6 Tipe Manusia setelah Bulan Ramadhan

Halaman ini berisi transkrip Khutbah Idul Fitri 1445 H tentang 6 Tipe Manusia Setelah Bulan Ramadan oleh Khatib Ustadz Sri Kusdiyono. Klik daftar isi di bawah untuk langsung ke pembahasan.

DAFTAR ISI - Klik untuk buka
6 Tipe Manusia setelah Bulan Ramadan

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا، أَمَّا بَعْدُ

فَإِنْ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Ramadan Telah Berlalu, Hari Kemenangan Tiba

Jamaah Idul Fitri yang dimuliakan Allah Azza Wazzalla. Ramadan telah berlalu dari hadapan kita. Hari ini kita merayakan kebahagiaan sebagai buah dari sebulan penuh menahan lapar dan dahaga, semata-mata karena tunduk dan patuh kepada Allah Ta'ala. Selama satu bulan, kita menahan segala nafsu yang biasa kita turuti di dunia, hanya karena Allah.

Sungguh berbahagialah mereka yang pada malam-malam Ramadan lalu bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah Ta'ala. Mereka tunduk patuh sambil meneteskan air mata, menyesali segala dosa yang telah diperbuat di bulan-bulan sebelumnya.

Sungguh berbahagia pula orang-orang yang hari ini telah menunaikan zakat fitrahnya sebagai bentuk kepedulian sosial kepada sesama. Allah Ta'ala berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَن تَزَكَّىٰ . وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ

Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri dengan berzakat, dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia salat. [QS. Al-A'la: 14-15]

Allah Ta'ala melihat dan mengawasi semua yang kita lakukan hari ini. Dia mengetahui seberapa besar keimanan dan keikhlasan kita dalam menjalankannya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa menghidupkan Ramadan dengan keimanan dan mengharap pahala dari Allah, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. [HR. Bukhari no. 37 & Muslim no. 759]

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan dasar keimanan dan mengharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. HR. Bukhari no. 1901 & Muslim no. 760

Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahilhamd.

Pada kesempatan yang mulia ini, mari kita bermuhasabah dan introspeksi diri. Apakah kita benar-benar berhak mendapatkan ampunan Allah Ta'ala? Maka akan kami sampaikan beberapa kelompok manusia. Mari kita lihat, kita termasuk di kelompok yang mana.

Kelompok Pertama: Istiqamah Sebelum dan Sesudah Ramadan

Mereka sudah menjalankan kewajiban-kewajibannya, dan di bulan Ramadan semakin giat lagi. Inilah tingkatan tertinggi yang seharusnya kita raih bersama. Kita berusaha agar di sebelas bulan di luar Ramadan tetap taat kepada Allah, menunaikan seluruh kewajiban kepada-Nya. Lalu saat Ramadan tiba, ketaatan itu ditingkatkan lagi. Sehingga mereka benar-benar layak mendapat predikat seperti bayi yang baru lahir, bersih tanpa dosa.

Kelompok Kedua: Biasa-Biasa Saja di Bulan Ramadan

Ada sebagian orang yang menyambut Ramadan dengan biasa-biasa saja. Mereka tidak semangat beribadah di bulan mulia ini. Hanya menjalankan kewajiban puasa, tanpa mengisinya dengan amal-amal yang menambah pahala. Salat tarawih dianggap sekadar sunah, sehingga dikerjakan asal-asalan. Bahkan ada yang tidak mengerjakannya sama sekali, apalagi amalan lain.

Yang lebih keliru, ada yang antusias tarawih tapi justru melalaikan salat wajib lima waktu. Padahal tarawih hukumnya sunah, sedangkan salat lima waktu itu wajib. Jangan sampai terbalik dalam mengamalkan agama.

Kelompok Ketiga: Hanya Mengenal Allah di Bulan Ramadan

Ini kelompok yang tidak mengenal Allah Ta'ala kecuali di bulan Ramadan. Di sebelas bulan lainnya, mereka jauh dari Allah. Para ulama menyebut mereka sebagai seburuk-buruk umat di akhirat. Namun kita tetap bersyukur, karena masih ada sisa keimanan dalam dirinya.

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ ارْتَدُّوا عَلَىٰ أَدْبَارِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى ۙ الشَّيْطَانُ سَوَّلَ لَهُمْ وَأَمْلَىٰ لَهُمْ

Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang setelah petunjuk itu jelas bagi mereka, setanlah yang merayu mereka dan memanjangkan angan-angan mereka. [QS. Muhammad: 25]

Mereka mundur setelah mendapat petunjuk. Setanlah yang membuat mereka berpaling dan terlena oleh angan-angan. Padahal sudah diberi hidayah oleh Allah, tapi tidak kuat menjaganya, hingga syaitan menguasai diri. Akhirnya: Ramadan rajin, Syawal hilang.

Kelompok Keempat: Hanya Perutnya yang Berpuasa

Ini kelompok yang puasanya hanya menahan lapar dan haus, sementara hatinya, lisannya, dan pendengarannya tidak ikut berpuasa. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makanan dan minumannya. [HR. Bukhari no. 1903]

Mereka berpuasa seperti anak kecil: hanya menahan makan dan minum. Puasa model begini tidak akan mendatangkan pahala dan ampunan dari Allah, karena Allah tidak butuh itu. Yang Allah inginkan adalah: saat kita menahan syahwat, kita juga menahan lisan dari dusta dan ucapan sia-sia, menahan tangan dari perbuatan yang melanggar syariat.

Kelompok Kelima: Menjadikan Siang untuk Tidur

Kelompok ini banyak terjadi pada kaum muda. Siangnya dihabiskan untuk tidur. Sangat disayangkan. Kepada mereka semestinya kita sebagai orang tua terus memperbaiki dan membimbing. Agar mereka mengisi hari dengan hal bermanfaat, bukan hanya tidur. Bahkan malam harinya mereka begadang dengan kegiatan yang tidak ada manfaatnya untuk dunia maupun akhirat. Akhirnya semua jadi sia-sia.

Kelompok Terakhir: Mengaku Islam Tapi Tidak Ibadah

Ini kelompok paling rendah dan paling berbahaya. Mereka mengaku Islam, tapi tidak mengenal Allah baik di bulan Ramadan maupun di bulan lainnya. Mengaku muslim tapi tidak menjalankan syariat Allah. Kelompok ini rawan tergelincir keluar dari Islam, sebagaimana anak panah melesat dari busurnya.

Mungkin dia hanya mengucapkan syahadat, tapi belum paham maknanya. Apa artinya muslim tapi tidak salat, tidak puasa, tidak menjalankan kewajiban di mata Allah Ta'ala? Di mata manusia, cukup mengaku muslim maka selesai. Tapi di mata Allah, belum tentu.

Ada juga yang tidak salat tapi berpuasa. Ini sama saja, sebelas dua belas. Bagaimana mungkin menjalankan satu kewajiban tapi meninggalkan kewajiban yang lain? Allah memberikan teguran yang sangat keras:

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Apakah kalian beriman kepada sebagian Al-Kitab dan kafir kepada sebagian yang lain? Tidak ada balasan bagi yang berbuat demikian kecuali kehinaan di dunia, dan pada Hari Kiamat akan dikembalikan kepada siksa yang sangat pedih. Allah tidak lalai dari apa yang kalian kerjakan. [QS. Al-Baqarah: 85]

Kami sampaikan ini agar kita saling mengingatkan dalam kebaikan. Kita berteman di dunia, semestinya juga berteman di akhirat. Kita bertetangga di dunia, semestinya besok di Yaumul Kiamat kita juga bertetangga di surga. Syaratnya: harus seiman, menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd.

Hikmah Ramadan: Pesantren, Bengkel, dan Kepompong

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, Ramadan sudah berlalu. Ramadan itu ibarat pesantren kilat. Allah mendidik kita agar menjadi manusia yang lebih baik: paham aturan agama, tunduk patuh kepada Allah, dan peduli kepada lingkungan. Didikan dari pesantren Ramadan ini tujuannya agar kita menjadi orang-orang bertakwa, berhak mendapat ampunan Allah, dan berhak masuk surga-Nya.

Ramadan itu ibarat bengkel. Selama sebelas bulan kendaraan kita pakai terus, masuk bengkel, keluarnya harus lebih baik. Begitu juga manusia. Selama sebelas bulan kita pakai untuk makan, minum, dan maksiat, banyak mesin kita yang rusak. Lalu Allah masukkan kita ke bengkel Ramadan, harapannya saat Syawal kita keluar sebagai manusia yang lebih baik.

Ambil pelajaran dari kupu-kupu. Asalnya dari ulat, hama perusak tanaman. Lalu ulat itu masuk ke kepompong. Tidak makan, tidak minum. Dididik di dalamnya untuk berubah menjadi lebih baik: seekor kupu-kupu yang memperindah alam dan membantu penyerbukan tanaman. Semestinya kaum muslimin juga begitu. Setelah sebelas bulan banyak salah, gunakan Ramadan untuk mendekat kepada Allah, hingga kita keluar sebagai kupu-kupu yang menghiasi lingkungan, bermanfaat, dan menjadi lebih baik.

Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd.

Ajakan Bertaubat dan Menjadi Lebih Baik

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, setelah Ramadan semestinya kita menjadi manusia yang berbeda. Jika Allah mengampuni dosa kita hari ini, maka kita seperti bayi yang baru terlahir kembali. Mari kita ambil hikmah dari semua ini. Kami tidak bermaksud menyakiti, sama sekali tidak. Kami hanya ingin mengajak bersama-sama, karena hidup ini hanya sekali dan singkat. Belum tentu besok kita masih bernafas. Belum tentu kita bertemu Ramadan tahun depan.

Segeralah kembali kepada Allah. Segeralah bertaubat kepada Allah, wahai kaum muslimin. Sebelum nyawa dicabut, sebelum ruh berpisah dari jasad. Semoga nanti saat pulang ke rumah, kita menjadi pribadi yang lebih baik: suami yang lebih sayang istri dan anak, istri yang lebih sayang suami dan mendidik anak dengan baik serta taat kepada suami, dan menjadi manusia yang lebih baik di lingkungannya masing-masing.

Sekali lagi, ingatlah makna salam di akhir salat ke kanan dan ke kiri: seorang muslim harus menebar kedamaian, membawa kemajuan, dan bermanfaat bagi lingkungannya. Melalui Ramadan, Allah melatih dan mendidik kita agar menjadi manusia yang lebih baik lagi, dan lebih baik lagi.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَرُكُوعَنَا وَسُجُودَنَا وَتِلَاوَتَنَا

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْعَائِدِينَ وَالْفَائِزِينَ الْمَقْبُولِينَ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

اللَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Komentar