Canggah Paling Muda Keturunan Eyang Sanraji

Bismillahirrahmanirrahim.  

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat dan takdir yang Dia tetapkan. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, keluarga, dan sahabatnya.  

Setiap manusia memiliki liku-liku kehidupan yang berbeda. Semua sudah tertulis dalam Lauh Mahfuz, sesuai dengan ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.  

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:  

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ 

“Allah telah mencatat takdir seluruh makhluk 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.” [HR. Muslim no. 2653]  

Canggah Paling Muda Keturunan Eyang Sanraji di Masjid Al Furqon Cikadu Lumbir

Kisah ini adalah salah satu bukti bahwa rencana Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah yang terbaik, meski terkadang harus melewati penantian panjang.  


Penantian 18 Tahun Y dan M

Sebut saja Y dan M. Mereka menikah pada tahun 2007. Seperti pasangan lainnya, kehadiran buah hati adalah harapan terbesar setelah mengucap akad.  

Namun tahun demi tahun berlalu, belum juga ada tanda-tanda kehamilan. Ikhtiar pun dijalani. Enam bulan pertama, Y dan M rutin konsultasi ke dokter spesialis kandungan di RS Prikasih. Hasilnya nihil.

Tidak menyerah, mereka pindah ke RS Puri Cinere selama enam bulan berikutnya. Lagi-lagi belum Allah izinkan, bahkan sempat disarankan untuk program bayi tabung. Sayangnya, keterbatasan biaya membuat ikhtiar itu belum bisa dilanjutkan.  

Hidup terus berjalan. Tepat di usia pernikahan yang ke-10, tahun 2017, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberi kesempatan Y untuk beribadah umrah ke Mekah dan Madinah, meski saat itu M tidak bisa ikut.  

Hari-hari dilalui dengan lika-liku. 13 tahun Y dan M hidup bersama di perantauan. Fitnah dan ujian tentu ada, sebagaimana pasangan yang diuji dengan penantian panjang. 

Saat pandemi Covid-19 melanda, M memutuskan pulang ke kampung untuk tinggal bersama orang tua sekaligus mengembangkan usaha toko buku, baju, dan herbal.  

Di kampung, ada satu harapan: memiliki lahan sendiri di pinggir jalan agar tidak perlu mengontrak lagi. Alhamdulillah, Allah Subhanahu wa Ta’ala takdirkan Y dan M bisa membeli sebidang tanah. 

Awalnya hanya berniat membangun tempat usaha, namun qadarullah justru menjadi rumah yang nyaman untuk ditempati.  

Tahun 2024, karena Y masih bekerja di perantauan, M mengajak nostalgia ke tempat-tempat kenangan selama hidup bersama. Sehari penuh, dari habis Subuh hingga pukul 9 malam, mereka keliling kota dengan motor.  

Kebahagiaan datang tanpa disangka. Sepulang dari liburan itu, M mengabari Y bahwa ia sudah 4 bulan tidak datang bulan. Iseng cek test pack, hasilnya positif. M makin penasaran lalu periksa ke Bidan PKD, hasilnya sama. Dirujuk ke Puskesmas, lalu USG, dan masya Allah janin sudah bernyawa.  

Mengingat usia M yang sudah 39 tahun, pihak Puskesmas merujuk ke dokter spesialis kandungan di RS Ajibarang. Pemeriksaan rutin dijalani hingga usia kandungan 9 bulan. Karena termasuk kehamilan berisiko, dokter menyarankan persalinan melalui operasi caesar.  

Tahun 2025, lahirlah putra mereka: Salman Al Maruf. Namun ujian belum selesai. Karena kondisi tertentu, Salman harus dirawat di RS selama 18 hari.  

Perjalanan panjang menanti 18 tahun ini bahkan membuat pihak RS meminta surat pernyataan bermaterai yang menyatakan bahwa Akta Kelahiran Salman Al Maruf benar anak sah dari pernikahan Y dan M.

Surat Pernyataan

Mengapa Disebut Canggah Paling Muda?

Karena Y adalah buyut paling muda dari keturunan Eyang Sanraji, tepatnya dari jalur Eyang Suaeb. Dulu, Eyang Suaeb juga baru dikaruniai anak di usia 40 tahun. Kini sejarah terulang: Y baru dikaruniai anak di usia 41 tahun, setelah 18 tahun pernikahan.  

Alhamdulillah, di tahun 2016 Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga takdirkan Y sebagai buyut paling muda yang diberi amanah mengumpulkan data silsilah keluarga. Dari sanalah lahir silsilah keluarga di blog Lumbir Mengaji, dan Y sekaligus menjadi pengelola media Lumbir Mengaji.  

Takdir memang tidak ada yang tahu. Hikmahnya baru terasa setelah kejadian. Ternyata inilah skenario terbaik yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala gariskan. 

 

Pesan untuk Anakku, Salman Al Maruf

Anakku, Salman Al Maruf. Harapan Abi dan Umi sederhana: jadilah anak yang berbakti kepada orang tua, taat menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi larangan-Nya. 

Teruskan jejak kebaikan para eyang terdahulu. Jadilah anak shalih yang bermanfaat bagi agama, keluarga, dan sesama.  

Semoga kisah ini menjadi motivasi untuk kita semua bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. 

Penantian panjang, air mata, dan ikhtiar yang melelahkan akan indah pada waktunya jika kita bersabar dan terus berbaik sangka kepada-Nya.  

Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir.  

Barakallahu fiikum. 

 

Depok,19 Juli 2026 

Penulis: Suyitno 

Komentar