Merajut Keharmonisan Rumah Tangga di 10 Hari Terakhir Ramadhan
Sumber: Kajian
Penceramah: Ustadz Sri Kusdiyono
Ditulis: Admin
Transkrip Kajian Lumbir Mengaji
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Jamaah Subuh rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa saling berwasiat kepada diri kita sendiri, kepada keluarga kita, kepada saudara-saudara kita, dan kepada lingkungan kita untuk senantiasa bersabar.
Bersabar di dalam menjalani ketaatan kepada Allah Ta'ala. Bersabar untuk berusaha menghindari semua larangan-larangan Allah Ta'ala. Dan bersabar dalam setiap keadaan yang menimpa kita.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
"Dan saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran" [QS. Al-'Ashr: 3]
Meneladani Rasulullah Di 10 Hari Terakhir Ramadhan
Kita memasuki hari-hari akhir di bulan Ramadhan. Hendaknya kita semakin berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
Agar supaya 10 hari terakhir ini dimanfaatkan untuk taqarrub ilallah. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam ketika memasuki 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, beliau mengencangkan ikat pinggangnya. Beliau lebih fokus untuk beribadah kepada Allah Tabarakawa Ta'ala untuk menggapai kemuliaan.
Mengapa Rasulullah melakukan demikian padahal beliau sudah dijamin surga? Karena memang Rasulullah mencintai ibadah kepada Allah Ta'ala. Sekaligus beliau menjadi uswatun hasanah, sebagai contoh bagi kita kaum muslimin. Agar kita mencontoh beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam di dalam setiap amal ibadah kita.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ
"Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersungguh-sungguh pada 10 hari terakhir Ramadhan melebihi kesungguhan beliau pada waktu lainnya" [HR. Muslim no. 1175]
Keutamaan Pahala Yang Dilipatgandakan
Jamaah rahimakumullah, di akhir bulan Ramadhan Allah menyediakan kemudahan-kemudahan bagi kita untuk mendapatkan pahala di sisi Allah Tabarakawa Ta'ala.
Jika kita membandingkan dosa-dosa kita dengan besarnya nikmat surga yang nilainya tidak bisa dinilai dengan harta, maka kita tidak akan mampu. Tidaklah seorang bisa memasuki surga kecuali karena rahmat Allah Ta'ala.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa melipatgandakan pahala kebaikan. Dari 10 sampai 700 kali lipat, bahkan Allah melipatgandakan dengan tidak terhitung bagi siapa yang Dia kehendaki.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
مَن جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا
"Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya pahala 10 kali lipat" [QS. Al-An'am: 160]
Kemuliaan Malam Lailatul Qadar
Termasuk di dalamnya adalah Malam Lailatul Qadar yang kadarnya lebih baik daripada seribu bulan.
InsyaAllah kaum muslimin yang terbiasa menjalankan ibadah kepada Allah, semuanya akan mendapatkan Lailatul Qadar. Walaupun pada malam itu dia sedang tidur, sedang memasak, atau sedang melakukan aktivitas lain dalam rangka beribadah kepada Allah, maka semuanya akan dinilai sebagai ibadah.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
"Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan" [QS. Al-Qadr: 3]
Anjuran I'tikaf Di Masjid
Sudah barang tentu nilainya berbeda antara orang yang tidur dengan orang yang beri'tikaf. Walaupun sama-sama mendapatkan Lailatul Qadar, akan tetapi tingkatannya berbeda.
Berbeda antara orang yang membaca Al-Quran di rumah dengan orang yang beri'tikaf di masjid. Maka dari itu, mari kita manfaatkan sisa waktu di 10 hari terakhir ini untuk memperbanyak i'tikaf di masjid. Terutama bagi kaum laki-laki.
Adapun bagi kaum ibu, diperbolehkan dengan syarat utama mendapatkan izin dari suami. Jika tidak diizinkan maka tidak diperbolehkan.
Kami tertarik dengan materi ini karena memang sangat penting. Hal ini berkaitan dengan kehidupan kita sehari-hari. Berkaitan dengan kehidupan kita di dalam keluarga.
Bagaimana kita berakhlak dengan anak dan istri kita. Bagaimana kita berakhlak dengan lingkungan kita. Bagaimana kita berakhlak dengan siapa saja.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah memberikan gambaran secara global maupun rinci di dalam Al-Quran dan Sunnah-Sunnah yang shahihah. Hanya saja kebanyakan orang tidak mau atau belum sempat untuk membahasnya. Sehingga terkadang tidak diperhatikan oleh kita semuanya.
Allah Ta'ala menciptakan kita manusia. Tujuan penciptaan manusia secara umum terdapat dalam Surat Az-Zariyat.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku" [QS. Az-Zariyat: 56]
Jika seseorang tidak memahami hal ini, berarti ia mengira manusia diciptakan tanpa tujuan. Padahal Allah menciptakan manusia dan jin tidaklah diciptakan kecuali untuk menyembah Allah.
Para ulama menjelaskan bahwa makna "beribadah" di sini mencakup seluruh aktivitas hidup seorang muslim.
Memanfaatkan Waktu 24 Jam Untuk Ibadah
Waktu kita untuk shalat, untuk puasa, untuk membaca Al-Quran, mungkin sehari hanya satu jam. Itupun belum tentu sampai.
Padahal Allah memberikan kita waktu 24 jam dalam sehari. Jika kita tidur 6 jam, dan shalat 5 waktu di masjid kurang lebih 1 jam, maka masih tersisa sekitar 17 jam.
Ini kata para ulama: apapun yang kita lakukan dalam 17 jam tersebut, jika kita niatkan untuk beribadah kepada Allah, maka itu akan bernilai ibadah.
Di antara 17 jam itu, kita alokasikan 8 jam untuk bekerja. Standarnya memang 8 jam. Berarti masih ada 9 jam.
9 jam itu biasanya secara umum kita habiskan di rumah bersama anak dan istri. Kecuali orang-orang yang sangat sibuk, yang bekerja sampai 17 jam, atau bahkan 24 jam.
Kebahagiaan Seorang Muslim Adalah Rindu Pulang Ke Rumah
Padahal dalam kajian yang lalu telah disampaikan, di antara tanda orang yang berbahagia adalah rindu pulang ke rumah.
Dan kita semestinya sebagai kaum muslimin menjadikan setiap waktu kita bernilai ibadah dengan niat yang benar.
Di 10 hari terakhir Ramadhan kita senantiasa berusaha untuk menghabiskan waktu kita sebanyak mungkin di rumah ketika memang untuk hal-hal yang kita perlukan.
Jangan terbiasa berada di luar rumah untuk hal-hal yang tidak diperlukan. Karena secara umum kehidupan sepasang suami istri, kita banyak menghabiskan waktu kita bersama anak dan istri.
Dan secara otomatis, ibadah yang paling banyak adalah ketika kita bermuamalah atau bergaul dengan anak dan istri.
Agar semuanya dari bangun tidur sampai tidur lagi bernilai ibadah.
Jamaah rahimakumullah, bahwasanya agama Islam ini adalah agama yang sungguh sangat sempurna. Tidak ada satupun yang luput dari agama ini. Dari perkara akidah, perkara ibadah, perkara muamalah, akhlak, adab dan sebagainya semuanya terangkum.
Islam Mengatur Kehidupan Tanpa Paksaan
Islam mengatur kehidupan kita sedemikian rupa. Akan tetapi tidak ada paksaan dalam agama.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ
"Tidak ada paksaan dalam agama" [QS. Al-Baqarah: 256]
Ketika kita mengikuti aturan-aturan syariat agama Allah yang sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah, maka itu pasti kita selamat. Dijamin oleh Allah.
Akan tetapi ketika kita mengikuti jalan-jalan yang lain, maka pasti akan tersesat dari jalan Allah yang lurus.
Laki-Laki Terbaik Adalah Yang Baik Kepada Keluarga
Kembali kepada tema kita pada pagi hari ini yaitu bagaimana kita bermuamalah di dalam keluarga kita bersama anak dan istri kita.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya. Dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluargaku" [HR. Tirmidzi no. 3895, Ibnu Majah no. 1977]
Laki-laki yang paling baik di antara kalian di antara kaum muslimin adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Yang paling baik terhadap anak dan istrinya.
Dan Rasulullah adalah orang yang paling baik kepada istrinya dan kepada keluarganya secara umum.
Agama Islam tidak mengatakan orang yang paling baik adalah orang yang paling banyak hafalan Al-Qurannya. Rasulullah tidak mengatakan demikian. Orang yang paling baik bukan yang paling rajin shalatnya saja.
Akan tetapi yang paling baik adalah yang paling baik kepada istrinya atau kepada keluarganya.
Ibadah Harus Berdampak Dalam Kehidupan Sehari-Hari
Ini menandakan bahwasanya segala amal ibadah kita yang wajib itu sebagai wasilah. Bahwasanya amal ibadah kita harus kita terjemahkan dalam kehidupan sehari-hari.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
"Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar" [QS. Al-Ankabut: 45]
Artinya shalat kita, semua ibadah kita harus berdampak kepada kehidupan kita di dalam masyarakat, terutama di dalam keluarga.
Rasulullah senantiasa menjadikan keluarga ini sebagai barometer utama. Apakah seorang itu benar atau tidak ketakwaannya kepada Allah Ta'ala adalah dilihat bagaimana dia berakhlak kepada istri dan anak-anaknya.
Walaupun dia terlihat alim, terlihat ahli ibadah, kalau dia dengan keluarganya buruk akhlaknya, maka itu perlu dipertanyakan.
Akhlak Mulia Di Dalam Keluarga
Sesungguhnya menjadi manusia terbaik adalah yang terbaik akhlaknya di dalam kacamata syariat.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ
"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya" [HR. Tirmidzi no. 3895]
Sebaliknya, seseorang yang berakhlak tidak mulia kepada anak dan istrinya, maka akhlaknya belum sempurna.
Berinfak Kepada Istri Adalah Ibadah
Dari hadis yang lain, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي امْرَأَتِكَ
"Sesungguhnya tidaklah engkau menginfakkan nafkah untuk mengharap wajah Allah kecuali engkau akan diberi pahala, sampai pun suapan yang engkau berikan ke mulut istrimu" [HR. Bukhari no. 56, Muslim no. 1628]
Perhatikan hadis Rasulullah ini. Sampai menyuapi istri pun diajarkan oleh agama Islam. Jika hal itu diniatkan untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala, maka itu adalah sebuah ibadah yang bernilai pahala.
Inilah bentuk romantis di dalam keluarga yang diajarkan Islam.
Akan tetapi yang terjadi saat ini, suap-suapan justru dilakukan kepada yang bukan mahram. Hal ini justru bukan mendatangkan pahala, malah mendatangkan dosa.
Sedangkan menyuapi istri sendiri dengan niat karena Allah, satu suapan pun bernilai pahala.
Maka penting bagi kita untuk merubah paradigma dan pola pikir kita dalam berkeluarga.
Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga
Kadang kita ketika sudah berkeluarga lama, menganggap istri kita sudah seperti saudara atau teman biasa saja. Sehingga komunikasi dan bercanda berkurang.
Jangan sampai semakin tua malah semakin tidak betah di rumah dan tidak bahagia di rumah. Bagaimana kita bisa betah di rumah jika kita tidak berusaha menghidupkan suasana rumah?
10. Keindahan Ajaran Islam Tentang Keluarga
Lihatlah bagaimana indahnya syariat agama Allah ini. Romantis di dalam keluarga juga diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam kepada kita semuanya.
Kita kadang belum memahami bahwa itu adalah ajaran agama. Bercanda, memanggil dengan panggilan sayang, dan bergurau dengan istri adalah hal yang dianjurkan.
Hal ini dilakukan agar timbul kembali kemesraan dan keromantisan di dalam keluarga. Terlebih bagi pasangan yang sudah lama berumah tangga.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
كُلُّ شَيْءٍ لَيْسَ فِيهِ ذِكْرُ اللَّهِ فَهُوَ لَهْوٌ إِلاَّ أَرْبَعٌ... وَمُلاَعَبَةُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ
"Setiap perkara yang di dalamnya tidak ada dzikir kepada Allah adalah sia-sia kecuali 4 perkara... diantaranya adalah seorang suami bercanda dengan istrinya" [HR. An-Nasa'i, Shahih]
Di awal pernikahan mungkin rasa cinta dan bahagia itu sangat terasa. Namun seiring berjalannya waktu, sebagai manusia hal itu adalah wajar.
Agar perasaan cinta kita kepada istri dan kepada anak-anak kita tetap langgeng, maka perlu untuk terus diupgrade. Tujuannya agar rumah tangga tetap harmonis dan langgeng.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah memberikan rambu-rambu bagaimana kita menempuh perjalanan kehidupan suami istri. Tujuannya agar kita selamat di dunia dan di akhirat.
Kita harus menanamkan bahwa istri kita harus menjadi istri di dunia dan di akhirat. Begitu juga para ibu, hendaknya menjadikan suami sebagai teman di dunia dan di akhirat. Berusaha agar di dunia bersama dan di akhirat di surga juga bersama. InsyaAllah.
Hal ini tidak hanya berlaku untuk suami istri. Dalam berteman dan bertetangga pun demikian. Mudah-mudahan kita juga bisa bertetangga di surga. Allahumma Amin.
Jamaah rahimakumullah, ada banyak ayat dalam Al-Quran yang menjelaskan tentang hal ini. Salah satu ayat yang akan kita perhatikan adalah ayat yang terkait perintah puasa.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ
"Dihalalkan bagi kalian pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kalian. Mereka adalah pakaian bagi kalian, dan kalian adalah pakaian bagi mereka" [QS. Al-Baqarah: 187]
Allah mengetahui bahwasanya kalian tidak bisa menahan diri. Maka Allah memberikan taubat kepada kalian dan memberi maaf kepada kalian. Maka sekarang gaulilah istri-istri kalian dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kalian.
Perhatikan ayat ini. Ayat yang sangat mulia dan sangat romantis. Makanya diistilahkan dengan "Ayat-Ayat Cinta".
Bagaimana agama ini tidak hanya mengatur urusan shalat dan puasa, bahkan urusan dengan istri kita pun diatur. Bagaimana cara kita bergaul dengan istri, itu diarahkan oleh Allah dengan cara-cara yang benar sesuai syariat.
Kalimat "suami adalah pakaian bagi istri, dan istri adalah pakaian bagi suami" memiliki makna yang dalam. Ketika kita memahami kalimat ini, maka kita harus tahu apa fungsi pakaian.
Agama Islam adalah agama yang kaffah, menyeluruh tentang seluruh kehidupan manusia. Islam tidak tabu untuk membicarakan hal-hal seperti ini.
Karena memang di dalam Al-Quran maupun Sunnah yang shahihah, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam banyak mengajarkan bagaimana kita mempergauli istri kita. Termasuk urusan-urusan khusus antara suami dan istri.
Dua Fungsi Pakaian Dalam Rumah Tangga
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ
"Mereka adalah pakaian bagi kalian, dan kalian adalah pakaian bagi mereka" [QS. Al-Baqarah: 187]
Pakaian memiliki banyak fungsi. Secara umum ada tiga fungsi utama yang bisa kita ambil pelajarannya:
Pertama: Menutup Aurat
Jika Allah mengatakan suami adalah pakaian bagi istri dan istri adalah pakaian bagi suami, maka fungsi pertama adalah menutup aurat.
Maka seorang suami tidak boleh mengumbar aurat istrinya. Tidak boleh menceritakan kekurangan-kekurangan istri kepada siapapun. Begitu juga sebaliknya, seorang istri haram untuk menceritakan kekurangan-kekurangan suami kepada orang lain.
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا
"Sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang bersetubuh dengan istrinya lalu dia menyebarkan rahasianya" [HR. Muslim no. 1437]
Ketika ada suami istri yang saling merendahkan atau membuka aib pasangannya, berarti ia sudah melepaskan "pakaiannya". Ia berjalan di tengah masyarakat dalam keadaan telanjang.
Karena kekurangan suami atau istri sudah disebarluaskan sendiri. Inilah mengapa agama Islam memberikan arahan yang sangat ketat agar kehidupan suami istri menjadi berkah dan benar.
Fungsi Kedua: Saling Melindungi
Fungsi kedua dari pakaian adalah melindungi dari panas, dingin, dan penyakit. Artinya seorang suami dan istri harus saling melindungi.
Suami melindungi istri agar tidak terkena penyakit-penyakit, baik penyakit fisik maupun penyakit hati. Jangan sampai seorang suami malah menyakiti istrinya, baik secara fisik maupun melalui lisan.
Kadang ucapan dari lisan itu lebih terasa sakitnya. Luka di tubuh mungkin bisa sembuh, tetapi ucapan yang melukai hati akan lebih susah untuk hilang.
Ini penting terutama bagi yang masih muda. Agar rumah tangga tetap berada dalam koridor sakinah, mawadah, warahmah.
Ingat, lidah itu kadang-kadang lebih tajam daripada pedang. Bukan hanya suami, istri juga demikian. Jangan sampai menyakiti hati suami dengan perkataan.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
"Dan bertuturlah kepada manusia dengan perkataan yang baik" [QS. Al-Baqarah: 83]
Jamaah rahimakumullah, masih banyak yang bisa disampaikan. Akan tetapi waktu kita terbatas. InsyaAllah akan kita lanjutkan di kesempatan berikutnya.
Mari kita akhiri majelis ini dengan doa kaffaratul majelis. Semoga Allah memberikan kita kesempatan untuk terus belajar dan mengamalkan ilmu.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
"Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau. Aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Komentar
Posting Komentar