Hikmah Diciptakannya Manusia & Pemisah Golongan Yang Baik Dari Yang Buruk
Halaman ini berisi transkrip Khutbah Idul Fitri 1436 H tentang Hikmah Diciptakannya Manusia dan Pemisah Golongan Yang Baik Dari Yang Buruk oleh Khatib Ustadz Sri Kusdiyono. Klik daftar isi di bawah untuk langsung ke pembahasan.
DAFTAR ISI - Klik untuk buka
- Hikmah Manusia: Keturunan Penghuni Surga
- Tujuan Allah: Memisahkan Mana Yang Baik dan Buruk
- Tujuan Hidup: Ibadah Bukan Sia-sia
- Manusia Diciptakan Sebagai Khalifah
- Hadits: Gunung vs Lalat, Jangan Remehkan Dosa
- Kisah Nabi Adam: Petunjuk = Selamat, Kafir = Celaka
- Rumus Surga: Jalankan Syariat, Jangan Tinggalkan Shalat
- Pilihan Hidup: Iman Tanpa Ragu Pada Quran Sunnah
- Peringatan QS Thaha 124: Hidup Sempit Bagi Yang Berpaling
- Akibat Lari dari Al Quran: Berteman Dengan Syaitan
- Ajakan Ngaji dan Doa Idul Fitri
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا، أَمَّا بَعْدُ
فَإِنْ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
Jamaah shalat Idul Fitri yang dimuliakan oleh Allah. Pertama-tama marilah kita senantiasa mengucapkan syukur kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang sudah memberikan rahmat-Nya kepada kita, sehingga pada hari ini kita masih diberi kemantapan iman, kemantapan Islam, kemantapan hati untuk senantiasa bersabar, untuk senantiasa tawadhu', untuk senantiasa beribadah kepada Allah dengan penuh keikhlasan, dengan penuh keridhaan.
Marilah kita senantiasa mencontoh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Karena hanya dengan mengikuti Rasulullah-lah kita bisa selamat di dunia wal akhirat.
Pada kesempatan yang berbahagia ini, di mana seluruh Muslim pada hari ini sedang merayakan kemenangan. Bagi orang yang berpuasa pada hari ini mendapatkan suatu rahmat dari Allah. Kita diperintahkan untuk melaksanakan Idul Fitri dengan penuh kekhusyukan dan penuh kegembiraan, dua-duanya.
Untuk itu marilah kita coba merenungi, merenungi apa hikmah Allah Subhanahu Wa Ta'ala sudah menciptakan kita. Merenungi kembali mengapa Allah menciptakan kita, untuk apa Allah menciptakan kita semuanya.
Hikmah Manusia: Keturunan Penghuni Surga
Kita sebagai manusia adalah makhluk penghuni surga. Kita adalah anak keturunan Nabi Adam. Yang memang beliau adalah penghuni surga. Hanya karena kesalahan kecil saja, Nabi Adam diusir oleh Allah, diturunkan ke bumi.
Untuk itu marilah kita coba berpikir, mengapa Allah Subhanahu Wa Ta'ala menciptakan seluruh umat manusia, dari mulai Nabi Adam sampai nanti Yaumul Akhir. Kenapa ada orang yang beriman, ada orang yang tidak beriman. Ada orang yang mau shalat, ada juga yang tidak mau shalat. Ada orang yang berpuasa dan juga banyak yang tidak berpuasa.
Padahal Allah Subhanahu Wa Ta'ala sudah mewanti-wanti kepada kita semuanya, bahwasanya kita semuanya tinggal mengikuti apa yang diturunkan oleh Allah dan Rasul-Nya agar bisa selamat di dunia wal akhirat. Tetapi sangat banyak dari manusia ini yang tidak sadar, tidak sadar untuk apa dia diciptakan di dalam kehidupan dunia ini.
Tujuan Allah: Memisahkan Mana Yang Baik dan Buruk
Di dalam Surat Al-Anfal, Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
لِيَمِيزَ اللَّهُ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ وَيَجْعَلَ الْخَبِيثَ بَعْضَهُ عَلَىٰ بَعْضٍ فَيَرْكُمَهُ جَمِيعًا فَيَجْعَلَهُ فِي جَهَنَّمَ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Supaya Allah hendak memisahkan golongan yang buruk dari yang baik dan menjadikan golongan yang buruk itu sebagian di atas sebagian yang lain, lalu semuanya akan ditumpuk-Nya dan dimasukkan ke dalam neraka Jahannam. Mereka itulah orang yang merugi. [QS. Al-Anfal: 37]
Dalam ayat yang lain Allah berfirman, Surat Al-Baqarah ayat 105:
وَاللَّهُ يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya untuk diberi rahmat-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. [QS. Al-Baqarah: 105]
Dari dua ayat yang mulia ini kita sadar, bahwasanya tidaklah kita mendapatkan petunjuk daripada kepintaran kita. Tidaklah kita beragama Islam, mempunyai iman ini karena Panjenengan, karena faktor dari manusianya. Ini semuanya adalah rahmat dari Allah, pemberian dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang wajib, wajib kita syukuri.
Tidak semuanya orang itu beriman, tidak semuanya orang Islam. Nikmat yang kadang-kadang tidak kita sadari sehingga kita melalaikannya. Bahwa kita punya iman yang harus kita pupuk senantiasa, kita punya Islam yang harus kita pupuk senantiasa.
Tujuan Hidup: Ibadah Bukan Sia-sia
Tanpa kita pupuk keislaman, kita akan lari jauh, semakin lari keimanan dari hati kita. Semakin kita tidak sadar bahwasanya kita diciptakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala bukan untuk apa-apa kecuali untuk menyembah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Apapun kita, bagaimanapun rupa kita, bukan untuk apa-apa kita diciptakan oleh Allah selain untuk menyembah Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Bukan berarti Allah membutuhkan Panjenengan untuk menyembah kepada Allah. Tidak sama sekali. Sekiranya orang di seluruh dunia kafir kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, tidak berkurang kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
Kita yang membutuhkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kita yang butuh untuk dimasukkan ke dalam surga-Nya Allah dan dijauhkan dari neraka Allah. Allah tidak pernah dzalim kepada kita. Kalau nanti ada di antara kita yang masuk neraka, bukan karena Allah dzalim, tetapi karena kita yang dzalim kepada diri kita sendiri.
Manusia Diciptakan Sebagai Khalifah
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman di dalam banyak surat di dalam Al-Qur'an. Salah satunya adalah Surat Al-Mu'minun ayat 115 sampai dengan 116:
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ (115) فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ (116)
Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu dengan sia-sia, dengan main-main, dan bahwasanya kamu tidak akan dikembalikan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala? Maka Maha Tinggilah Allah, Raja Yang benar, tidak ada Tuhan melainkan Dia, Tuhan yang mempunyai Arsy yang besar. [QS. Al-Mu'minun: 115-116]
Allah Subhanahu Wa Ta'ala tidak pernah menciptakan segala sesuatu di dunia ini dengan sia-sia, dengan main-main. Kita diciptakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk menjadi khalifah di bumi, untuk menjadi pengganti-pengganti untuk menegakkan agama Allah, menegakkan hukum Allah di muka bumi.
Bukan hanya untuk urusan dunia. Panjenengan diciptakan bukan hanya untuk makan minum, bekerja. Bukan hanya itu. Allah Subhanahu Wa Ta'ala menciptakan kita adalah untuk menjalankan Sunatullah, menjalankan hukum Allah di dunia agar supaya selamat di akhirat.
Hadits: Gunung vs Lalat, Jangan Remehkan Dosa
Di dalam sebuah hadits dari Shahih Bukhari, Rasulullah bersabda:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ
Orang mukmin itu melihat dosa-dosanya seperti ia duduk di pangkal gunung, ia khawatir gunung itu akan menimpanya. Sedangkan orang fajir, orang yang selalu berbuat maksiat, orang yang selalu tidak taat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, dia melihat dosanya seperti lalat yang hinggap di ujung hidungnya dan dia mengusirnya. [HR. Bukhari no. 6308]
Kata Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam seperti itu. Seorang Muslim senantiasa melihat dosa-dosanya, walaupun dosanya itu kecil, seolah-olah dosanya sebesar gunung, sehingga dia takut dosanya akan membenamkan dia ke dalam neraka.
Jangan pernah menganggap remeh dosa-dosa kita. Apalagi sampai meninggalkan keseluruhan syariat ini. Tidak ada sama orang yang shalat dengan orang yang tidak shalat, nasibnya berbeda. Tidaklah sama orang yang mau berpuasa dengan orang yang tidak mau berpuasa.
Kisah Nabi Adam: Petunjuk = Selamat, Kafir = Celaka
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (38) وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (39)
Kami berfirman: Turunlah kalian kamu berdua ke surga, dari surga bersama-sama. Sebagian dari kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Nanti jika saatnya datang kepada kamu petunjuk dari-Ku, kata Allah, barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku maka dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. [QS. Al-Baqarah: 38-39]
Allah menurunkan Nabi Adam ke dunia. Makanya kalau Allah berfirman menurunkan Nabi Adam, kita juga semestinya berpikir, bapak kita semestinya adalah penghuni surga. Secara Sunatullah, manusia diciptakan pertama-tama adalah penghuni surga.
Apa yang menyebabkan dia masuk ke neraka? Kata Allah, barangsiapa sesudah datang petunjuk-Ku, sesudah diutus Rasul-Ku, sesudah diturunkannya kitab-Ku, barangsiapa yang mengikutinya tidak akan tersesat dan tidak akan celaka, tidak akan bersedih hati dan tidak akan takut dalam kehidupan dunia.
Akan tetapi mereka, orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Allah Subhanahu Wa Ta'ala, di dunia dia akan celaka. Kehidupannya tidak berdasarkan daripada petunjuk Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Dia seolah-olah berjalan di dalam kegelapan, tidak tahu mana lor, mana kidul.
Kalau orang Islam, orang Muslim yang senantiasa tawadhu', mengharapkan ridho Allah di dalam setiap aspek kehidupannya, dia senantiasa berjalan di atas Al-Qur'an dan As-Sunnah. Kalau orang kafir dia berjalan di dalam kegelapan, dia pasti akan tergelincir, dia pasti akan jatuh ke dalam lembah kehinaan. Itu di dunia.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, Surat Thaha ayat 124:
وَمَن كَانَ فِي هَٰذِهِ أَعْمَىٰ فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيلًا
Dan barangsiapa yang sewaktu di dunia buta dari hukum Allah Subhanahu Wa Ta'ala, di akhirat nanti lebih buta lagi dan dia akan sangat tersesat dari jalan yang benar. [QS. Thaha: 124]
Jamaah Idul Fitri yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, rumus di dalam kehidupan dunia simpel sebenarnya. Orang yang sesat, orang yang tidak mendapatkan hidayah, ujung-ujungnya endingnya adalah penderitaan di dunia, di akhirat. Sebaliknya, orang yang senantiasa mendapatkan petunjuk, mencari petunjuk, endingnya adalah keberuntungan di dunia wal akhirat.
Rumus Surga: Jalankan Syariat, Jangan Tinggalkan Shalat
Rumusnya mudah. Panjenengan mau shalat, mau zakat, mau puasa, dan sebagainya, semua syariat Islam Panjenengan jalankan. Rumusnya masuk surga, jangan meninggalkan shalat, meninggalkan puasa. Sudah tidak terbantahkan lagi, Panjenengan penghuni neraka.
Agama ini pilihan, tidak ada yang memaksa Panjenengan. Panjenengan mempunyai akal, mempunyai pikiran yang bisa menganalisa.
Pilihan Hidup: Iman Tanpa Ragu Pada Quran Sunnah
Kita semuanya hidup ini adalah mempunyai pilihan, mempunyai diberi hati untuk memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Setiap saat kita dihadapkan pada pilihan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan kita diberi kebebasan untuk memilih. Tidak ada paksaan.
Karena hakikat mengikuti petunjuk Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang pertama adalah membenarkan perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Jangan pernah Panjenengan ragu-ragu, apapun, sedikitpun terhadap Al-Qur'an dan hadits yang shahih.
Ragu-ragu adalah dari setan, baik dari golongan jin maupun manusia. Orang-orang yang senantiasa berusaha mengaburkan nilai agama, mengaburkan makna Al-Qur'an dari yang semestinya.
Padahal kita sebagai manusia mempunyai kekuatan untuk mengetahui dan menganalisa mana yang benar dan mana yang salah. Kita diberi ilmu oleh Allah, diberi pengetahuan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala untuk menganalisa.
Peringatan QS Thaha 124: Hidup Sempit Bagi Yang Berpaling
Jamaah hari raya Idul Fitri yang dimuliakan Allah. Di dalam khutbah yang singkat ini saya akan bacakan dua buah ayat dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala, dari Surat Thaha ayat 124:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ
Barangsiapa yang berpaling dari mengingat-Ku, kata Allah, maka baginya penghidupan yang sempit, dan di yaumul akhir nanti, di yaumul kiamat, mereka dikumpulkan dalam keadaan buta mata. [QS. Thaha: 124]
Barangsiapa yang lari dari petunjuk Allah Subhanahu Wa Ta'ala, yang hidup tanpa dengan dasar Al-Qur'an dan As-Sunnah yang shahih, maka baginya penghidupan yang sempit di dunia. Walaupun kelihatan bahagia di dunia, walaupun kelihatan banyak hartanya di dunia, tidak akan membawa barokah sedikitpun.
Akibat Lari dari Al Quran: Berteman Dengan Syaitan
Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, Surat Az-Zukhruf ayat 36-37:
وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ (36) وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُم مُّهْتَدُونَ (37)
Barangsiapa yang berpaling dari pelajaran Tuhan, barangsiapa yang berpaling dari Al-Qur'an dan As-Sunnah yang shahih, kata Allah, maka dijadikan dia syaitan sebagai kawan, syaitan sebagai teman yang senantiasa menyesatkan orang tersebut. [QS. Az-Zukhruf: 36-37]
Dari dua ayat yang mulia ini kita harus senantiasa menggaris bawahi, bahwasanya hidup kita ini semuanya diatur oleh Allah melalui Al-Qur'an dan As-Sunnah yang shahih. Kalau kita lari dari Al-Qur'an dan As-Sunnah yang shahih, yang pertama adalah kita pasti di kehidupan dunia ini mendapatkan kehidupan yang sempit. Yang kedua pasti kita akan berteman dengan syaitan.
Ajakan Ngaji dan Doa Idul Fitri
Jamaah shalat Id yang dimudahkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, untuk itu marilah kita sama-sama usaha untuk meningkatkan ilmu kita di dalam agama ini. Kapan lagi Panjenengan, kita semua barangkali lebih dari 60 persen sudah memasuki usia senja. Sebentar lagi kita sama dengan saudara-saudara kita di kuburan sana.
Akhirnya marilah kita sama-sama berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala agar senantiasa kita diberi kekuatan hidayah, diberi kekuatan iman, diberi kekuatan Islam, agar supaya kita bisa mengharap Allah dengan tidak membawa sekecil apapun dosa-dosa kita.
Alhamdulillahi hamdan thayyiban mubarakan 'alaih.
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا
رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا
رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلَانَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Komentar
Posting Komentar