Kisah Seorang Mencari Hidayah Di Cikadu Lumbir


 
Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, sahabat, dan siapa saja yang mengikuti petunjuk beliau sampai hari kiamat.

Hidayah adalah nikmat terbesar yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Tanpa hidayah, manusia akan tersesat walau berakal dan berilmu. Tulisan singkat ini adalah penggalan kisah pribadi seorang hamba yang Allah pilih untuk mengenal sunnah di tengah kampung halamannya, Grumbul Cikadu, Desa Lumbir. Semoga menjadi pelajaran dan motivasi bagi kita semua untuk terus mencari kebenaran, bersabar di atasnya, dan istiqamah sampai akhir hayat.


Awal dakwah ditolak masyarakat  
Pada awal dakwah mengajak kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, kurang lebih tahun 2005, masyarakat hampir semua menolak. Seolah-olah ada agama baru di Grumbul Cikadu. Pada waktu itu dakwah hanya di bulan Ramadhan maupun khutbah Jumat, itupun hanya di Masjid Al-Furqon Cikadu.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:  

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ  

“Dan kebanyakan manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya”  
[QS. Yusuf: 103]

Setiap nabi pasti menghadapi penolakan ketika mengajak tauhid. Ini sunnatullah. Penolakan bukan ukuran salah atau benar. Justru para pengikut kebenaran di awal selalu sedikit. Tugas pendakwah adalah menyampaikan, bukan memaksa. Hidayah mutlak milik Allah. Sabar menghadapi penolakan adalah bagian dari jihad dakwah.

Mulai mengenal pengajian sunnah di perantauan  
Pada tahun 2007 kami menikah. Kami mulai penasaran dengan ajaran yang didakwahkan di kampung kami. Hidup di perantauan dengan mengontrak, di sanalah kami awal mengenal pengajian sunnah di Masjid Puri Cinere yang membahas Kitab Tauhid karya Muhammad bin Abdul Wahhab.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ  

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Allah akan memahamkannya dalam urusan agama” 
[HR. Bukhari no. 71, Muslim no. 1037]

Hadits ini menunjukkan hidayah adalah taufik dari Allah. Tanda Allah menginginkan kebaikan pada seseorang adalah Allah mudahkan ia paham agama. Perantauan, pernikahan, dan dipertemukan dengan majelis ilmu adalah sebab-sebab hidayah. Kitab Tauhid jadi pintu masuk karena isinya fondasi: mengesakan Allah dan meninggalkan syirik.

Semangat menuntut ilmu lewat buku  
Di samping seminggu sekali menghadiri pengajian, kami mulai membeli buku agama. Hari-hari disibukkan dengan membaca. Satu buku selesai, beli buku yang lain. Sempat istri menegur dan melarang membeli buku.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: 

وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا  

“Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu”  
[QS. Thaha: 114]

Allah memerintahkan Nabi untuk terus minta tambahan ilmu. Ilmu agama tidak ada batasnya. Membeli buku Tauhid, Bulughul Maram, Riyadhus Shalihin, Tafsir Ibnu Katsir adalah investasi akhirat. Memang butuh pengorbanan harta dan waktu. Teguran keluarga wajar, tapi jika niatnya untuk mengenal Allah dan Rasul-Nya, maka itu termasuk jihad.

Membuka kios herbal dan buku Islam untuk dakwah  
Alhamdulillah, tahun 2012 bulan September kami membuka kios herbal dan buku-buku Islam. Sempat ragu, tapi dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala sampai sekarang masih bertahan mengenalkan dan membantu proses dakwah di Grumbul Cikadu.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
  
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ  

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” 
[HR. Ahmad, hasan]

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Kios herbal + buku Islam bukan sekadar dagang, tapi sarana dakwah. Lewat buku orang jadi kenal sunnah. Lewat herbal orang jadi sehat lalu rajin ke masjid. Usaha yang diniatkan untuk menolong agama akan Allah berkahi, walau awalnya ragu dan modal kecil. Yang penting ikhlas dan istiqamah.

Semoga Allah menerima usaha dakwah kami di Grumbul Cikadu, memberkahi kios, dan meneguhkan kami di atas sunnah sampai akhir hayat. Aamiin.

Jakarta, 29 September 2016  
Penulis: Suyitno

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silsilah Keluarga Keturunan Eyang Mursyid Cikadu Lumbir

Silsilah Keluarga Keturuan Eyang Mahmud cikadu Lumbir

Referensi Silsilah Keluarga Cikadu Lumbir