Hakikat Hidup Manusia di Alam Dunia - Waktu Pendek, Takdir, dan Pundi Amal di Lauhul Mahfudz

Hidup itu pendek seperti detik jam di beranda. Setiap orang punya garis takdir dan kesempatan yang berbeda-beda. Tidak harus jadi Ustadz untuk berbuat baik. Dari Depok jualan roti keliling pun bisa jadi jalan amal untuk kampung di Lumbir. Kuncinya adalah Istiqomah, menjaga hati dari ujub riya sum'ah, dengan Ikhlas dan Ittiba' Rasulullah agar menjadi catatan abadi di Lauhul Mahfudz.
DAFTAR ISI - Klik untuk buka ▼

1. Jam di Beranda - Hidup Pendek

Saya pasang jam di beranda Al Lumbir Mengaji. Di bawahnya saya tulis: Hidup Pendek. Kenapa? Karena jam itu detiknya jalan terus. Tidak pernah berhenti. Waktu Subuh, Dzuhur, Ashar lewat begitu saja. Usia kita sama seperti itu.

Dari jam itulah saya merenung. Hakikat hidup manusia di alam dunia ini bukan untuk main-main. Waktunya singkat, tapi pertanggungjawabannya panjang di akhirat. Detik jam 07:16 WIB yang kita lihat hari ini, besok tidak akan kembali.

2. Takdir Berbeda - Tidak Harus Jadi Ustadz

Allah itu Maha Adil. Kesempatan setiap manusia berbeda-beda. Tidak harus jadi Ustadz dulu baru bisa dapat pahala. Ada yang takdirnya jadi petani di Lumbir. Ada yang jadi pegawai di Jakarta. Ada yang seperti saya, perantau di Depok, jualan roti keliling kampung ke kampung.

Alhamdulillah, dari tahun 2017 Allah beri saya kesempatan yang tidak semua perantau dapat. Walaupun saya di Depok jualan roti, Allah izinkan saya mendukung kegiatan kajian di kampung halaman, dengan mendokumentasikan kajian. Di sela kesibukan walaupun setahun sekali saya bisa ikut andil. Inilah yang saya sebut: Jalur kesempatan sudah Allah tulis. Tinggal kita mau ambil atau tidak. Kebaikan itu luas. Mendukung kegiatan agama itu kebaikan. Mendukung persatuan kampung itu kebaikan.

Pelajaran: Jangan tunggu jadi Ustadz. Dari jualan roti pun bisa jadi amal, kalau niatnya untuk kampung.

3. Sinyal Kebaikan dan Istiqomah 9 Tahun

Ke depan manusia tidak tahu takdirnya gimana. Itu rahasia Allah. Tidak ada yang tahu besok masih hidup atau tidak. Tapi yang sekarang, Allah sering kasih sinyal kebaikan. Tiba-tiba hati ingin sedekah. Tiba-tiba ingin buka Al-Qur'an. Tiba-tiba ingin bantu kajian Lumbir. Itulah sinyal.

Di sinilah ujiannya. Sinyal itu kalau tidak kita Istiqomah-kan, dia akan menjauh. Awalnya semangat, lama-lama malas, akhirnya hilang. Tapi kalau kita Istiqomah, walau kecil dan pelan, sinyal itu akan menjadi takdir kita. Menjadi jalan hidup kita. Dari yang cuma niat, menjadi pundi-pundi amal kebaikan di dunia yang terus mengalir.

Saya merasakan sendiri. Dari 2017 sampai sekarang 2026, sudah 9 tahun. Kalau tidak Istiqomah, sudah lama berhenti jadi admin. Alhamdulillah Allah Subhanahu Wa Ta'ala memberikan Hidayah, saya masih bertahan sampai sekarang.

4. Semua Dicatat di Lauhul Mahfudz

Waktu yang kita gunakan ada dua: positif dan negatif. Kalau kita pakai untuk jalur kebaikan, maka itu akan jadi catatan baik. Semua sudah dicatat di Lauhul Mahfudz. Tidak ada yang terlewat.

Allah berfirman:
بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌ (21) فِي لَوْحٍ مَحْفُوظٍ (22)
"Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al-Qur'an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh." (QS. Al-Buruj: 21-22)

Artinya, semua takdir, semua amal, semua waktu 07:16 WIB yang kita pakai hari ini, semua sudah tercatat. Nanti di akhirat kita akan mempertanggungjawabkan: di dunia kita kerjakan apa? Kita amalkan apa?

5. Beratnya Amanah Admin Mengaji

Menjadi admin Lumbir Mengaji tidaklah mudah. Apalagi ada kata "mengaji" di dalamnya. Ada rasa berat. Beratnya karena ada ancaman dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala bagi orang yang mempelopori kebaikan tapi lupa mengamalkannya.

Dalil 1 - QS Al-Baqarah 44:
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
"Mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab? Maka tidakkah kamu berpikir?"

Dalil 2 - QS As-Shaff 2-3:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ - كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
"Wahai orang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan."

Dalil 3 - Hadits Shahih:
يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ، فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ فَيَقُولُونَ: أَيْ فُلَانُ مَا شَأْنُكَ؟ أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَانَا عَنِ الْمُنْكَرِ؟ قَالَ: كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ، وَأَنْهَاكُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ
"Orang itu akan dilempar ke neraka sampai ususnya terburai, dia berputar seperti keledai. Penghuni neraka bertanya kenapa? Dia jawab: Dulu aku menyuruh kebaikan tapi aku tidak melakukannya, aku melarang kemungkaran tapi aku melakukannya." (HR. Bukhari No. 3267 dan Muslim No. 2989).

6. Obatnya - Jaga Hati dari Ujub, Riya, Sum'ah

Ini yang saya takutkan. Obat dari rasa takut itu adalah menjaga hati dari penyakit: Ujub (bangga diri), Riya (ingin dilihat), Sum'ah (ingin dipuji). Terkadang kalau ibadah dipublis terus, penyakit itu muncul. Merasa diri lebih baik dari orang Lumbir.

Padahal ibadah yang paling luar biasa adalah Istiqomah dalam ibadah yang tidak diketahui orang lain. Yang sembunyi. Syarat diterimanya amal itu hanya dua:
1. Ikhlas karena Allah Ta'ala
2. Ittiba' mengikuti Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam

Dalil Ikhlas:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya." (QS. Al-Bayyinah: 5)

Penutup - Waktu Pendek Jadi Pundi Amal

"Semua manusia sudah mempunyai garis takdir masing-masing. Tinggal kita mau Istiqomah apa tidak dalam kebaikan. Jangan tunggu jadi Ustadz. Dari jualan roti pun bisa jadi amal. Waktu kita pendek. Tapi kalau Istiqomah, waktu pendek itu akan menjadi pundi-pundi amal yang dicatat di Lauhul Mahfudz."

Mudah-mudahan Allah Ta'ala memberikan kita semua Hidayah di dalam takdir kebaikan. Aamiin.

Wallahu Ta'ala A'lam.

Lumbir, 27 Oktober 2026
Ditulis oleh: Suyitno

Komentar