan dan pengucilan.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
  
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ  

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim” [HR. Ibnu Majah no. 224, hasan]

Menuntut ilmu syar’i wajib agar tahu mana perintah dan larangan. Tanpa ilmu, amal bisa tertolak.


Beratnya istiqamah di tengah kejahilan  

Kami bersyukur menjadi warga Grumbul Cikadu. Ada sebagian masyarakat yang dipilih Allah untuk amar ma’ruf nahi munkar. Dua tahun terakhir masyarakat antusias menghadiri pengajian dan bertambah ilmunya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
  
وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا  

“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik” [QS. Al-Muzzammil: 10]

Ujian ejekan dan pengucilan dihadapi dengan sabar dan akhlak. Menjauh dengan cara baik, tidak membalas keburukan.

Nikmatnya punya lingkungan yang mengerti syariat  
Kami katakan, muslim yang mengamalkan agama di tengah masyarakat jahil akan terasa berat. Berbeda dengan masyarakat yang mengerti syariat, mengamalkan perintah Allah dan Rasul-Nya jadi ringan.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
  
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ 
 
“Perumpamaan teman yang baik seperti penjual minyak wangi”[HR. Bukhari no. 2101, Muslim no. 2628]

Lingkungan shalih memberi pengaruh baik. Duduk di majelis ilmu minimal dapat faidah dan semangat ibadah.

Semoga Allah meneguhkan hati kami, menjaga Grumbul Cikadu, dan menjadikan kami hamba yang istiqamah di atas kebenaran sampai akhir hayat. Aamiin.

Jakarta, 28 September 2016  
Penulis: Suyitno

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silsilah Keluarga Keturunan Eyang Mursyid Cikadu Lumbir

Silsilah Keluarga Keturuan Eyang Mahmud cikadu Lumbir

Referensi Silsilah Keluarga Cikadu Lumbir