Aktivitas Masyarakat Cikadu Lumbir,Industri genteng sebagai urat nadi ekonomi
Bismillah.
Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, keluarga, sahabat, dan pengikut beliau hingga akhir zaman.
Pendahuluan
Bagi masyarakat Desa Lumbir, Kecamatan Lumbir, Kabupaten Banyumas, nama "Grumbul Cikadu" sudah identik dengan satu hal: industri genteng. Tulisan ini adalah dokumentasi lisan dari seorang saksi mata penulis sendiri untuk merekam sejarah ekonomi kampung sebelum tergerus zaman. Data tahun yang kami tulis bersifat taqribi atau perkiraan, karena arsip tertulis minim. Yang pasti, ingatan kolektif warga adalah sumber sejarah paling jujur.
Fase awal: Era genteng manual 1980-an
Awal mula industri genteng di Grumbul Cikadu sulit dipastikan tahun pastinya. Namun berdasarkan penuturan para sesepuh dan pengalaman penulis, sekitar Tahun 1980-an masyarakat Cikadu sudah mulai memproduksi genteng secara masif.
Pada fase ini, seluruh proses masih 100% manual. Mulai dari menggali tanah liat, menginjak lumpur dengan kaki, mencetak di cetakan kayu, menjemur di bawah matahari, hingga membakar di tungku kayu bakar. Ciri khas genteng manual: bentuk tidak seragam, daya serap air tinggi, dan produksi terbatas.
Meski sederhana, fase ini melahirkan "sekolah informal" bagi para pemuda Cikadu. Mereka belajar kerja keras, sabar, dan gotong royong. Inilah cikal bakal mental industri warga Cikadu hingga hari ini.
Transformasi teknologi: Masuknya mesin pres genteng sokka tahun 2000-an
Perubahan besar terjadi sekitar Tahun 2000-an. Teknologi mesin pres masuk ke Cikadu. Produknya dikenal dengan nama "Genteng Sokka" karena mesin pres model ini awalnya populer dari daerah Sokka, Kebumen.
Dampak teknologi terhadap sosial ekonomi:
1. Kualitas: Genteng pres lebih presisi, kuat, tidak mudah bocor, dan seragam. Ini meningkatkan daya saing di pasar Banyumas dan Cilacap.
2. Produktivitas: Satu mesin pres bisa mengalahkan 20-30 tenaga manual. Produksi harian naik berkali-kali lipat.
3. Lapangan kerja: Paradoksnya, mesin justru membuka lebih banyak lapangan kerja. Penulis sendiri merasakan langsung. Kebutuhan tenaga kerja melonjak di sektor hulu: mencari bahan baku tanah liat, mengolah adonan, mengoperasikan mesin, menjemur, menyusun ke tungku, hingga distribusi.
Alhamdulillah, pada masa itu penulis berkesempatan bekerja sebagai karyawan bagian mencetak genteng selama sekitar 4 tahun. Pengalaman ini mengajarkan bahwa keberkahan rezeki ada pada kerja halal dan keringat sendiri.
Analisis: Kunci kemajuan industri genteng
Dari pengamatan penulis selama 4 tahun di lapangan, ada satu kaidah ekonomi sederhana yang berlaku di industri genteng Cikadu:
"Maju atau tidaknya perusahaan genteng, 70% ditentukan oleh kecepatan dan kualitas proses mencetak."
Logikanya sederhana:
1. Hulu: Punya lahan luas + modal besar untuk beli tanah liat itu penting.
2. Hilir: Punya tungku besar untuk membakar itu penting.
3. Inti: Tapi jika "jantungnya"—bagian mencetak—lambat, maka seluruh rantai produksi macet. Tanah liat menumpuk, tungku kosong, pengiriman telat.
Pada waktu itu, perusahaan tempat penulis bekerja maju pesat karena satu faktor: SDM-nya. Hampir semua yang mencetak adalah pemuda Cikadu asli. Mereka terampil, gesit, kompak, dan punya "filling" atau insting yang didapat dari jam terbang tinggi. Akibatnya, output perusahaan jauh melampaui perusahaan lain yang modalnya lebih besar tapi SDM-nya kurang.
Ini membuktikan kaidah: "Ar-rijalu ma’dinul ma’ani"—manusia adalah tambang makna. Teknologi tanpa operator yang terampil hanyalah besi tua.
Demikian catatan bagian pertama tentang denyut nadi ekonomi Grumbul Cikadu. Industri genteng bukan sekadar soal atap rumah, tapi soal nasib ratusan kepala keluarga, soal pendidikan anak-anak pekerja, dan soal identitas kampung.
Jakarta, 13 September 2016
Penulis: Suyitno
Komentar
Posting Komentar