Perjalanan Dakwah di Cikadu Lumbir Membuahkan Hasil
Bismillah.
Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Wa shalatu wa salamu ‘ala Nabiyyina Muhammad صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Pendahuluan: Menggali sejarah Islam Cikadu-Cikole
Kami sudah menceritakan dinamika ekonomi warga Cikadu. Kini kami catat sejarah yang lebih penting: sejarah iman. Setiap kami bertanya kepada orang tua/para sepuh, mereka sepakat: "Di Grumbul Cikadu/Cikole, awal masuknya Agama Islam".
Ini penting dicatat. Karena kampung yang paham sejarahnya, tidak akan mudah hanyut oleh zaman. Kaidah ulama: "Man jahila maadhiyahu, dho’a mustaqbaluhu" siapa yang lupa masa lalunya, masa depannya akan hilang.
Generasi awal: Eyang Su’aeb & Eyang Abu Tolkhah - Guru Al-Qur’an
Alhamdulillah, awal masuknya Islam di Grumbul Cikadu/Cikole berpedoman pada Al-Qur’an. Setahu kami, para sesepuh seperti Eyang Su’aeb, Eyang Abu Tolkhah, dll, mengajarkan agama hanya Al-Qur’an. Mereka ngaji
Keterangan ayat tentang Al-Qur’an sebagai pedoman:
Allah berfirman:
إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
[Al-Isra: 9]
"Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus". Maka wajar jika dakwah awal Cikadu dimulai dari Al-Qur’an. Karena tidak ada petunjuk yang lebih lurus selain firman Allah.
Para Eyang ini peletak batu pertama. Mereka menanam benih tauhid di tanah Cikadu. Tugas kita sekarang menyirami, bukan mencabutnya.
Generasi tengah: Bapak Prapto, Bapak Nasrun - Mengenal As-Sunnah
Seiring waktu, ilmu agama masyarakat meningkat. Masuk generasi cucu Eyang Mursyid seperti Bapak Prapto, Bapak Nasrun, dll. Di zaman beliau, masyarakat Cikadu mulai mengenal As-Sunnah dan mengamalkannya.
Allah perintahkan:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا
[Al-Hasyr: 7]
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah".
Maka dakwah Cikadu tidak berhenti di Al-Qur’an saja, tapi lengkap dengan Sunnah Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Karena Al-Qur’an memerintah shalat, Sunnah yang mengajarkan caranya.
Inilah manhaj salaf: Al-Qur’an + As-Sunnah + pemahaman Sahabat. Tidak nambah, tidak ngurangi.
Generasi sekarang: Bapak Sri Kusdiyono - Melanjutkan estafet dakwah
Pada zaman sekarang, kami bersyukur Alhamdulillah. Ada sebagian masyarakat yang mau mengorbankan waktu, tenaga, fikiran untuk mendalami ilmu agama. Kami sebut saja beliau: Bapak Sri Kusdiono, cucu Eyang Mursyid dari keturunan Ibu Wiryo.
Dengan kecerdasan dan kegigihan beliau mendalami ilmu, beliau meneruskan perjuangan dakwah dengan berpedoman Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih menurut pemahaman salafussalih para sahabat Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Nabi *صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ* bersabda:
“Berpegang teguhlah kalian kepada sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah dengan gigi geraham” [HR. Abu Dawud 4607, Tirmidzi 2676 - Shahih]
Inilah yang diamalkan Ustadz Sri Kusdiyono. Beliau "menggigit" sunnah dengan kuat. Maka wajar jika dakwah beliau diterima, karena bersumber dari sumber yang paling jernih: Al-Qur’an + Sunnah + pemahaman Sahabat.
Kita sepantasnya bersyukur. Kemajuan dakwah Islam muncul kembali di Cikadu/Cikole setelah sekian lama. Ini buah dari doa para Eyang + ikhtiar para dai.
Bukti nyata: Jamaah penuh, I’tikaf, dan Qurban
Kemajuan agama tidak bisa diukur dari ceramah, tapi dari amal. Dan Alhamdulillah, buktinya nyata di Cikadu/Cikole:
1. Pengajian rutin penuh
Lebih dari 2 tahun, Masjid Al-Furqon Cikadu dan Masjid Nurul Iman Cikole rutin ada pengajian. Masyarakat antusias hadir. Bapak-bapak habis kerja genteng, ibu-ibu habis nggoreng cimpring, tetap datang. Ini bukti firman Allah:
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ
[At-Taubah: 18]
Yang memakmurkan masjid hanyalah orang yang beriman kepada Allah".
2. Ramadhan penuh + I’tikaf
Sekitar 2 tahun ini, khusus bulan Ramadhan, Masjid Al-Furqon Cikadu penuh dari awal sampai akhir. Masjid Nurul Iman Cikole jamaahnya meningkat. Yang dulu jarang ke masjid, Ramadhan kemarin masjid penuh.
Lebih membanggakan: Di Masjid Nurul Iman sudah 3 tahun mengamalkan syari’at 10 akhir Ramadhan dengan *kegiatan I’tikaf*. Ini sunnah Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ yang hampir mati di banyak kampung. Alhamdulillah Cikadu menghidupkannya.
Aisyah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا berkata: “Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ beri’tikaf pada 10 hari terakhir Ramadhan sampai beliau wafat” [HR. Bukhari 2026, Muslim 1172]
Warga Nurul Iman sedang meniru Nabi. Meninggalkan dunia sejenak, mengejar Lailatul Qadar. Ini level iman yang tinggi.
3. Syari’at Qurban meningkat
Ditambah lagi syari’at Idul Qurban. Masyarakat semakin paham keutamaan dan pahalanya. Tahun lalu dan sekarang, di Cikadu/Cikole yang berqurban sangat banyak: 1 Grumbul ada 6 ekor sapi.
Allah berfirman: فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ[Al-Kautsar: 2]
"Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah".
Qurban bukan pamer kaya, tapi bukti cinta ke Allah. 6 ekor sapi = 6 bukti bahwa iman warga Cikadu meningkat dan rezekinya berkah.
Penutup: Estafet dakwah harus jalan terus
Dari Eyang Su’aeb ngajar Al-Qur’an → Bapak Prapto kenalkan Sunnah → Bapak Sri Kusdiono istiqamah di atas manhaj salaf. Inilah estafet dakwah Cikadu.
Tugas kita sekarang: menjaga. Jangan sampai anak-cucu kita nanti malah mundur. Caranya? Rajin ke pengajian, amalkan ilmu, dan doakan para dai.
Kami berdo’a: Ya Allah, terima amal para sesepuh Cikadu yang menanam Islam. Langgengkan dakwah Ustadz Sri Kusdiyono. Jadikan masjid Al-Furqon dan Nurul Iman makmur sampai kiamat. Dan jadikan qurban warga Cikadu sebagai kendaraan mereka menuju surga-Mu... Aamiin.
Jakarta, 19 September 2016
Penulis: Suyitno
Refisi 23 Juni 2026

Komentar
Posting Komentar