Nikmat Hidayah Beribadah di Mekah dan Madinah dari Cikadu Lumbir
Bismillahirahmanirrahim
Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, sahabat, dan orang yang meniti jejak beliau.
Umrah adalah undangan Allah untuk hamba-Nya. Tidak semua orang dipanggil. Tulisan ini bukan untuk pamer, tapi kenang-kenangan dan syukur atas nikmat yang Allah berikan kepada hamba-Nya dari Grumbul Cikadu, Desa Lumbir. Semoga jadi pengingat bahwa hidayah itu datang tiba-tiba, dan amal yang butuh pengorbanan harta-jiwa adalah yang paling manis rasanya.
Hidayah umrah datang tiba-tiba
Merupakan kebahagiaan luar biasa ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala beri kesempatan beribadah di Mekah dan Madinah. Awalnya hati condong ke dunia, saling bersaing. Tapi Allah gerakkan hati untuk pahala umrah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا
“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu”
[QS. Al-Hajj: 27]
Umrah/haji itu panggilan Allah. Yang berangkat bukan karena hebat, tapi karena dipanggil. Hidayah itu datang saat hati mulai condong ke akhirat. Nasehat da’i tentang dunia sebentar-akhirat kekal jadi sebab Allah gerakkan hati. Kalau Allah sudah panggil, nggak ada yang bisa menghalangi.
Nasehat da’i memicu berlomba dalam amal
Pada suatu hari da’i menasehati: kehidupan dunia sebentar, akhirat kekal. Masyarakat Cikadu mulai berlomba memperbanyak amal shalih. Terutama ibadah yang butuh pengorbanan harta: umrah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
تَابِعُوا بَيْنَ الحَجِّ وَالعُمْرَةِ، فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الفَقْرَ وَالذُّنُوبَ
“Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa”
[HR. Tirmidzi no. 810, ]
Nasehat ulama itu warisan nabi. Begitu dengar “akhirat kekal”, orang beriman langsung gerak. Umrah dipilih karena pahalanya besar: hapus dosa + tolak kefakiran. Berlomba dalam kebaikan inilah tanda masyarakat mulai hidup. Dari menolak dakwah 2005, sekarang berlomba ke Baitullah. Itu hidayah.
Takdir Allah : 4 warga Cikadu daftar umrah
Takdir Allah tidak disangka. Tanggal 20 Januari 2017, sebagian warga Grumbul Cikadu berangkat umrah: Bapak Amrin, Sahad, Badri, dan Ustadz Sri Kusdiono. Mereka sudah daftar, bikin paspor, tinggal suntik meningitis.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ
“Dan kamu tidak mampu berkehendak kecuali apa yang dikehendaki Allah”
[QS. At-Takwir: 29]
Dari awalnya ragu, berat menerima ajakan, sampai akhirnya daftar + paspor jadi. Itu semua takdir Allah. Ikhtiar cari sebab: dengar nasehat → hati condong → daftar → paspor. Satu takdir ke takdir lain. Nama-nama warga Cikadu tercatat di tanah haram. Sungguh nikmat yang nggak bisa dibeli.
Beratnya hati, manisnya hidayah
Sehari sebelum berangkat merantau sempat ke rumah ustadz. Beliau cerita tentang umrah. Hati sempat berat. Tapi Allah beri hidayah: kapan lagi kalau tidak sekarang? Semua muslim berharap pahala saat ibadah di Mekah-Madinah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
العُمْرَةُ إِلَى العُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا
“Umrah ke umrah berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya”
[HR. Bukhari no. 1773, Muslim no. 1349]
Berat itu wajar. Meninggalkan keluarga, keluar harta, capek fisik. Tapi hidayah bikin berat jadi ringan. Umrah bukan wisata, tapi penghapus dosa. Setiap langkah di Masjidil Haram-Masjid Nabawi pahalanya dilipatgandakan. Warga Cikadu Lumbir yang dulu ditolak dakwahnya, sekarang jadi tamu Allah. MasyaAllah.
Ya Allah, terimalah ibadah umrah saudara kami dari Cikadu Lumbir. Jadikan umrah mereka mabrur, dosa terampuni, rezeki berkah. Semoga Allah beri kesempatan kami semua menjejakkan kaki di tanah haram-Mu dalam keadaan ikhlas. Tulis ini hanya untuk kenang-kenangan dan harap ridha-Mu, bukan pamer. Aamiin.
Jakarta, 19 September 2018
Penulis : Suyitno
