Tiga Resep Hidup Bahagia: Bersyukur, Bersabar, Dan Bertaubat

Sumber: Kajian 
Penceramah: Ustadz Sri Kusdiyono
Ditulis: Admin

📖 Baca Kumpulan Transkrip Kajian Lumbir Mengaji di sini
Dalam Masjid Jami Al Furqon, Tiga Resep Hidup Bahagia: Bersyukur, Bersabar, Dan Bertaubat
Transkrip Kajian Lumbir Mengaji

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ  
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ  

الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا


Jamaah subuh rahimahkumullah. 
Pada kesempatan yang mulia ini marilah kita sama-sama berwasiat kepada diri kita sendiri untuk senantiasa bisa melaksanakan seluruh amal-amal dalam kehidupan dunia ini untuk bisa menjadi orang-orang yang senantiasa taat kepada Allah. Istiqomah di dalam ketaatan kita kepada Allah ta'ala.


Resep Hidup Bahagia
Pada kajian subuh singkat kali ini saya sedikit akan membawakan sebuah judul materi yang singkat. Judulnya adalah Resep Hidup Bahagia.

Semoga rahmat Allah. Kalau kita membicarakan terkait dengan kebahagiaan, tentu setiap manusia setiap orang menginginkan kebahagiaan tersebut.

Akan tetapi ketika ditanyakan kepada masing-masing kita, kebahagiaan itu seperti apa, sudah barang tentu jawabannya tidak mungkin sama antara satu orang dengan yang lainnya.


Pengertian Bahagia Menurut Manusia
Ada yang mengartikan orang yang bahagia itu adalah orang yang bisa jalan-jalan ke manapun dia mau, bisa membeli apapun yang dia mau.

Ada juga yang mengartikan orang yang bahagia itu kalau pagi-pagi seperti ini bisa molor tidur di rumah. 

Kira-kira yang hadir di sini dengan yang di rumah, bahagia mana?

Iya kira-kira apa bahagia itu? 
Menurut panjenengan ini kenapa? Kalau saya tanya panjenengan bahagia atau tidak, bahagia yakin.

Ya bahagia. Bahagia itu apa? Karena bahagia itu adanya di hati.


Bahagia Menurut Syariat
Akan tetapi apakah seperti itu yang dimaksud kebahagiaan yang ada di dalam pengertian syariat? 
Kita akan sedikit membahasnya.

Terkadang orang itu berada di dunia merasa berbahagia. Akan tetapi ketika suatu saat dia sedang sakit atau sedang sendirian, dia pasti akan berpikir bahwasanya besok dia akan mati.

Iya kalau orang-orang beriman yakin bahwa ketika mati akan menghadap Allah ta'ala. 

Kira-kira orang kafir ini, orang yang tidak percaya dengan agama, dia berpikir kalau mati kira-kira mau seperti apa.


Takut Akan Kematian
Terkadang ya, kadang mereka berpikir. Makanya banyak orang merasa gelisah, merasa takut akan kematian. Padahal kematian itu sesuatu yang tidak perlu ditakuti.

Makanya Allah berfirman dalam surat Jumat: 
 
قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ  

"Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kamu takut daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu.  [QS. Al-Jumu'ah: 8[

Setiap manusia berusaha untuk menghindari kematian. Ketika sudah sakit sangat takut. Yang masih muda apalagi yang punya uang, dia berusaha sedemikian rupa untuk mempertahankan kehidupannya.

Ya mereka berusaha takut akan kematian. Akan tetapi kata Allah:  

ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ  

"Kemudian kamu semua akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui yang gaib maupun yang nyata. Lalu Dia akan mengabarkan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan.  [QS. Al-Jumu'ah: 8]

Kematian senantiasa akan mendatangi kita.


Kebahagiaan Kaum Muslimin Ada Di Hati
Dan kaum muslimin alhamdulillah mempunyai kebahagiaannya sendiri. 

Kebahagiaan itu letaknya ada di hati kita. Apapun yang dirasakan oleh kita sebagai kaum muslimin, kita merasa sangat bersyukur bahwasanya kita tidak diberi rasa ketakutan ketika kita menghadapi segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini.

Ketika mati pun kita sudah yakin bahwasanya kita akan menghadap Allah. Walaupun kita belum yakin amalan kita akan diterima, mungkin kekhawatirannya sedikit atau banyak seperti itu. 

Tapi setidaknya kalau muslimin itu sudah mengetahui, tempatnya adalah tergantung daripada usahanya ketika masih hidup di dunia.


Perbedaan Muslim Dengan Orang Yang Tidak Punya Keyakinan
Kalau orang-orang yang tidak punya keyakinan seperti itu, mereka masih bimbang sehingga mereka terkadang sangat ketakutan dengan kematian. 

Sehingga terkadang mereka mencari bagaimana caranya agar mereka bisa hidup seribu tahun. Kayak Nabi Nuh 'alaihissalam. 

Tapi tidak bisa. Ya umur kita umur umat terakhir. Ya paling tujuh puluh tahun lebih kurang. Memang ada beberapa yang dilebihkan, tapi itu tidak banyak.

Alhamdulillah. Di sini ada yang sampai tujuh puluh tahun sudah banyak bonusnya.


Menyiapkan Bekal Untuk Akhirat
Tapi hatinya seolah-olah sudah tertata. Kalau kaum muslimin sudah menata kehidupannya, takut dan kekhawatiran tetap ada. Akan tetapi setidaknya sedikit atau banyak sudah apa namanya mengumpulkan modal untuk menuju kampung yang sesungguhnya. 

Untuk menuju rumah yang sesungguhnya di akhirat kelak.


Kebahagiaan Seorang Muslim Adalah Menjalankan Agama Dengan Benar
Dan kaum muslimin, di antara kebahagiaan seorang muslim di dalam hidupnya adalah ketika dia bisa menjalankan agamanya dengan benar sesuai dengan perintah Allah dan rasul-Nya.

Ketika seorang itu sudah menjalankan dirinya dengan petunjuk yang benar dari Allah ta'ala, maka dia akan mendapatkan kebahagiaan di dunia apapun keadaannya.

Allah ta'ala berfirman dalam surat Al-An'am ayat 153, menggambarkan seorang yang sudah mendapatkan hidayah untuk menempuh jalan yang benar.

Kata Allah tabarakuwataala:
  
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ  

"Dan bahwa ini adalah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah jalan tersebut. Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan selain jalan yang lurus tersebut. Karena kalau kita mengikuti jalan yang selain jalannya Allah dan rasul-Nya maka kamu akan bercerai berai dari jalannya.  [QS. Al-An'am: 153]

Kunci Bahagia Dengan Yakin Dan Menjalankan Syariat
Jamaah rahimakumullah. Kebahagiaan seorang muslim, kebahagiaan kita semuanya adalah ketika kita di sisa hidup kita bisa menjalankan syariat agama ini dengan benar. 

Tanpa ada keraguan, tanpa ada sesuatu yang mengganjal. Kita yakin dengan agama kita. 

Sehingga apapun yang terjadi di kelak kemudian hari kita yakin kita sudah mempunyai dasar-dasarnya. Hanya tinggal kita berusaha untuk mempersiapkannya sebaik-baiknya.

Ketika seseorang sudah sadar akan hal tersebut dia akan merasa...


Hidup Yang Terarah Karena Al-Quran Dan Sunnah
Senantiasa hidupnya terarah. Hidupnya dia gunakan untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya. 

Karena memang Allah sudah menggambarkannya sangat jelas dalam Al-Quran. 

Contoh. Di dalam Al-Quran Allah menggambarkan dalam surat Hud. Allah berfirman:  

أَمَّا الَّذِينَ سَقُوا  

Artinya: Adapun orang-orang yang celaka kata Allah di dalamnya


Gambaran Keadaan Penghuni Neraka
Mereka menahan nafas. Menahan nafas, menghirup nafas dengan merintih. 

Anda bayangkan seperti apa kira-kira. Menahan nafas dengan merintih, kira-kira menahan apa itu. 

Ya penghuni neraka, mereka menahan nafas sambil merintih karena merasakan siksa yang luar biasa pedih. 

Mereka merasakan siksa yang tidak akan pernah berakhir. 

Kata Allah:  

خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ  

"Mereka akan kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki yang lain.

Mereka akan kekal di dalam hal tersebut. Sekekal sebagaimana kekalnya langit dan bumi. Kecuali Allah mempunyai kehendak yang lain.


Gambaran Keadaan Penghuni Surga
Allah menggambarkan, ketika kita bisa merasakan kebahagiaan di dunia ini. Artinya merasakan manisnya kita beriman kepada Allah. Merasakan lezatnya kita beragama dengan agama yang benar. 

Kita juga nanti akan bisa merasakan lezatnya, kenikmatannya berada di surga. 

Akan tetapi ketika kita tidak bisa merasakan kebahagiaan dengan beragama. Tidak bisa merasakan kesenangan ketika beribadah kepada Allah ta'ala. 

Berapa banyak orang yang tidak merasa suka dengan beribadah kepada Allah. 

Mereka akan digambarkan oleh Allah, mereka akan berada di neraka. Keadaannya mereka merintih terus menerus, menahan nafas, menahan sakit. Mereka berada di dalamnya selama-lamanya.

Dalam lanjutannya Allah berfirman:  

وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ  

"Dan adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki yang lain, sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.

Dan Tuhanmu, Dia melakukan apa yang Dia kehendaki, yang sudah ditetapkannya. 

Dan orang-orang yang berbahagia, ya di dunia wal akhirat. Di dunia maupun di akhirat. 

Maka nanti kesudahannya kata Allah:
  
فِي الْجَنَّةِ  

Artinya: mereka berada di surga khalidin. 

Mereka kekal di dalamnya sebagaimana kekalnya langit dan bumi. Kecuali Tuhan atau Allah ta'ala berkehendak lain. 

Kata Allah sebagai pemberian yang tidak pernah terputus.


Resep Hidup Bahagia Dari Allah
Jemaah rahimakumullah. Ketika kebahagiaan itu adalah sesuatu yang abstrak. Sesuatu yang hanya bisa digambarkan oleh diri kita sendiri. 

Kita sekarang mungkin bertanya bagaimana caranya agar bisa bahagia itu tadi. Apakah dengan berusaha mencari harta yang banyak, dikumpulnya ditumpuk, ya wadai karung ke bantalannya? 

Apakah seperti itu? Ternyata tidak. 

Allah sudah memberikan gambaran bagi kita, bagi manusia yang ingin cari kebahagiaan di dalam hatinya. Maka Allah memberikan petunjuknya dengan firman-Nya:

Maka ketika datang kepada kalian dariku kata Allah hudan, petunjuk yaitu Al-Quran maupun As-Sunnah, hidayah. Maka barang siapa mereka mengikuti petunjukku, maka dia akan sekali-kali tidak akan pernah tersesat dan tidak akan pernah celaka.

Barang siapa yang berpaling dari mengingat Aku, maka baginya kehidupan yang sempit. Dan akan Kami kumpulkan besok di hari kiamat dalam keadaan buta. Padahal sewaktu di dunia mereka dalam keadaan bisa melihat.

Jemaah rahimakumullah. Ayat yang sangat mulia, ayat yang sangat besar maknanya bagi kita semuanya. 

Allah sudah memberikan resep ketika kita kepengen berbahagia. Bahagia di dunia wal akhirat. Maksudnya kalau hanya bahagia di dunia...


Kebahagiaan Dunia Akan Segera Berakhir
Itu akan berakhir. 

Kalau kita hanya mencari kebahagiaan dunia itu segera akan berakhir. 

Seberapa pun panjenengan kaya punya uang, ya pasti akan ditinggalkan begitu.

Seberapa pun kita mempunyai keluarga yang sukses, yang banyak anak. Anak yang banyak atau istri yang banyak. Itu adalah semuanya akan segera ditinggalkan.

Akan tetapi yang kita cari adalah kebahagiaan di dunia wal akhirat. 

Maka ketika kita mengikuti apa yang diwahyukan oleh Allah dalam Al-Quran, maka orang yang bisa mencapai kebahagiaan dunia insyaAllah, di akhirat juga akan bahagia.

Akan tetapi bahagianya sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Allah ta'ala. 

Yaitu dengan cara mengikuti petunjuk Allah. Mengikuti apa-apa yang diturunkan oleh Allah.


Mengikuti Petunjuk Allah Agar Tidak Sesat
Kata Allah ta'ala kalau kita mengikuti petunjuk-Nya, maka kita tidak akan tersesat selama-lamanya dan tidak akan pernah celaka. 

Apapun keadaan kita, baik dalam keadaan gembira maupun dalam keadaan susah, kita akan mendapatkan yang namanya bahagia di dalam hati kita.

Akan tetapi kebalikannya. Barang siapa yang berpaling dari mengingat-Ku, maka baginya penghidupan yang sempit. Walaupun duitnya banyak.

Tapi tetap saja sempit. Walaupun keluarganya banyak. Tapi dia dijanjikan oleh Allah akan didapatinya kehidupan yang sempit.


Orang Kaya Tapi Tidak Pernah Merasa Cukup
Segalanya ada, akan tetapi dia tidak akan pernah puas dengan kehidupannya. Senantiasa kekurangan.

Orang yang kaya dalam hal syariat adalah orang yang merasa kenal. Merasa cukup dengan apa yang diberikan oleh Allah ta'ala. Orang muslim senantiasa seperti itu. Merasa cukup dengan apa yang diberikan oleh Allah ta'ala.

Berbeda dengan orang kafir. Atau orang yang tidak mensyukuri nikmat. Dalam istilah agama dinamakan orang fakir.

Orang fakir itu seperti apa? Orang yang tidak pernah merasa cukup. Duitnya miliaran tapi tidak pernah merasa cukup. Sehingga bekerja siang malam dengan meninggalkan ibadah. Duitnya miliaran, tapi di mata Allah dia masih fakir. Masih tergolong fakir miskin karena tidak pernah merasa cukup.


Akibat Berpaling Dari Al-Quran
Makanya Allah memberikan gambaran:  

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا  

"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.

Hartanya tidak akan membawa dia kepada keberkahan. Hartanya akan bahkan membuat dia lalai dari kehidupannya sebagai manusia. Lalai dari tugasnya sebagai manusia.

Apapun yang dia miliki membuat kehidupannya menjadi sempit, tidak berkah. Tidak banyak membawa kebaikan bagi dirinya, apalagi bagi agamanya.

Dan yang lebih parah lagi, Allah juga berfirman: 
 
وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى  

"Dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.  [QS. Thaha: 124]

Orang-orang yang sempit kehidupannya di dunia, mereka akan dikumpulkan di yaumul kiamat nanti dalam keadaan buta.

Bagaimana kita berjalan dengan kebutaan di akhirat nanti? 

Kalau kebutaan di dunia sementara. Sekali lagi, kalau di dunia kalau hanya buta matanya misalnya, sebagai cobaan dari Allah, kalau kita bersabar insyaAllah di akhirat kita tidak akan mengalami kebutaan tersebut.

Akan tetapi bagi orang-orang yang di dalam kehidupannya diberi kehidupan yang sempit, dia akan dikumpulkan di akhirat nanti dalam keadaan buta.


Kunci Bahagia: Iman Dan Amal Sholeh
Lalu Allah juga menggambarkan:  

وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ  

"Barang siapa yang beramal sholeh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman kepada Allah.  [QS. An-Nahl: 97]

Barang siapa yang beriman dan beramal sholeh. Berdasarkan keimanan.

Dasarnya iman lalu beramal sholeh. Sehingga setiap amalan bisa dinamakan amalan itu adalah sholeh kalau didasari dengan keimanan.

Dia didasari dengan keyakinan akan Allah. 

Tetapi kalau amalan tersebut tidak didasari dengan keimanan, dia tidak akan bernama amal sholeh. Tidak akan diberi pahala oleh Allah. Akan sia-sia amalannya.

Makanya ini penting untuk kita camkan dalam diri kita. Apa janji Allah:

Barang siapa beramal sholeh dari laki-laki dan perempuan dan dia beriman. Apa kata Allah?

Kehidupan yang sempit itu bagi orang yang berpaling. Maka orang yang beriman dan beramal sholeh, baginya Allah akan menjanjikan mereka.

Maka akan dihidupkan di dalam kehidupan yang thayyibah. Subhanallah akan dihidupkan dalam kehidupan yang thayyibah.

Kehidupan yang thayyibah itu seperti apa? Yaitu senantiasa beribadah sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah. Menghadapi segala sesuatu yang terjadi di dunia ini dalam kehidupannya dengan menerima.

Dengan berbaik sangka kepada Allah tabarakuwataala.

Lanjutannya Allah berfirman: 
Dan kelak mereka akan diberi balasan yang lebih baik dari apa-apa yang mereka kerjakan sewaktu di dunia.

Ini janji Allah kepada kita semuanya.


Kembali Kepada Allah Dan Rasul Untuk Meraih Bahagia
Ketika kita mencari kebahagiaan, maka tidak bisa tidak kecuali kita harus kembali kepada Allah dan rasul-Nya. Kembali kepada agama yang hak, agama yang benar.

Sehingga kita merasa tentram. Tentram hati kita dengan menjalankan syariat ini.

Kebahagiaan hakiki adalah ketika kita bisa menjalankan agama ini dengan baik.

Ketika kita mempunyai segala yang kita miliki di dunia ini yang sifatnya harta benda dan sebagainya akan tetapi kita tidak bisa menjalankan syariat ini dengan benar, ini pasti akan timbul kegelisahan, rasa ketakutan dan sebagainya.

Dalam ayat yang lain Allah berfirman: 
 
فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ  

"Maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.

Barang siapa yang datang kepada mereka petunjuk dari Allah. Barang siapa yang mengikutinya maka tidak ada kesedihan dan tidak ada rasa takut.


Tiga Tanda Orang Yang Berbahagia Menurut Ibnu Qayyim
Jamaah rahimakumullah. Di antara tanda-tanda kebahagiaan sebagaimana disimpulkan oleh Imam Ibnu Qayyim ada tiga hal kata beliau.

Tiga hal tersebut adalah: 

Pertama: Bersyukur ketika mendapatkan nikmat  
Kedua: Bersabar ketika mendapatkan cobaan  
Ketiga: Bertaubat ketika melakukan kesalahan

Ini tanda orang yang berbahagia. Semuanya kebaikan ya kaum muslimin, semuanya kebaikan.

Orang yang berbahagia itu ketika mendapatkan nikmat dia bersyukur. Dia tunduk dan bersyukur kepada yang memberi nikmat.

Ketika dia diberi kesehatan, diberi harta, diberi anak-anak yang sholeh, diberi istri-istri yang sholehah, dia tunduk terhadap yang memberikannya.


Hakikat Syukur Kepada Allah
Kenikmatan tersebut itu semuanya adalah pemberian Allah. Bersyukur kepada yang memberikan kenikmatan dengan meningkatkan ketaatan kepadanya.

Sehingga semestinya akan menimbulkan, menumbuhkan rasa cinta kepada pemberi nikmat. Dalam hal ini adalah Allah ta'ala.

Dan juga dia mengakui bahwa itu semuanya nikmat-nikmat yang diberikan adalah pemberian Allah ta'ala.

Tanda orang bersyukur itu mengetahui bahwasanya apa yang diberikan itu adalah pemberian dari Allah yang harus dibelanjakan sesuai dengan hak-haknya. Itu maksudnya.


Tanda Orang Yang Bersyukur
Orang yang bersyukur itu mengakui bahwa nikmat yang diberikan itu adalah pemberian dari Allah.

Makanya bersyukur ini harus diterjemahkan dalam tindakan.

Kita bersyukur diberi kesehatan, tindakannya apa? Kita rajin beribadah kepada Allah.

Kita bersyukur diberi keimanan, tindakannya apa? Kita jaga keimanan tersebut dengan amal sholeh.

Kita bersyukur diberi harta oleh Allah, tindakannya apa? Kita keluarkan zakat dan sedekah ketika sudah mampu.

Itu tanda orang yang bersyukur. 

Lalu juga kita memuji kepada pemberi nikmat tersebut. Dan juga kita tidak menggunakan nikmat yang kita miliki di dalam hal-hal yang dilarang oleh Allah ta'ala. 

Itulah tanda kebahagiaan menurut Imam Ibnul Qayyim yaitu bersyukur ketika mendapatkan nikmat.

Yang kedua adalah sabar ketika menghadapi cobaan.

Ada beberapa poin dalam sabar ini. Kata Imam Al-Ghazali:

Yang pertama adalah menahan hati untuk tidak merasa marah dengan ketentuan Allah ta'ala. 

Ketika kita menghadapi penyakit, kita akan menghadapi ujian dari Allah ta'ala. Tahan, jangan sampai kita menghujat kepada ketentuan Allah ta'ala.

Sudah barang tentu hal ini tidak bisa dilakukan oleh seorang kecuali dia memahami ilmunya. Seorang yang diberi musibah oleh Allah ta'ala ada banyak kemungkinan. 

Kemungkinannya semuanya baik asal kita bersabar.

Yang kedua kata beliau, menahan lisan untuk tidak mengadu kepada makhluk. 

Menahan lisannya untuk tidak mengadu kepada makhluk. 

Kalau kita diberi ujian, diberi musibah, usahakan yang pertama kita adukan musibah kita kepada Allah ta'ala. Jangan baru diberi musibah semua orang diceritani. 

Mengharap belas kasihan orang itu bukan akhlak kita kaum muslimin.

Yang baru terkena musibah sedikit di share di grup-grup agar semua orang menghiba kepada kita, itu bukan akhlak kaum muslimin.

Sabar. Ketika kita mendapatkan musibah dari Allah berupa sakit atau berupa apa saja, kita mengadu kepada Allah. Pasti Allah akan memberi jalan yang terbaik.

Bukan berarti kita tidak boleh mengabarkan. Akan tetapi kita mengabarkan musibah kita barangkali kepada orang yang memang diperlukan untuk diberitahu seperti saudara atau yang lain. 

Sedangkan yang lain tidak perlu. Kalau memang tidak perlu saudara mengetahui, tidak usah diberitahukan.

Kadang kalau tidak biasa memberitahu saudara, kadang-kadang juga berpikiran negatif. "Anggap lagi susah baru temen ngabari. Anggap senang orang itu ngabari". Maksudnya seperti itu.

Makanya penting untuk kita pahami. Agar supaya yang pertama kita adukan ketika kita menghadapi musibah adalah mengadu kepada Allah.

Yang ketiga adalah menahan anggota tubuh untuk tidak melakukan apa yang tidak dibolehkan. 

Ketika terjadi musibah misalnya sedih lalu panjenengan merobek baju, ataupun melakukan hal-hal yang membahayakan diri sendiri. Sirah dipentok-pentok sama tembok misalnya. Seperti itu tidak boleh.

Tanda Ketiga Orang Yang Berbahagia: Bertobat Ketika Melakukan Kesalahan
Yang terakhir yaitu bertobat ketika melakukan kesalahan. 

Orang yang berbahagia itu senantiasa sadar ketika salah. Dia tahu bahwa itu salah. Karena tahu bahwa itu salah.

Maka dia senantiasa bersegera bertaubat. 
Taubatnya banyak caranya. Di antaranya cara yang mudah: iringi kesalahan dengan perbuatan baik.

Itu ketika panjenengan sudah merasa baru saja melakukan dosa, cepat diganti dengan perbuatan baik. 

Dengan sedekah, dengan sholat, dengan membaca Al-Quran, atau dengan cara membantu orang, memberi makan kepada orang. Bersegera agar supaya dosa tersebut segera dihapus.

Inilah kata Imam Ibnu Qayyim rahimahullah.

Ini resep-resep agar kita mendapatkan kebahagiaan di dunia. 

Nah orang yang mendapatkan kebahagiaan di dunia, insyaAllah akan berbahagia di akhirat. 

Akan tetapi ketika seseorang tidak bisa mendapatkan kebahagiaan di dunia, di akhirat lebih celaka lagi. 

Ya di dunia sudah miskin, di akhirat lebih miskin. 
Di dunia sudah sengsara, di akhirat lebih sengsara. Na'udzubillah.

Kita akhiri dengan khawatir.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ  

"Maha Suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ  

Komentar