Manusia Diberi Kebebasan Untuk Memilih


Bismillahirrahmanirrahim. 
 
Alhamdulillahilladzi hadana lihadza wa maa kunna linahtadiya laula an hadanallah.

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'alla yang telah memberikan kita nikmat akal, nikmat hidayah, dan nikmat kebebasan untuk memilih. 

Di antara nikmat terbesar adalah Allah tidak menciptakan kita seperti hewan yang hanya mengikuti naluri. Allah beri kita akal agar kita berpikir, Allah beri kita wahyu agar kita punya pedoman, dan Allah beri kita kehendak agar kita bisa memilih jalan hidup.

Namun kebebasan itu bukan berarti tanpa batas. Ada petunjuk, ada rambu-rambu, ada Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai timbangan. 
Maka tulisan sederhana ini adalah renungan tentang bagaimana kita menyikapi perbedaan, terutama dalam masalah agama.
Tautan Penting
→ Empat Jalur Penulis Silsilah Keluarga Cikadu Lumbir: cek di sini. 
→ Kumpulan Tulisan Admin Lumbir Mengaji: buka di sini. 

Sering kali kita melihat dan mendengar di masyarakat tentang perbedaan dalam masalah ibadah. Dari dahulu sampai sekarang, perbedaan tentang cara beribadah maupun keyakinan merupakan sunnatullah dan takdir dari Allah Subhanahu wa Ta'alla.

Setiap ada perbedaan, yang jadi pertanyaan: Apakah manusia diberi kebebasan untuk memilih? 
Kami katakan: Ya. 
Karena manusia diberi akal untuk berpikir, mana yang baik dan mana yang buruk.

Lalu pertanyaannya lagi: Apakah setiap ada perbedaanp semuanya benar?  
Kami katakan: Bisa dua-duanya benar, dan bisa juga yang satu benar dan yang satu salah. 
Yang jelas, manusia diberi pilihan. Mau menempuh jalan yang mana? Mau ke kanan silakan, mau ke kiri juga silakan. Tapi ingat, setiap pilihan ada konsekuensinya.

Di dalam urusan dunia saja, manusia yang tahu ilmunya dan mengerti ukuran kebenaran pasti bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. 
Apalagi masalah Agama. Pasti ada ukuran kebenarannya. Yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan pemahaman para sahabat.

Yang jadi pertanyaan besar: Apakah selama ini kita sudah mencari dan belajar, atau hanya mengikuti kebanyakan manusia?

Sebagai seorang muslim, setiap ada perbedaan dalam beragama, setidaknya kita mau belajar mencari dari kedua perbedaan tersebut. 
Kalau kita sudah mencari semampu kita. Yang A alasannya begini, yang B alasannya begini. Baru kita memilih salah satu pendapat yang kita yakini kebenarannya berdasarkan dalil.

Terkadang ada sebagian masyarakat yang memilih pendapat ini paling benar hanya karena mengikuti kebanyakan orang. Padahal dia sendiri belum tahu alasannya kenapa pendapat ini yang paling benar.

Ini berbahaya. Karena di akhirat nanti Allah tidak bertanya: "Kenapa kamu ikut kebanyakan orang?" 
Tapi Allah bertanya: "Apa hujjahmu? Apa dalilmu?"


Ini hanya sebuah renungan. Barangkali Allah Subhanahu wa Ta'alla memberi kemudahan kepada kami untuk berbagi.

Apabila dalam memposting, memberi judul, atau isi tulisan ini tidak sependapat atau berbeda dengan yang anda yakini, jangan langsung menolak mentah-mentah. 
Coba pahami dan cermati. Barangkali ada sedikit masukan ilmu, walaupun hanya sekulit ari.

Karena menuntut ilmu itu tidak harus setuju dengan semua pendapat. Tapi menuntut ilmu itu harus jujur mencari kebenaran.

Ingatlah, hidayah hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'alla. Tugas manusia hanya berusaha mencari dan mencari. Walaupun hanya sekedar membaca tulisan ini.

Semoga Allah memberikan kita keistiqamahan di atas kebenaran. Semoga Allah melembutkan hati kita untuk menerima kebenaran dari manapun datangnya. Dan semoga Allah tidak menjadikan kita termasuk orang-orang yang menolak kebenaran karena hawa nafsu atau karena ikut-ikutan.

Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami yang benar itu benar dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya. Dan tunjukkanlah kepada kami yang batil itu batil dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.

Wallahu a'lam bish-shawab

Jakarta, 11 Oktober 2016  
Penulis: Suyitno

Komentar