Hikmah Diciptakannya Manusia & Pemisah Golongan Yang Baik Dari Yang Buruk
Sumber : Khutbah Idul Fitri 1436 H
Ditulis ulang oleh: Admin
Jamaah shalat Idul Fitri yang dimuliakan oleh Allah. Pertama-tama marilah kita senantiasa mengucapkan syukur kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang sudah memberikan rahmat-Nya kepada kita, sehingga pada hari ini kita masih diberi kemantapan iman, kemantapan Islam, kemantapan hati untuk senantiasa bersabar, untuk senantiasa tawadhu', untuk senantiasa beribadah kepada Allah dengan penuh keikhlasan, dengan penuh keridhaan.
Marilah kita senantiasa mencontoh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Karena hanya dengan mengikuti Rasulullah-lah kita bisa selamat di dunia wal akhirat.
Pada kesempatan yang berbahagia ini, di mana seluruh Muslim pada hari ini sedang merayakan kemenangan. Bagi orang yang berpuasa pada hari ini mendapatkan suatu rahmat dari Allah. Kita diperintahkan untuk melaksanakan Idul Fitri dengan penuh kekhusyukan dan penuh kegembiraan, dua-duanya.
Untuk itu marilah kita coba merenungi, merenungi apa hikmah Allah Subhanahu Wa Ta'ala sudah menciptakan kita. Merenungi kembali mengapa Allah menciptakan kita, untuk apa Allah menciptakan kita semuanya. Karena pada prinsipnya...
HIKMAH MANUSIA: KETURUNAN PENGHUNI SURGA
Kita sebagai manusia adalah makhluk penghuni surga. Kita adalah anak keturunan Nabi Adam. Yang memang beliau adalah penghuni surga. Hanya karena kesalahan kecil saja, Nabi Adam diusir oleh Allah, diturunkan ke bumi.
Untuk itu marilah kita coba berpikir, mengapa Allah Subhanahu Wa Ta'ala menciptakan seluruh umat manusia, dari mulai Nabi Adam sampai nanti Yaumul Akhir. Kenapa ada orang yang beriman, ada orang yang tidak beriman. Ada orang yang mau shalat, ada juga yang tidak mau shalat. Ada orang yang berpuasa dan juga banyak yang tidak berpuasa.
Padahal Allah Subhanahu Wa Ta'ala sudah mewanti-wanti kepada kita semuanya, bahwasanya kita semuanya tinggal mengikuti apa yang diturunkan oleh Allah dan Rasul-Nya agar bisa selamat di dunia wal akhirat. Tetapi sangat banyak dari manusia ini yang tidak sadar, tidak sadar untuk apa dia diciptakan di dalam kehidupan dunia ini.
TUJUAN ALLAH: MEMISAHKAN YANG BAIK & BURUK
Di dalam Surat Al-Anfal, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
لِيَمِيزَ اللَّهُ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ وَيَجْعَلَ الْخَبِيثَ بَعْضَهُ عَلَىٰ بَعْضٍ فَيَرْكُمَهُ جَمِيعًا فَيَجْعَلَهُ فِي جَهَنَّمَ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
"Supaya Allah hendak memisahkan golongan yang buruk dari yang baik dan menjadikan golongan yang buruk itu sebagian di atas sebagian yang lain, lalu semuanya akan ditumpuk-Nya dan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam. Mereka itulah orang yang merugi." ]QS. Al-Anfal: 37]
Dalam ayat yang lain Allah berfirman, Surat Al-Baqarah ayat 105:
وَاللَّهُ يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
"Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya untuk diberi rahmat-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar." [QS. Al-Baqarah: 105]
Dari dua ayat yang mulia ini kita sadar, bahwasanya tidaklah kita mendapatkan petunjuk daripada kepintaran kita. Tidaklah kita beragama Islam, mempunyai iman ini karena Panjenengan, karena faktor dari manusianya. Ini semuanya adalah rahmat dari Allah, pemberian dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang wajib, wajib kita syukuri.
Tidak semuanya orang itu beriman, tidak semuanya orang Islam. Nikmat yang kadang-kadang tidak kita sadari sehingga kita melalaikannya. Bahwa kita punya iman yang harus kita pupuk senantiasa, kita punya Islam yang harus kita pupuk senantiasa. Tanpa kita pupuk keimanan...
TUJUAN HIDUP: IBADAH BUKAN SIA-SIA
Tanpa kita pupuk keislaman, kita akan lari jauh, semakin lari keimanan dari hati kita. Semakin kita tidak sadar bahwasanya kita diciptakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala bukan untuk apa-apa kecuali untuk menyembah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Apapun kita, bagaimanapun rupa kita, bukan untuk apa-apa kita diciptakan oleh Allah selain untuk menyembah Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Bukan berarti Allah membutuhkan Panjenengan untuk menyembah kepada Allah. Tidak sama sekali. Sekiranya orang di seluruh dunia kafir kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, tidak berkurang kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Kita yang membutuhkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kita yang butuh untuk dimasukkan ke dalam surga-Nya Allah dan dijauhkan dari neraka Allah. Allah tidak pernah dzalim kepada kita. Kalau nanti ada di antara kita yang masuk neraka, bukan karena Allah dzalim, tetapi karena kita yang dzalim kepada diri kita sendiri.
DALIL QURAN: MANUSIA DICIPTAKAN SEBAGAI KHALIFAH
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman di dalam banyak surat di dalam Al-Qur'an. Salah satunya adalah Surat Al-Mu’minun ayat 115 sampai dengan 116:
*أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ (115) فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ (116)*
"Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu dengan sia-sia, dengan main-main, dan bahwasanya kamu tidak akan dikembalikan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala? Maka Maha Tinggilah Allah, Raja Yang benar, tidak ada Tuhan melainkan Dia, Tuhan yang mempunyai Arsy yang besar." [QS. Al-Mu’minun: 115-116]
Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak pernah menciptakan segala sesuatu di dunia ini dengan sia-sia, dengan main-main. Kita diciptakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk menjadi khalifah di bumi, untuk menjadi pengganti-pengganti untuk menegakkan agama Allah, menegakkan hukum Allah di muka bumi.
Bukan hanya untuk urusan dunia. Panjenengan diciptakan bukan hanya untuk makan minum, bekerja. Bukan hanya itu. Allah Subhanahu Wa Ta'ala menciptakan kita adalah untuk menjalankan Sunatullah, menjalankan hukum Allah di dunia agar supaya selamat di akhirat.
HADITS: GUNUNG VS LALAT, JANGAN REMEHKAN DOSA
Di dalam sebuah hadits dari Shahih Bukhari, Rasulullah bersabda:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ
"Orang mukmin itu melihat dosa-dosanya seperti ia duduk di pangkal gunung, ia khawatir gunung itu akan menimpanya. Sedangkan orang fajir, orang yang selalu berbuat maksiat, orang yang selalu tidak taat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, dia melihat dosanya seperti lalat yang hinggap di ujung hidungnya dan dia mengusirnya." [HR. Bukhari no. 6308]
Kata Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam seperti itu. Seorang Muslim senantiasa melihat dosa-dosanya, walaupun dosanya itu kecil, seolah-olah dosanya sebesar gunung, sehingga dia takut dosanya akan membenamkan dia ke dalam neraka.
Kita seorang Muslim tolong. Orang fajir, orang yang tidak takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, walaupun dosa-dosanya sangat banyak, setiap hari bergelimang dengan dosa, dia menganggap dosanya seperti lalat yang menempel di hidung, dianggap kecil.
Gambaran ini menjadi pemahaman kita bahwasanya jangan pernah menganggap remeh dosa-dosa kita. Apalagi sampai meninggalkan keseluruhan syariat ini. Tidak ada sama orang yang shalat dengan orang yang tidak shalat, nasibnya berbeda. Tidaklah sama orang yang mau berpuasa dengan orang yang tidak mau berpuasa, nasibnya beda itu sangat. Loh ya akhi, mau sampai kapan Panjenengan kafir kepada...
KISAH NABI ADAM: PETUNJUK = SELAMAT, KAFIR = CELAKA
Surat Al-Baqarah ayat 123 sampai 126. Pada saat Nabi Adam diturunkan ke dunia bersama Iblis, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (38) وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (39)
"Kami berfirman: Turunlah kalian kamu berdua ke surga, dari surga bersama-sama. Sebagian dari kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Nanti jika saatnya datang kepada kamu petunjuk dari-Ku, kata Allah, barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku maka dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka." [QS. Al-Baqarah: 38-39]
Allah menurunkan Nabi Adam ke dunia, menurunkan kita, keturunan kita, keturunan Nabi Adam. Makanya kalau Allah berfirman "Menurunkan Nabi Adam", kita juga semestinya berpikir, bapak kita semestinya adalah penghuni surga. Secara Sunatullah, manusia diciptakan pertama-tama adalah penghuni surga.
Apa yang menyebabkan dia masuk ke neraka? Kata Allah, barangsiapa sesudah datang petunjuk-Ku, sesudah diutus Rasul-Ku, sesudah diturunkannya kitab-Ku, barangsiapa yang mengikutinya tidak akan tersesat dan tidak akan celaka, tidak akan bersedih hati dan tidak akan takut dalam kehidupan dunia.
Akan tetapi mereka, orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Allah Subhanahu Wa Ta'ala, di dunia dia akan celaka. Kehidupannya tidak berdasarkan daripada petunjuk Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dia seolah-olah berjalan di dalam kegelapan, tidak tahu mana lor, mana kidul, ngayak bahasa Cikedungnya. Karena tidak punya tuntunan hidupnya.
Kalau orang Islam, orang Muslim yang senantiasa tawadhu', mengharapkan ridho Allah di dalam setiap aspek kehidupannya, dia senantiasa berjalan di atas Al-Qur'an dan As-Sunnah. Kalau orang kafir, orang yang tidak mengetahui petunjuk dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala, dia berjalan di dalam kegelapan, dia pasti akan tergelincir, dia pasti akan jatuh ke dalam lembah kehinaan. Itu di dunia. Ya fi, di akhirat lebih lagi.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, Surat Thaha ayat 124:
وَمَن كَانَ فِي هَٰذِهِ أَعْمَىٰ فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيلًا
"Dan barangsiapa yang sewaktu di dunia buta dari hukum Allah Subhanahu Wa Ta'ala, di akhirat nanti lebih buta lagi dan dia akan sangat tersesat dari jalan yang benar." [QS. Thaha: 124]
Siapa di antara manusia yang di dalam kehidupannya tidak mau mengambil hidayah dari Al-Qur'an dan As-Sunnah yang shahih, sehingga diibaratkan sebagai orang buta, di akhirat lebih lagi. Kalau kita sudah meninggal nanti, kalau kita di dunia tidak mau memperhatikan ayat-ayat Allah, tidak mau mengikuti petunjuk Allah Subhanahu Wa Ta'ala, di akhirat nanti Panjenengan akan lebih buta, kata Allah. Akan lebih sesat dan pasti akan masuk neraka. Mudah saja. Allahu Akbar walillahilhamd.
Jamaah Idul Fitri yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, rumus di dalam kehidupan dunia simpel sebenarnya. Orang yang sesat, orang yang tidak mendapatkan hidayah, orang yang tidak mau mendapatkan hidayah, ujung-ujungnya endingnya adalah penderitaan di dunia, di akhirat. Sebaliknya, orang yang senantiasa mendapatkan petunjuk, mencari petunjuk, endingnya adalah keberuntungan di dunia wal akhirat.
Di dalam surat Al-Qur'an Allah menggambarkan, sesungguhnya orang yang berdosa itu berada dalam kesesatan di dunia dan di dalam neraka nanti, yaumul akhir. Wa Ta'ala, mau sampai kapan? Kematian datang sebentar lagi saudara-saudara saya. Kita semuanya semestinya senantiasa berusaha untuk mengamalkan apa yang diberikan oleh Allah. Sudah memberikan Al-Qur'an kepada kita yang ditujukan untuk menjadi petunjuk bagi kita semuanya. Jalan hidup bagaimana kita mau mengetahui jalan hidup kita seperti apa kalau kita tidak pernah belajar dengan Al-Qur'an. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman...
RUMUS SURGA: JALANKAN SYARIAT, JANGAN TINGGALKAN SHALAT
Rumusnya mudah. Panjenengan mau shalat, mau zakat, mau puasa, dan sebagainya, semua syariat Islam Panjenengan jalankan. Rumusnya masuk surga, jangan meninggalkan shalat, meninggalkan puasa. Sudah tidak terbantahkan lagi, Panjenengan penghuni neraka.
Agama ini pilihan, tidak ada yang memaksa Panjenengan. Panjenengan mempunyai akal, mempunyai pikiran yang bisa menganalisa. Mau kapan lagi, masih kapan Jenengan kepingin meninggalkan shalat? Monggo kerso.
PILIHAN HIDUP: IMAN TANPA RAGU PADA QURAN SUNNAH
Kita semuanya hidup ini adalah mempunyai pilihan, mempunyai diberi hati untuk memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Setiap saat kita dihadapkan pada pilihan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan kita diberi kebebasan untuk memilih. Tidak ada paksaan.
Karena hakikat mengikuti petunjuk Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang pertama adalah membenarkan perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Jangan pernah Panjenengan ragu-ragu, apapun, sedikitpun terhadap Al-Qur'an dan hadits yang shahih.
Hakikat mengikuti petunjuk Allah Subhanahu Wa Ta'ala kita garis bawahi: yang pertama, jangan sampai kita ragu-ragu terhadap Al-Qur'an dan As-Sunnah yang shahih. Ragu-ragu adalah dari setan, baik dari golongan jin maupun manusia. Orang-orang yang senantiasa berusaha mengaburkan nilai agama, mengaburkan makna Al-Qur'an dari yang semestinya. Panjenengan dibuat ragu-ragu sehingga keyakinan Panjenengan tidak seratus persen.
Padahal kita sebagai manusia mempunyai kekuatan untuk mengetahui dan menganalisa mana yang benar dan mana yang salah. Kita diberi ilmu oleh Allah, diberi pengetahuan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk menganalisa. Kalau seandainya Al-Qur'an itu bukan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala, pasti akan kacau balau. Panjenengan lihat, tidak ada satu pun ayat dari Allah yang bertentangan dengan akal logika. Tidak ada satu pun ayat dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Siapa yang menurunkan kalau bukan Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Segala-galanya.
PERINGATAN QS THAHA 124: HIDUP SEMPIT BAGI YANG BERPALING
Kalau Panjenengan masih ragu-ragu dengan kebenaran Al-Qur'an dan hadits yang shahih, mau sampai kapan yakin ini? Padahal mungkin barangkali nanti besok lusa kita sudah menghadap Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Apa yang mau kita pertanggungjawabkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang sudah menitipkan banyak sekali kepada kita? Jangan mau ngomong apa di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala kalau di waktu di dunia "kon shalat beh-beb, kon puasa ngedap-ngedap", apa maning untuk yang lainnya.
Jamaah hari raya Idul Fitri yang dimuliakan Allah. Di dalam khutbah yang singkat ini saya akan bacakan dua buah ayat dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala, dari Surat Thaha ayat 124:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ
"Barangsiapa yang berpaling dari mengingat-Ku, kata Allah, maka baginya penghidupan yang sempit, dan di yaumul akhir nanti, di yaumul kiamat, mereka dikumpulkan dalam keadaan buta mata." [QS. Thaha: 124]
Barangsiapa yang lari dari petunjuk Allah Subhanahu Wa Ta'ala, yang hidup tanpa dengan dasar Al-Qur'an dan As-Sunnah yang shahih, maka baginya penghidupan yang sempit di dunia. Walaupun kelihatan bahagia di dunia, walaupun kelihatan banyak hartanya di dunia, tidak akan membawa barokah sedikitpun.
Kalau di dalam kehidupan dunianya dia lari dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala, lari dari hukum Allah, sehingga mereka banyak memakan harta-harta manusia dengan cara yang batil, mempraktekkan praktek ribawi, mempraktekkan korupsi, menipu di dalam kehidupan sehari-hari.
AKIBAT LARI DARI QURAN: BERTEMAN DENGAN SYAITAN
Mereka tidak mengingat Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Orang Islam tetapi tidak menggunakan Al-Qur'an sebagai pedoman hidupnya. Pasti kata Allah Subhanahu Wa Ta'ala, di dunia hidupnya akan dilanda kesempitan. Di akhirat bagaimana nasibnya? Lebih lagi, kata Allah akan dikumpulkan dalam keadaan buta ya akhir.
Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, Surat Az-Zukhruf ayat 36-37:
وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ (36) وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُم مُّهْتَدُونَ (37)
"Barangsiapa yang berpaling dari pelajaran Tuhan, mereka, barangsiapa yang berpaling dari Al-Qur'an dan As-Sunnah yang shahih, kata Allah, maka dijadikan dia syaitan sebagai kawan, syaitan sebagai teman yang senantiasa menyesatkan orang tersebut. Sungguh kata Allah, setan ini senantiasa menghalang-halangi orang tersebut dari memperoleh petunjuk Allah Subhanahu Wa Ta'ala, dari memperoleh jalan yang lurus daripada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, dan mereka menganggap bahwa mereka adalah orang yang mendapat petunjuk." [QS. Az-Zukhruf: 36-37]
Dari dua ayat yang mulia ini kita harus senantiasa menggaris bawahi, bahwasanya hidup kita ini semuanya diatur oleh Allah melalui Al-Qur'an dan As-Sunnah yang shahih. Kalau kita lari dari Al-Qur'an dan As-Sunnah yang shahih, yang pertama adalah kita pasti di kehidupan dunia ini mendapatkan kehidupan yang sempit. Yang kedua pasti kita akan berteman dengan syaitan.
Padahal syaitan senantiasa, apa? Senantiasa mengelabui kita. Seolah-olah kita sudah beramal yang baik, seolah-olah kita sudah mengerjakan tuntunan agama, padahal itu bukan tuntunan agama. Mereka menganggap bahwa mereka adalah orang yang paling mendapatkan petunjuk, padahal setan menipu mereka semuanya. Karena apa? Mereka lari dari Al-Qur'an dan Sunnah yang shahih
AJAKAN NGAJI & DOA IDUL FITRI
Jamaah shalat Id yang dimudahkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, untuk itu marilah kita sama-sama usaha untuk meningkatkan ilmu kita di dalam agama ini. Kapan lagi Panjenengan, kita semua barangkali lebih dari 60 persen sudah memasuki usia senja. Sebentar lagi kita sama dengan saudara-saudara kita di kuburan sana.
Mau kapan Panjenengan menghadap Allah dengan penuh kerinduan, tunduk kepada perintah Allah? Mau kapan? Mau nunggu dipanggil Allah? Mau nunggu kematian yang mungkin besok atau lusa? Monggo. Ayat-ayat Allah sudah dibacakan. Petunjuk-petunjuk Rasulullah sudah disampaikan. Kita tinggal mengikuti. Bagi yang mau, yang tidak mau resiko tanggung pribadi kita masing-masing.
Akhirnya marilah kita sama-sama berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala agar senantiasa kita diberi kekuatan hidayah, diberi kekuatan iman, diberi kekuatan Islam, agar supaya kita bisa mengharap Allah dengan tidak membawa sekecil apapun dosa-dosa kita.
Alhamdulillahi hamdan thayyiban mubarakan 'alaih. Alhamdulillahi mubarakan 'alaih. Alhamdulillahi mubarakan 'alaih.

Komentar
Posting Komentar