Masyarakat Cikadu Lumbir Menyempatkan Waktunya Untuk Mengaji
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Wa shalatu wa salamu ‘ala Rasulillah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Pendahuluan
"modal utama" warga Cikadu: ilmu agama. Karena sehebat apapun industri kampung, jika penduduknya jauh dari Al-Qur’an dan Sunnah, maka itu hanya gedung tanpa pondasi.
Tautan Penting
→ Empat Jalur Penulis Silsilah Keluarga Cikadu Lumbir: cek di sini.
→ Kumpulan Tulisan Admin Lumbir Mengaji: buka di sini.
Realita ekonomi vs kewajiban iman
Grumbul Cikadu memang terkenal dengan industri genteng. Tapi pada kenyataannya, profesi warga sangat beragam: ada pengusaha bata, keramik Sanggar Asmat, pedagang kelontong, pedagang pisang, PNS, tukang batu, tukang kayu, petani. Tidak sedikit juga yang merantau jadi bos roti, pedagang roti, kerja di PT, kerja di pabrik termasuk penulis sendiri.
Di tengah kesibukan “ngejar setoran” dan kewajiban menafkahi keluarga, setan selalu membisik: "Kerja dulu, ngaji nanti. Capek dulu, ibadah besuk". Tapi Alhamdulillah, masyarakat Cikadu paham kaidah: *"Ad-dunya mazra’atul akhirah"* — dunia ini ladang akhirat.
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ [Al-Munafiqun: 9]
"Wahai orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah". Para pekerja genteng, cimpring, dan perantau Cikadu mempraktekkan ayat ini. Tangannya pegang palu dan adonan, tapi hatinya tetap ingat majelis ilmu.
Sejarah pengajian rutin: Dari penolakan ke penerimaan
Alhamdulillah, sudah lebih dari 2 tahun di Grumbul Cikadu ada pengajian rutin pekanan yang disampaikan oleh Bapak Sri Kusdiono. Ini nikmat besar yang wajib disyukuri. Karena banyak kampung lain yang pabriknya banyak, tapi majelis ilmunya sepi.
Tapi perjalanan dakwah tidak mudah. Pada awalnya, sebagian masyarakat menolak. Alasannya klasik: "Bertentangan dengan adat/kebiasaan ibadah nenek moyang". Ada tradisi tahlilan 7 hari, 40 hari, selamatan yang dianggap "warisan leluhur". Ketika disampaikan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih, sebagian merasa "kebiasaannya diserang".
Inilah ujian setiap dai. Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ saja awal dakwah dituduh "memecah persatuan Quraisy". Tapi dengan 2 senjata:
1. Pertolongan Allah: Hidayah itu di tangan Allah, bukan di tangan Ustadz.
2. Semangat menyampaikan kebenaran dengan hikmah: Tanpa mencaci adat, tapi menunjukkan mana yang dalil, mana yang tradisi.
Hasilnya? Alhamdulillah. Setetes demi setetes, hati warga mulai luluh. Yang awalnya nolak, sekarang jadi jamaah paling depan. Sampai sekarang pengajian rutin berjalan terus. Ini bukti firman Allah:
وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ
"Kebenaran pasti mengalahkan kebatilan".
Analisis: Kenapa "menyempatkan" itu kata kuncinya?
Penulis sengaja pakai kata "menyempatkan", bukan "sempat". Karena orang sibuk itu tidak pernah "sempat", tapi dia "menyempatkan".
Bapak-bapak habis angkat genteng 500 biji, badan pegal, tapi tetap hadir. tapi tetap duduk di majelis.
Ini namanya "qana’ah waktu". Mereka sadar: gaji bisa dicari besuk, tapi umur tidak bisa diulang. Majelis ilmu sekali terlewat, pahalanya hilang. Makanya mereka korbankan 1-2 jam untuk duduk dengar ayat. Padahal 1-2 jam itu kalau dipakai lembur bisa dapat uang.
Doa dan harapan untuk Cikadu
Kami berdo’a: _Ya Allah, jagalah Ustadz Sri Kusdiyono حَفِظَهُ اللَّهُ. Kuatkan lisannya, luruskan niatnya, luaskan manfaat dakwahnya. Jadikan setiap kata yang beliau sampaikan sebagai hujjah yang menyelamatkan beliau dan jamaahnya di hari kiamat._
Kami juga berdoa untuk seluruh warga Cikadu: Ya Allah, berkahilah kerja mereka di genteng, di cimpring, di rantau. Jadikan keringat mereka sebagai ibadah. Dan jangan Engkau cabut nikmat Islam dari kampung kami sampai hari kiamat.
Penutup
Dari genteng ke bata, dari palu ke Al-Qur’an. Itulah Cikadu. Dunia dikejar, akhirat jangan lupa. Karena orang cerdas bukan yang paling banyak hartanya, tapi yang paling banyak bekalnya pulang ke akhirat.
Jakarta, 17 September 2016
Penulis : Suyitno

Komentar
Posting Komentar