Istiqomah Dalam Kebaikan,Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 30-33
Transkrip kajian ba'da maghrib bertema Istiqomah Dalam Kebaikan, Tafsir Al-Baqarah Ayat 30-33. Penceramah: Ustadz Sri Kusdiyono, Di Masjid Aisyah Al Misbahi Al Furqon Cikadu, Lumbir, Banyumas. Gunakan daftar isi di bawah untuk melompat ke pembahasan.
Muqoddimah Kajian Istiqomah Dalam Kebaikan
Kajian Maghrib Masjid Al Furqon Cikadu tentang nikmat waktu luang dan bahaya menunda kebaikan, akidah dari percaya menjadi yakin, hingga tafsir QS. Al-Baqarah ayat 30-33 tentang manusia sebagai khalifah, kemuliaan manusia di hadapan malaikat, dan ilmu Nabi Adam yang membantah teori evolusi.
DAFTAR ISI - Klik untuk buka
- 1. Nikmat Waktu Luang dan Bahaya Menunda Kebaikan
- 2. Keutamaan Istiqomah dan Pahala Amal Rutin
- 3. Bahaya Godaan Setan Saat Menunda Ibadah
- 4. Akidah: Dari Sekadar Percaya Menjadi Yakin yang Mengikat Hati
- 5. Kebenaran Mutlak Hanya Milik Allah dan Rasul-Nya
- 6. Mengenal Allah Melalui Keteraturan Alam Semesta
- 7. Tafsir Ayat 30 - Manusia Sebagai Khalifah di Bumi
- 8. Hikmah Khalifah dan Jaminan Rezeki
- 9. Kemuliaan Manusia di Hadapan Malaikat
- 10. Nasib Manusia dan Binatang di Hari Kiamat
- 11. Asal-Usul Pertanyaan Malaikat dan Kisah Bangsa Jin
- 12. Zikir Paling Mulia: Subhanallah Wabihamdihi
- 13. Hikmah Penciptaan Manusia Sebagai Pengelola Bumi
- 14. Pelajaran Fikih Pemerintahan: Wajibnya Seorang Khalifah
- 15. Cara Penunjukan Pemimpin Dalam Syariat Islam
- 16. Sikap Terhadap Pemimpin Zalim
- 17. Tafsir Ayat 31-33 - Ilmu Adam dan Bantahan Teori Evolusi
- 18. Kesempurnaan Fisik Nabi Adam 60 Hasta
- 19. Kelebihan Ilmu Nabi Adam di Hadapan Malaikat
- 20. Menjaga Kemurnian Akidah dan Penutup Kajian
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
1. Nikmat Waktu Luang dan Bahaya Menunda Kebaikan
Jamaah Maghrib rahimakumullah, sebagai seorang muslim kita wajib mensyukuri nikmat yang diberikan Allah. Setiap saat kita menikmati nikmat yang sangat banyak, di antaranya nikmat kesehatan, keimanan, keislaman, dan juga nikmat sempat atau waktu luang.
Nikmat sempat ini kadang terlupakan. Padahal ketika kita mempunyai kesempatan untuk menjalankan kebaikan, maka jangan pernah tinggalkan. Kesempatan itu tidak datang dua kali. Mungkin keinginan itu ada sekarang, tetapi belum tentu esok hari kita bisa mendapatinya lagi.
Makanya, ketika ada kesempatan waktu luang dan ada niat untuk berbuat baik, atau amal rutin yang biasa kita laksanakan, jangan coba-coba menundanya. Sekali kita menundanya, besok akan ketagihan. Kalau sudah terbiasa menunda kebaikan, akan semakin tertunda karena setan akan senantiasa menggoda kita.
2. Keutamaan Istiqomah dan Pahala Amal Rutin
Misalnya kita sudah terbiasa shalat Maghrib berjamaah atau shalat lima waktu berjamaah. Ketika ada kesempatan lalu kita menundanya karena kepentingan lain yang sebenarnya bisa ditunda, maka besoknya kita akan mengulanginya lagi. Pada akhirnya kita bisa meninggalkan kegiatan rutin tersebut.
Oleh karena itu, selagi tidak ada halangan yang mutlak, usahakan tetap istiqamah menjalankan ibadah rutin pada waktu yang telah ditentukan.
Keuntungannya adalah, ketika suatu saat benar-benar terhalang karena uzur, pahalanya akan tetap dicatat penuh oleh Allah sebagaimana rutinitas harian. Contohnya orang yang sudah rutin shalat Subuh berjamaah di masjid, lalu suatu hari kesiangan, maka pahala berjamaahnya tetap dicatat karena ia sudah menjaga rutinitasnya.
3. Bahaya Godaan Setan Saat Menunda Ibadah
Sebaliknya, kalau kita suka menunda-nunda, setan akan semakin kuat menggoda kita agar tidak menjalankan ibadah tersebut. Kita harus membentengi hati agar tidak tergoda. Setan itu sangat pintar, makanya kita membutuhkan ilmu untuk menangkal semua godaannya.
4. Akidah: Dari Sekadar Percaya Menjadi Yakin yang Mengikat Hati
Jamaah rahimakumullah, kita akan melanjutkan kajian Tafsir Al-Qur'anul Karim yang bersumber dari kitab Tafsir Ibnu Katsir. Pekan lalu kita baru sampai pada ayat ke-29, di mana Allah mengajari kita untuk mengenal Allah dengan sebenar-benarnya.
Dari kepercayaan dan keimanan kepada Allah, harus kita tingkatkan menjadi keyakinan di dalam hati. Sebab kalau hanya sekadar percaya adanya Allah, tetapi tidak mengetahui Zat-Nya, sifat-sifat-Nya, dan tidak mau tahu bagaimana Allah mengurusi kita, maka kepercayaan itu tidak akan menjelma menjadi keyakinan yang kokoh.
Secara bahasa, iman dan yakin itu hampir sama. Namun kata yakin itu terdengar lebih mantap dan mengikat di dalam hati. Ikatan hati yang lahir dari keimanan dan keyakinan yang benar inilah yang dinamakan Akidah. Akidah maknanya adalah sesuatu yang mengikat.
5. Kebenaran Mutlak Hanya Milik Allah dan Rasul-Nya
Kita harus mendasari diri bahwa kebenaran mutlak itu hanya milik Allah dan Rasul-Nya. Selain dari itu, kebenarannya bersifat relatif. Benar menurut Anda belum tentu benar menurut saya. Tetapi kalau Allah yang berfirman, pastilah itu kebenaran sejati.
اَلْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ
Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang yang ragu. (QS. Al-Baqarah: 147)
6. Mengenal Allah Melalui Keteraturan Alam Semesta
Pada pertemuan lalu kita membahas bagaimana Allah memperkenalkan diri-Nya dan bagaimana Allah mengatur alam semesta dengan sangat canggih. Keteraturan ini membuat orang kafir pun sebenarnya mengakui dalam hati bahwa alam semesta tidak mungkin terjadi secara kebetulan. Segala sesuatu yang terjadi karena kebetulan pasti akan memicu ketidakseimbangan, sedangkan alam semesta ini semuanya berjalan seimbang.
7. Tafsir Ayat 30 - Manusia Sebagai Khalifah di Bumi
Hari ini, kita memasuki ruku berikutnya, yaitu Surah Al-Baqarah ayat 30 sampai 33. Mari kita tadaburi firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala pada ayat 30:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Aku hendak menjadikan khalifah di bumi. Mereka berkata, Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami senantiasa bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu? Allah berfirman, Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. (QS. Al-Baqarah: 30)
8. Hikmah Khalifah dan Jaminan Rezeki
Ayat ini menceritakan awal mula penciptaan Nabi Adam alaihissalam sebagai manusia pertama. Para ulama menjelaskan yang dimaksud khalifah di sini adalah pengganti, yakni generasi demi generasi manusia yang saling menggantikan. Sensus penduduk bumi tidak pernah turun, melainkan selalu naik karena jumlah yang lahir lebih banyak daripada yang meninggal. Namun jangan khawatir, Allah sudah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya asal kita mau bersabar.
Kehidupan manusia itu berputar. Ada masa anak-anak, remaja, dewasa, hingga puncaknya pada usia 40 tahun, setelah itu fisiknya mulai turun kembali seperti anak-anak, lalu menemui ajalnya. Begitu pula sebuah peradaban, sekuat apapun mereka, suatu saat pasti akan runtuh.
Sebelum Nabi Adam diciptakan, bumi sudah dihuni oleh bangsa jin. Allah sudah menciptakan malaikat, jin, langit, bumi, beserta segala isinya terlebih dahulu. Manusia adalah makhluk yang diciptakan paling akhir.
Baca juga: Tujuan Hidup Adalah Beribadah Kepada Allah Dan Jalan Menuju Surga Firdaus
9. Kemuliaan Manusia di Hadapan Malaikat
Ayat ini juga menjadi bukti bahwa manusia adalah makhluk yang mulia, karena Allah menyebut-nyebut rencana penciptaan manusia di hadapan para malaikat. Jumlah malaikat di langit sangat banyak. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda bahwa tidak ada ruang sejengkal pun di langit melainkan di situ ada malaikat yang sedang beribadah kepada Allah.
Malaikat adalah makhluk mulia yang tidak pernah maksiat dan selalu taat berzikir. Ketika manusia disebut di hadapan mereka, itu adalah sebuah penghormatan. Manusia secara derajat bisa mulia melebihi malaikat jika taat, tetapi sebaliknya bisa menjadi lebih rendah daripada binatang jika membangkang.
10. Nasib Manusia dan Binatang di Hari Kiamat
Binatang-binatang yang di dunia saling berkelahi, besok di hari kiamat juga akan di-qishash oleh Allah. Namun setelah urusan qishash selesai, Allah mengubah mereka semuanya menjadi tanah. Berbeda dengan manusia, setelah hisab selesai, perjalanan kita masih berlanjut menuju surga atau neraka. Itulah mengapa orang-orang kafir saat melihat binatang diubah menjadi tanah, mereka meratap: Alangkah baiknya jika dahulu di dunia aku menjadi kambing saja, karena mereka takut menghadapi siksa neraka.
11. Asal-Usul Pertanyaan Malaikat dan Kisah Bangsa Jin
Kembali ke ayat 30, malaikat bertanya: Apakah Engkau hendak menjadikan manusia yang nanti akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah? Dari mana malaikat bisa berasumsi demikian? Karena berkaca pada makhluk sebelum Adam, yaitu bangsa jin, yang wataknya suka saling berperang, berebut harta, dan menuruti hawa nafsu. Bangsa jin itu persis seperti manusia; beranak-pinak, ada yang muslim, ada yang kafir, dan bermacam-macam profesinya.
Malaikat lalu berkata: Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan-Mu. Seolah-olah mereka berkata: Ya Allah, mengapa repot-repot menciptakan manusia yang belum tentu patuh, padahal kami selalu tunduk dan berzikir kepada-Mu?
12. Zikir Paling Mulia: Subhanallah Wabihamdihi
Di dalam sebuah hadis, Nabi pernah ditanya mengenai zikir apa yang paling mulia. Beliau menjawab bahwa zikir yang paling mulia adalah zikirnya para malaikat, yaitu kalimat:
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ
Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya.
Zikir ini sangat disunnahkan untuk kita lafazkan kapan saja dan di mana saja tanpa batasan waktu, karena kalimat ini adalah pujian yang sangat disenangi Allah.
13. Hikmah Penciptaan Manusia Sebagai Pengelola Bumi
Lalu Allah menegaskan: Inni a'lamu ma la ta'lamun - Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. Allah menciptakan seluruh alam semesta dalam satu kesatuan sistem yang saling mendukung. Jika langit, bumi, lautan, serta hewan ternak sudah diciptakan, maka harus ada manusia yang mengelolanya. Jin tidak memakan ikan atau daging ternak tersebut, karena makanan asli bangsa jin adalah tulang-tulang sisa makanan manusia dan kotoran hewan. Jadi Allahlah yang paling tahu hikmah besar di balik penciptaan manusia.
14. Pelajaran Fikih Pemerintahan: Wajibnya Seorang Khalifah
Para ahli tafsir menjadikan ayat 30 ini sebagai dalil bahwa kaum muslimin wajib memiliki seorang khalifah atau pemimpin. Kehidupan bermasyarakat tidak akan berjalan tertib tanpa adanya pimpinan.
15. Cara Penunjukan Pemimpin Dalam Syariat Islam
Dalam syariat Islam, penunjukan pemimpin bisa terjadi melalui beberapa cara:
1. Berdasarkan Nas/Dalil Langsung: Contohnya ketika Allah langsung menunjuk Thalut sebagai raja untuk Bani Israil.
2. Berdasarkan Isyarat: Contohnya saat Rasulullah memberikan isyarat kuat bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah pengganti beliau. Terlihat ketika Nabi sakit dan bersikeras menunjuk Abu Bakar sebagai imam shalat berjamaah.
3. Penunjukan Langsung (Wasiat): Seorang pemimpin yang bijak sebelum akhir masa jabatannya menunjuk orang yang kompeten untuk menggantikannya.
4. Musyawarah Perwakilan (Syura): Permasalahan diserahkan kepada dewan formal yang berisikan orang-orang saleh dan ahli di bidangnya.
Sistem demokrasi modern yang diadopsi dari barat saat ini menyisakan banyak masalah. Dalam Islam, pemilihan pemimpin melalui musyawarah itu sah-sah saja, asalkan yang memilih adalah orang-orang yang saleh dan kompeten, bukan orang awam yang mudah tergiur politik uang.
16. Sikap Terhadap Pemimpin Zalim
Selain itu, jika pemimpin berbuat zalim, syariat Islam mengajarkan agar kita tidak melakukan demo untuk menggulingkannya. Menurunkan pemimpin dengan cara demonstrasi karena ketidakadilan hukumnya adalah haram, kecuali jika pemimpin tersebut melakukan kekafiran yang nyata dan jelas dalilnya di hadapan Allah.
17. Tafsir Ayat 31-33 - Ilmu Adam dan Bantahan Teori Evolusi
Kita lanjutkan ke ayat 31-33:
وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ . قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ . قَالَ يَا آدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ ۖ فَلَمَّا أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ
Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, Sebutkan kepada-Ku nama-nama ini jika kamu benar! Mereka menjawab, Maha Suci Engkau, tidak ada ilmu bagi kami selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Allah berfirman, Wahai Adam, sebutkanlah nama-nama itu kepada mereka. Maka setelah Adam menyebutkan nama-nama itu, Allah berfirman, Bukankah telah Aku katakan kepadamu, bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan? (QS. Al-Baqarah: 31-33)
Ayat ini menegaskan bahwa Nabi Adam adalah manusia yang sangat pintar sejak awal penciptaannya karena dibekali ilmu langsung oleh Allah. Hal ini membantah teori orang kafir seperti teori evolusi yang menggambarkan manusia purba berasal dari kera yang awalnya bodoh lalu berevolusi.
18. Kesempurnaan Fisik Nabi Adam 60 Hasta
Al-Qur'an menyatakan manusia diciptakan dalam bentuk fisik yang paling sempurna. Nabi Adam adalah manusia tergagah dan tertinggi. Dalam hadis disebutkan tinggi beliau saat diciptakan mencapai 60 hasta atau sekitar 30 meter. Seiring berjalannya waktu, fisik keturunan manusia semakin mengecil hingga ukuran standar sekarang.
Manusia yang memiliki ketampanan paling mendekati Nabi Adam adalah Nabi Yusuf alaihissalam, itu pun baru mewarisi setengah dari ketampanan Nabi Adam. Jadi kita wajib bersyukur atas rupa fisik yang diberikan Allah saat ini.
Baca juga: Tiga Penyebab Dosa, Hikmah Persatuan, dan 3 Tingkatan Dalam Menghadapi Akhirat
19. Kelebihan Ilmu Nabi Adam di Hadapan Malaikat
Saat diturunkan ke bumi, Nabi Adam sudah dibekali pengetahuan luas sehingga bisa langsung mengolah apa yang ada di bumi untuk bertahan hidup. Ketika Allah menantang malaikat menyebutkan nama-nama benda, para malaikat terdiam karena memang tidak diajarkan ilmu tersebut. Malaikat dengan rendah hati menjawab: Maha Suci Engkau, tidak ada ilmu pada kami kecuali yang Engkau ajarkan. Namun ketika Allah menyuruh Nabi Adam, beliau dengan lancar menyebutkan seluruh nama benda tersebut.
20. Menjaga Kemurnian Akidah dan Penutup Kajian
Hikmah dari peristiwa ini adalah Allah membuktikan secara nyata kelebihan ilmu Nabi Adam di hadapan malaikat. Akidah mengenai asal-usul manusia dan kemuliaan ilmu ini harus kita tanamkan erat-erat. Jika ada teori sains atau sejarah yang sejalan dengan Al-Qur'an maka kita terima, tetapi jika bertentangan wajib kita tolak karena kebenaran Al-Qur'an adalah mutlak. Menjaga kemurnian berpikir ini penting agar akidah kita tidak tersesat, sebab pikiran yang sesat biasanya akan melahirkan ibadah yang ngawur pula.
Mudah-mudahan kajian malam ini bisa menambah ilmu serta memperkuat keimanan kita semua. Insya Allah kita akan lanjutkan pembahasan ruku berikutnya pada pekan yang akan datang. Mari kita akhiri dengan doa kafaratul majelis:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
"Maha Suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu."
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Rujukan Utama
- Al-Qur'an, Surah Al-Baqarah ayat 30-33 dan 147.
- Tafsir Ibnu Katsir.
- Hadis tentang tinggi Nabi Adam 60 hasta.
- Hadis keutamaan zikir Subhanallah Wabihamdihi.

Komentar
Posting Komentar