Sumber Dari Segala Dosa-Dosa

Transkrip kajian tematik bertema Sumber Dari Segala Dosa-Dosa. Pemateri: Ustadz Sri Kusdiyono, Kajian Nurul Iman Cikole, Grumbul Cikadu, Desa Lumbir, Banyumas. Gunakan daftar isi di bawah untuk melompat ke pembahasan.

Muqoddimah Kajian Sumber Dari Segala Dosa

Kajian tematik Masjid Nurul Iman Cikole tentang tiga sumber utama segala dosa yaitu kesombongan, ketamakan, dan kedengkian. Kajian ini menjelaskan hakikat Al-Kibr, bahaya menolak kebenaran, contoh kesombongan iblis dan Firaun, hingga cara meredam fitrah sombong agar tidak terjerumus dalam dosa.

DAFTAR ISI - Klik untuk buka
Foto masjid tampak samping tulisan Sumber Dari Segala Dosa-Dosa

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Kodrat Manusia Tempatnya Salah dan Dosa

Jemaah kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati oleh Allah. Kita sebagai manusia sudah barang tentu tidaklah sempurna, tidaklah bisa sempurna. Manusia adalah makhluk yang senantiasa berada dalam kesalahan, senantiasa melakukan berbagai macam dosa, kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Allah Tabaraka wa Ta'ala.

Sehingga dia bisa terselamatkan, sehingga tidak terlalu banyak dosa yang dia lakukan. Karena memang tidak mungkin seorang manusia—kecuali Nabi—bisa menghindarkan diri dari dosa-dosa, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja.

Sebagai manusia, kita adalah makhluk yang sangat bergantung kepada Allah untuk bisa mendapatkan ampunan dari Allah atas seluruh dosa-dosa yang kita lakukan di dalam kehidupan di dunia ini. Kita mengharap belas kasihan dari Allah agar Allah mengampuni seluruh dosa-dosa dan kesalahan kita.

Memberikan Alasan Kepada Allah Agar Diampuni

Akan tetapi, sudah barang tentu tidaklah mudah untuk bisa menjadikan Allah mengampuni dosa-dosa kita, bisa menjadikan Allah menutupi kesalahan-kesalahan kita. Tentunya Allah harus mempunyai alasan.

Karena Allah Maha Adil, maka Allah harus diberikan alasan agar Dia mengampuni dosa-dosa kita dan Dia sayang kepada kita. Kita harus menjadikan diri kita orang-orang yang pantas untuk dikasihani oleh Allah Tabaraka wa Ta'ala.

Jemaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah, pada sore hari ini kita akan mempelajari sedikit tentang sumber dari segala dosa-dosa kita. Kalau kita mengetahui sumbernya, maka kita tinggal meredupkannya. Mungkin tidak mungkin kalau menghilangkan sumber dosa-dosa kita secara total, karena itu terkait dengan fitrah kita sebagai manusia.

Akan tetapi, mungkin dengan mengetahui sumbernya—bahwasanya dosa-dosa itu bersumber dari hal-hal yang sifatnya fitrah yang ada dalam diri kita—maka kita bisa sedikit meredam agar supaya kita tidak tenggelam di dalam kesalahan dan dosa.

Tiga Sumber Utama Segala Dosa

Di antaranya, kata para ulama, sumber segala macam dosa itu ada tiga. Yang pertama adalah kesombongan (Al-Kibr dalam bahasa Arabnya). Yang kedua adalah Al-Hirsh atau ketamakan. Yang ketiga adalah kedengkian (dalam bahasa Arabnya Al-Hasad).

Ada tiga sumber segala macam dosa yang ada pada diri manusia ini. Semuanya secara fitrah kita memilikinya. Baik kesombongan, ketamakan, maupun kedengkian, itu adalah sesuatu yang secara fitrah manusia miliki.

Tidak mungkin seorang itu tidak memiliki kesombongan sedikit pun dalam dirinya, tidak mungkin seseorang itu tidak mempunyai rasa tamak menginginkan sesuatu, dan tidak mungkin orang itu hatinya sama sekali tidak pernah hasad. Tidak mungkin. Maka kita harus mengetahui bahwa ketiga hal ini kalau tidak kita kendalikan, akan membuat kita terjerumus ke dalam dosa karena ini adalah sumbernya.

Hakikat Kesombongan (Al-Kibr)

Sombong kuwe apa janjane? (Sombong itu sebenarnya apa?) Secara bahasa, Al-Kibar itu adalah melihat diri sendiri melebihi atas kebenaran dan melebihi atas makhluk yang lain.

Para ulama menyatakan bahwasanya kesombongan itu adalah merasa dirinya lebih dari Al-Haq (kebenaran) dan lebih dari Al-Khalq—bukan Al-Khaliq ya, Al-Khaliq itu Pencipta, kalau Al-Khalq itu adalah makhluk.

Ini artinya apa? Bahwasanya seorang yang sombong itu dia menolak kebenaran (itu yang pertama), dan yang kedua adalah menganggap makhluk lain lebih rendah daripada kita, atau menganggap dirinya lebih baik daripada orang lain.

Bahaya Sombong: Penghalang Masuk Surga

Dalam sebuah hadis, Rasulullah menjelaskan yang diriwayatkan dari Imam Muslim, dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: La yadkhulul jannata man kana fii qalbihi mitsqalu dzarratin min kibrin.

"Tidak akan masuk surga orang-orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi (mitsqalu dzarratin)." [HR. Muslim]

Ini sesuatu yang berat. Orang masuk surga itu kalau ada sombong sebiji sawi saja, tidak akan masuk. Di surga itu nanti tidak ada orang yang membawa dosa masuk surga, tidak ada. Tidak ada orang yang berdosa, bersalah, atau yang mempunyai utang langsung masuk surga. Termasuk juga orang yang punya kesombongan, tidak bisa langsung masuk surga.

Makanya dosa dan sifat itu harus dihapuskan terlebih dahulu sebelum memasuki surga. Kalau kita nyatakan secara logika, siapa sih manusia yang tidak punya kesombongan semending (sedikit saja)? Tidak ada manusia yang tidak punya. Pernah mboten? Kadang-kadang dalam batin dewek: "Waduh, nyong gagah temen ya, nyong ayu temen ya." Itu bentuk kesombongan. Tapi itu fitrah.

Begitu Rasulullah menyatakan, artinya bahwasanya memang di dalam surga nanti segala macam sifat-sifat buruk memang sudah dihilangkan. Sudah dihilangkan baik selama di dunia, nanti di Padang Mahsyar, maupun nanti—terpaksanya—harus mondok di neraka dulu. Kalau mau masuk surga, sudah sampai di jembatan Sirath kok masih ada kesombongan yang belum terselesaikan, ya terpaksa harus mondok dulu sampai akhirnya habis hilang semuanya, baru nanti dimasukkan ke dalam surganya Allah Tabaraka wa Ta'ala.

Menyukai Keindahan Bukanlah Kesombongan

Kita lanjutkan hadisnya. Qala rajulun, seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah: "Innar rajula yuhibbu ay yakuna tsaubuhu hasanan wa na'luhu hasanatan." Ada seorang laki-laki yang mencintai pakaian-pakaian yang bagus dan sandal-sandal yang bagus. Ini termasuk saya ini.

Saya alhamdulillah ini, ya pakaian jarang beli, walaupun sering pakai pakaian baru. Saya suka pakaian baru. Secara fitrah, manusia semuanya suka pakaian baru, sandale apik, umahe apik, motore apik. Tidak dilarang. Akan tetapi, kita tidak boleh berlebihan. Ya, siapa yang tidak suka pakaian bagus yang bersih, yang baik, yang enak dilihat? Dan seorang sahabat tadi bertanya: "Ini termasuk kesombongan apa bukan?"

Apa jawaban Rasulullah? Beliau bersabda: "Innallaha jamilun yuhibbul jamal." Sesungguhnya Allah itu Jamil (Maha Indah) dan Dia mencintai keindahan. Itu mengapa kita diperintah dalam setiap salat kita untuk memakai pakaian terbaik yang bisa kita miliki. Ketika hari raya juga kita memakai pakaian terbaik yang bisa kita miliki.

Yang kita miliki, ora kudu anyar (tidak harus baru), tapi ngger anyar (kalau baru) ya alhamdulillah. Allah itu menyukai yang indah-indah. Makanya ketika kita menyukai pakaian indah, segala macam sarung yang baru misalnya, atau kopiah yang bagus, itu boleh-boleh saja.

Dua Pilar Kesombongan Yang Hakiki

Lalu Rasulullah menjelaskan hakikat kesombongan: "Al-kibru batharul haqqi wa ghamthun-nas." Bahwasanya hakikat kesombongan yang hakiki itu kata Rasulullah adalah: 1. Batharul haq (menolak kebenaran) 2. Ghamthun-nas (memandang remeh/merendahkan manusia). Ini hakikat kesombongan yang hakiki.

Berapa banyak orang-orang yang terjerumus ke dalam dosa karena kesombongan ini? Karena menolak kebenaran. Karena kalau sudah mudah untuk menolak kebenaran, dia juga mudah untuk meremehkan manusia, menganggap dirinya lebih hebat daripada orang lain.

Jemaah rahimakumullah, yang berbahaya juga adalah ketika kita menolak kebenaran yang datang dari Allah dan Rasul-Nya, menganggap dirinya lebih pintar daripada Allah dan Rasul-Nya. Sehingga ketika datang perintah dari Al-Qur'an dan As-Sunnah, dia tolak kebenaran tersebut dengan dasar dalil kesombongannya ini. "Qur'an-e ora pas nggo zaman siki sing wis canggih misalnya." Atau, "Hadise ora pas nggo zaman siki." Ini artinya kesombongan.

Padahal Al-Qur'an dan As-Sunnah itu adalah kebenaran mutlak sampai hari kiamat. Tidak ada orang yang bisa untuk menandingi kebenaran Al-Qur'an dan As-Sunnah, tidak ada. Semua yang diperintahkan dan yang diturunkan oleh Allah dalam Al-Qur'an maupun hadis-hadis Rasulullah yang sahih, itu semuanya akan berlaku sampai hari kiamat, tidak akan berubah. Ini kebenaran yang mutlak.

Contoh Menolak Kebenaran di Zaman Modern

Contoh misalnya, Allah menurunkan ayat tentang hijab, mewajibkan kaum muslimat untuk berhijab. Ada orang yang bergelar Profesor mengatakan hijab tidak wajib. Ini karena apa faktornya? Seperti yang saya sampaikan tadi: kesombongan menolak kebenaran.

Rasulullah menyatakan kalau mau puasa melihat Ramadan, atau melihat Syawal, itu lihat tanggal 29. Ketika kelihatan hilalnya maka berpuasa atau berhari raya. Rasulullah menyatakan demikian, kita sami'na wa atha'na. Tapi orang-orang yang kepintaran tidak meyakininya: "Ora, kan sekarang bisa dihitung jauh-jauh hari sudah bisa ditentukan." Ini namanya kesombongan.

Ada lagi misalnya dalam Al-Qur'an, Allah Tabaraka wa Ta'ala menyampaikan bahwasanya kaum laki-laki boleh menikah 1, 2, 3, 4 maksimal. "Ora adil kuwe ya," misalnya ada manusia yang berkata seperti itu, "Ini namanya tidak ada emansipasi." Kaum muslimin, nah, ini dasar pemikirannya adalah karena kesombongan, menganggap dia lebih tinggi daripada kebenaran itu sendiri.

Meremehkan Perintah Kecil Berujung Bahaya

Belum lagi dalam permasalahan-permasalahan yang kita anggap remeh. Di antara golongan orang-orang yang tidak diajak bicara oleh Allah nanti, ada orang-orang yang tidak diajak bicara.

Dalam sebuah hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan bahwa di antara kelompok orang yang tidak diajak bicara oleh Allah adalah Al-Musbil. Apa itu musbil? Adalah orang-orang yang menjulurkan celananya atau sarungnya melebihi mata kaki (Isbal).

Ya ini sebuah hal kalau kita melihat dari kacamata kita, ini permasalahan sepele. Hanya permasalahan pakaian yang kita lakukan. Akan tetapi, ini adalah perintah Allah dan Rasul-Nya. Artinya, segala macam yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya adalah menjadi syariat untuk kita lakukan.

Sekali kita meremehkan perintah tersebut—perintah yang kecil-kecil itu kita remehkan—maka kemungkinan besar yang gede juga mudah untuk kita remehkan.

Belajar Dari Kesombongan Iblis

Dan kesombongan ini mulainya dari situ. Iblis, ya. Iblis ketika diperintah oleh Allah Tabaraka wa Ta'ala untuk sujud kepada Nabi Adam, dia tidak mau dan dia sombong. Kenapa Allah menghukumnya? Karena ini perintah Allah. Perintah Allah itu tidak boleh ditolak oleh seorang hamba.

Begitu juga perintah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, karena Rasulullah tidaklah memerintahkan kepada kita kecuali berdasarkan wahyu. Ini tadi ya, kesombongan ini pada hakikatnya adalah menolak kebenaran, menolak yang sudah hak dari Allah dan Rasul-Nya.

Masalah-masalah sepele sangat banyak yang terkadang kita tidak mau melakukannya karena faktor kesombongan dalam diri kita. Contoh misalnya, Rasulullah menyuruh kita untuk makan dengan tangan kanan. Minum dengan tangan kanan. Masih suka makan atau minum dengan tangan kiri? Sombong berarti itu. Karena apa? Faktor menyepelekan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Kita membiasakan diri untuk mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya yang remeh-remeh yang kita anggap remeh. Nanti insyaallah kita akan semakin mudah untuk menjalankan perintah Allah yang berat-berat. Angger sing remeh bae ora gelem, apa maning sing abot (Kalau yang remeh saja tidak mau, apa lagi yang berat).

Menyempurnakan Tata Cara Salat

Ini kadang dalam masalah salat ya, saya sering menyampaikan, di dalam duduk tasyahud, duduk di antara dua sujud, duduk tahiyatul akhir, itu jari-jari kakinya ditegakkan apa tidak? Masih banyak yang belum ditegakkan. Alasannya apa? "Sikil lara" (Kaki sakit).

Aja, bukan itu alasan sejatinya, kesombongan. Alasan sejatinya kesombongan, meremehkan: "Lah, nyong kaya kie nggih sah" (Lah, saya begini juga sah). Ini contoh, kadang orang meletakkan tangan misalnya. Rasulullah memerintahkan kita untuk meletakkan tangan di dada. "Abot temen kalau lama" (Berat sekali kalau lama). Itu kenapa? Kenapa orang tidak mau menjalankan?

Ya karena itu kesombongan. Kesombongan bahwasanya dia pikir agama ini miliknya sendiri sehingga boleh dengan caranya sendiri. Kadang berkreasi dengan agamanya. Padahal Rasulullah menyatakan: "Shallu kama ra-aitumuni ushalli." Salatlah kalian seperti kalian melihat aku salat.

Orang-orang yang terselamatkan dari kesombongan, dia senantiasa berusaha mencari, berusaha menjalankan segala macam apa yang diperintahkan oleh Rasulullah semampu dia.

Ciri-ciri Penghuni Neraka Jahanam

Dalam ayat yang lain Allah berfirman: "Qiiladhkhulu abwaba jahannama khalidina fiiha, fa bi'sa matswal mutakabbirin." Di antara balasan Allah adalah orang-orang sombong ini akan dimasukkan ke dalam neraka jahanam dan mereka akan kekal di dalamnya, karena neraka jahanam ini seburuk-buruk tempat kembali.

Lalu juga melalui sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Inna ahlan nari kullu ja'dzariyyin jawwadin mustakbirin jama'in manna'in, wa ahlul jannati adhu'afau wal maghlubun." Bahwasanya penduduk neraka itu adalah orang yang kasar lagi keras, orang yang bergaya sombong saat berjalan, orang yang bertakabur, orang yang banyak mengumpulkan harta (tamak), dan orang-orang yang sangat bakhil.

Ini penghuni neraka ciri-cirinya kalau di dunia. Itu sebelum dia bertobat, kalau dia bertobat ya insyaallah akan diampuni oleh Allah Tabaraka wa Ta'ala. Orang-orang yang sombong membanggakan diri ketika berjalan, ya merasa dirinya paling gagah, paling ini dan sebagainya, angkuh di dalam berjalan, di dalam kehidupan juga angkuh mobilan ya, angkuh motoran ya. Angkuh ujare dalane dewek (angkuh dikira jalannya milik sendiri).

Sementara kata Rasulullah, adapun penduduk surga adalah ad-dhu'afau wal maghlubun, yaitu orang-orang yang lemah dan yang terkalahkan di dunia.

Bentuk Sombong Pertama: Takabur Terhadap Kebenaran

Jemaah rahimakumullah, sekarang kita masuk ke bentuk-bentuk kesombongan. Bahwasanya kesombongan itu pada hakikatnya ada di hati kita, akan tetapi bisa juga kita indra, akan terlihat. Yang pertama adalah takabur terhadap kebenaran. Tadi ini yang fatal, ya, sombong terhadap kebenaran.

Tidak mau menerima kebenaran yang datangnya mutlak dari Allah dan Rasul-Nya. Karena kebenaran Al-Qur'an dan sunah-sunah shahihah itu adalah kebenaran mutlak, tidak boleh kita menolaknya. Di dalam Al-Qur'an Allah berfirman: "Wa jahadu biha wastaiqanathu anfusuhum zhulman wa 'uluwwa." Apa maksudnya ini? Ini terkait dengan Firaun.

Firaun kenapa dia mengingkari dakwahnya Nabi Musa dan Harun? Padahal mereka sudah tahu bahwasanya Nabi Musa dan Nabi Harun ini datang membawa kebenaran. Kalau kita membaca kisah Nabi Musa dan Harun kepada Firaun, kaumnya Raja Firaun orang Mesir pada waktu itu sudah diberi sekitar sembilan mukjizat yang datang dari Allah melalui Nabi Musa.

Mereka sebenarnya mengetahui kebenaran yang datang dari Musa, apa yang dibawakan Musa semuanya adalah kebenaran. Akan tetapi mereka tetap tidak mau menerima sebab apa? Sebab sombong. Tidak mau mengakui keunggulan Musa orang yang lemah. Firaun oh Raja, Qarun orang yang kaya, Haman menteri yang kuat, sehingga tidak mau tunduk kepada Musa, tidak mau tunduk kepada kebenaran.

Makanya di sini Allah menyampaikan wa jahadu (mereka mengingkarinya) dengan sebab kezaliman dan kesombongan mereka, padahal hati kecil mereka meyakini kebenaran tersebut. Akan tetapi karena kesombongan sehingga hatinya tertutupi. Hati itu senantiasa menyuruh kepada kebaikan sebenarnya, akan tetapi karena tertutupi oleh hawa nafsu sehingga dia tidak bisa melihat sebuah kebenaran.

Makanya di akhir ayat, perhatikan Allah menyampaikan: "Fandzur kaifa kana 'aqibatul mufsidin." Perhatikan bagaimana akibatnya orang-orang yang berbuat kerusakan. Artinya dia mengotori hatinya dengan kesombongan sehingga tidak bisa melihat yang benar adalah benar, yang salah adalah salah. Ini hakikat kesombongan yang paling berbahaya.

Bentuk Sombong Kedua: Takabur Terhadap Sesama Manusia

Lalu yang kedua adalah takabur terhadap sesama manusia, atau memandang dirinya lebih mulia dari manusia yang lain. Menganggap dirinya lebih pintar daripada orang lain, menganggap dirinya lebih kaya daripada orang lain, menganggap dirinya lebih mulia dari orang lain, menganggap dirinya lebih kuat daripada orang lain, semuanya.

Semuanya itu adalah bentuk kesombongan. Tidak pantas seorang manusia itu sombong. Allah Tabaraka wa Ta'ala satu-satunya Zat yang pantas untuk sombong, karena kita pada hakikatnya tidak memiliki apa-apa, semuanya adalah milik Allah Tabaraka wa Ta'ala.

Kita bisa berbicara karena Allah, kita bisa rajin beribadah karena Allah, ya kita bisa menghafal banyak ayat Al-Qur'an karena Allah Tabaraka wa Ta'ala mengizinkannya, sehingga tidak pantas bagi orang itu sombong. Ketika orang diberi ilmu, tidak pantas untuk sombong, karena tanpa izin Allah kita tidak mungkin bisa mendapatkan ilmu.

Semestinya seorang yang misalnya diberi banyak ilmu, semestinya semakin bersyukur, semakin tunduk kepada Allah Tabaraka wa Ta'ala, ora semakin degegen (bukan semakin membusungkan dada). Cara wong jawane nganggo ilmu pari (Ibarat orang Jawa memakai ilmu padi), semakin berisi semakin menunduk, harus seperti itu. Bukan semakin sombong. Semakin kita banyak belajar, kita tahu bahwa kita semakin bodoh, bukan semakin pintar.

Ya, ini juga menjadi salah satu alasan yang disampaikan oleh iblis dalam Al-Qur'an. Allah berfirman menanyakan iblis: "Hai iblis, kenapa kamu tidak mau bersujud kepada orang yang aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku? Apakah kamu sombong, apakah kamu merasa dirimu lebih baik?" Qala iblis, berkata iblis: "Ana khairum-minhu, khalaqtanii min naariw wa khalaqtahuu min thiin." Saya lebih baik darinya, Engkau menciptakan aku dari api sedangkan Engkau menciptakan Adam dari tanah. Ini dasar ya, iblis itu dilaknat oleh Allah karena menganggap dirinya lebih baik.

Secara umum seperti itu. Bahwasanya kesombongan yang kita miliki pada hakikatnya itu tadi, dari awalnya adalah karena kita menolak kebenaran, lalu kita menganggap diri kita itu lebih tinggi daripada kebenaran itu sendiri. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari, ya kita menganggap diri kita lebih baik daripada orang lain. Sehingga tidak mau angger dideleh nang mburi (kalau ditaruh di posisi belakang) misalnya, pengine neng ngarep bae (pengennya di depan terus).

Di dalam Al-Qur'an sangat banyak contoh-contoh seperti itu. Ketika Bani Israil pertama dikirim, diutus seorang raja namanya Thalut. Bani Israil itu menganggap kenapa yang diangkat Thalut? Thalut kan orang miskin, padahal kami ini orang-orang kaya, kami yang lebih berhak untuk menjadi raja daripada si Thalut. Padahal Allah memberi gelar kerajaannya kepada orang-orang yang Dia kehendaki.

Makanya kita tidak boleh merasa diri kita lebih baik daripada orang lain. Kalaupun pada kenyataannya pada satu sisi kita lebih baik dari orang lain, pasti dari sisi yang lain orang lain tersebut yang lebih baik dari diri kita. Tidak ada manusia yang sempurna. Itu di antara bentuk-bentuk kesombongan.

Penutup & Doa Kaffaratul Majelis

Masih mungkin beberapa bentuk lagi, insyaallah kita lanjutkan di kajian yang akan datang. Karena waktunya sudah mendekati magrib, mudah-mudahan kita semuanya terhindar daripada kesombongan. Kebalikannya sifat sombong apa? Rendah hati, atau dalam bahasa anunya Tawadhu'. Tawadhu' menunduk, sadar bahwa kita ini bukan siapa-siapa.

Insyaallah kita lanjutkan di kajian yang akan datang. Kita akhiri dengan kaffaratul majelis:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

"Maha Suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu."

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Rujukan Utama

  • HR. Muslim, Hadis tentang kesombongan sebesar biji sawi.
  • HR. Muslim no. 91, Innallaha jamilun yuhibbul jamal.
  • Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah ayat 34, tentang sujudnya malaikat kepada Adam.
  • Al-Qur'an, Surah Az-Zumar ayat 72, tempat kembali orang sombong.
  • Al-Qur'an, Surah An-Naml ayat 14, Wa jahadu biha wastaiqanatha anfusuhum.
  • Al-Qur'an, Surah Shaad ayat 76, Ana khairum minhu khalaqtani min nar.

Komentar