Hidup di Dunia Hanya Mampir, Jangan Salah Tujuan

Sumber : Khutbah Idul Fitri 1438 H

Ditulis ulang oleh: Admin

Pintu kayu Masjid Jami Cikadu Lumbir Banyumas dengan pantulan langit simbol hidup di dunia hanya mampir jangan salah tujuan arah akhirat

Transkrip : Khutbah Idul Fitri 1438 H

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ  

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ  

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا، أَمَّا بَعْدُ

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهُدَى هدى مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عليهِ وَسلَّم، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّار

Marilah Kita Bersyukur kepada Allah 

Allahu Akbar walillahil hamd, jamaah rahimakumullah. 

Marilah kita senantiasa memanjatkan syukur kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Yang dengan rahmat-Nya, kita semuanya masih diberi kesempatan oleh Allah untuk bisa menikmati segala yang sudah Allah berikan kepada kita semuanya. 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. laa ilaha illallah, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd. 

Saudara-saudara kami seagama yang dirahmati oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.


Merupakan Nikmat Allah: Kesehatan, Islam, dan Iman 

Pada kesempatan yang baik, kita sejenak merenungkan kembali apa yang sudah diberikan oleh Allah. 

Berapa banyak nikmat yang sudah diberikan oleh Allah kepada kita, sehingga kita sampai saat ini masih diberi kesehatan, masih diberi Islam, masih diberi iman. 

InsyaAllah kita berdoa kepada Allah agar supaya kita semuanya menghadap Allah dalam keadaan Islam dan iman. 

Pada kesempatan yang mulia ini, saya akan coba mengingatkan kepada kita semuanya.


Tujuan Hidup Manusia: Diciptakan Untuk Menyembah Allah 

Tentang perjalanan seorang insan, perjalanan kehidupan seorang manusia dari awal sampai titik akhir. 

Hal ini diterangkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan melalui lisan Rasul-Nya yang mulia dengan sangat jelas, dengan sangat gamblang. 

Kita harus paham, kita harus memahami apa yang akan menimpa kita, apa yang sudah terjadi kepada kita, dan bagaimana nasib kita di akhir perjalanan kita. Mulai. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: 

هَلْ أَتَىٰ عَلَى الْإِنسَانِ حِينٌ مِّنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُن شَيْئًا مَّذْكُورًا ۝ إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا 

"Bukankah pernah datang kepada manusia waktu dari masa, yang ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, yang Kami hendak mengujinya dengan perintah dan larangan, karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat." [Surat Al-Insan ayat 1-2]

Kami ujinya dan Kami jadikan baginya pendengaran dan penglihatan. 

Ketika Allah berkehendak kepada kita menciptakan kita manusia, dari mulai kita berada di rahim ibu kita, lalu Allah meniupkan ruh kepada kita. Itu semuanya atas kehendak Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 

Lalu begitu masanya lahir, masanya tiba, kita dilahirkan ke dunia. Allah melanjutkan: "Lalu Kami beri hidayah dia, beri petunjuk dia kepada jalan yang benar." 

Agar supaya diberi cobaan manusia, apakah dia pandai bersyukur atau dia kufur. 

Kita terlahir ke dunia atas nikmat Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Bukanlah Allah menciptakan kita untuk sia-sia. Bukanlah Allah menciptakan kita semuanya untuk main-main. Tidak. Allah menciptakan kita manusia di dunia tidak lain dan tidak bukan, kecuali untuk menyembah-Nya.


Renungan Nikmat Panca Indra dan Anggota Tubuh 

Allah memberi jalan kemudahan kepada kita. Dimudahkannya kita untuk melihat, diberi mata yang terang benderang. Masih banyak yang tidak diberi mata oleh Allah. 

Nikmat mana lagi yang kalian ingkari dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala? 

Panjenengan diberi pendengaran yang sangat jelas. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Masih banyak manusia yang tidak diberi pendengaran. 

Panjenengan diberi tangan, kaki, semuanya lengkap. Alhamdulillah, masih banyak saudara kita yang tidak diberi seperti itu. 

Nikmat seperti apa lagi yang harus Allah berikan, supaya kita menjadi orang yang bersyukur, tidak menjadi orang yang kufur?


Rahmat Allah untuk Semua Makhluk, Mukmin dan Kafir 

Allah memberikan kita kemudahan. Kemudian di dalam hidup ini, diberikan semuanya yang ada di bumi untuk manusia. Karena Rahman dan Rahim-Nya, tidak peduli dia kafir, tidak peduli dia beriman, semuanya diberi rezeki oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 

Yang beriman diberi makan, yang kafir pun diberi makan. Yang salat diberi makan, yang tidak salat pun diberi makan. Ini rahmat dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.


Kesempatan Taubat Selagi di Dunia 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala menghukum disebabkan karena dosa-dosa kita. Habis kita. Karena sifat Allah yang Rahman Rahim, sehingga Allah memberi kesempatan kepada seluruh manusia untuk kembali kepada Tuhan, kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, kepada jalan yang benar. 

Kita diberi kesempatan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala selagi kita masih berada di alam dunia. Mau sampai kapan? Sampai nanti pulang dari Id? Atau sampai besok, sampai lusa? 

Ketika Allah berkehendak, saat ini juga kita mati bersama-sama, mudah bagi Allah. Apa yang akan kita jawab di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala ketika kita harus menghadap-Nya saat ini juga? Sudahkah kita mempersiapkannya?


Bersyukur di Setiap Jenjang Usia 

Lalu ketika kita sudah mencapai usia dewasa, tiga puluh tahun, kita wajib mensyukuri. Wajib. Karena apa? Banyak di antara saudara-saudara kita yang tidak mencapai usia tiga puluh tahun. 

Kita bisa berkeluarga, kita wajib mensyukuri. Banyak antara saudara-saudara kita yang tidak bisa berkeluarga. 

Kita mempunyai dikaruniakan Allah harta, anak, kedudukan, dan sebagainya. Wajib disyukuri. Masih banyak yang tidak diberi kelebihan harta, tidak diberi anak, tidak diberi bermacam-macam. Hanya dengan harus itu, semuanya nikmat dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 

Bagaimana kita bisa tidak pandai bersyukur? 

Ketika usia memanjak lagi, naik lagi ke empat puluh tahun, panjenengan bersyukur. Masih banyak yang baru tiga puluh tahun sudah dipanggil oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Begitu seterusnya. Mau sampai kapan?


Dunia Hanya Tempat Singgah, Bukan Tujuan 

Rasulullah mewasiatkan kepada kita melalui sabdanya, bahwasanya: "Hiduplah kalian di dunia seperti orang asing, seperti orang yang dalam perjalanan menuju kehidupan yang abadi. Jangan jadikan dunia ini sebagai tujuan." 

Ibarat kita, seorang yang melakukan perjalanan, kita sedang beristirahat. Kita singgah, mampir di sebuah kota yang namanya dunia. Tujuan kita bukan di dunia. Tujuan kita negeri yang abadi. 

Mau sampai kapan umur panjenengan? Mau sampai berapa? Mau tujuh puluh, delapan puluh? Atau tidak sampai?


Kematian dan Sakaratul Maut 

Sampai suatu hari datanglah kepada kita semuanya. Baik itu yang lagi tidur, baik itu yang lagi bekerja, baik itu yang lagi di jalan. Datang Malaikatul Maut menjemput dengan tiba-tiba. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala 

فَلَوْلَا إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ ۝ وَأَنتُمْ حِينَئِذٍ تَنظُرُونَ ۝ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنكُمْ وَلَٰكِن لَّا 

"Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat." [Surat Al-Waqiah ayat 83-85]

Maka kenapa mereka tidak memikirkan? Ketika nyawa ini sudah berada di tenggorokan, nafas ini sudah tinggal cengap-cengap di tenggorokan. Dan pada saat itu kamu melihat malaikat datang kepada kita. 

Menyaksikan, ini malaikat mau ngapain datang kepada saya? Di saat saya sedang tidur? Atau di saat panjenengan sedang naik kendaraan, panjenengan melihat sudah siap, Kak. 

Dan Kami adalah lebih dekat daripada malaikat tersebut, akan tetapi kalian tidak memahami, tidak melihatnya.


Nasib Orang Kafir Saat Dicabut Nyawanya

Sehingga ketika datang malaikat mencabut nyawa kita, bagi orang yang kafir, orang yang tidak mau beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, ruh ini tidak mau keluar. 

"Jangan, jangan begitu. Emang ruhnya siapa? Kok jangan!" Dipukul itu badan panjenengan. 

"Sudah cukup waktu kamu. Sudah cukup di dunia. Sudah ditangguh oleh Allah sampai umur empat puluh, sampai umur lima puluh, sampai umur enam puluh. Mau sampai berapa? Mau sampai pikun? Mau sampai loyo?" 

Katakan kepada orang tersebut: "Falawlaa in kuntum ghaira madiiniina, tarji'uunahaa in kuntum shaadiqiin." Kenapa tidak, jika kalian ini bukan orang yang dikuasai oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, kembalikan ruh kalian ke jasadmu. 

Kalau kalian bisa, coba orang kafir. Orang-orang yang tidak mau taat kepada Allah, ketika datang sakaratul maut mereka tidak mau mati. Masih cinta dengan dunianya. "Belum sempat begini, belum sempat begini," sudah dipanggil oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 

Apakah bisa? Tidak. Kita tidak menguasai ruh kita ketika Allah Subhanahu Wa Ta'ala sudah menentukan ajal kita. Ketika malaikat sudah menjemput, kita tidak akan bisa. 

Yang sugih-sugih, yang kaya, hartanya ditinggalkan. Yang sekarang masih gagah-gagah, sudah tidak ada gunanya. Yang cantik-cantik, tidak ada gunanya kalau tidak beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Tidak akan berguna.


Kematian, Pemandian Jenazah, dan Awal Perjalanan Akhirat

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un, rahimakumullah. Itulah akhir daripada kehidupan kita. 

Kita ketika maut menjemput, kita berpakaian pun sudah tidak bisa. Mandi pun sudah tidak bisa. Harus dimandikan, diberi pakaian oleh orang lain. 

Berjalan ke kuburan pun tidak bisa. Kita harus diantar oleh orang lain. 

Ketika maut sudah menjemput kita, kita memasuki fase atau perjalanan kita menuju ke dunia akhirat. Maksud saya, ke alam akhirat. Karena kematian merupakan awal dari langkah kita yang panjang.


Pertanyaan Malaikat di Alam Kubur

Ketika pengantar-pengantar kita di kuburan sudah pulang ke rumah, kembali lagi kita didatangi oleh malaikat. 

Kita akan didudukkan oleh malaikat, diberi pertanyaan: "Siapa Tuhanmu? Siapa agamamu? Dan siapa nabimu?" Ini tiga pertanyaan yang akan kita hadapi bersama-sama. 

Kalau orang Islam, orang yang mukmin di dunia, dia akan mudah untuk menjawab: "Tuhanku Allah Subhanahu Wa Ta'ala, agamaku Islam, dan nabiku adalah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam." 

Akan tetapi orang yang di dalam hatinya ada keraguan, orang yang dalam kehidupan dunia tidak mau menjalankan agamanya dengan benar, dia akan... apa? Tidak akan bisa menjawab. Ketika ditanya, "Apa sih ya? Apa sih ya?" Tidak bisa menjawab. Tidak bisa keluar dari hatinya. 

Karena apa? Karena dia tidak melaksanakan perintah Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Bagaimana dia bisa menjawab? Dia tidak mau menjalankan salat. Bagaimana bisa menjawab bahwa agamanya adalah Islam? Tidak bisa. 

Ketika panjenengan kepengin bisa menjawab dengan lancar, amalkan syariat Islam dengan benar.


Siksaan Kubur bagi yang Gagal Menjawab 

Apa yang terjadi ketika pertanyaan tidak bisa dijawab? Malaikat memegang yang namanya mirzabah dari besi. Orang tersebut akan dipukul dengan sangat keras. Orang tersebut berteriak. Teriakannya didengar oleh seluruh semua makhluk, kecuali jin dan manusia. Tapi dahsyatnya, kita akan mengalami itu. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: 

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ 

"Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki." [Surat Ibrahim ayat 27]

Yang kokoh di dunia maupun di akhirat. Ketika di dunia dia mengatakan, "Tuhanku adalah Allah," sehingga dia melaksanakan konsekuensinya: mau melakukan salat, mau melakukan zakat, mau berpuasa Ramadan. Dia akan diteguhkan. Sehingga ketika ditanya oleh malaikat, dia akan menjawab: "Tuhanku Allah, dan nabiku adalah Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam." 

Akan tetapi bagi orang yang tidak melaksanakannya itu semuanya, Allah mengatakan Allah akan menyesatkan orang tersebut. Ketika ditanya, dia tidak akan bisa menjawab. 

Kalau di dunia, mudah. Semua bisa menjawab dengan memperlihatkan: "Ini KTP saya, Islam." Di alam kubur tidak berlaku. Ingat, hati yang akan ditanya.


Keadaan di Alam Kubur: Nyenyak atau Tersiksa 

Ingat, hati yang akan ditanya. Ketika kita menjalankannya, kita akan mudah menjawabnya. Ketika kita tidak bisa menjalankan di dunia, jangan harap bisa menjawab pertanyaan malaikat. 

Kita akan, apa namanya, diazab. Diazab di dalam kubur kita. Sampai-sampai kata Rasulullah, teriakannya terdengar oleh seluruh makhluk, kecuali bangsa jin, saking hebatnya. 

Setelah itu terjadi, kita akan ditidurkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 

Bagi orang yang beriman, dia akan tidurnya sangat nyenyak, sebagaimana tidurnya pengantin baru. 

Tapi orang yang kafir, tidurnya seperti digambarkan, yang sangat gelisah. Pagi hari ditampakkan neraka, sore hari ditampakkan neraka. 

Kalau kita analogikan di masa sekarang, barangkali panjenengan pernah mengalami mimpi buruk. Itu tidurnya hari-harinya seperti itu. Sampai kapan? Sampai hari kiamat. 

Tahun ini itu yang akan terjadi. Mau percaya atau tidak, itu yang akan terjadi. Sekarang ngandal apa orang bodoh. Itu yang akan terjadi. Yang akan kita hadapi bersama-sama. 

Sadar atau tidak sadar, mau atau tidak mau, terpaksa atau tidak terpaksa. Hidup ini pilihan.


Hari Kebangkitan dan Padang Mahsyar 

Kita lanjut. Ketika sampai terjadi kiamat, tubuh kita yang sudah hancur lebur dikubur menjadi tulang belulang yang berserakan. Ruh kita yang sudah diangkat oleh Allah pada saat kematian, dikembalikan ke jasad. Jasad kita memperhatikan satu demi satu. Tubuh kita yang sudah berantakan kembali menyatu dan kembali utuh. Untuk apa? 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: 

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُم مِّنَ الْأَجْدَاثِ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يَنسِلُونَ ۝ قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَن بَعَثَنَا مِن مَّرْقَدِنَا ۜ هَٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَٰنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ 

"Dan ditiuplah sangkakala, maka seketika itu mereka keluar dari kuburnya menuju kepada Tuhannya. Mereka berkata: Celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami? Inilah yang dijanjikan oleh Tuhan Yang Maha Pengasih, dan benarlah rasul-rasul." [Surat Yasin ayat 51-52]

Digambarkan oleh Allah di dalam surat Yasin. Allah berfirman, ditiupkanlah sangkakala, dan mereka tiba dari tempat tidur mereka, bersegera menuju Tuhannya. 

Orang yang di dunia tidak percaya, kenapa? Sehingga mereka berkata, "Celaka saya, siapa yang membangunkan dari tempat tidur saya? Mau disuruh diapain saya?" Itu yang akan terjadi. Ini Al-Qur'an, ya akhi. Hak, benar, tidak mungkin salah. 

Panjengan akan menghadap Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kita semuanya menghadap Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 

Akan tetapi orang yang beriman dia berkata: "Ini yang dijanjikan oleh Tuhan Ar-Rahman, dan yang dibenarkan dari para Rasul." 

Sehingga sudah siap ketika dipanggilkan dari kubur. Untuk apa? Kita dibangkitkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, kembali ruh kita ke jasad kita. Kita akan bersama-sama bangkit dari alam kubur untuk menuju sebuah padang yang sangat luas yang dinamakan Padang Mahsyar.


Keadaan Manusia di Padang Mahsyar 

Kita akan datang kepada Allah dengan telanjang, tanpa sehelai pakaian pun, tanpa sandal, dan tanpa dikhitan. Kita akan kembali, baik laki-laki maupun perempuan. 

Apakah mereka tidak saling melihat? Mungkin. Tanpa seperti itu. Boro-boro kita memikirkan nasib diri sendiri saja. Boro-boro mikir orang lain. Tidak peduli. 

Kita ada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Zat yang Maha Adil, akan menghisap perbuatan kita. Buru-buru memikir yang lain. Kita di sana sudah baru ingat: "Beneran ini Quran. Beneran apa yang diberikan oleh Rasulullah. Benar adanya bahwa hari kebangkitan itu benar adanya." Yang ada hanya penyesalan dan penyesalan. 

Di Padang Mahsyar nanti, matahari akan didekatkan. Sehingga panasnya akan sangat terasa. 

Kita tidak biasa. Di akhirat nanti, badan diberi kekuatan untuk bisa merasakan nikmat yang luar biasa, untuk bisa merasakan siksa yang luar biasa. Sehingga ketika matahari didekatkan kepada kita, kalau di dunia kita hancur lebur. Akan tetapi di akhirat, panjenengan bisa merasakan panasnya, bisa merasakan siksanya, tapi kuat tubuhnya.


Siksaan Neraka

Enggak hanya bisa merasakan siksanya. Sebagaimana digambarkan dalam neraka, ketika panjenengan berada di dalam neraka disiksa oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 

Di neraka disetrika kulit kita. Ketika sudah mengelupas, dibuat lagi. Mengelupas, dibuat lagi. Tidak mati, dan juga tidak hidup. Tidak mati, disiksa terus. Ini gambaran. Dan itu yang akan kita hadapi bersama-sama.


Telaga Al-Kautsar dan Jembatan Shirath 

Untuk apa Allah mengumpulkan kita di padang mahsyar? Untuk dimintai tanggung jawab atas amal. Perjalanan kita masih jauh. Masih di Padang Mahsyar. 

Semua orang hiruk-pikuk berusaha menyelamatkan diri sendiri. Digambarkan, panjenengan tidak rebutan. Boro-boro dengan istri, dengan anak. Memikir awak sendiri saja. 

Bagaimana nasib kita? Bagaimana nasib...? Dikabarkan oleh Rasulullah, banyak dari kita yang tenggelam oleh keringatnya. Ada yang sampai lutut, ada yang sampai paha, ada yang sampai pinggang, bahkan ada yang tenggelam oleh keringatnya sampai mulutnya. Semuanya tergantung amal kita hari ini. Hari ini. 

Mau kapan mempersiapkan untuk menghadapi Padang Mahsyar? Mau kapan? 

Di Padang Mahsyar itu juga nanti ada sebuah telaga, Al-Kautsar, milik Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Ketika tidak ada minuman sama sekali, ketika tidak ada naungan sama sekali, panjenengan membutuhkan air untuk minum. Dan di sana ada sebuah telaga milik Rasulullah Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Mau mengamalkan sunah-sunah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Ketika panjenengan tidak mengamalkannya, jangan harap minta, langka jatah. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: 

وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًا 

"Orang-orang yang kafir digiring ke neraka Jahanam secara berombongan." 

Jelas sekali Allah Subhanahu Wa Ta'ala menceritakan apa yang akan terjadi pada kita. Jelas sekali. 

Di ujung Padang Mahsyar, kalau saya gambarkan lapangan di Padang Mahsyar, di ujung sana itu ada namanya Shirath, jembatan yang menghubungkan surga dan neraka. Kita akan digiring menuju ke sana. 

Kalau orang kafir, tidak sampai ke sana. Masih di Padang Mahsyar bisa didupak-dupaki, dilempar ke neraka. 

Ini digambarkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala di dalam surat Az-Zumar: _"Wa siiqalladziina kafaruu ilaa jahannama zumara."_ Orang kafir di dalam neraka Jahanam dengan berbondong-bondong. Ada yang diseret, ada yang didupak, ada yang ditendang, ada yang dijongkokkan. Nah, itu orang kafir. Orang yang tidak mau menjalankan syariat Islam akan seperti itu nasibnya.


Tiga Golongan Manusia di atas Shirath

Ada juga segolongan orang yang munafik. Orang yang menjalankan Islam karena bukan karena _lillahi ta'ala_. Ya, dia masih bisa meniti Shirath, tapi dia meniti Shirath di dalam kegelapan. 

Tidak seperti orang mukmin. Orang mukmin mempunyai cahaya yang bisa menyeberangkan dia untuk selamat di surga. Orang munafik tidak mempunyai cahaya. Berjalan dalam kegelapan, sehingga dia bisa disambar untuk dimasukkan ke dalam neraka Jahanam. 

Nah, tiga golongan manusia ya. Ketika itu, orang kafir langsung dimasukkan ke dalam neraka. Orang mukminin bisa berjalan melewati Shirath. Orang yang munafik ini banyak disambar karena tidak mempunyai cahaya. Karena waktu di dunia dia beragama karena ada kepentingannya. Mengaku beragama Islam, akan tetapi karena, apa namanya, pamer dengan manusia, sehingga tidak bisa selamat. 

Sedangkan orang yang beriman, Allah berfirman, dan diiringi orang-orang yang beriman ke surga dengan berbondong-bondong. 

Ada yang bisa berlari secepat kilat di Shirath. Ada yang bisa berlari secepat kuda. Ada yang berlari dengan unta. 

Ada yang berlari dengan kaki. Ada yang berjalan. Ada yang merangkak. Ada yang ngesot berjalan dengan pantat. Semuanya tergantung amal kita hari ini. 

Jamaah, yang dimuliakan oleh Allah, yang dirahmati oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 

Ash-Shirath digambarkan sebagai sebuah jalan yang licin, lebih halus dari rambut, dan lebih tajam dari pedang. Dan jalan tersebut keadaannya gelap. Bagaimana kita melewatinya nanti, tergantung daripada bekal kita.


Lulus Shirath dan Jembatan Qantharah 

Selesai belum? Kita nanti telah Shirath-nya. Sudah kita bisa lalui, alhamdulillah. 

Kalau yang bisa lalui, ya. Banyak di antara kita ahli maksiat, melakukan salat, melakukan puasa, tapi banyak bermaksiat. Sehingga harus dimasukkan ke dalam neraka, harus disambar oleh api neraka Jahanam, sehingga dia tidak bisa lulus di atas Shirath. 

Tapi banyak juga yang lulus, alhamdulillah. Mudah-mudahan yang hadir di sini semuanya bisa selamat. InsyaAllah, aamiin. 

Selesai belum? Belum sampai. 

Kita akan berhenti di sebuah jembatan kecil penghubung di depan surga. Kalau yang orang kafir sudah tempatnya di neraka, tinggal orang yang beriman akan berhenti di sebuah tempat yang namanya Qantharah, sebuah jembatan kecil. 

Di sana, di sebelah Qantharah ada surga. Surga yang semuanya masih tertutup pintunya. Hanya bisa dibuka oleh siapa? Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.


Delapan Pintu Surga dan Syafaat Rasulullah 

Ketika sudah dibuka pintu-pintunya, masing-masing pintu memanggil-manggil. 

Yang biasa rajin salat, dipanggil dari pintu salat. Yang biasa sedekah, dipanggil dari pintu sedekah. Yang biasa puasa, dipanggil dari Ar-Rayyan. Dan seterusnya. Ada delapan buah pintu. 

Kita mengharapkan kita bisa dipanggil dari pintu. Semua pintu memanggil kita. 

Tapi ada juga yang babar blas, orang yang tidak diundang surga, karena tidak mau beramal di waktu di dunia. Gitu. Ini bukan saya menakut-nakuti, ini kenyataan. Ya, ini Allah yang berfirman. Dan pasti benar. Pasti benar. 

Itu pun belum cukup ya, untuk bisa masuk surga kita masih membutuhkan syafaat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. 

Rasulullah yang bisa meminta kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala agar membukakan pintu surga bagi kita. Rasulullah juga punya kewenangan untuk memintakan syafaat kepada Allah bagi kita. 

Kita yang banyak melakukan dosa, semestinya janjinya jatahnya di neraka. Hanya karena rahmatnya, apa namanya, Rasulullah memohon keringanan kepada Allah: "Ya Allah, kasihan umatku. Masih ada di neraka. Ya Allah, tolong diangkat, diangkat." 

Ada lagi umat-umat manusia yang, apa, yang tidak punya sifat, sudah berada di neraka, di dasar neraka. Ya Allah menciduk dengan segenggaman, diangkat dari neraka. Dasar neraka ini sekumpulan orang yang sudah menjadi hitam arang, menjadi hangus. Diberi syafaat oleh Allah langsung. Dan itu tentunya adalah ahli orang-orang yang di dalam hatinya masih ada keimanan.


Kekal di Neraka bagi Kafir dan Musyrik 

Tapi kalau panjenengan mati dalam keadaan kafir, dalam keadaan musyrik, dalam keadaan menyekutukan Allah, jangan harap panjenengan diangkat dari neraka. Jangan harap. Khalidina fiha abada, kekal di dalamnya. 

Ketika sudah diputuskan segala sesuatu, baru kita akan bisa sampai kepada rumah tujuan kita, yaitu Jannatun Na'im.


Pilihan Ada di Tangan Kita

Itu ya, kehidupan Al-Insan dari mulai awal sampai akhir. Yang sebisa-bisanya dijadikan kita motivasi agar supaya kita bisa istiqamah di dalam agama ini. 

Berusaha meraih terbaik. Kalau panjenengan pengin di surga, beramal. Kalau panjenengan di surganya kepengin hotelnya bintang lima, beramal yang banyak. 

Kalau yang tidak kepengin, ya silakan. Kalau yang tidak kepengin di surga, mau diapa-apain juga nggak apa-apa. Ya tetap baik. Silakan. Hidup ini pilihan. Tidak ada paksaan. Allah tidak pernah memaksa. 

Kalaupun semuanya kafir, tidak pengaruh bagi Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kalaupun semua manusia di dunia tidak ada yang salat, tidak pengaruh bagi Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Orang butuh. Gampangannya, cara orang Jawa: "Kita yang membutuhkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala."


Doa Penutup 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, _laa ilaha illallah_, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd, jamaah rahimakumullah. 

Pada akhirnya kita, marilah berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala agar kita semuanya diberi kekuatan iman, diberi kekuatan Islam, diberi kekuatan istiqamah untuk bisa selalu tetap di jalan Allah. 

Ya Allah, semoga kita semuanya senantiasa diberi keteguhan hati untuk senantiasa bisa beramal dengan amal yang benar, Al-Qur'an dan Sunnah. 

Ya Allah, _Rabbana zhalamna anfusana fa in lam taghfir lana wa tarhamna lanakunanna minal khaasiriin_. 

بَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا  

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ  

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ ۝ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ ۝ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ  

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Transkrip : Khutbah Idul Fitri 1438 H

Pembicara Ustadz : Sri Kusdiyono

Ditulis Ulang oleh : Admin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silsilah Keluarga Keturunan Eyang Mursyid Cikadu Lumbir

Silsilah Keluarga Keturuan Eyang Mahmud cikadu Lumbir

Referensi Silsilah Keluarga Cikadu Lumbir