Bersyukur Dan Menjaga Keistiqomahan
Sumber : Khutbah Idul Fitri 1440 H
Ditulis ulang oleh: Admin
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا، أَمَّا بَعْدُ
فَإِنْ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
Jamaah Idul Fitri yang dirahmati oleh Allah. .
Pertama-tama marilah kita senantiasa memanjatkan syukur kita kepada Allah yang sudah memberikan rahmat-Nya kepada kita semuanya. Sehingga sampai hari ini kita masih diberi bermacam-macam kenikmatan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kita masih diberi Islam, kita masih dianugerahi iman oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Dihiasinya iman tersebut di dalam hati kita, sehingga kita sampai hari ini masih istiqomah di dalam menjalankan ibadah-ibadah yang memang sudah menjadi kewajiban kita sebagai umat manusia.
Pada hari yang mulia ini, pada hari yang fitri ini, hari di mana kita sudah digembleng oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam bulan Ramadan dengan segala macam bentuk ketaatan. Di hari di mana kita merasa seperti seorang yang terlahir kembali.
Mudah-mudahan seperti itu semuanya. Mudah-mudahan Allah senantiasa memberi ampunan kepada kita semuanya di bulan Ramadan tahun ini, sehingga kita memulai lembaran kehidupan kita di hari ini dan seterusnya dengan tidak membawa dosa. Insya Allah.
Tafakur dan Fungsi Indera
Untuk itu marilah kita sejenak tafakur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, menundukkan hati kita di hadapan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sejenak kita arahkan pikir kita, hati kita, seluruh pendengaran dan mata kita untuk mencoba memahami apa-apa yang dikaruniai oleh Allah kepada kita di dalam kehidupan bermasyarakat.
Seperti sekarang ini kita sudah sama-sama melihat di antara kita ada orang-orang yang beriman, di antara kita juga ada orang yang tidak beriman. Di antara kita banyak yang melakukan shalat, di antara kita lebih banyak lagi yang tidak mau shalat.
Kalau kita pikir, kalau kita mau berpikir dengan hati kita: kenapa Allah seperti itu? Apakah karena Allah zalim sehingga membiarkan saudara-saudara kita yang belum mau menjalankan ibadah disesatkan oleh Allah? Tidak.
Allah memberi kita anugerah telinga, anugerah mata, anugerah hati semuanya dianugerahkan oleh Allah kepada kita agar kita tafakur, memikirkan agar kita senantiasa berusaha memahami ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sehingga nanti akan masuk ke dalam tubuh kita, ke dalam hati kita, keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Akan tetapi, ketika telinga kita, ketika mata kita, ketika hati kita tidak kita gunakan sebagaimana mestinya, Allah tidak mungkin memberikan kita hidayah.
Jangan sampai kita biarkan hati kita keras membatu. Jangan sampai kita biarkan hati kita biarkan hitam legam sehingga tanpa ada celah cahaya keimanan yang bisa masuk ke dalam hati kita. Padahal apa artinya hidup tanpa keimanan? Apa artinya orang hidup tanpa Islam? Tidak ada artinya sama sekali.
Wasiat dan Ancaman Allah
Allah senantiasa mewasiatkan kepada kita:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
"Janganlah kalian sekali-kali berani mati dalam keadaan tidak Islam, jangan kalian sekali-kali berani mati dalam keadaan tidak menjalankan shalat. Jangan berani, sungguh ya akhi, sangat berat." [QS. Ali Imran: 102]
Sungguh kata Allah:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ خَالِدِينَ فِيهَا ۖ لَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنظَرُونَ
Sesungguhnya orang-orang kafir, kalau dia mati dalam keadaan kafir, sungguh kata Allah, Allah akan melaknat, malaikat akan melaknat, seluruh manusia akan melaknat, bahkan seluruh makhluk yang ada di bumi akan melaknat orang tersebut. Mereka semuanya kekal dalam laknat tersebut, tidak akan dimudahkan, tidak akan diperingan azabnya, dan tidak akan diberi tangguh. [QS. Al-Baqarah: 161-162]
Ajakan Membuka Hati dan Lembaran Baru
Untuk itu ya ayah, mari kita buka sedikit hati kita, mari kita buka sedikit mata kita, mari kita buka lebar-lebar telinga kita untuk mencoba memahami kalimat-kalimat Allah Subhanahu wa Ta'ala yang dengannya nanti iman akan masuk ke dalam tubuh kita.
Di dalam Al-Qur'an Allah banyak memberi tamsil kepada kita: sekeras-kerasnya batu, ketika ditetesi air pasti akan ada bolong. Hati manusia seperti itu juga. Ketika sudah mendapatkan keimanan, hanya dengan tidak usah ragu dosa-dosa kita yang lampau tidak usah dipikirkan ketika panjenengan sudah tobat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Kita memulai lembaran kehidupan baru seperti hari ini. Kita memulai lembaran di bulan Syawal ini untuk memulai kehidupan yang baru.
Kaidah Menerima Hidayah & Ayat Al-Ahqaf
Untuk itu, sedikit akan kami sampaikan beberapa kaidah agar hati ini bisa menerima hidayah, agar hati ini bisa menerima Islam, agar hati ini mau mendengarkan kajian-kajian Al-Qur'an dan Sunnah, agar bisa kita menjalani kehidupan ini dengan terang benderang, agar kita bisa menjalani kehidupan ini dengan ada bimbingan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.l
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
فَمَا أَغْنَىٰ عَنْهُمْ سَمْعُهُمْ وَلَا أَبْصَارُهُمْ وَلَا أَفْئِدَتُهُم مِّن شَيْءٍ إِذْ كَانُوا يَجْحَدُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ
Tidaklah berguna bagi manusia, bagi seluruh makhluk, pendengaran mereka, penglihatan mereka, dan hati mereka tidak berguna sedikitpun ketika mereka menentang ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ketika seorang manusia menentang, tidak mengimani ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta'ala... [QS. Al-Ahqaf: 26]
Peringatan Kematian
Allah tahu kapan mau dikuburkan di sana. Jangan sampai kita dikuburkan dan kita belum Islam. Jangan sampai kita dikuburkan dalam keadaan bermaksiat kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Jangan sampai kita dikuburkan dalam keadaan tidak menjalankan salat.
Memurnikan Tauhid
Jamaah Rahim wakumullah. Hal pertama ketika kita mau menjalankan, berusaha untuk membuka hati kita di dalam menerima hidayah dari Allah subhanahu wa ta'ala. Yang pertama dan utama sekali adalah kita harus memurnikan, memurnikan hati kita dengan tauhid, dengan mengesakan Allah subhanahu wa ta'ala. Dengan menghilangkan keseluruhan padanan-padanan yang tidak mungkin, jadikan sebagai tandingan-tandingan selain Allah subhanahu wa ta'ala.
Bersihkan hati kita dari ketergantungan kepada makhluk. Bersihkan hati kita ketergantungan kepada benda-benda. Bersihkan hati kita ketergantungan dengan pemimpin. Bersihkan hati kita dari ketergantungan dengan manusia yang lain. Tidak akan berguna. Hanya Allah lah tempat kita beribadah, hanya tempat, Allah lah tempat kita memohon pertolongan. Hanya kepada Allah lah kita menyembah dan hanya kepada Allah lah kita memohon pertolongan, meminta perlindungan dan semuanya kita persihkan ketika kita mau bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Dengan tidak membersihkan hati kita mustahil hati kita bisa tersirami iman. Yang masih punya ketergantungan dengan jimat-jimat misalnya kalau ada mudah-mudahan sudah tidak ada. Mulai hari ini kasihkan ke saya, saya akan bakar. Yang masih mempunyai di dalam tubuhnya hal-hal yang sifatnya...
Maka matanya telinganya hatinya semuanya tidak berfaedah. Allah seringkali mengibaratkan orang-orang tersebut sebagai orang-orang yang kurang akal. Mereka tidak menggunakan akalnya, mereka tidak menggunakan, matanya tidak menggunakan telinganya untuk memahami kebenaran-kebenaran yang ada di ayat-ayat Allah subhanahu wa ta'ala. Untuk itu jamaah, mari kita bersama-sama merengkuh keridhaan Allah subhanahu wa ta'ala. Mencoba untuk membuka hati, membuka hati dalam rangka memahami ayat-ayat Allah subhanahu wa ta'ala. Mau kapan lagi sementara malaikatul maut senantiasa mengejar-ngejar kita. Kita lihat sebelah kiri, toko perkuburan.
Kesyirikan buang jauh-jauh. Jangan sampai kita biarkan hati kita, diri kita ternodai oleh kesyirikan-kesyirikan. Penting agar hati kita mau menerima hidayah, hanyalah harus lepaskan semuanya. Tidak usah takut ketika ada yang menakut-nakuti, itu adalah setan.
Ketika masih ada orang-orang yang merasa bahwa pimpinannya atau golongannya itu lebih benar daripada Alquran dan Sunah, hidangkan jauh-jauh. Kembali kepada Alquran dan Sunah, ini sama hukumnya syirik. Ketika ada orang meminta pertolongan kepada dukun atau kepada kiai tua dan sebagainya, sudah bukan zamannya. Agama Islam adalah agama akal. Kita bukan manusia-manusia bodoh yang mau dibohongi oleh dukun dan setan. Bersihkan hati kita. Bersihkan hati kita dari kepada bergantung kepada sesuatu selain Allah subhanahu wa ta'ala, itu adalah kaidah yang pertama agar kita bisa menerima.
Mengingat Kematian
Lalu mana setelah hati kita bersih, langkah berikutnya apa? Mengingat kematian dan perjumpaan dengan Allah subhanahu wa ta'ala.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadis riwayat Ibnu Majah yang artinya: Perbanyaklah kalian mengingat penghancur kenikmatan, yaitu kematian. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, junjungan kita, panutan kita, teladan kita memberikan tips agar supaya hati kita bisa menerima hidayah dari Allah subhanahu wa ta'ala, perbanyak bapak mengingat kematian bahwa saja kita barangkali nanti sampai di rumah menghadap Allah subhanahu wa ta'ala, atau lusa atau besok. Allahu akbar. Karena kematian itu sesuatu yang pasti, yang tidak bisa kita tangkal, tidak bisa kendor kita undurkan sedikit, tidak bisa dimajukan sedikit, tidak akan bisa ketika datang ajalnya ajal kita.
Kita memiliki ruh. Kita memiliki arwah tapi kita memilikinya secara tidak permanen, karena itu merupakan milik Allah subhanahu wa ta'ala. Ketika malaikat maut datang mengambil ruh kita, tubuh kita yang gagah-gagah, yang cantik-cantik sudah tidak ada gunanya bahkan mau orang mau menyentuh saja sudah jijik, karena sudah menjadi mayat. Apa artinya ketika ruh kita kembali kepada Allah subhanahu wa ta'ala dan ingat, dan jenengan kita semuanya, kaum muslimin, bapak-bapak dan ibu-ibu akan menghadap Allah subhanahu wa ta'ala satu demi satu, sendiri-sendiri untuk apa? Untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kita sewaktu kita di dunia akhir.
Allah ini bukan bohong. Ini Alquran yang berkata demikian. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: Sungguh kalian akan datang kepada Allah, kepada kami Allah, sendiri-sendiri sebagaimana kami menciptakan kalian di awal yang pertama. Panjenengan tidak akan ditemani oleh saya.
Oleh tetangga, oleh istri, oleh anak. Apa maling ditemani oleh presiden tidak mungkin, apalagi ditemani oleh pemimpin organisasi tidak. Yang bisa menyelamatkan diri kita adalah diri kita sendiri. Amal kita sendiri.
Makanya ketika kita hidup di dunia harus senantiasa mempunyai pedoman yang jelas, agar supaya kita menghadap Allah subhanahu wa ta'ala nanti ketika ditanya tentang apa yang dilakukan dulu kita bisa menjawabnya dengan benar. Kita membawa bekal keimanan yang benar, keislaman yang benar, ibadah yang benar yang diterima oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Jangan mau ketika sudah beribadah nanti di hadapan Allah tidak diakui ibadahnya atau nggak kalian jangan menghadap Allah subhanahu wa ta'ala sementara belum mengerjakan salat, belum mau mengerjakan puasa. Bagaimana nasib?
Ingat bahwasanya kematian itu pasti akan datang. Ketika kematian itu datang, itu adalah kiamat bagi kita. Akhir daripada keseluruhan. Jangan sampai ketika sekaratul maut datang kepada kita baru menyesal. Allah subhanahu wa ta'ala menyindir untuk permasalahan ini dalam surat an-nisa ayat 18: dan tidaklah bukanlah dinamakan taubat bagi orang-orang yang mengerjakan keburukan, bagi orang-orang yang mengerjakan kemaksiatan, lalu taubatnya ketika sudah datang sekarotol mau saya tobat sekarang orang angguk. Hari ini waktunya taubat ketika kita masih sehat. Kita masih diberi oleh Allah kenikmatan keseluruhan. Makan masih enak, minum masih enak. Ingat suatu saat makanan yang kita masukkan sudah tidak bisa masuk ke dalam tubuh kita lagi, bisa karena penyakit, bisa karena uzur, bisa karena tua. Kita akan sampai ketika diri kita masih diberi nikmat oleh Allah subhanahu wa ta'ala, usahakan apa-apa yang kita diberi oleh Allah kita manfaatkan di dalam rangka mencari keridhoan Allah subhanahu wa ta'ala. Bicara dengan dalam rangka mencari kedudukan terbaik di mata Allah subhanahu wa ta'ala.
Sekali lagi, agar kita bisa menerima keimanan, agar kita bisa menerima hidayah, perbanyak mengingat kematian.
Mengkaji Al-Qur'an
Lalu yang ke-3 bahwasanya agar hati kita senantiasa terbuka lebar bisa menerima hidayah Allah subhanahu wa ta'ala kita harus Alquran. Tidak mungkin hati kita bisa menerima hidayah tanpa kita mendapatkan petunjuk. Tidak mungkin kita bisa menerima petunjuk kalau kita hanya duduk manis di rumah dengan tidak mentadaburi Alquran, dengan tidak mempelajari Alquran, dengan tidak membaca ayat-ayat Alquran, mustahil. Alquran diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
Hari ini waktunya taubat ketika kita masih sehat. Kita masih diberi oleh Allah kenikmatan secara keseluruhan. Makan masih enak, minum masih enak. Ingat suatu saat makanan yang kita masukkan sudah tidak bisa masuk ke dalam tubuh kita lagi, bisa karena penyakit, bisa karena uzur, bisa karena tua.
Kita akan sampai ketika diri kita masih diberi nikmat oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Usahakan apa-apa yang kita diberi oleh Allah kita manfaatkan di dalam rangka mencari keridaan Allah subhanahu wa ta'ala. Bicara dengan dalam rangka mencari kedudukan terbaik di mata Allah subhanahu wa ta'ala.
Sekali lagi, agar kita bisa menerima keimanan, agar kita bisa menerima hidayah, perbanyak mengingat kematian. Lalu yang ke-3 bahwasanya agar hati kita senantiasa terbuka lebar bisa menerima hidayah Allah subhanahu wa ta'ala, kita harus kadang baca Alquran. Tidak mungkin hati kita bisa menerima hidayah tanpa kita mendapatkan petunjuk. Tidak mungkin kita bisa menerima petunjuk kalau kita hanya duduk manis di rumah dengan tidak mentadaburi Alquran, dengan tidak mempelajari Alquran, dengan tidak membaca ayat-ayat Alquran. Mustahil.
Alquran diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala sebagai huda linas, sebagai petunjuk bagi manusia, dan keterangan dari petunjuk-petunjuk tersebut, dan juga berfungsi sebagai Alquran untuk membedakan mana yang baik, mana yang buruk, mana yang lurus, mana yang bengkok. Itu Alquran.
Ketika kita mau menjalankan syariat agama Allah subhanahu wa ta'ala tanpa pernah mengkaji Alquran, kita tidak mungkin bisa berjalan di jalan yang lurus. Padahal kita setiap hari berdoa tanpa dengan mentadaburi Alquran. Bagaimana bisa kita mendapatkan jalan yang lurus? Tidak akan mungkin bisa.
Untuk itu mari kita bersama-sama untuk senantiasa berusaha mengkaji Alquran untuk diri pribadi sendiri dan juga untuk anak-anak kita, sehingga sampai akhirnya mereka menjadi manusia-manusia yang memahami Alquran tidak seperti kita barangkali yang banyak dari kita yang buta huruf dengan Alquran. Usahakan anak-anak kita lebih dari kita di dalam masalah agama ini.
Meneladani Rasulullah
Yang berikutnya adalah langkah berikutnya adalah mencari panutan seseorang sebagai panutan di dalam beragama. Allah subhanahu wa ta'ala sudah menjelaskan, sungguh telah ada pada diri kalian diri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam contoh yang baik bagi orang-orang yang mengharapkan pertemuan dengan Allah dan hari akhir. Orang-orang yang meyakini bahwasanya akan ada kematian, bahwa setelah kematian akan menghadap Allah subhanahu wa ta'ala, telah ada contohnya pada diri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Agar supaya apa? Agar supaya ketika kita beragama dari A sampai Z mengikuti contoh yang sudah ada, jangan membuat-buat.
Agar supaya ketika kita beragama dari A sampai Z mengikuti contoh yang sudah ada, jangan membuat-buat aturan baru di dalam agama ini yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Karena tidak mungkin kita bisa mencapai derajat yang tinggi, tidak mungkin kita bisa mencapai surganya Allah subhanahu wa ta'ala tanpa mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari A sampai Z. Tidak akan mungkin bisa, kita pasti akan tersesat ketika kita dalam satu masalah tidak mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Besok akan terjadi dua masalah tidak mengikuti Rasulullah, akhirnya semuanya tidak menggunakan panutan dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Jangan idul fitri yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Sungguh Maha Rahman, Maha Rahim, Maha Pengampun, dan Maha Penyayang. Apapun yang kita laksanakan di dunia ini selagi kita mau bertobat akan diampuni oleh Allah subhanahu wa ta'ala sebelum sekaratul maut panjenengan menghampiri panjenengan. Bersegera untuk bertobat kepada Allah.
Tanamkan dalam diri mulai hari ini, mulai saat ini saya akan bertobat. Kita niatkan bersama-sama kita akan hijrah di jalan Allah dari yang kemarin belum menjalankan salat secara rutin. Hari ini dan seterusnya Insya Allah diniatkan dari sekarang. Bukakan hati panjenengan untuk menerima hidayah Allah subhanahu wa ta'ala. Biarkan air itu mengalir ke dalam hati panjenengan sehingga hatinya tidak keras membatu.
Membersihkan dan Menghiasi Hati
Setelah keimanan itu masuk ke dalam diri kita, tugas berikutnya adalah kita senantiasa harus membersihkan dan menghiasi hati kita. Hati kita bersihkan bagaimana caranya? Hindari kemaksiatan. Hindari hal-hal yang membuat kita ingkar kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Hindari memakan barang-barang yang haram. Hindari berbuat curang, hindari menipu orang, hindari korupsi, semuanya. Hindari meminum minuman yang haram. Hindari memakan daging yang haram, baik haram secara zatnya maupun cara memperolehnya. Hindari semuanya agar hati kita bersih. Karena ketika hati kita banyak kemaksiatan, hati kita sekali lagi akan keras membatu, hitam legam, tidak akan mampu menerima hidayah.
Setelah kita bisa membersihkan hati kita, langkah berikutnya adalah menghiasinya. Hati kita hiasi dengan apa? Dengan amal saleh. Perbanyak salat, perbanyak zikir kepada Allah, perbanyak kajian-kajian Quran dan Sunah. Itulah ketika hati sudah dihiasi Insya Allah kita bisa istiqomah di jalan Allah, dan kita bisa mati dalam keadaan beragama Islam Insya Allah. Jamaah yang dirahmati oleh Allah, pada akhirnya...
Doa Penutup Khutbah
Hanya kepada Allah lah kita memohon. Hanya kepada Allah lah kita bergantung. Hanya kepada Allah lah kita merujuk mengadu agar supaya kita semuanya senantiasa diberi iman oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Senantiasa diberi Islam oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Senantiasa diberi ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
Hanya Allah lah tempat kita bergantung. Hanya tempat Allah lah tempat kita memohon. Tidak ada yang dapat memberi hidayah kepada hati kita kecuali Allah subhanahu wa ta'ala. Segala macam daya dan upaya kita tidak akan bisa terlaksana tanpa kehendak Allah subhanahu wa ta'ala. Untuk itu di akhir khutbah ini marilah kita senantiasa bersama-sama bermunajat kepada Allah subhanahu wa ta'ala agar kita semuanya yang hadir pada hari ini ataupun yang masih di rumah khususnya untuk warga masyarakat Gumbul Cikadu menjadi manusia-manusia yang senantiasa beriman kepada Allah. Menjadi manusia-manusia yang senantiasa menjalankan salat. Menjadi manusia-manusia yang senantiasa beramal makruf nahi munkar. Allahu akbar.
Rabbana zhalamna anfusana fa in lam taghfir lana wa tarhamna lanakunanna minal khosirin. Ya Allah berilah kami petunjuk-Mu ya Allah. Berilah kami hidayah-Mu ya Allah. Ampunilah kami. Ampunilah dosa-dosa kami. Berilah kepada seluruh warga masyarakat Gumbul Cikadu hidayah-Mu ya Allah sehingga kami ini menjadi orang-orang yang pandai bersyukur kepada Engkau atas seluruh nikmat yang telah Engkau berikan. Janganlah biarkan hati-hati kami menjadi keras ya Allah. Limpahkanlah cahaya hidayah kepada kami, kepada saudara-saudara kami, kepada teman-teman kami, kepada seluruh warga masyarakat Lubuk Sikadu ya Allah.
Hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Hanya kepada Engkaulah kami mohon ya Allah. Kami tidak rela teman-teman kami nanti masuk di neraka ya Allah. Engkaulah penolong kami. Tidak ada yang dapat menolong kami selain Engkau ya Allah. Berilah kami hidayah untuk senantiasa berjalan di dalam agama yang hak. Berjalan di atas siratal mustaqim di atas jalan yang lurus yang telah diberikan oleh Engkau kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Berilah kami ketabahan di dalam menjalankan agama ini yang memang sudah sangat berat di masa-masa yang sekarang. Berilah kami kekuatan agar kami dapat senantiasa menjalankan agama ini dengan benar. Berilah kepada istri-istri kami, anak keturunan kami. Tidak ya Allah, jangan biarkan mereka menjadi orang kafir ya Allah.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا فَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا
رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا
رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلَانَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Transkrip : Khutbah Idul Adha 1439 H
Pembicara Ustadz : Sri Kusdiyono
Ditulis Ulang oleh : Admin
Referensi :
1. QS. Ali Imran: 102
2. QS. Al-Baqarah: 161-162
3. QS. Al-Ahqaf: 26

Komentar
Posting Komentar