Kebesaran Allah, Bahaya Dosa, dan Istiqomah di Atas Tauhid
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا، أَمَّا بَعْدُ
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهُدَى هدى مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عليهِ وَسلَّم، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ،
Ma'asyiral mu'minin yang Insyaallah dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta'ala, pada hari yang mulia ini, pada hari yang besar ini. Pada hari ini kita semua, seluruh manusia, seluruh umat Islam sedang bertakbir kepada Allah Yang Maha Besar. Mengagungkan Allah Yang Maha Besar.
Allah Yang sudah menciptakan kita. Allah Yang sudah menciptakan seluruh alam semesta ini yang sangat-sangat besar, akan tetapi berapa dari kita yang paham?
Betapa Kecilnya Manusia di Hadapan Allah
Seberapa kebesaran Allah subhanahu wa ta'ala? Seberapa dari kita yang tahu makna dari kebesaran Allah subhanahu wa ta'ala? Berapa dari kita yang tahu betapa kecilnya kita di hadapan Allah subhanahu wa ta'ala? Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Seberapa besar Gunung Slamet? Seberapa besar Gunung Rapi dan gunung-gunung yang lain? Seberapa luas samudra yang kita punya? Seberapa luas pulau-pulau yang kita punya?
Akan tetapi itu semuanya tidak berarti apa-apa di hadapan Allah subhanahu wa ta'ala. Dan semuanya itu dalam bentuk yang sangat kecil dibandingkan dengan ukuran jagat raya semesta ini, apalagi kita manusia yang ada di dalamnya.
الله أكبر ولله الحمد. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, sesungguhnya tujuh langit dan bumi apabila dibandingkan dengan kursi Allah subhanahu wa ta'ala seperti sebuah cincin yang dilemparkan di padang pasir yang terbentang. Dan sesungguhnya besarnya kursi kalau dibandingkan dengan Arsy, seperti besarnya terluasnya padang pasir dengan cincin.
Padahal kita tahu di dalam surat Al-Baqarah, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: luasnya kursi Allah seluas langit dan bumi. Bahwa jarak antara daun telinganya sampai pundaknya membutuhkan waktu perjalanan selama tujuh ratus tahun. Allahu Akbar, Allahu Akbar. لا إله إلا الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد.
Pertanyaan untuk Diri yang Ingkar
Setelah saya sampaikan beberapa hadis dan ayat yang mulia ini, kita kembali kepada diri kita. Kita yang sangat kecil, kita yang sangat lemah, kita yang tidak ada apa-apanya, kok masih ada yang ingkar kepada Allah subhanahu wa ta'ala?
Apakah manusia merasa, apakah kalian merasa bahwa kalian lebih susah penciptaannya dari langit dan bumi?
Bumi diciptakan oleh Allah sangat kecil dibandingkan dengan matahari, perbandingannya satu juta tiga ratus. Itu baru satu matahari, padahal di langit sana ada milyaran bintang yang lebih dari matahari.
Kenapa kita masih kafir kepada Allah subhanahu wa ta'ala Yang Maha Besar? Kenapa ada manusia yang tidak mau menyembah kepada Allah yang sudah menciptakan semuanya itu? Kenapa?
Sampai kapan kita mau kafir kepada Allah subhanahu wa ta'ala? Bukankah sudah dekat datangnya janji Allah yang akan datang kepada kita yaitu Hari Kiamat?
Sampai kapan kita akan kafir kepada Allah, padahal semua makhluknya, kalau Allah sudah menciptakan suatu perkara, mereka akan bergetar karena takut, karena tunduk kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
Hal ini juga disebutkan oleh Rasulullah melalui hadis dari Kiraman: Apabila Allah telah menetapkan suatu perkara, maka Allah ta'ala berfirman. Dan apabila Allah telah berfirman, langit, bumi, gunung, semuanya bergoncang, bergetar. Semua malaikat sujud bersyukur. Gunung yang besarnya seperti itu, malaikat yang besarnya luar biasa besar, bersujud bersyukur kalau Allah berfirman.
Akan tetapi manusia yang sangat kecil, mendengar firman-firman Allah tidak mau bersujud maupun bersyukur. Bahkan banyak di antara manusia yang takabur, sombong, tidak tanggung jawab kepada Allah subhanahu wa ta'ala, merasa dirinya cukup. Tidak sadar wafatnya besok akan dipanggil oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Allahu Akbar, Allahu Akbar. لا إله إلا الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد.
Istiqamah Setelah Ramadan
Mau sampai kapan di akhir jendela sadar bahwa usia panjang itu kecil sekali, seperti debu yang bertebaran di angkasa sana?
Idul Fitri yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta'ala, kita semua sudah dididik oleh Allah di dalam bulan Ramadan ini untuk senantiasa berusaha untuk menjadi seorang muslim yang istiqamah.
Dan bagi seorang muslim insyaallah dia akan taat kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Menjadi seorang manusia yang paham akan kedudukannya bahwasanya dia sangat-sangat kecil, sangat-sangat lemah, membutuhkan Allah, membutuhkan ampunan Allah. Siapa yang mau panjenengan minta tolong selain Allah subhanahu wa ta'ala?
Kalau panjenengan tidak mau beribadah kepada Allah subhanahu wa ta'ala, kapan lagi? Padahal kematian akan datang seketika, ketika datang sakaratul maut ya akhi. Tidak ada, tidak ada orang yang bisa menolong kita. Tidak ada ya akhi, kalau nyawa sudah di tenggorokan, napas tinggal di itu.
Allahu Akbar, الله أكبر الله أكبر والله لا إله إلا الله أكبر.
Amanah dan Rusaknya Bumi Karena Dosa
Kata Allah subhanahu wa ta'ala, sesungguhnya bumi dan gunung-gunung, mereka semuanya enggan untuk memikul amanat tersebut. Karena mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.
Kita perbuat dari dosa-dosa dan maksiat yang kita kerjakan, rusaknya bumi, rusaknya lingkungan kita, karena dosa dan kemaksiatan daripada kita semuanya. Semakin kita kafir kepada Allah, semakin kita bermaksiat kepada Allah, semakin rusak bumi kita.
مصيبة فيما كسبت أيديكم ويعفو عن كثير
"Musibah yang menimpa kalian adalah karena perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan banyak kesalahan.[QS. Asy-Syura: 30]
Penyebabnya tidak lain hanyalah ulah tangan kamu sendiri. Dan berapa banyak yang dimaafkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
Dalam sebuah hadis dari Hasan al-Basri, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Demi jiwa Muhammad yang ada di tangannya, tidaklah goresan ranting, urat yang terkilir, kaki yang tergelincir, penyebabnya adalah dosa dari kita semuanya. Dan apa yang dimaafkan oleh Allah adalah lebih banyak.
Berbagai dosa yang kita kerjakan, yang disengaja maupun tidak disengaja, itu semuanya membuat kerusakan di tatanan masyarakat kita, di bumi kita. Sehingga jangan kaget kalau suatu saat bencana datang kepada kita, suatu saat bumi bergoncang karena dosa-dosa kita, karena kekafiran kita kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
Dosa-Dosa Besar Akhir Zaman
Antara dosa-dosa yang paling besar, dampaknya bagi kehidupan di dunia adalah dosa-dosa kemusyrikan. Berapa banyak manusia yang musyrik kepada Allah.
Adalah dua dosa besar yaitu musyrik dan bid'ah. Jamaah Idul Fitri yang dimuliakan Allah, diantaranya adalah zina, riba, membunuh manusia tanpa alasan yang tepat.
Zina sudah sangat merebak bahkan terang-terangan, seolah-olah itu adalah hal yang biasa di media. Media baik televisi maupun yang lainnya, dan kita tanpa sadar mengikuti ke arah sana. Juga riba. Orang sudah tidak memperdulikan dari mana dia memperoleh hartanya, apakah itu halal, apakah itu haram.
Yang berikutnya adalah sekarang sudah sangat banyak pembunuhan di sana-sini. Mereka mengatasnamakan agama, Islam yang suci untuk membunuh orang yang tidak berdosa dengan bom. Itu bukan Islam ya. Rasulullah menyuruh kita untuk membuang gangguan di jalan itu, sebagian dari tanda-tanda iman. Bukan, selain itu mardud, ditolak amalannya.
Hakikat Istiqamah di Atas Tauhid
Dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta'ala, marilah kita senantiasa berusaha istiqamah meniti jalan Allah subhanahu wa ta'ala. Kita mengikrarkan bahwa saya bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah. Akan tetapi rata-rata banyak yang hanya di mulut saja, hatinya tidak mengimani, apalagi di dalam perbuatannya.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman di dalam surat Fushilat ayat 30 sampai 32:
وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang berkata: "Tuhan kami adalah Allah" kemudian mereka istiqamah, maka akan turun kepada mereka para malaikat seraya berkata: "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan kepadamu." [QS. Fushilat: 30]
Kalau kita berkata Rabbunallah, kita harus istiqamah. Kita mengatakan La ilaha illallah, kita harus istiqamah. Konsekuensinya kita harus mau beribadah kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Jangan hanya berkata saya Tuhannya Allah tetapi tidak mau mengikuti perintah Allah. Itu bukan yang diharapkan, bukan seperti itu.
Istiqamah adalah kita mengucapkan apa yang kita ucapkan, kita yakini dalam hati kita, dan kita terjemahkan dalam perbuatan kita sehari-hari. Bahwasanya kita mengaku bahwasanya Tuhan kita Allah subhanahu wa ta'ala.
Kita hanya berkata atau hanya bersyahadat La ilaha illallah Muhammad Rasulullah, tetapi dalam prakteknya tidak mau mengamalkan ajaran Islam, neraka tempatnya, tempat kembalinya. Rumus dan pasti.
Percaya ya silakan, tidak ya periksa. Al-Qur'an adalah Kalamullah, tidak akan pernah salah, tidak pernah berdusta. Siapa yang mau silakan beriman, yang tidak mau silakan kafir. Allah tidak butuh, yang butuh adalah kita.
Dalam surat At-Takwir, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: Silakan ambil jalan yang kamu inginkan, yang tidak kepingin ya silakan. Tapi ingat, tidaklah kita dapat menempuh jalan yang lurus kecuali apabila dikehendaki oleh Allah Tuhan semesta alam.
Tetapi Panjenengan ongkang-ongkang di rumah, tidak mau berusaha untuk mencari itu, Jalan Shiratal Mustaqim seperti apa, tidak bisa. Allahu Akbar, Allahu Akbar. Lihat, Jamaah لا إله إلا الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد. Shalat Idul Fitri yang insyaallah dimuliakan oleh Allah.
Hidup Hanya Sekali dan Wasiat untuk Ibu
Kesempatan hidup kita di dunia hanya satu kali. Mau sampai umur berapa kita? Semua yang tadinya gagah, yang cantik-cantik, besok ngaben, mangkuk, bisa baik dikubur. Kalau sudah dikubur mau apa? Hanya dengar.
Mau ngomong apa di hadapan Allah subhanahu wa ta'ala, kalau belum sempat melaksanakan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Marilah.
Marilah kita senantiasa berusaha untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah sehingga kita bisa menjadikan dunia ini ladang bagi kehidupan kita di alam akhirat nanti. Amin.
Yang terakhir, saya ingin sampaikan khusus untuk kaum ibu, mohon untuk didengarkan seperti dilakukan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika khutbah Id.
Beliau bersabda: بسم الله الرحمن الرحيم. رأيتكن أكثر أهل النار فقال امرأة تكسرنا اللعنة وتكفرنا العشير
"Aku melihat kalian kaum wanita adalah penghuni neraka yang paling banyak." Lalu seorang wanita bertanya: "Mengapa wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Karena kalian banyak melaknat dan mengingkari kebaikan suami." [HR. Bukhari no. 304, Muslim no. 80]
Perhatikan kaum ibu. Rasulullah bersabda: Wahai para wanita, wahai para kaum ibu, bersedekahlah kalian semuanya, perbanyaklah istighfar. Karena sesungguhnya bahan baku Jahanam paling banyak adalah dari kaum wanita.
Ada seorang yang bertanya: "Kenapa begitu ya Rasulullah? Kita kan ngaji rajin, kita kan banyak melakukan ibadah, kenapa seperti itu?" Rasulullah menjawab: "Karena kalian banyak mengeluh dan banyak mengingkari pemberian suami."
Sungguh Rasulullah telah mengingatkan bahwa betapa banyak kaum wanita yang menjadi penghuni neraka. Insya Allah, kang, meriki sedikit, kang kana-kana sing akeh, mudah-mudahan.
Kita lihat sebagian ciri daripada wanita-wanita penghuni Jahanam kata Rasulullah: والنساء عريات مميلات مائلات رؤوسهن كأسنمة البخت مائلة لا يدخلن الجنة ولا يجدن ريحها...
"...para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang condong. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium wanginya surga, padahal wanginya surga bisa dicium dari jarak tujuh puluh tahun." [HR. Muslim no. 2128]
Astaghfirullah, astaghfirullah. استغفار يا كون بهوا استغفار پر بھائي کی ڈھیری
"Perbanyaklah istighfar wahai kalian, karena istighfar itu seperti tumpukan gunung." Hanya seperti punuk unta yang condong, wanita tersebut tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya surga, padahal wanginya surga bisa dicium dari jarak tujuh puluh tahun.
Itulah wasiat Rasulullah kepada kaum Hawa agar supaya Panjenengan lebih sadar bahwasanya sebentar lagi kita akan menghadap Allah. Kita akan memenuhi apa namanya, menepati atau mendapati janji Allah yang sudah dijadikan sewaktu di dunia.
Doa Memohon Ampunan
Akhirnya marilah kita mohon kepada Allah dengan penuh khusyuk dan tunduk merendahkan diri. Memohon kepadamu ya Allah untuk senantiasa mendapatkan pahala dan karuniamu. Sungguh ya Allah kami takut pada azabnya ya Allah.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُه
Transkrip : Khutbah Idul Fitri 1437 H
Pembicara : Ustadz Sri Kusdiyono
Ditulis Ulang Oleh : Admim

Komentar
Posting Komentar