Kemajuan dakwah Islam di Cikadu Lumbir
Kemajuan dakwah Islam di Cikadu Lumbir. Menjadi saksi mata hidupnya sunnah di kampung halaman, peran Ustadz Sri Kusdiyono, dan pentingnya mengikuti pemahaman para sahabat. Baca selengkapnya di bawah ini.
DAFTAR ISI - Klik untuk buka
Hakikat Hidup: Beribadah kepada Allah
Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, wa shalatu wa salamu ‘ala Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wa ‘ala alihi wa shahbihi wa man tabi’ahum bi ihsanin ilaa yaumiddin.
Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat yang tidak terhitung jumlahnya. Nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada kita adalah nikmat Islam dan iman.
Kemudian Allah sempurnakan dengan nikmat mengenal Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dengan dua cahaya inilah kita memahami hakikat keberadaan kita di dunia: bahwa hidup ini bukan kebetulan, bukan sekadar mencari dunia, melainkan untuk satu tujuan agung — beribadah hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surat Adz-Dzariyat ayat 56:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku."
Ayat yang mulia ini adalah inti dari dakwah seluruh Nabi. Allah menegaskan bahwa tujuan penciptaan kita adalah al-‘ibadah yang mencakup seluruh ketaatan lahir batin. Maka seorang muslim, apapun profesinya — entah ustadz, petani, atau bakul roti keliling — jika ia meniatkan pekerjaannya untuk mencari nafkah halal, menafkahi keluarga, dan menjauhi yang haram, maka gerobak rotinya pun berubah menjadi ibadah. Inilah keindahan Islam: seluruh hidup bisa bernilai pahala jika di atas ilmu dan niat yang lurus.
Saksi Mata: Kemajuan Dakwah di Grumbul Cikadu
Seiring berjalannya waktu, Alhamdulillah kami senantiasa bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hidup di Grumbul Cikadu/Cikole, Desa Lumbir, kami adalah saksi mata bagaimana Allah menghidupkan kembali sunnah di kampung kami. Terutama dalam 2-3 tahun terakhir ini, kemajuan terasa sangat nyata.
Dulu, kajian sunnah hanya dihadiri segelintir orang. Kini Alhamdulillah masjid mulai ramai. Dulu masyarakat alergi dengan istilah “tauhid”, “bid’ah”, “sunnah”. Kini banyak yang bertanya: “Dalilnya mana, Kang?”. Ini tanda bahwa hidayah Allah sedang mengetuk pintu hati warga Lumbir. Semua ini bukan karena kepintaran manusia, tapi karena taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.
Tonggak Sejarah: Peran Keturunan Eyang Mursyid
Pada tulisan sebelumnya, kami telah mengisahkan semangat baru dari keturunan Eyang Mursyid, seperti Bapak Prapto dan Bapak Nasrun rahimahumallah. Kini kami melanjutkan kisah tentang generasi penerusnya.
Dari sekian banyak cucu Eyang Mursyid, Allah Subhanahu wa Ta’ala mentakdirkan salah satu keturunan Ibu Wiryo, yaitu Bapak Sri Kusdiyono, untuk menjadi pelita di tengah gelapnya kebodohan. Mungkin ini buah dari doa dan kesalehan sang ibu. Atau memang ini ketetapan Allah, bahwa di setiap kampung akan selalu ada orang yang Allah pilih untuk menegakkan kalimat-Nya.
Di tengah masyarakat yang dulu jauh dari ilmu, bahkan masih terikat dengan berbagai bentuk kesyirikan dan tradisi yang menyelisihi sunnah, Allah mengutus seorang anak kampung sendiri untuk menyampaikan Dinul Islam.
Ini sesuai firman Allah: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri" [Ar-Ra’d: 11].
Istiqamah di Atas Manhaj Salaf
Lebih dari sepuluh tahun, Bapak Sri Kusdiyono hafizhahullah istiqamah berdakwah. Dimulai dari khutbah Idul Fitri, Idul Adha, khutbah Jumat, hingga kajian Ramadhan. Alhamdulillah, sekitar dua tahun terakhir beliau rutin mengisi pengajian pekanan di Grumbul Cikadu.
Ciri khas dakwah beliau: selalu kembali kepada dalil. Setiap nasihat disandarkan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai pemahaman Salaful Ummah — yaitu para sahabat radhiyallahu ‘anhum dan generasi terbaik setelahnya. Beliau tidak mencampuradukkan agama dengan hawa nafsu, adat, atau perasaan. Prinsip beliau sederhana: “Kalau ada dalil, kami terima. Kalau tidak ada, kami tinggalkan.” Inilah manhaj yang lurus dan selamat.
Mengapa Wajib Mengikuti Pemahaman Para Sahabat?
Lalu muncul pertanyaan penting: Mengapa kita harus mengikuti pemahaman para sahabat?
Jawabannya ada dalam Al-Qur’an, Surat At-Taubah ayat 100:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar."
Perhatikan urutannya. Allah memuji 3 golongan: As-Sabiqun al-Awwalun, Al-Muhajirin, Al-Anshar. Lalu Allah buka pintu untuk kita semua: "Wa alladzina tattaba’uhum bi ihsan" — siapa saja yang mengikuti jalan mereka dengan baik. Kata kuncinya “bi ihsan”: mengikuti dengan cara yang benar, bukan ngawur. Dan jaminan Allah jelas: ridha Allah dan surga kekal.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda bahwa umatnya akan terpecah 73 golongan, dan yang selamat hanya satu: "Ma ana ‘alaihi wa ashhabi" — yang berada di atas jalanku dan jalan para sahabatku. Maka, jika kita ingin selamat dari perpecahan dan kesesatan, kuncinya satu: kembali kepada pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum.
Baca juga: Berbahagia Ikut Mendukung Dakwah di Cikadu Lumbir
Penutup: Ajakan dan Doa
Dari sinilah kami mengajak kaum muslimin, khususnya keturunan Eyang Sanraji, dan umumnya seluruh masyarakat Desa Lumbir: mari kita hijrah kepada ilmu. Perbanyaklah membaca Al-Qur’an dengan tadabbur, hadiri majelis ilmu, tanyakan dalil setiap amalan. Karena ibadah tanpa ilmu itu berbahaya. Ibarat berjalan di malam gelap tanpa lampu — sangat mudah terjatuh ke jurang bid’ah atau syirik.
Kami memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar senantiasa menjaga kesehatan Ustadz Sri Kusdiyono hafizhahullah, melapangkan dadanya, meluruskan lisannya, dan menerima segala jerih payahnya sebagai amal shalih. Semoga dakwah yang dimulai dari Grumbul Cikadu/Cikole ini terus meluas ke Cikopeng, Lumbir, Butulan, hingga ke seluruh penjuru. Semoga Allah menjadikan desa kita desa yang bertauhid, berakhlak, dan di atas sunnah.
Lumbir, 12 Agustus 2016
Penulis: Suyitno

Komentar
Posting Komentar