Gantengnya Eyang Suaeb Cikadu Lumbir
Bismillahirahmanirrahim
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk. Shalawat dan salam untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk. Shalawat dan salam untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Silsilah keluarga adalah amanah.
Tulisan ini kisah Eyang Su’aeb bin Eyang Sanraji dari Grumbul Cikadu, Desa Lumbir. Cerita berdasarkan penuturan Ibu Natem binti Eyang Sidem dan Ibu Lasiah. Semoga jadi pengingat untuk anak-cucu agar kenal akarnya dan bersyukur.
Wajah Ganteng dan Gaya Khasnya
Kata Ibu Natem, Eyang Su’aeb orangnya ganteng, hidung mancung. Zaman mudanya rambut panjang, sering dikepang lalu digulung rapi. Di pinggang selalu ada keris. Gayanya mirip tokoh wayang Janaka. Makanya banyak gadis yang kagum sama beliau.
Pernikahan Sampai 7 Kali
Eyang Su’aeb menikah sampai 7 kali. Allah baru memberi keturunan dari istri ke-7, yaitu Eyang Ratem dari Sawangan. Waktu itu beliau umur sekitar 40 tahun, Eyang Ratem masih muda. Beliau murid ngaji Eyang Su’aeb yang paling sederhana. Karena kasihan, akhirnya dinikahi.
Eyang Ratem punya adik: Eyang Witem dan Eyang Gundreng. Ibunya Eyang Ratem punya adik Eyang Sarkem. Eyang Sarkem punya anak Eyang Casem. Eyang Casem inilah ibunya Ial Cikopeng, rumahnya belakang Toko Pak Daryo Simpang Tiga.
Kisah “Saya Aja” di Karang Gedang
Suatu hari Eyang Su’aeb pulang mondok dari Ajibarang ke Lumbir lewat Karang Gedang. Sama teman-teman dari Tayem, Karangpucung. Di jalan ketemu ibu dan anak gadisnya yang cantik. Teman-teman iseng godain: “Bu, anaknya cantik, buat saya ya”. Ditolak semua.
Giliran Eyang Su’aeb paling belakang bilang: “Saya aja”. Anehnya, si gadis langsung mau. Ibu dan anaknya ikut pulang ke Lumbir karena searah. Sampai rumah Eyang Sanraji, langsung minta dinikahkan. Eyang Sanraji yang jadi penghulu, langsung nikahkan mereka.
Kisah “Gantiin Pengantin” di Kedung Wuluh
Kata Ibu Lasiah, Eyang Su’aeb pernah nolong orang di Kedung Wuluh Purwokerto. Ada calon pengantin laki-laki nggak sanggup bawa “kudangan”, malu. Akhirnya Eyang Su’aeb yang gantiin jadi pengantin.
Malamnya bahagia. Tapi calon suami asli ngintip. Eyang Su’aeb nggak betah. Pas mau pulang ke Ajibarang, istrinya mau ikut. Nggak dibolehkan. Disuruh berhias dulu biar cantik, eh malah ditinggal. Di Ajibarang beliau bikin “kitir randa”. Tegas tapi bijak.
Itulah secuil kisah Eyang Su’aeb, anak Eyang Sanraji dari Cikadu Lumbir. Gantengnya titipan, jodohnya takdir, tegasnya teladan. Semoga Allah merahmati beliau dan menjadikan keturunannya anak-cucu yang shalih-shalihah. Aamiin.
Jakarta, 7 Agustus 2016
Penulis : Suyitno
Refisi 24 Juni 2026
