Kisah Eyang Suaeb Dibawa Jin Cikadu Lumbir
Kisah Eyang Suaeb dibawa jin Cikadu Lumbir. Benarkah manusia bisa dibawa jin? Pelajaran aqidah tentang perkara ghaib dan pentingnya belajar agama dengan benar. Baca selengkapnya di bawah ini.
DAFTAR ISI - Klik untuk buka
Muqoddimah
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.
Semoga kisah ini menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa ilmu agama hanya bisa didapat dengan belajar bersungguh-sungguh sesuai tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Apakah Benar Manusia Bisa Dibawa Jin?
Yang jadi pertanyaan: Apakah benar manusia bisa dibawa jin? Entah itu dibawa terbang, menghilang atau yang lainnya.
Alhamdulillah wash shalatu wassalamu ‘ala rasulillah amma ba’du
Yang jadi pedoman kita dalam beragama, masalah ibadah, muamalah terlebih-lebih masalah akidah (keyakinan), kita harus merujuk kepada dalil dari Al-Qur’an maupun hadits yang shahih.
Sesungguhnya pengetahuan terhadap perkara ghaib termasuk hal yang menjadi rahasia Allah Azza wa Jalla. Termasuk sifat Allah paling khusus, yang tidak ada seorang makhlukpun dapat menyamai-Nya. Sebagaimana firman-Nya:
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَيَعْلَمُهَآ إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَافِي الْبَرِّوَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا وَلاَحَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ اْلأَرْضِ وَلاَرَطْبٍ وَلاَيَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مًّبِينٍ
"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya pula, dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata Lauh Mahfuzh." [QS. Al-An’am: 59]
Kisah Eyang Su'aeb: Versi Para Saksi
Bapak Mukhkam bercerita kepada kami, sebab Eyang Su’aeb dibawa jin katanya pengin cepat mengetahui agama akan tetapi tidak mau belajar dengan rajin/keras, (dengan istilah ilmu mantek).
Dikuatkan lagi Bapak Busro bercerita dari Eyang Abu Tolkhah, ceritanya sama, bahwa Eyang Su’aeb kepengin cepat pintar agama, akan tetapi tidak mau belajar.
Mengenai kisah Eyang Su’aeb dibawa jin, kami sudah bertanya kepada Bapak Sri Kusdiono, jawabannya: “Bahwa apabila manusia belajar agama tidak berdasarkan tuntunan dari Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, bisa jadi otaknya/jiwanya akan terganggu.”
Jadi kisah Eyang Su’aeb menghilang di Ajibarang terus diketemukan di Masjid Tegal, bisa jadi Eyang Su’aeb berjalan menuju Tegal dengan dibayang-bayangi hal tertentu oleh jin/diganggu oleh jin, misalkan lagi shalat, melihat makam Adam dan Hawa, lagi makan, denger suara anak sedang mengaji.
Kisah ditemukannya Eyang Su’aeb: pendapat kami, Eyang Su’aeb berjalan sampai Masjid Tegal, karena tidak pernah mandi bajunya kusut/rontal-rantil, terus sama pengurus masjid disuruh menjadi muadzin, selang beberapa bulan, ada tukang dokar mengantarkan penumpang ke daerah Tegal, terus denger suara adzan yang sangat merdu adzannya Eyang Su’aeb, nah baru diketemukan Eyang Su’aeb.
Kesimpulan: Sikap Pertengahan
Kesimpulan: kami tidak membenarkan 100%, bahwa Eyang Su’aeb bisa dibawa jin dengan menghilang atau yang lainnya, juga kami tidak membenarkan 100% Eyang Su’aeb terganggu akalnya/jalan sendiri entah kemana.
Kami sifatnya pertengahan, apalagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja tidak mengetahui perkara ghaib, sebagaimana yang difirmankan Allah Azza wa Jalla di dalam surat Al-A’raf 188:
قُل لآَّأَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَاشَآءَ اللهُ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَامَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
"Katakanlah, Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman." [QS. Al-A’raf: 188]
Baca juga: Gantengnya Eyang Suaeb Cikadu Lumbir
Pelajaran untuk Kita Sekarang
1. Ilmu agama nggak bisa instan. Harus sabar, talaqqi, talaqqi.
2. Jangan percaya "ilmu mantek", "puasa mutih 40 hari biar pinter", itu bukan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
3. Bentengi diri dengan tauhid, dzikir pagi-petang, Al-Qur’an. Jin nggak bisa ganggu orang yang kuat tauhidnya.
4. Ambil hikmah: Eyang Suaeb tetap jadi orang shaleh. Ujian nggak menghalangi beliau ibadah.
Lumbir, 6 Agustus 2016
Penulis: Suyitno

Komentar
Posting Komentar