Di sini kita akan mengenal beberapa
istilah bagi para dukun, di mulai dengan dukun kelas rendah sampai dukun paling
parah
1.‘Arraaf
Kata ‘arraf disebut oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya
مَنْ أَتَى عَرَّافاً فَسَأَلَهُ عَنْ
شَيْءٍ لَمْ تُقبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً
“Barang siapa mendatangi ‘Arrof
(peramal) dan menanyakan sesuatu kepadanya, tidak akan diterima sholatnya
selama empat puluh hari”. { HR Muslim}
Imam al-Khoththaby menyebutkan bahwa
‘arraf adalah orang yang mengaku mengetahui barang yang dicuri, tempat orang
hilang atau yang semisalnya. Yakni mengetahui secara gaib hal-hal yang sedang
dan tengah terjadi.
2.Kahin
Kata kahin terkadang memiliki makna
yang sama dengan ‘arraf sebagimana di sebut dalam hadits:
مَنْ أَتَى عَرَّافاً أَوْ كَاهِناً
فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
Barang siapa yang mendatangi tukang
ramal atau dukun kemudian membenarkan apa yang ia katakan, sungguh ia telah
kafir terhadap yang diturunkan kepada Muhammad sholallohu alaihi
wassalam. (Dikeluarkan oleh empat ahlu Sunan (Nasa’i, Turmudzi, Abu Daud
dan Ibnu Majah) dan dishohihkan oleh Hakim)
Akan tetapi kata kahin
juga memiliki definisi yang khusus seperti yang di sebut dalam hadits berikut:
مَنْ أَتَى كَاهِناً فَصَدَّقَهُ
بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
Barang siapa yang mendatangi kahin
(dukun) dan membenarkan apa yang yang ia katakan maka sungguh telah kafir
terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad sholallohu alaihi wasalam » (
HR Abu Dawud ) Dalam riwayat yang lain:
Menurut al-Khoththaby, perbedaan
istilah ‘arraf dan kahin adalah:
‘arraf itu dukun yang mengaku bisa
menebak kejadian yang telah dan sedang terjadi,
sedangkan kahin adalah orang yang
mengaku mengetahui yang ghaib dan mengabarkan berdasarkan “wahyu” dari setan.
Biasanya dia berkata , “akan terjadi peristiwa ini dan itu …. Pada hari ini dan
itu …”
Kedua orang tersebu ('Arraf dan
Kahin) telah menjalin hubungan dengan setan-setan yang akan memberitahukan
kepadanya berita yang akan datang dari langit. Setan-setan itu mencuri berita
dari langit, selanjutnya dukun tersebut membubuhkan kebohongan-kebohongan pada
berita itu dan menyampaikannya kepada manusia. Apabila sesuatu yang dia
kabarkan benar-benar terjadi maka manusia akan mempercayainya sebagai orang
yang tahu sesuatu yang ghaib.
3. Munajjim (Ahli Nujum)
Ahli nujum adalah orang yang
menghubung-hubungkan penomena perbintangan dengan kejadian-kejadian di bumi.
Artinya seorang ahli nujum itu mengkaitkan fenomena yang telah atau akan
terjadi di bumi dengan letak dan posisi bintang-bintang, waktu terbit dan
tenggelamnya serta yang semisalnya. Termasuk ramalan bintang.
Perbuatan ini termasuk satu jenis
sihir dan perdukunan.
عن ابن عباس ، أن رسول الله صلى
الله عليه وسلم قال : من اقتبس علما من النجوم،اقتبس شعبة من السحر زاد ما زاد
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas,
bahwasanya Rasulullah saw bersabda; “Barang siapa yang mengutip satu ilmu dari
ilmu perbintangan, berarti dia telah mengutip satu cabang dari ilmu sihir.” (HR
Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Munajjim diharamkan karena karena
beberapa perkara:
Sok tahu yang ghaib, padahal tidak
ada yang mengetahui keghaiban di langit maupun di bumi melainkan Allah ta'ala
semata.
Menyandarkan perkara berdasar pada
ketidakpastian yang tidak ada hakikat kebenarannya sama sekali.
Sejatinya tidak ada korelasi antara
apa yang terjadi di bumi dengan apa yang terjadi di langit. Dulu ada keyakinan
jahiliyah bahwa gerhana matahari dan bulan tidak lain sebagai pertanda kematian
seorang yang agung. Maka ketika Ibrahim putra nabi Muhammad shalaullahu
a’alaihi wasallam. Nabi menggugurkan keyakinan tersebut, beliau bersabda,
“sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan
Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena meninggal atau hidup(lahir)nya
seseorang”.
Ustadz Abu Humairo Al Batamy
