Aktivitas masyarakat Cikadu Lumbir,Dari genteng pres ke tantangan zaman


 
Bismillah.  
Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, keluarga, sahabat, dan pengikut beliau hingga akhir zaman.

Pendahuluan  
Pembaca yang budiman, pada bagian kedua ini penulis akan melanjutkan catatan sejarah lisan tentang dinamika aktivitas warga Grumbul Cikadu. Jika bagian pertama membahas awal mula dan kejayaan genteng pres, maka bagian ini mengulas dampak sosial dan tantangan yang muncul seiring waktu. Semua berdasarkan pengalaman langsung penulis sebagai pekerja sekaligus pengamat.


Dampak sosial: Genteng pres sebagai solusi pengangguran

Pada awal kemunculan genteng pres/sokka, respon masyarakat Cikadu sangat positif. Terutama para orang tua yang anaknya menganggur. Tiba-tiba ada "koden" atau lapangan kerja yang jelas: mencetak genteng.

Penulis sendiri merasakan langsung manfaatnya. Sebelumnya masih minta uang jajan ke orang tua. Setelah bekerja mencetak genteng, Alhamdulillah kebutuhan pribadi tercukupi, bahkan bisa membantu sedikit kebutuhan orang tua. Ini bukti bahwa kerja halal, meski berat, mendidik kemandirian. Sesuai kaidah: "Yadul ‘ulya khairun min yadis sufla" tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.

Dari sisi produktivitas, Alhamdulillah penulis diberi Allah keterampilan dan kecepatan. Dari jam 07.00 sampai 16.00 bisa mencetak 400-500 genteng per hari. Kecepatan ini terjadi karena 2 faktor: keterampilan individu + perusahaan punya lahan luas sehingga bahan baku lancar. Maka wajar jika perusahaan itu maju pesat dibanding yang lain.


Pergeseran demografi tenaga kerja: Era perantauan 2004

Sekitar Tahun 2004 penulis memutuskan merantau. Alasannya klasik: butuh pengalaman, bosan kerja berat, kebutuhan hidup naik, tapi penghasilan dirasa kurang. Fenomena ini tidak hanya dialami penulis. Banyak pemuda Cikadu berbondong-bondong merantau ke Jakarta, Bekasi, Kalimantan.

Akibatnya terjadi "krisis tenaga kerja" di industri genteng. Mencetak genteng butuh tenaga, stamina, dan kecepatan ciri khas pekerja laki-laki muda. Ketika pemuda habis merantau, bos-bos genteng kesulitan mencari karyawan. Solusinya: beralih ke tenaga ibu-ibu. 

Sampai sekarang, jarang sekali ditemukan karyawan pencetak genteng laki-laki. Mayoritas digantikan perempuan. Ini pergeseran sosial yang menarik untuk dikaji: teknologi yang awalnya membuka kerja untuk pemuda, akhirnya digerakkan oleh kekuatan ibu-ibu Cikadu.


Tantangan ekonomi: Mengapa pengusaha beralih ke bata?

Akhir-akhir ini teramati sebagian pengusaha genteng mulai beralih ke usaha bata. Penulis tidak berani menebak pasti penyebabnya, tapi dari pengamatan lapangan ada 3 faktor: 

1. Modal besar, perputaran lambat: Jadi pengusaha genteng butuh modal tidak sedikit untuk tanah liat, mesin, kayu bakar, dan gaji. Tapi setelah genteng matang dan siap jual, lakunya bisa berbulan-bulan. Ini karena 2 hal: perekonomian sulit + kalah saing dengan genteng pabrikan + daya beli masyarakat turun.

2. Risiko tinggi: Genteng sekali gagal bakar, rugi puluhan juta. Bata lebih cepat prosesnya dan pasarnya lebih stabil untuk pondasi.

3. Diversifikasi wajib: Kebanyakan pengusaha genteng yang bertahan, pasti punya "sampingan". Misalnya punya lahan pertanian, pelihara kambing, istri buka warung, atau istri jadi PNS. Kaidah ekonominya: _"Jangan taruh semua telur dalam satu keranjang"_. Kalau hanya mengandalkan genteng tanpa kerja keras dan tanpa usaha lain, sangat sulit maju dan bertahan.


Penutup

Dari catatan ini kita belajar 2 hal: 
1. Berkah kerja: Genteng pres dulu menyelamatkan banyak pemuda dari pengangguran dan mengajari mandiri. 

2. Ujian zaman: Setiap usaha pasti ada pasang surutnya. Yang bertahan bukan yang paling besar modalnya, tapi yang paling adaptif dan punya banyak ikhtiar.

Semoga Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memberkahi setiap keringat para pekerja dan pengusaha genteng Cikadu. Semoga ekonomi kampung kembali lancar.


Jakarta, 16 September 2016  
Penulis : Suyitno 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silsilah Keluarga Keturunan Eyang Mursyid Cikadu Lumbir

Silsilah Keluarga Keturuan Eyang Mahmud cikadu Lumbir

Referensi Silsilah Keluarga Cikadu Lumbir