Kisah Saksi Mata,Proses Pembakaran Jenazah Menuju Sumatra
Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah T'alla yang telah mempertemukan kita dengan berbagai pengalaman hidup sebagai pelajaran.
Shalawat serta salam semoga untuk Nabi Muhammad shalallahu'alaihi wasallam.
Perjalanan ke suatu daerah sering membuka mata dan hati kita. Ternyata di Nusantara ini kaya sekali ragam budaya dan keyakinan. Tulisan ini adalah catatan perjalanan kami ke Sumatra, yang meninggalkan kesan mendalam tentang bagaimana manusia memuliakan jenazah sesuai keyakinannya masing-masing.
Selama perjalanan menuju Sumatra, tepatnya di Pelabuhan Merak sebelum kapal berangkat, ada anak-anak yang sehari-harinya mencari nafkah dengan berenang mengambil uang koin dari para penumpang. Kami pun ikut melemparkan koin sambil tertawa melihat mereka berebut di air laut.
Setelah sampai di Pelabuhan Bakauheni, kami naik travel menuju pertigaan Simpang Lima. Karena sudah lama tidak ke Sumatra, kami tidak tahu kondisi masyarakat di sana. Sepanjang perjalanan kami melihat banyak bangunan di depan rumah berbentuk seperti candi/pura. Dalam hati bertanya, "Apakah sebagian masyarakat di sini beragama Hindu/Buddha?"
Sampai di pertigaan Simpang Lima, kami langsung dijemput pakai motor oleh saudara. Lagi-lagi kami heran melihat orang-orang berkumpul di pinggir jalan. Dalam hati bertanya lagi, "Kayak sedang ada upacara adat nih."
Sesampai di rumah langsung kami tanyakan, "Tadi di perjalanan ada orang ramai, ada apa ya...?"
Saudara kami menjawab, "Itu kan sedang berlangsung adat pembakaran mayat!"
Kami sangat terkejut. "Manusia kok dibakar?" Ternyata sebagian masyarakat di Desa Sri Pendowo/Jl. Trans Ketapang beragama Hindu. Jika ada yang meninggal dunia, untuk menyempurnakannya jenazah dibakar, dan sebagian abunya dilarung ke laut.
Pada waktu itu kami tidak berpikir panjang. Ini kesempatan dan pengalaman. Langsung kami menuju ke tempat upacara tersebut untuk melihat langsung prosesnya. Ternyata pembakaran dilakukan dengan menggunakan kompor gas, diiringi musik adat agama Hindu.
Kami pun merenung: "Di dalam Agama Islam, menyakiti badan dengan sengaja tanpa alasan syar’i itu dilarang. Baik dalam keadaan hidup maupun setelah meninggal, tubuh harus dimuliakan. Sementara agama lain justru membakar jasad."
Demikian kisah perjalanan kami selama berkunjung ke tempat saudara di Sumatra.
Dari sini kita belajar 2 hal:
1. Tolerans : Menghormati perbedaan keyakinan dan budaya selama tidak bertentangan dengan akidah kita.
2. Bersyukur: Bersyukur kepada Allah atas nikmat Islam. Islam memuliakan manusia sejak lahir sampai wafat, bahkan setelah mati pun jenazah dikubur dengan adab, tidak disakiti.
Semoga catatan kecil ini menjadi renungan. Bahwa setiap agama punya cara memuliakan yang ia yakini. Dan bagi kita umat Islam, cukup mengikuti tuntunan Nabi shalallahu 'alaihi wasallam dalam mengurus jenazah: memandikan, mengkafani, menshalati, lalu menguburkannya.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Jakarta, 22 Oktober 2016
Penulis : Suyitno
Komentar
Posting Komentar