Buyut Paling Muda Keturunan Eyang Sanraji Cikadu Lumbir
Bismillahirrahmanirrahim.
Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejelekan diri kita dan dari keburukan amal perbuatan kita.
Ya Allah, limpahkanlah shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.
Kaum muslimin rahimakumullah, Sungguh di antara nikmat Allah Ta’ala yang sering kita lupakan adalah nikmat nasab dan silaturahmi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” [QS. Al-Hujurat: 13]
Dari ayat ini, saya belajar bahwa menelusuri silsilah bukan sekadar nostalgia, tapi bagian dari syariat untuk menyambung tali rahim.
Izinkan saya berbagi kisah perjalanan saya menelusuri silsilah Eyang Sanraji, hingga Allah takdirkan saya menjadi buyut termuda dari keturunannya.
Tautan Penting
→ Empat Jalur Penulis Silsilah Keluarga Cikadu Lumbir: cek di sini
→ Kumpulan Tulisan Admin Lumbir Mengaji: buka di sini
Perjalanan Mencari Akar
Di era tahun 2015, tidak sedikit perkumpulan keluarga besar diadakan setiap momen, terutama setelah Idulfitri. Pada suatu hari, saya diundang menghadiri perkumpulan keluarga Eyang Sanarja di rumah Pak Bambang, Kedunggede.
Dari pertemuan itu, rasa penasaran saya muncul: siapakah eyang buyut saya dari jalur bapak ke atas? Nama-nama yang masyhur saat itu adalah Eyang Su’aeb, Eyang Abu Tolkhah, dan Eyang Mas’ud.
Setelah ditelusuri, ternyata mereka bertiga bersaudara. Namun mencari siapa kakek mereka cukup sulit waktu itu. Alhamdulillah, Allah bukakan jalan melalui Bapak Akhmadi, putra Eyang Su’aeb. Dari beliaulah terungkap bahwa ayah dari ketiga bersaudara itu bernama Eyang Sanraji, dan istrinya Eyang Wikinah.
Ternyata, keturunan Eyang Sanraji tidak hanya tiga. Masih ada dua saudari perempuan: Eyang Tangirah dan Eyang Napsiyah. Maka jelaslah, perkumpulan yang saya hadiri saat itu adalah dari jalur Eyang Napsiyah.
Dari titik itulah saya mulai menelusuri keturunan lima anak Eyang Sanraji.
Tahun 2016, saya mulai mengumpulkan data satu per satu. Semua saya dokumentasikan, saya jilid, lalu saya bagikan ke masing-masing jalur lima anak Eyang Sanraji. Tidak berhenti di situ, saya mulai mengenal dunia digital. Satu per satu data silsilah saya simpan di blog.
Setelah diteliti dari anak, cucu, hingga buyut, qadarullah ternyata saya adalah buyut yang paling muda usianya dari seluruh keturunan Eyang Sanraji.
Urutan anak Eyang Sanraji adalah:
1. Eyang Mas’ud
2. Eyang Tangirah
3. Eyang Su’aeb
4. Eyang Napsiyah
5. Eyang Abu Tolkhah
Saya adalah buyut dari anak ketiga, yaitu Eyang Su’aeb.
Silsilah saya: Suyitno bin Bapak Sudiro bin Eyang Su’aeb bin Eyang Sanraji.
🏠 Lihat lokasi rumah buyut Paling Muda di sini
Baca: Silsilah Lengkap Keturunan Eyang Su’aeb di sini
Ada kisah unik dari Eyang Su’aeb rahimahullah. Beliau menikah hingga tujuh kali, dan baru dikaruniai keturunan pada pernikahan ketujuh, saat usia beliau 40 tahun. Meski Eyang Su’aeb adalah anak ketiga, karena menikah di usia matang, maka keturunannya menjadi yang termuda dibanding keturunan saudara-saudaranya.
Baca: Kisah Menarik Eyang Su’aeb Menikah 7 Kali di sini
Alhamdulillah, dengan takdir Allah Ta’ala, saya diberi kesempatan untuk menghimpun data silsilah ini. Dan yang paling mengharukan, anak saya otomatis menjadi canggah termuda dari seluruh keturunan Eyang Sanraji. Kelahirannya pun penuh kisah, setelah penantian panjang 18 tahun pernikahan.
Baca: Kisah Kelahiran Canggah Termuda Setelah 18 Tahun Penantian di sini
Semua data ini akhirnya terdokumentasi di blog Lumbir Mengaji.
Kenapa Silsilah Itu Penting?
Jujur, di zaman sekarang tidak banyak yang peduli dengan silsilah keluarga. Anak, cucu, bahkan orang tua pun sibuk dengan beban hidup masing-masing. Banyak yang berkata, “Buat apa silsilah?”
Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an menggandengkan perintah mentauhidkan-Nya dengan perintah berbuat baik kepada orang tua dan karib kerabat. Allah berfirman:
وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang tua, dan karib-kerabat.” [QS. An-Nisa: 36]
Ayat ini tegas: setelah tauhid, hak paling besar adalah hak orang tua, lalu hak kerabat. Menjaga nasab dan menyambung rahim adalah bentuk nyata dari menjalankan ayat ini.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barangsiapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” [HR. Bukhari no. 5986]
Kaum muslimin rahimakumullah, Perjalanan menelusuri silsilah ini mengajari saya satu hal: kita tidak hidup sendiri. Di atas kita ada orang tua, kakek, buyut, yang doa-doanya mungkin menjadi sebab kita ada hari ini. Di samping kita ada saudara, sepupu, keponakan, yang menjadi ladang pahala jika kita sambung silaturahminya.
Semoga catatan kecil ini menjadi pemantik bagi kita semua untuk mulai mengenal, mencatat, dan menyambung kembali tali rahim yang mungkin mulai renggang. Karena silaturahmi bukan hanya tentang kumpul saat Idulfitri, tapi tentang menjaga nasab, mendoakan yang telah wafat, dan merawat yang masih hidup.
Ya Allah, satukanlah hati-hati kami di atas ketaatan kepada-Mu. Ampunilah dosa orang tua kami, kakek-nenek kami, dan seluruh kaum muslimin. Jadikanlah anak keturunan kami sebagai anak yang saleh, penyambung silaturahmi, dan penegak tauhid.
وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
Jakarta, 14 Agustus 2016
Penulis : Suyitno
Refisi: 20 Juli 2026

Komentar
Posting Komentar