Dahsyatnya Yaumul Hisab

Transkrip kajian ba'da Maghrib bertema Dahsyatnya Yaumul Hisab - Prinsip dan Saksi Di Hari Perhitungan Amal. Penceramah: Ustadz Sri Kusdiyono, Masjid Assobirin RT 02/RW 02, Cikadu, Lumbir, Banyumas. Gunakan daftar isi di bawah untuk melompat ke pembahasan.

Muqoddimah Kajian Dahsyatnya Yaumul Hisab

Kajian Ba'da Maghrib Masjid Assobirin RT 02/RW 02, Cikadu tentang keimanan kepada hari akhir, prinsip hisab Allah yang penuh keadilan, 6 saksi di hari perhitungan, kaidah lipat ganda pahala, bahaya syirik dan bid'ah, hingga 5 pertanyaan di Padang Mahsyar yang tidak akan bergeser kaki seorang hamba sebelum ditanya.

DAFTAR ISI - Klik untuk buka
Foto masjid megah cikadu tulisan Dahsyatnya Yaumul Hisab

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Prinsip dan Saksi Di Yaumul Hisab

Jemaah rahimakumullah, hari ini kita melanjutkan pembahasan tentang keimanan kepada hari akhir, khususnya terkait Yaumul Hisab atau hari perhitungan amal. Kita perlu memahami prinsip-prinsip hisabnya Allah agar kita semakin yakin bahwa seluruh sendi kehidupan kita—baik yang baik maupun yang buruk—akan berdampak pada kehidupan akhirat kelak.

Allah Tabaraka Wa Ta'ala senantiasa menghisab hamba-Nya dengan prinsip penuh keadilan. Tidak ada seorang pun yang akan menanggung dosa orang lain. Nanti kita akan diberikan kitab catatan amal perbuatan, lalu Allah memerintahkan kita untuk membaca dan menghitung amal diri kita sendiri. Semua yang tercatat di sana adalah apa yang kita kerjakan sewaktu hidup di dunia, tidak ada yang terlewatkan sedikit pun. Kita akan melihat seberapa banyak amal dan seberapa besar dosa-dosa kita, sehingga kita bisa menilai apakah diri kita ini pantas mendapatkan ampunan Allah dan menuju surga-Nya.

Bagi orang-orang kafir yang dahulu tidak mempercayai adanya Yaumul Hisab, mereka akan sangat syok dan kaget melihat kitab catatan tersebut karena isinya sedemikian detail mencatat hal besar maupun kecil.

Para Saksi di Hari Hisab

Pada hari itu, Allah akan menghadirkan para saksi atas perbuatan kita:

1. Allah Tabaraka Wa Ta'ala: Sebagai saksi utama yang tidak pernah luput. Saat kita shalat dari mulai takbir sampai salam, Allah melihat gerak-gerik kita dan mengetahui apa yang terbersit di dalam hati kita.

2. Para Malaikat: Dua malaikat penyerta di kanan dan kiri kita yang mencatat seluruh perbuatan sehari-hari akan dihadirkan oleh Allah.

3. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam dan Para Nabi Terdahulu: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam akan menjadi saksi bagi umat Islam. Begitu pula nabi-nabi terdahulu seperti Nabi Isa, Nabi Musa, dan Nabi Ibrahim akan dihadirkan menjadi saksi bagi umat mereka masing-masing. Jika ibadah kita sesuai dengan contoh dari Rasulullah, beliau akan bersaksi membenarkannya. Namun jika kita melakukan amalan ibadah tanpa landasan tuntunan dari beliau, beliau akan bersaksi bahwa amalan tersebut tidak berfaedah karena tidak pernah beliau contohkan.

Catatan: Untuk urusan duniawi, Allah membebaskan kita berinovasi dan berkreasi asalkan tidak melanggar ketentuan Al-Qur'an dan sunnah sahihah.

4. Sesama Manusia: Orang Islam yang taat akan menjadi saksi bagi orang yang tidak taat. Orang yang rajin shalat dan puasa akan menjadi saksi bagi mereka yang melalaikannya. Jika nanti ada orang yang beralasan di hadapan Allah, Saya tidak shalat karena tidak ada yang mengajari, maka jemaah yang rajin hadir di kajian malam Selasa seperti ini akan menjadi saksi bahwa peringatan itu sebenarnya sudah sampai kepada mereka. Allah tidak pernah zalim; Dia tidak akan mengazab seseorang sebelum diutusnya nabi, kitab, atau peringatan untuk menyelamatkan manusia.

5. Anggota Tubuh Sendiri: Kulit, mata, telinga, tangan, dan kaki kita akan berbicara di hadapan Allah. Sementara itu, mulut kita akan dikunci rapat. Dahi dan muka kita yang setiap hari dibasuh air wudu juga akan terlihat menjadi saksi kesalehan kita.

6. Bumi dan Tempat Tinggal: Bumi tempat kita berpijak, rumah yang kita tempati, serta masjid yang kita bangun bersama ini seluruhnya akan bersaksi apakah dahulu digunakan untuk berbuat kebaikan atau keburukan.

Kaidah Hisab: Kasih Sayang Allah vs Logika Manusia

Jemaah rahimakumullah, karena kemurahan dan sifat Rahman-Rahim-Nya, hisab Allah itu berbeda total dengan hitung-hitungan manusia. Kalau manusia, kebaikan dibalas satu, tetapi keburukan dibalas berkali-kali karena menuruti nafsu dendam. Manusia juga kadang membalas kebaikan orang lain dengan keburukan.

Namun Allah Maha Adil dan Pemurah. Berdasarkan Surah Al-An'am ayat 160:

مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا ۖ وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

"Barang siapa membawa amal kebaikan, maka baginya pahala sepuluh kali lipat amalannya, dan barang siapa membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya. (QS. Al-An'am: 160)"

Barang siapa membawa amal kebaikan (shalat, puasa, zakat, sedekah, istri yang taat melayani suami, suami yang ikhlas menafkahi keluarga), maka Allah akan melipatgandakan pahalanya 10 kali lipat hingga 700 kali lipat. Sementara orang yang membawa dosa hanya akan dibalas setimpal dengan kadar dosanya tanpa dizalimi sedikit pun oleh Allah.

Secara hitungan kasar, ibadah wajib kita itu sangat sedikit—puasa hanya satu bulan dalam setahun, haji bagi yang mampu, dan sedekah pun kadang tidak banyak. Namun, kita bisa mengubah seluruh aktivitas sehari-hari menjadi ladang pahala yang berlipat ganda dengan cara menyandarkannya pada syariat. Mulai dari cara berpakaian, tidur yang diawali doa, hubungan suami istri, bahkan adab buang air yang meniru contoh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, semuanya akan dinilai sebagai ibadah di mata Allah.

Allah juga menyediakan waktu-waktu khusus untuk melipatgandakan amal, seperti hari Jumat yang dipenuhi berkah. Manfaatkan hari Jumat untuk memperbanyak bacaan Al-Qur'an dan amal saleh, bukan justru mempercayai khurafat malam Jumat Kliwon yang menakutkan. Ketakutan-ketakutan mistis itu hanyalah bisikan setan agar kaum muslimin jauh dari tuntunan syariat.

Sama halnya dengan mitos di bulan Muharram (Sura). Ibunda Aisyah radhiyallahu 'anha menyatakan bahwa bulan Muharram adalah bulan yang baik, termasuk untuk mengadakan pernikahan. Namun setan membisikkan mitos kepada nenek moyang kita bahwa membuat acara di bulan Sura bisa mendatangkan marabahaya. Akidah kita tidak boleh mengimani hal seperti itu. Tidak ada yang bisa mendatangkan mudarat selain atas kehendak Allah. Contoh lain yang tidak masuk akal adalah mitos menabrak kucing membawa sial. Jika kita berkendara kencang dan ada kucing lewat, lebih baik tabrak saja daripada kita mengerem mendadak lalu celaka masuk parit hanya karena takut pada mitos.

Islam Harus Kaffah Menyeluruh

Ingatlah, rukun Islam yang lima itu adalah satu kesatuan. Kita tidak bisa memilih-milih ibadah sesuka hati; misalnya mau puasa Ramadan tetapi tidak mau shalat lima waktu. Puasa orang yang tidak shalat itu percuma dan tidak bernilai pahala karena shalat adalah tiang agama. Secara hukum syari di mata Allah, orang yang sengaja meninggalkan shalat secara total dianggap telah keluar dari Islam. Konsekuensinya, jika ia meninggal dunia, secara hukum asal ia tidak boleh disalati. Jika kita memaksakan diri mensalatkan orang yang terbukti tidak pernah shalat semasa hidupnya, kita ikut berdosa. Makanya, jika melayat, minimal kita harus memastikan bahwa jenazah tersebut semasa hidupnya dikenal menjaga shalatnya.

Dosa yang Diubah Menjadi Kebaikan

Ada kabar gembira bagi orang yang mau bertobat dengan sungguh-sungguh. Allah berfirman dalam Al-Qur'an:

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

"Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal saleh, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Furqan: 70)"

Allah Maha Tahu bahwa manusia itu makhluk yang lemah dan sering dikalahkan oleh hawa nafsu. Asalkan kita mau bertobat sebelum ajal menjemput dan memperbaiki diri dengan amal saleh, pintu ampunan Allah terbuka sangat lebar.

Apa Saja yang Akan Dihisab

1. Amal Perbuatan dan Bahaya Kesyirikan: Berdasarkan Surah Al-Hijr ayat 92-93, Allah bersumpah akan menanyakan seluruh perbuatan kita sewaktu hidup:

فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ . عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

"Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu. (QS. Al-Hijr: 92-93)"

Orang yang melakukan kesyirikan akan ditanya dan dituntut mempertanggungjawabkan sembahan-sembahan mereka selain Allah. Termasuk perbuatan syirik yang sering dianggap ringan di masa lalu, seperti mendatangi dukun atau paranormal untuk menanyakan jodoh atau nasib. Meskipun dukun zaman sekarang penampilannya menipu—memakai gamis, sorban, atau berpeci layaknya syekh—hukumnya tetap sama: syirik. Begitu juga dengan menyimpan jimat berupa gelang, kalung, atau cincin yang diyakini bisa membawa pengaruh bagi kehidupan. Dosa syirik tidak akan diampuni jika dibawa mati tanpa tobat. Kita wajib membersihkan akidah dan hanya bersandar pada kalimat La haula wala quwwata illa billah.

2. Janji-Janji: Janji adalah utang yang pasti akan ditagih dan ditanyakan oleh Allah perihal ketepatannya:

إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا

"Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya. (QS. Al-Isra: 34)"

Sebagai muslim, janganlah mudah mengumbar janji jika kita belum yakin mampu menepatinya.

3. Pendengaran, Penglihatan, dan Hati: Berdasarkan Surah Al-Isra ayat 36, kita dilarang keras mengikuti sesuatu yang kita tidak punya ilmunya:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya. (QS. Al-Isra: 36)"

Jangan beramal hanya karena ikut-ikutan ramai. Contohnya kebiasaan masa kecil dahulu, memukul beduk bertalu-talu dari malam takbiran sampai pagi hari demi berburu makanan urap. Akibatnya, saat pagi hari shalat Idul Fitri malah kesiangan. Ketika kita menyibukkan diri dengan amalan bidah (yang tidak ada contohnya), amalan yang lebih utama dan prioritas justru akan terabaikan. Contoh lain adalah menyalakan corong pengeras suara masjid untuk melantunkan tembang-tembang sebelum Maghrib. Kebiasaan itu tidak ada contohnya dari Nabi, justru mengganggu ketenangan orang yang sedang shalat atau butuh kekhusyukan. Perbuatan ritual yang dibalut bahasa Arab tetapi tidak ada dalil perintahnya, bukanlah ibadah melainkan bidah yang mendatangkan dosa. Panca indra kita (mata, telinga, otak sebagai dasar iman, dan hati sebagai dasar keyakinan) harus diisi dengan informasi dalil Al-Qur'an dan sunnah. Jika panca indra diisi cerita bohong atau takhayul, hati kita akan dipenuhi penyakit was-was. Seperti mitos zaman dulu yang takut keluar rumah maghrib-maghrib jika ada tetangga yang meninggal. Padahal, orang yang sudah dikubur sedang sibuk menghadapi ujian kubur yang berat dan tidak akan pernah bisa kembali lagi ke dunia.

Hisab Terhadap Kenikmatan Hidup

Sesuai akhir Surah At-Takasur:

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

"Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (QS. At-Takasur: 8)"

Kita akan ditanya tentang semua nikmat yang melekat pada tubuh kita dari ujung rambut hingga ujung kaki. Nikmat sehat wajib disyukuri. Di luar sana banyak orang terbaring di rumah sakit, sedangkan kita masih diberi nikmat bisa makan apa saja tanpa pantangan. Bahkan nikmat sekadar bisa membuang angin (kentut) secara gratis adalah kemewahan yang jika di rumah sakit harus dibayar mahal.

Hadis Lima Pertanyaan di Padang Mahsyar

Sebagai penutup, bersumber dari hadis riwayat Imam Tirmidzi, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menegaskan bahwa kaki setiap anak Adam (kita semua sebagai keturunan Adam dan Hawa) tidak akan bergeser dari hadapan Allah di Padang Mahsyar sebelum ditanya mengenai 5 hal:

1. Umurnya: Untuk apa umur tersebut dihabiskan.

2. Masa Mudanya: Untuk apa masa muda itu dipergunakan. Masa muda adalah waktu terbaik untuk beramal dan menghafal karena ingatan masih kuat, berbeda jika sudah berumur di atas 50 tahun yang kemampuannya sudah jauh berkurang.

3. Hartanya (Dari Mana Peroleh): Dari jalan mana harta tersebut didapatkan. Orang yang kaya dan hartanya banyak, siap-siap proses hisabnya akan berjalan sangat lama karena pemeriksaan tanah, aset, dan uangnya sangat detail. Orang miskin justru lebih cepat bebas dari hisab harta.

4. Hartanya (Untuk Apa Dibelanjakan): Ke mana saja harta tersebut didistribusikan dan dibelanjakan. Apakah sudah dikeluarkan zakatnya atau belum.

5. Ilmunya: Apakah ilmu yang dimiliki sudah diamalkan sesuai porsinya masing-masing atau belum. Sebagai contoh, kaum laki-laki yang sudah tahu ilmu bahwa shalat wajib bagi pria lebih utama berjamaah di masjid, apakah sudah mengamalkannya. Jika suami malas ke masjid dan malah shalat wajib di rumah, para istri yang tahu ilmunya harus menegur, karena shalat wajib pria di rumah itu menyerupai wanita (laki-laki shalihat). Setiap kepala keluarga adalah pemimpin yang akan dituntut pertanggungjawaban atas ilmu dan kepemimpinannya terhadap anak serta istrinya.

Penutup Kajian

Mudah-mudahan ilmu ini bisa menumbuhkan semangat di dalam diri kita untuk terus belajar dan mempraktikkan tuntunan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Mohon maaf atas segala kekurangan, segala kebenaran mutlak datangnya dari Allah dan Rasul-Nya.

Mari kita tutup dengan doa kafaratul majelis:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

"Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu dan bertobat kepada-Mu."

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Rujukan Utama

  • Al-Qur'an, Surah Al-An'am ayat 160.
  • Al-Qur'an, Surah Al-Furqan ayat 70.
  • Al-Qur'an, Surah Al-Hijr ayat 92-93.
  • Al-Qur'an, Surah Al-Isra ayat 34 dan 36.
  • Al-Qur'an, Surah At-Takasur ayat 8.
  • HR. Tirmidzi, Hadis tentang 5 pertanyaan di Padang Mahsyar.

Komentar