Perguruan Pencak Silat Cikadu Lumbir

Kisah perjalanan hidup Eyang Abu Tolkhah. Kepandaian dalam Al-Qur'an, ilmu Nahwu Sharaf, dan keteguhan memegang Al-Qur'an dan As-Sunnah. Baca selengkapnya di bawah ini.

DAFTAR ISI - Klik untuk buka

Muqoddimah

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala, Tuhan semesta alam. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, keluarga, dan sahabat beliau.

Semoga tulisan tentang perjalanan hidup Eyang Abu Tolkhah ini menjadi pelajaran, ibrah, dan pengingat bagi kita semua keturunan Eyang Sanraji untuk selalu meneladani kebaikan para pendahulu.

Foto karpet Masjid Cikadu Tulisan Perguruan Pencak Silat Cikadu Lumbir

Kepandaian dalam Al-Qur'an

Pada tulisan kali ini, kami akan menceritakan sedikit tentang perjalanan Eyang Abu Tolkhah.

Di Desa Lumbir semua orang mengenal Eyang Abu Tolkhah pada waktu itu, karena kepandaiannya dalam mengajarkan Al-Qur’an, terutama ilmu Nahwu Sharaf, hampir semua yang ingin mengetahui Al-Qur’an belajar sama beliau.

Di samping kepandaian beliau dalam mengajarkan Al-Qur’an, Eyang Abu Tolkhah pandai bela diri, kata Ibu Lasiyah Minangkabau, lain kata Ibu Khoriyah bela diri konto.

Kami sendiri belum mengetahui dari mana Eyang Abu Tolkhah bisa bela diri, menurut pandangan kami, mungkin pada waktu sekolah di Pondok Pesantren Lirap di Kebumen.

Kisah Memanggil dari Jarak Jauh

Ada kisah? Bapak Busro menceritakan kepada kami bahwa: Eyang Abu Tolkhah di masa hidupnya di samping kepandaian dalam bela diri dan mengajarkannya, beliau bisa memanggil seseorang dari jarak jauh (nggayuh).

Ceritanya begini: pada saat itu Pak Amir (anaknya) sedang jatuh cinta di daerah (kami belum jelas daerah mana yang pasti sebelah barat Lumbir), terus pada waktu itu Eyang Abu Tolkhah karena kurang suka dengan keadaan anaknya terus digambar di pikiran Eyang Abu Tolkhah bayangan Pak Amir, Pak Amir supaya pulang, pada saat itu juga Pak Amir gelisah pengin pulang.

Mendengar cerita ini, hebat juga Eyang Abu Tolkhah! Yang jadi pertanyaan: apakah kehebatan seperti ini bisa memanggil seseorang dari jarak jauh/telepati/nggayuh diperbolehkan dalam Islam?

Apakah karena kesalehan seseorang dalam mempelajari Al-Qur’an, dengan amalan tertentu/bacaan tertentu bisa digunakan apa yang diinginkannya?

Baca juga: Ternyata Ada Orang Hebat Di Cikadu Lumbir bag 1

Hukumnya dalam Islam

Menurut pandangan kami, yang jadi pedoman kita dalam beragama, yaitu mengikuti apa yang diperintah Allah Azza wa Jalla dan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu (Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih).

Perlu kita luruskan bersama. Dalam Islam ada yang disebut karamah, yaitu kejadian luar biasa yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang shalih sebagai kemuliaan, bukan untuk dipamerkan. Karamah itu murni pemberian Allah, bukan hasil amalan khusus dengan jumlah tertentu yang tidak diajarkan Rasulullah ﷺ.

Berbeda dengan sihir atau telepati yang dipelajari dengan amalan bid’ah, jimat, atau bilangan tertentu tanpa dalil. Ini dilarang keras. Allah berfirman:

وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ

"Padahal setan-setan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia." [QS. Al-Baqarah: 102]

Kalau orang belajar Al-Qur’an tidak melalui petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, amalan tertentu dengan mengambil dari Al-Qur’an dan dengan jumlah/bilangan yang tidak ada contohnya bisa untuk kehebatan atau yang lainnya, perkara seperti itu tidak diperbolehkan dalam syari’at agama Islam.

Kalau seandainya hal itu diperbolehkan mana contoh dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, barangkali pembaca yang budiman mengetahui riwayat/hadits yang shahih tentang diperbolehkannya hal tersebut. Bisa berbagi kepada kami.

Doa untuk Eyang

Kami berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, mudah-mudahan Allah memberikan rahmat kepada eyang kita dan menerima semua amal kebaikan di masa hidup beliau, sehingga kita semua keturunan Eyang Sanraji.

Alhamdulillah berkat do’a eyang kita dan kesalehan mereka, hampir semua keturunan Eyang Sanraji mau bersujud kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Lumbir, 10 Agustus 2016
Penulis: Suyitno