Hakekat Qurban Dalam Kehidupan Muslim
Sumber: Khutbah Idul Adha 1443 H
Penceramah: Ustadz Sri Kusdiyono
Ditulis: Admin
📖 Baca Kumpulan Transkrip Khutbah Jumat & Id di sini.
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا، أَمَّا بَعْدُ
فَإِنْ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
Jamaah Id yang dimuliakan Allah Ta'ala
Pada hari ini marilah kita sama-sama mengucapkan syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala atas segala karunia-Nya, atas segala rahmat dan nikmat-Nya, sehingga sampai hari ini kita semuanya masih diberi kemudahan di dalam menjalankan kehidupan di dunia.
Di dalam rangka kita mempersiapkan bekal-bekal menuju kehidupan akhirat. Pada hari ini seluruh kaum Muslimin di seluruh dunia mengagungkan syiar-syiar agama Allah.
Karena Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman:
ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ
"Demikianlah, dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. (QS. Al-Hajj: 32)
Kenapa Allah berfirman demikian? Karena tidak semua manusia pada hari ini mereka mengagungkan syiar-syiar Allah. Bahkan di antara kaum Muslimin, mereka tidak menganggap bahwa hari ini adalah hari raya besar bagi kaum Muslimin, sehingga mereka seolah-olah tidak peduli dengan adanya hari Idul Adha.
Hikmah dari Pensyariatan Haji dan Kurban
Jamaah rahimakumullah.
Pada kesempatan yang mulia ini marilah kita sedikit mengambil hikmah. Mengambil pelajaran dari Allah Tabaraka wa Ta'ala atas pensyariatan ibadah haji maupun kurban.
Banyak hal yang bisa kita ambil pelajaran daripada syariat agama Allah tentang ibadah haji dan kurban. Khususnya untuk kita, kita diperintah oleh Allah untuk berkurban. Untuk menjalankan salah satu syiar agama Allah, untuk mengagungkan syiar-syiar agama Allah agar menghidupkan agama Islam ini di lingkungan kita masing-masing.
Hubungan Kurban dan Tauhid
Pelajaran yang pertama yang dapat kita ambil adalah hubungan antara kurban dan tauhid. Bahwasanya setiap manusia, setiap insan, setiap Muslim wajib untuk mendasarkan segala macam ibadahnya hanya karena Allah Ta'ala.
Tidak boleh kita mencampuradukkan di dalam ibadah kita dengan segala sesuatu. Kita harus memurnikan setiap ibadah kita hanya dan hanya kepada Allah 'Azza wa Jalla.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
"Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam. (QS. Al-An'am: 162)
Ini pelajaran pertama yang bisa kita ambil. Sehingga tidak boleh bagi seorang manusia atau makhluk yang lain menyembelih untuk tujuan selain Allah. Penyembelihan hewan kurban atau penyembelihan hewan-hewan dalam rangka beribadah tidak boleh dicampuradukkan untuk selain itu. Barangsiapa yang menyembelih karena selain Allah, dia masuk kepada kesyirikan yang besar.
Ini pelajaran pertama bahwa setiap ibadah kita, kita wajib untuk tunjukkan hanya dan hanya kepada Allah saja. Wajib tidak boleh kepada yang lain.
Taat kepada Syariat Allah Secara Kaffah
Pelajaran yang kedua bahwasanya segala macam syariat yang Allah tentukan kepada kita kaum Muslimin, kewajiban kita hanya satu.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكًا لِّيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ
"Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan, agar mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah Kami rezekikan kepada mereka. (QS. Al-Hajj: 34)
Dari ayat yang mulia ini kita diperintah oleh Allah untuk mengikuti syariat agama Allah dengan kaffah, dengan secara menyeluruh tanpa banyak bertanya.
Ketika Allah mensyariatkan segala sesuatu, ketika Allah dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyuruh kita akan segala sesuatu terkait urusan agama, kewajiban kita hanya Sami'na wa atha'na. Kami dengar dan kami taat.
Dalam ayat yang lain Allah berfirman:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ
"Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan lain bagi mereka tentang urusan mereka. (QS. Al-Ahzab: 36)
Tidak pantas kalau kita sebagai kaum Muslimin mempunyai aturan-aturan dalam beragama ini selain daripada aturan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Sudah semestinya kita benar-benar kembali kepada apa yang diturunkan oleh Allah dan Rasul-Nya agar supaya kita beruntung.
Karena hanya dengan itulah, dengan cara itulah kita bisa kembali kepada kejayaan agama ini. Ketika kaum Muslimin mereka tidak kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah maka akan terpecah belah seperti yang terjadi pada saat sekarang ini.
Kenapa terjadi perbedaan-perbedaan dalam permasalahan-permasalahan yang semestinya tidak boleh berbeda? Karena sebagian dari kita tidak menjadikan Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai tuntunan satu-satunya yang wajib untuk diikuti.
Ketaatan Nabi Ibrahim dan Hikmah Kurban
Ketika diperintah oleh Allah untuk menyembelih anaknya, lalu diganti oleh Allah dengan binatang sembelihan yang besar. Apa hikmah yang harus kita pelajari dari pensyariatan kurban?
Bahkan ketika Allah Ta'ala memerintah kita untuk menyembelih anak, kita perhatikan. Ketika syariat memerintahkan kita untuk menyembelih anak kita itu wajib untuk ditaati. Ketika Allah meminta kita untuk menyembelih istri kita, ketika Allah menyuruh kita untuk menyembelih anak kita itu adalah wajib. Apalagi dalam urusan yang lain.
Bagi manusia mungkin perintah Allah adalah sesuatu yang buruk, akan tetapi Allah pasti lebih tahu. Tugas kita Sami'na wa atha'na.
Seperti Nabi Ibrahim diperintah menyembelih Ismail, dia laksanakan. Walaupun kita tahu tidak mungkin, tak ada seorang bapak yang tega membunuh anaknya kecuali dia orang gila. Akan tetapi Nabi Ibrahim tetap melaksanakan karena itu adalah perintah Allah Ta'ala. (QS. Ash-Shaffat: 102-107)
Dia tahu bahwasanya itu perintah Rabb-nya, perintah Zat yang berkuasa atas dirinya, Zat yang menguasai dirinya, menguasai anaknya, menguasai seluruh kehidupan di dunia.
Maka tidak pantas bagi kita kaum Muslimin untuk melanggar perintah-perintah Allah Ta'ala. Apapun yang diperintah oleh Allah ketika datang dari Al-Qur'an dan Sunnah-sunnah Rasulullah yang sahih, wajib kita untuk mentaatinya.
Seperti Nabi Ibrahim, ketika diperintah untuk menyembelih anaknya dia laksanakan. Sami'na wa atha'na. Dia yakin, dia mempunyai iman, mempunyai akidah yang kuat, sehingga perintah Allah dia laksanakan dengan sepenuh hati, setulus ikhlas.
Dia yakin akan kebenaran perintah Allah Ta'ala. Akhirnya apa? Diganti. Dia tidak benar-benar diperintah Allah untuk menyembelih anaknya, akan tetapi diajari syariat yaitu berkurban ini.
Hakikat Kurban: Ketakwaan Hati
Hikmah berikutnya. Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman:
لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ
"Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. (QS. Al-Hajj: 37)
Apa yang dapat kita pelajari dari ayat yang mulia ini? Penyembelihan hewan kurban ataupun penyembelihan syariat-syariat yang lain, yang dilihat oleh Allah adalah ketakwaan kita. Seberapa taat kita kepada Allah, seberapa takwa kita kepada Allah.
Allah tidak melihat ketika orang sholat bagaimana bentuk fisiknya, bagaimana bentuk ibadahnya. Akan tetapi yang utama yang dilihat adalah hati. Seberapa ikhlas ia dalam beribadah kepada Allah.
Begitu juga dalam permasalahan ibadah kurban ini. Tidak dilihat oleh Allah seberapa besar sapinya, tidak dilihat oleh Allah seberapa mahal harganya. Yang dilihat oleh Allah adalah ketakwaan hatinya.
Ketika diperintah oleh Allah Ta'ala untuk menafkahkan sebagian dari rezeki yang sudah diberikan kepada kita. Kita yakin Allah tidak butuh. Allah tidak butuh dengan daging sapi, Allah tidak butuh dengan darah sapi, Allah tidak butuh dengan sedekah kita. Dengan semuanya tidak butuh. Bahkan Allah tidak butuh dengan ibadah kita semuanya.
Kita yang fuqoro, kita yang membutuhkan agar supaya Allah meridhoi kita dengan amal ibadah kita.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللَّهُ مِنْهُ بِرَحْمَةٍ
"Amal-amal kalian tidak akan memasukkan kalian ke dalam surga. Para sahabat bertanya: Tidak pula engkau wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Tidak pula aku, kecuali Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku. (HR. Bukhari no. 5673, Muslim no. 2816)
Kita tidak bisa akan masuk surga mengandalkan amal-amal kita kalau Allah tidak meridhoi. Kita mungkin seorang manusia bisa menjalankan sholat hari ini, kita tidak mungkin datang ke sini kalau Allah saja tidak meridhoi.
Allah memberi hidayah kepada kita, meringankan langkah kita untuk menuju lapangan ini. Jika tidak, pantas bagi seorang Muslim itu berbangga-banggaan dengan amal-amalannya? Apalah artinya amalan-amalan kita yang sedikit, tidak ada artinya. Itu semuanya tidak akan bermanfaat ketika Allah tidak ridhoi kita.
Ikhlas, Istiqomah, dan Dampak Ketakwaan
Makanya ketika kita beramal, ikhlaskan amal kita. Niatkan amal kita hanya untuk mencari keridhoan Allah Ta'ala. Dengan kita menjalankan amal sholeh, mudah-mudahan Allah membimbing kita untuk senantiasa bisa istiqomah di jalan menjalankan ibadah kepada Allah.
Hikmah yang terakhir bahwasanya segala macam ibadah yang dijalankan oleh kita itu pasti berakibat baik kepada kita.
Seperti ibrah pelajaran yang diambil dari kisah Nabi Ibrahim, dia mendapatkan akhir yang bahagia. Begitu juga kita. Ketika kita taat kepada Allah, ketika kita takwa kepada Allah pasti Allah akan memberikan kebaikan.
Kebaikan kepada diri kita kalau takwa kita sendirian. Kalau sebuah keluarga takwa kepada Allah, pasti akan diberikan kebaikan-kebaikan dalam keluarganya.
Kalau sebuah kampung bertakwa kepada Allah, pasti Allah akan memberikan kebaikan-kebaikan kepada kampung tersebut. Ketika sebuah masyarakat beriman dan bertakwa kepada Allah, pasti Allah akan memberikan kebaikan kepada masyarakat tersebut.
Kalau sekiranya penduduk sebuah bangsa, penduduk sebuah kaum, penduduk sebuah negeri beriman dan bertakwa kepada Allah, sungguh kata Allah:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. (QS. Al-A'raf: 96)
Ketika kita semuanya beriman dan bertakwa kepada Allah, kita jaga apa yang sudah baik. Kita tingkatkan apa-apa yang sudah baik. Jangan sampai mengalami penurunan-penurunan.
Istiqomah di dalam menjalankan ibadah kepada Allah Ta'ala. Mudah-mudahan Allah akan memberikan kemudahan-kemudahan kepada kita semuanya.
Doa dan Munajat
Pada akhirnya mari kita bermunajat kepada Allah Ta'ala agar semuanya bisa mendapatkan karunia dan rahmat.
Agar semua kaum Muslimin senantiasa diberi keteguhan di dalam menjalankan agama ini. Karena memang untuk masa-masa sekarang ini, menjalankan agama ini terasa sangat berat. Sangat banyak tantangannya.
Akan tetapi kalau kita benar-benar berjuang, bersungguh-sungguh menjalankan syariat agama Allah, Allah akan menunjukkan kebaikan-kebaikan.
Hanya kepada Allah-lah kita memohon petunjuk dan memohon pertolongan. Alhamdulillahi hamdan thayyiban mubarakan fih.
. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍوَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ
وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَاأَنْفُسَنَا فَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.
رَبَّنَا لَا تُزِغْقُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ.
رَبَّنَاهَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.
رَبَّنَا لَاتُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا. رَبَّنَا وَلَاتَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا.
رَبَّنَاوَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْلَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِ
. رَبَّنَاتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
اَللَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَالنَّارِ.
أَقُولُبِهَذَا أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Komentar
Posting Komentar