pekerjaannya
haram dan jahat. Orang-orang bodoh, sesat dan lemah iman pergi kepada para
tukang sihir untuk berbuat jahat kepada orang lain atau untuk membalas dendam
kepada mereka. Di antara manusia ada yang melakukan perbuatan haram, dengan
mendatangi tukang sihir dan memohon pertolongan padanya agar terbebas dari
pengaruh sihir yang menimpanya. Padahal seharusnya ia mengadu dan kembali
kepada Allah, memohon kesembuhan dengan KalamNya, seperti dengan Mu’awwidzat (
surat Al Ikhlas, Al Falaq, dan An Naas) dan sebagainya.
Dukun dan tukang
ramal itu memanfaatkan kelengahan orang-orang awam (yang minta pertolongan
padanya) untuk mengeruk uang mereka sebanyak-banyaknya. Mereka menggunakan
banyak sarana untuk perbuatannya tersebut. Di antaranya dengan membuat garis di
pasir, memukul rumah siput, membaca (garis) telapak tangan,cangkir, bola kaca,
cermin, dsb.
Jika sekali waktu
mereka benar, maka sembilan puluh sembilan kalinya hanyalah dusta belaka.
Tetapi tetap saja orang-orang dungu tidak mengingat, kecuali waktu yang sekali
itu saja. Maka mereka pergi kepada para dukun dan tukang ramal untuk mengetahui
nasib mereka di masa depan, apakah akan bahagia, atau sengsara, baik dalam soal
pernikahan, perdagangan, mencari barang-barang yang hilang atau yang semisalnya.
Hukum orang yang
mendatangi tukang ramal atau dukun, jika mempercayai terhadap apa yang
dikatakannya adalah kafir, keluar dari agama Islam. Rasulullah r
bersabda :
" من أتى كاهنا أو عرافا فصدقه بما يقول فقد كفر بما أنزل على
محمد "
“ Barang siapa mendatangi dukun dan tukang
ramal, lalu membenarkan apa yang dikatakannya, sungguh dia telah kufur terhadap
apa yang diturunkan kepada Muhammad”.( HR Ahmad: 2/ 429, dalam shahih jami’
hadits, no : 5939)
Adapun jika orang
yang datang tersebut tidak mempercayai bahwa mereka mengetahui hal-hal ghaib,
tetapi misalnya pergi untuk sekedar ingin tahu, coba-coba atau sejenisnya, maka ia tidak tergolong
orang kafir, tetapi shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari.
Rasulullah r bersabda :
" من أتى عرافا
فسأله عن شيء لم تقبل له صلاة أربعين ليلة"
“Barang siapa mendatangi tukang ramal, lalu
ia menanyakan padanya tentang sesuatu, maka tidak di terima shalatnya selama
empat puluh malam” (Shahih Muslim : 4 / 1751).
Ini masih pula harus
dibarengi dengan tetap mendirikan shalat (wajib) dan bertaubat atasnya.
Di
Kutip Dari Ebook : Dosa-Dosa Yang Di Anggap Biasa
Oleh: Syaikh Abdul Aziz Bin Baz rohimahulloh
