Dosa Kemaksiatan Tukang Roti Keliling
Pertanyaan
Assalamu'alaikum Ustadz.
Mohon penjelasannya. Kalau jualan roti, yang dijual itu roti lama tapi bilangnya baru, diperbolehkan atau tidak Ustadz? Dan apa hukumnya? Syukron.
Dijawab oleh: Ustadz Sri Kusdiono Hafidzahullahu Ta'ala
Jawaban:
Tidak boleh menyembunyikan fakta dalam jual beli menurut syariat Islam. Harus jelas.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
"مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي"
"Barangsiapa yang menipu, maka dia bukan dari golonganku." [HR. Muslim no. 101]
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, hadits ini menunjukkan haramnya penipuan dalam segala bentuk muamalah. Menyembunyikan aib barang atau berdusta tentang status "baru" padahal lama, termasuk ghoror dan ghisy.[penipuan]
Prinsip muamalah dalam Islam adalah tidak mengandung 3 unsur:
1. Ghoror: Tidak jelas, penipuan
2. Maisir: Judi, untung-untungan
3. Riba
Hal yang antum tanyakan mengandung unsur penipuan dan hukumnya haram.
Tambahan: Beberapa Kemaksiatan dalam Jualan Roti Keliling Beserta Dalilnya
1. Tidak Menundukkan Pandangan Kepada Aurat
Kemaksiatan: Ketika keluar jualan roti di jalan, perkampungan, atau komplek, melihat aurat _sexwilda_, _bupati_, _yukensi_...
Allah Ta'ala berfirman:
قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ
"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka." [QS. An-Nur: 30]
Syaikh As-Sa'di rahimahullah menjelaskan, ayat ini adalah perintah wajib untuk menundukkan pandangan dari segala yang diharamkan Allah. Termasuk melihat aurat wanita yang bukan mahram di jalan. Pandangan pertama yang tidak sengaja dimaafkan, adapun pandangan kedua yang disengaja maka berdosa. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: _"Wahai Ali, janganlah kamu ikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya. Karena bagimu pandangan pertama, dan tidak bagimu pandangan yang kedua."_ [HR. Abu Dawud no. 2149, dihasankan Al-Albani]
2. Bersentuhan dengan Lawan Jenis yang Bukan Mahram
Kemaksiatan: Ketika transaksi pembayaran dengan pembeli lawan jenis, terkadang bersentuhan tangan...
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
"لَأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لَا تَحِلُّ لَهُ"
"Sungguh, ditusuk kepalanya dengan jarum besi lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya." [HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu'jam Al-Kabir, dishahihkan Al-Albani]
Para ulama sepakat haramnya bersentuhan kulit dengan lawan jenis yang bukan mahram tanpa penghalang. Solusinya: gunakan nampan, uang kembalian diletakkan, atau gunakan sarung tangan.
3. Ta'awun dalam Dosa: Menjual Makanan di Pagi Hari Bulan Ramadhan untuk Dimakan Saat Puasa
Kemaksiatan: Jualan roti di bulan puasa pagi hari, terus langsung dimakan oleh orang yang wajib puasa.
Allah Ta'ala berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan." [QS. Al-Maidah: 2]
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan, menjual makanan di siang Ramadhan kepada orang yang diketahui pasti akan memakannya saat itu dan dia wajib puasa, maka penjual ikut berdosa karena termasuk tolong-menolong dalam maksiat. Adapun jika pembelinya wanita haid, musafir, anak kecil, atau orang sakit, maka tidak mengapa. Maka hukum asalnya mubah, tergantung siapa pembelinya dan niatnya.
4. Bermuamalah dengan Produk yang Tidak Jelas Kehalalannya
Kemaksiatan: Bekerja dengan bos non-muslim, dan roti tidak ada label Halal MUI sehingga tidak jelas statusnya.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
"دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ"
"Tinggalkanlah apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu." [HR. Tirmidzi no. 2518, shahih]
Jika roti sudah jelas mengandung bahan haram seperti lemak babi, alkohol, atau disembelih tidak sesuai syariat, maka haram menjualnya. Adapun bermuamalah dengan bos non-muslim secara umum hukumnya boleh, selama pekerjaannya tidak membantu dalam kemaksiatan. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah bermuamalah dan menggadaikan baju besinya kepada orang Yahudi. [HR. Bukhari no. 2068]
Maka wajib bertanya dan memastikan bahan baku roti halal. Jika ragu dan tidak bisa memastikan, maka meninggalkannya lebih selamat.
Penjelasan Tambahan Usaha Jualan Roti Keliling
1. Terkait Status Roti Lama
Selama roti masih dalam masa layak konsumsi dan tidak ada yang bertanya, maka menjualnya boleh. Karena banyak produk di swalayan juga dijual mendekati _expired_. Yang dilarang adalah berdusta mengatakannya "baru".
2. Terkait Berkah Pagi Hari
Jangan lupakan keutamaan mencari nafkah di pagi hari. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam berdoa:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا
"Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya."_ [HR. Abu Dawud no. 2606, Tirmidzi no. 1212, Ibnu Majah no. 2236. Dishahihkan Al-Albani]
Ya Allah mudahkanlah segala urusan kami dan bimbinglah kami untuk selalu istiqamah menjalankan perintah dan dijauhkan dari segala apa-apa yang dilarang."
Ditulis Oleh: Admin
