Ternyata Ada Orang Hebat Di Cikadu Lumbir bag 1
Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Puji syukur kehadirat Allah Ta'alla yang telah melimpahkan nikmat sehat, kesempatan, serta ilmu kepada kita semua.
Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Baginda Rasulullah Shalallahu'alaihi wassallam , keluarga, sahabat, dan umatnya sampai akhir zaman.
Pada kesempatan ini, kami ingin berbagi sebuah kisah yang mungkin jarang diketahui oleh generasi sekarang. Pembahasan tentang "orang hebat" memang luas maknanya. Bagi sebagian orang, hebat berarti kaya raya. Bagi yang lain, hebat berarti berilmu tinggi. Namun bagi masyarakat Cikadu Lumbir, "hebat" punya makna tersendiri. Terlebih jika kelebihan itu tidak dimiliki oleh orang pada umumnya.
Semoga tulisan sederhana ini bisa menjadi ibrah, renungan, dan pelajaran bagi kita semua agar tetap istiqamah meniti jalan yang lurus sesuai tuntunan syari’at Agama Islam.
Terlebih dahulu kami memohon maaf setulus-tulusnya kepada seluruh keluarga besar keturunan Eyang Sanraji. Barangkali tulisan ini dianggap terlalu lancang, karena membongkar kisah-kisah keluarga yang seharusnya dijaga dan ditutupi rapat-rapat. Bahkan mungkin ada yang menganggap kami sedang membuka aib keluarga.
Namun niat kami jauh dari itu. Tujuan kami menulis hanya satu: mengambil pelajaran dan hikmah. Agar anak cucu kelak tahu sejarah, tahu asal-usul, dan tahu bahwa di tanah Cikadu Lumbir pernah hidup orang-orang luar biasa.
Kisah ini berfokus pada dua tokoh cucu Eyang Sanraji, yaitu:
1. Bapak Basuki, dari garis keturunan Eyang Su’aeb
2. Bapak Amir, dari garis keturunan Abu Tolkhah
Nama beliau berdua sangat masyhur di kalangan warga Cikadu Lumbir dan sekitarnya. Dari cerita para sesepuh seperti Bapak Busro, Bapak Sudiro, Ibu Lasiah, hingga warga lain yang masih hidup, kami mendengar hal yang sama: bahwa Bapak Basuki dan Bapak Amir memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang biasa.
"Katanya" mereka berdua mempunyai karomah dan kelebihan...
Namun sampai sekarang kami belum berani memastikan kebenarannya secara pasti, karena semua yang kami tulis ini hanya sebatas cerita turun-temurun dari para sesepuh dan saksi mata di zaman itu. Kami tidak berani menambah atau mengurangi, hanya menyampaikan apa adanya sesuai penuturan.
Wah, jadi penasaran juga nih, kira-kira kelebihannya apa ya...? Apakah ilmu kanuragan, kewibawaan, ataukah kelebihan lain yang sulit dinalar akal sehat?
Bagian selanjutnya kami akan mengupas satu cerita yang kami kumpulkan, tentu dengan tetap menjaga adab dan rasa hormat kepada keluarga besar.
Kelanjutan ceritanya bisa dibaca di sini
Demikian tulisan bagian pertama ini kami sampaikan dengan segala keterbatasan ilmu dan bahasa. Besar harapan kami, semoga pembaca berkenan memaklumi segala kekurangan, kekhilafan, serta kesalahan dalam penyampaian.
Kami tidak bermaksud menggurui, apalagi menyinggung perasaan siapapun. Jika ada kata yang kurang berkenan, kami mohon dibukakan pintu maaf seluas-luasnya.
Akhir kata, mari kita doakan para leluhur kita, khususnya Eyang Sanraji beserta keturunannya, semoga Allah tempatkan beliau-beliau di tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Jakarta, 1 Agustus 2016
Penulis : Suyitno
Komentar
Posting Komentar