Hikmah Dibalik Kehilangan
Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta'alla, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
Iman seseorang akan diuji sesuai dengan kadar keimanannya. Terkadang Allah menguji hamba-Nya dengan musibah, bukan untuk menyiksa, tapi untuk menguatkan tauhid dan mengingatkan bahwa hanya kepada-Nya kita bergantung.
Berikut adalah kisah nyata yang kami alami pada awal-awal kami belajar dan menghadiri majelis ilmu tentang Tauhid.
Tautan Penting
→ Empat Jalur Penulis Silsilah Keluarga Cikadu Lumbir: cek di sini.
→ Kumpulan Tulisan Admin Lumbir Mengaji: buka di sini.
Pada awal kami belajar dan menghadiri pengajian, pembahasannya adalah tentang Tauhid: mengesakan Allah dalam Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma wa Sifat. Pengajian ini berlangsung kurang lebih selama enam bulan.
Di tengah-tengah masa belajar itu, kami langsung diuji. Semua barang penting kami hilang di kontrakan Jl. H. Salam, Pangkalan Jati, Pondok Labu. Yang hilang: HP, Uang, KTP, SIM, STNK, dan lainnya.
Kesedihan kami bertambah karena kami diteror. Pelaku tahu nomor HP kami dan mengirim SMS:
"Kalau mau STNK, SIM, KTP kembali, belikan pulsa seratus ribu. Nanti malam akan dikembalikan dengan cara dilemparkan dompet dan isinya di depan pintu."
Karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, akhirnya kami memutuskan untuk pindah kontrakan.
Ujian yang paling berat bukan kehilangan barangnya, tapi ujian akidah.
Di saat yang sama, ada tetangga yang menawarkan:
"Ayo ke orang pintar/dukun. Mengadu ke sana, nanti barang hilang akan kembali semua."
Di sinilah akidah kami dipertaruhkan.
Baru belajar bahwa hanya Allah Subhanahu wa Ta'alla yang berhak diibadahi dan dimintai tolong. Jika kami minta bantuan ke dukun, maka itu artinya berbuat syirik.
Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah, kami tidak tergiur dengan tawaran itu.
Bukti bahwa Allah berkehendak KUN FAYAKUN kami rasakan sendiri. Saat kehilangan, kami hanya bisa shalat sambil menangis dan berdoa:
"Ya Allah, kami sedang tertimpa musibah. Kembalikan STNK, KTP, dan SIM, karena barang itu sangat berharga bagi kami."
Dua hari setelah kejadian, ada orang yang mengantarkan SIM, STNK, dan KTP ke kantor perusahaan kami di daerah Duri Kepa, Green Ville.
Kami sempat bingung. Kehilangannya di Pangkalan Jati, Pondok Labu, tapi yang mengembalikan ke Duri Kepa. Sungguh, ini di luar nalar manusia. Hanya Allah yang bisa mengatur sedemikian rupa.
Dari peristiwa ini kami belajar satu hal penting: Belajar agama mengajarkan bahwa hanya Allah yang diibadahi. Baik itu meminta tolong, meminta perlindungan, sesembelihan, dan lainnya, semua hanya untuk Allah.
Memang terasa berat. Iblis dan bala tentaranya tidak rela jika manusia hanya beribadah kepada Allah. Mereka terus menggoda agar manusia mempersekutukan Allah Subhanahu wa Ta'alla.
Semoga kisah ini menjadi pengingat untuk kita semua. Musibah bisa jadi cara Allah menaikkan derajat dan menguatkan tauhid kita.
Wallahu a'lam bish-shawab
Jakarta, 30 September 2016
Penulis: Suyitno

Komentar
Posting Komentar