Tiga Macam Kesabaran: Dalam Ketaatan, Menjauhi Maksiat, dan Menghadapi Musibah

Sumber: Kajian 
Penceramah: Ustadz Sri Kusdiyono
Ditulis: Admin

📖 Baca Kumpulan Transkrip Kajian Lumbir Mengaji di sini
Dalam masjid jami dengan hiasan lampu, Tiga Macam Kesabaran: Dalam Ketaatan, Menjauhi Maksiat, dan Menghadapi Musibah
Transkrip Kajian Lumbir Mengaji

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ  
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ  

الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Jamaah kaum muslimin rahimakumullah  
Kita senantiasa berwasiat kepada diri kita sendiri dan juga saling berwasiat satu sama lain untuk senantiasa saling mengingatkan dalam kebenaran dan dalam kesabaran.

Karena memang hal ini menjadi salah satu ciri daripada orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir.

Saling menasehati di dalam kebaikan dan takwa. Dan saling melarang di dalam hal kemungkaran dan kemaksiatan kepada Allah azza wa jalla.


Tiga Macam Kesabaran
Pada kesempatan yang mulia ini sedikit kami akan menyampaikan terkait dengan sabar.

Jamaah rahimakumullah, dalam Al-Quran Allah berfirman:  

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ  

"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan bersiap siagalah kalian dan juga bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.  [QS. Ali Imran: 200]

Dari firman Allah yang mulia ini Allah memberikan tegasan kepada kita semuanya untuk senantiasa menjadi orang-orang yang sabar.

Makna sabar secara bahasa adalah menahan diri. Jadi orang yang sabar adalah orang yang mampu untuk menahan dirinya.

Dan para ulama biasanya membahas terkait sabar ini menjadi tiga permasalahan:

Yang pertama adalah menahan diri untuk istiqomah di dalam ketaatan kepada Allah tabarak wata'ala. Menjaga diri dalam menjalankan perintah-perintah Allah. Menjaga hukum-hukumnya dan kesemuanya.

Yang kedua adalah bersabar di dalam menjauhi larangan-larangan Allah. Menjauhi apa-apa yang diharamkan oleh Allah. Menjauhi segala perbuatan dosa dan maksiat.

Sedangkan sabar yang ketiga adalah sabar dikala menghadapi ketentuan Allah atau musibah yang kadang terasa pahit.

Ini tiga perkara yang biasanya dibahas oleh para ulama ketika membahas masalah sabar. Dan ini semuanya tidaklah dimiliki oleh seseorang kecuali dia memiliki sebuah keutamaan.


Beratnya Sabar Dalam Ketaatan
Yaitu kesabaran dalam ketaatan kepada Allah. Kita tidak pernah membayangkan bahwasanya kalau kita tidak diberi kesabaran oleh Allah kita masih akan istiqomah.

Bagaimana kita bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah ini memang sangat berat. Sangat berat baik bagi fisik maupun bagi hati.

Bagaimana tidak berat, panjenengan setiap hari harus pagi-pagi harus bangun untuk menjalankan shalat subuh sedangkan fisik kita merapat, panjenengan kepenginnya merem. Ini ujian dari Allah ta'ala. Butuh kesabaran secara fisik memang berat.

Memang berat sekali untuk menjalankan ketaatan kepada Allah azzawajalla.

Misalnya lagi dalam hal yang lain, kita diperintah untuk mempelajari Al-Quran. Untuk bisa menghafal Al-Quran.

Kata para ulama untuk menghafal satu surat itu minimal dua puluh kali sehari membacanya, murojakahnya.

Untuk bisa membaca menghafal Al-Quran itu panjenengan harus membacanya berulang-ulang.


Manfaatkan Masa Muda Untuk Menghafal Al-quran
Situasi kita kalau sudah tua, segala macam kemampuannya sudah sangat berkurang. Itu nih yang muda terutama monggo.

Kedudukan kita nanti di yaumul kiamat tergantung seberapa kita menghafal Al-Quran.

Rasulullah shalallahualaihi wasallam dalam sebuah haditsnya mengisyaratkan begitu. Kedudukan kita di akhir nanti sesuai dengan hafalan yang kita punya. Semakin banyak kita hafal berarti kedudukan kita nanti di mata Allah ta'ala akan semakin tinggi.

Dari zaman dahulu sudah ada ungkapan Al Hakumut Takasur. Tapi sekali lagi untuk yang muda, monggo sempatkan waktu.


Beratnya Ketaatan Dan Keutamaan Kaum Muda
Ketaatan kepada Allah memang sesuatu yang sangat berat. Sangat sangat berat bagi fisik, bagi otak, bagi hati.

Fisiknya sudah apalagi kalau sudah berumur kayak saya. Ketika shalat saja ya mau menjalankan segala sesuatunya terkadang fisiknya lemah.

Berbeda dengan kaum muda. Kaum muda masih sangat fit. Masih sangat prima untuk menjalankan ibadah. Ibadah yang memang dibutuhkan kesabaran itu.

Para ulama rahimahullah ketika bulan Ramadhan, banyak di antara mereka yang menghatamkan Al-Quran berkali kali dalam bulan Ramadhan ini. Ada yang tiga hari sekali katam, ada yang tujuh hari sekali katam.

Dan kita semestinya berusaha untuk itu. Akan tetapi khususnya kita karena kita ini tidak memahami atau belum memahami bahasa Arab.

Saya sering sampaikan alangkah lebih baik kalau sekiranya panjenengan membaca Al-Quran berserta terjemahannya. Karena ini lebih berfaedah bagi kita.

Kalau para ulama mereka ketika membaca Al-Quran seperti membaca koran. Artinya langsung paham, tahu terjemahannya, tahu maksudnya. Sedangkan secara umum kita semuanya belum seperti itu.

Jadi monggo ini yang penting rajin membaca Al-Quran berapapun ayatnya.


Melawan Nafsu Dalam Ketaatan Dan Harta
Belum lagi terkait dengan hati kita. Ketika kita menjalankan ketaatan kepada Allah, hati kita kadang menolak.

Sesungguhnya nafsu ini senantiasa menyuruh kepada keburukan kecuali nafsu yang dirahmati oleh Allah 'azza wa jalla.

Ketika kita mau berbuat taat, pasti hati kita kadang mengajak rebahan.

Apalagi terkait dengan harta. Ketaatan dalam masalah harta, hati ini kadang atau jiwa kita kadang memberontak.

Ketika kita mendapatkan harta dari Allah subhanahu wa ta'ala, hati kita kadang usaha menghalang halangi kita untuk berbuat kebaikan dengan segala macam pikiran.

Kita merasa bahwa harta kita adalah milik kita hak. Dan sebagainya sehingga tidak perlu kita untuk berzakat, berinfak, bersedekah.


Melatih Diri Untuk Taat Kepada Allah
Ketaatan kepada Allah baik secara dari segi fisik maupun dari segi hati atau jiwa kita.

Sekali lagi, ketika kita menjalankan syariat-syariat Allah ta'ala kita harus berusaha untuk memaksimalkan. Atau memaksa diri kita untuk taat kepada Allah ta'ala.

Karena kalau tidak dipaksa tidak mungkin bisa taat kepada Allah. Kalau tidak dipaksa fisik perlu dilatih. Jiwa juga perlu dilatih untuk bisa ikhlas dalam beribadah.

Kita harus melatih diri kita baik secara fisik maupun secara kejiwaan. Untuk bisa ikhlas ketika kita menjalankan shalat beribadah. Yang lumayan panjang misalnya dalam shalat malam.


Membiasakan Diri Dalam Ibadah
Kita harus melatih. Kalau sudah terbiasa alhamdulillah kita terbiasa, kita mungkin merasakan sendiri.

Panjenengan mungkin dahulu awal-awal merasa ketika suratnya panjang, kayak kok lama sekali.

Tapi lama kelamaan sudah terbiasa. Ini makna bahwa kita harus melatih diri kita baik secara fisik maupun secara psikis, secara mental.

Agar supaya kita terbiasa menjalankan ketaatan kepada Allah. Ketika sudah terbiasa baru kita menata hati kita. Agar supaya tetap ketika walaupun kita beribadah dalam waktu yang cukup lama, kita bisa tetap khusyuk, tetap ikhlas kepada Allah ta'ala.


Bandingkan Dengan Ibadahnya Nabi Dan Para Sahabat
Kalau kita bandingkan dengan ulama, apalagi dengan Rasulullah shalallahualaihi wasallam, ini sungguh ibaratnya satu banding seratus.

Kalau shalat kita dengan shalatnya para ulama, para ambia itu sangat jauh. Padahal Nabi shalallahualaihi wasallam orang yang sudah dijamin surga, sudah diampuni dosanya. Itu shalatnya masih digambarkan sampai kakinya bengkak.

Para sahabat radhiyallahu anhu kadang mereka berdiri saking lamanya shalat itu sampai pegangan tongkat. Benar-benar jaman sahabat mereka benar-benar diuji, dilatih oleh Rasulullah shalallahualaihi wasallam. Untuk sabar di dalam menjalankan ketaatan kepada Allah ta'ala itu.


Ujian Sabar Saat Shalat Malam
Apalagi ketika kita dalam keadaan malam hari. Kita sudah banyak melakukan aktivitas siang hari, malamnya harus shalat tarawih misalnya.

Kalau kita tidak sabar, sebentar saja hati akan menolak.


Terus Menerus Dalam Ketaatan Dan Melawan Hawa Nafsu
Ini adalah untuk senantiasa terus menerus di dalam ketaatan kita kepada Allah ta'ala. Jangan sampai kendor. Jangan biarkan hati kita terlalai dari dzikrullah.

Jangan sampai kita biasa mengalah dengan hawa nafsu kita. Jangan sampai.

Kita setiap hari seperti itu dan setiap saat. Bahkan sehari sampai lima kali kita diuji. Kita harus siap siaga untuk memusuhi hawa nafsu kita. Dan itu butuh latihan yang kontinyu.


Tiga Jenis Sabar Yang Disebutkan Dalam Al-quran
Yang biru yang panjang itu adalah sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah.

Kalau yang biru pendek itu artinya sabar dalam menghindari hal yang diharamkan oleh Allah ta'ala.

Bahasa Arab subhanallah sangat tinggi kandungan maknanya. Sehingga kalau kita sedikit mau mempelajarinya sangat mulia sangat indah.

Bahasa yang dipilih oleh Allah sebagai bahasa Al-Quran. Makanya penting untuk kita berusaha sedikit memahami.


Sabar Dalam Menjauhi Kemaksiatan
Yang kedua yaitu sabar di dalam hal-hal yang diharamkan oleh Allah.

Kita juga harus melatih fisik dan mental. Terutama kalau hal-hal yang diharamkan kita harus banyak melatih mental kita, jiwa kita. Kita pilih untuk menjauhi hal-hal yang diharamkan.

Karena hal-hal yang diharamkan oleh Allah semuanya sangat lezat bagi diri kita. Sangat enak untuk dinikmati secara tubuh kita.

Bagaimana tidak menarik? Misalnya ada harta yang banyak menumpuk di depan mata. Harta segunung walaupun itu bentuknya adalah harta hasil korupsi. Itu kan sangat menggoda sekali.

Atau misalnya panjenengan di depan mata melihat sebuah kemaksiatan yang sangat glamor di dalam kehidupan dunia. Baik dari wanita yang cantik ataupun hiburan yang menggairahkan. Itu semuanya membutuhkan kesabaran dari diri kita untuk menahan.


Sabar Dalam Menghadapi Ketentuan Allah
Lanjutnya Allah berfirman: 
 
وَرَابِطُوا  

Artinya: dan bersiap siagalah kalian.  [QS. Ali Imran: 200]

Warobitu artinya banyak melakukan kebaikan secara berkesinambungan.

Dalam surat Ma'arij Allah berfirman: 
 
الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ  

"Orang-orang yang dalam shalat mereka daimun.  [QS. Al-Ma'arij: 23]

Daimun artinya terus menerus melakukan shalatnya sampai mati. Senantiasa seperti itu.

Karena memang kita diperintah oleh Allah:  

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ  

"Sembahlah Allah sampai datang sesuatu yang diyakini yaitu kematian.  [QS. Al-Hijr: 99]


Keutamaan Orang Yang Sabar Menghadapi Musibah
Ini kalau tidak kita latih, kalau tidak kita memaksakan diri kita, sekali lagi tidaklah mungkin bisa kita taat kepada Allah. Baik dalam hal kebaikan, ataupun taat kepada Allah dalam menjauhi hal yang diharamkan oleh Allah ta'ala.

Sedangkan taat yang ketiga kata para ulama adalah sabar. Maknanya adalah sabar yang kita pahami.

Sabar ketika kita mengalami takdir yang buruk atau musibah yang buruk. Karena ini pasti akan terjadi. Semua orang mengalami.

Ketika kita mendapati sesuatu yang buruk kepada diri kita, apa yang menimpa kalian dari sisi Allah. Yakin saja, barang siapa beriman kepada Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya.

Makanya ketika sesuatu yang buruk menimpa diri kita, bersabar. Bahwasanya kita yakini bahwasanya Allah tidak akan memberikan ujian kepada kita kecuali sesuai dengan kesanggupan kita.

Tidaklah Allah memberikan ujian kepada kita, musibah menimpa diri kita kecuali Allah akan mengangkat derajat kita. Asal kita mau bersabar.

Maka orang-orang yang bisa bersabar ketika menghadapi musibah buruk yang menimpa dirinya. Apa saja.

Karena musibah buruk pasti akan terjadi kepada kita. Baik terkait harta, terkait dengan jiwa, terkait dengan segala macam.

Semua orang akan mengalaminya dan setiap orang ujiannya sendiri-sendiri.

Ketika kita menghadapi ujian dari Allah ta'ala jangan merasa bahwasanya kita sendiri yang diuji oleh Allah. Semuanya diuji. Semuanya punya masalah dalam kehidupan di dunia ini. Hanya masing-masing memang berbeda.

Jadi monggo untuk bisa senantiasa sabar.

Ketika kita bisa menjalani itu semuanya, kita akan mendapatkan sholawat dari Tuhan. Dari Allah tabarakuwataala. Dan diberi titel sebagai orang-orang yang mendapatkan hidayah. Atau orang-orang yang mendapatkan petunjuk dari Allah tabarakuwataala.

Jamaah subuh rahimakumullah. Itulah pilihan daripada tiga klasifikasi kesabaran.

Mudah-mudahan bisa menambah pemahaman kita sehingga kita bisa termotivasi untuk senantiasa sabar dalam ketakwaan, sabar dalam menjauhi kemaksiatan, dan sabar ketika ditimpa musibah.

Kita akhiri dengan kafaratul majelis: 
 
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ  

"Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ  

Komentar