Bersabar Belum Dikaruniai Anak
Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah Ta'alla, Dzat Yang Maha Pemberi dan Maha Menahan.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi wasallam, suri tauladan terbaik umat manusia.
Tidak bisa dipungkiri, kehadiran buah hati adalah salah satu kebahagiaan terbesar dalam rumah tangga. Namun, ada juga pasangan yang Allah uji dengan belum dikaruniai anak bertahun-tahun. Tulisan ini semoga menjadi penghibur, penguat, dan pengingat bahwa kesabaran, doa, serta usaha tidak akan pernah sia-sia di sisi Allah.
Sebagian pasangan suami istri mulai merasa resah dan gelisah ketika usia pernikahan sudah mencapai satu tahun lebih, tetapi rumah masih terasa sepi dari tangis bayi. Masa-masa “pacaran halal” yang dulu hangat berdua saja, lama-kelamaan berubah. Seiring berjalannya waktu, hati menuntut agar rumah ditambah penghuninya. Penghuni yang membuat bising rumah. Bising yang justru dinanti dan dirindukan.
Ternyata, lama tidak dikaruniai buah hati juga dialami oleh para nabi ‘alaihimussalam. Mereka tetap bersabar, berdoa, dan terus berusaha. Kisah mereka sepatutnya menjadi tauladan bagi kita.
1. Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam & Siti Sarah
Ini dia Bapak Para Nabi, Khalilullah Ibrahim ‘alaihissalam bersama istrinya Sarah. Sangat lama mereka tidak dikaruniai anak, sampai berdua sudah tua renta dan rambut beruban.
Karena kasih sayang Sarah kepada suaminya, ia menghibur hati Ibrahim dengan menghadiahkan budak perempuannya, Hajar, agar dinikahi suaminya.
Al-Quran menceritakan ketika malaikat datang memberi kabar gembira:
فَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً قَالُوا لَا تَخَفْ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ... قَالُوا كَذَلِكَ قَالَ رَبُّكِ إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ
“(Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata: ‘Janganlah kamu takut’, dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan kelahiran seorang anak yang alim (Ishak).” Kemudian istrinya datang memekik lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata: “Aku adalah seorang perempuan tua yang mandul.” Mereka berkata: “Demikianlah Tuhanmu memfirmankan. Sesungguhnya Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” [Adz-Dzariyat: 28-30]
Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata:
“Jarak antara kabar gembira dengan kelahiran Ishaq adalah setahun. Adapun sebelum itu Sarah tidak pernah melahirkan, kemudian ia melahirkan ketika berusia 99 tahun, sedang Ibrahim berusia 100 tahun.” [Tafsir Al-Qurthubi]
Pelajaran dari kisah ini:
1. Nabi Ibrahim tidak membenci istrinya Sarah karena belum diberi keturunan. Beliau tetap setia. Demikian juga para suami, hendaknya menyayangi istri apa adanya.
2. Sarah tahu diri dan berusaha menghibur suaminya dengan menghadiahkan Hajar. Demikian juga istri yang terbukti belum bisa hamil, hendaknya bijak dan saling mendukung.
2. Kisah Nabi Zakaria ‘alaihissalam
Begitu juga Nabi Zakaria ‘alaihissalam yang berdoa setelah lama tidak diberi keturunan:
وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَى رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْداً وَأَنتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ... فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَ
“Dan ingatlah kisah Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: ‘Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik.’ Maka Kami memperkenankan do’anya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya.” [Al-Anbiya’: 89-90]
Di ayat lain Allah berfirman:
يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَى... قَالَ كَذَلِكَ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّن
“Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan beroleh seorang anak yang namanya Yahya... Rabb berfirman: ‘Hal itu adalah mudah bagi-Ku’.” [Maryam: 7-9]
3. Kisah Rasulullah Shalallahu'alaihi wasallam
Bahkan Nabi kita Muhammad Shalalahu'alaihi wasallam pun lama tidak dikaruniai anak laki-laki yang hidup sejak diutus jadi Rasul, padahal beliau memiliki banyak istri. Tentu beliau sangat menginginkan anak laki-laki yang bisa meneruskan dakwah. Sementara putra beliau, Ibrahim, lahir dari budak beliau dan Allah panggil kembali saat usia 1 tahun lebih, di saat paling imut dan disayangi.
Dari semua kisah di atas, kita belajar bahwa penundaan keturunan bukanlah bentuk murka Allah. Bisa jadi itu bentuk cinta-Nya: menguji kesabaran, menguatkan doa, dan menyiapkan yang terbaik di waktu yang tepat.
Maka bagi pasutri yang masih menanti buah hati: bersabarlah, perbanyak doa seperti doa Nabi Zakaria, perbaiki ikhtiar, dan husnuzhan kepada Allah. Karena bagi Allah, tidak ada yang mustahil. Yang mandul bisa hamil, yang tua bisa punya anak.
Semoga Allah segera menenangkan hati kalian dengan tangis bayi yang dinanti. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush shalihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.
Penulis : Admin
Referensi
1. Tafsir Ibnu Katsir QS Adz-Dzariyat 28-30 & QS Maryam 7-9
2. Shahih Bukhari Kitab Al-Janaiz
3. Raudhatul Muhibbin karya Ibnu Qayyim - bab sabar menanti keturunan
Komentar
Posting Komentar