Menata Hati Dan Menjadikan Keluarga Sebagai Pakaian
Sumber: Kajian
Penceramah: Ustadz Sri Kusdiyono
Ditulis: Admin
📖 Baca Kumpulan Transkrip Kajian Lumbir Mengaji di sini
Transkrip Kajian Lumbir Mengaji
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Jamaah Subuh Yang Dirahmati Oleh Allah Ta'alla.
Marilah kita semuanya senantiasa bersabar untuk saling berwasiat di dalam kebenaran.
Untuk saling berwasiat dalam rangka sama-sama berusaha menghindari apa-apa yang dilarang oleh Allah Ta'ala.
Saling berwasiat di dalam kebaikan, di dalam kesabaran, dalam segala sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan kita di dunia dan akhirat.
InsyaAllah.
Hal ini akan menguatkan keimanan kita dan ketakwaan kita kepada Allah Ta'ala.
Hati Manusia Mudah Berbolak-Balik
Karena memang secara fitrah manusia mempunyai hati yang lemah.
Hati kita adalah sangat mudah untuk berbolak-balik.
Jiwa kita sangat mudah untuk melakukan keburukan-keburukan.
Untuk itu Allah Subhanahu Wa Ta'ala melihat amalan seseorang itu bukan dari fisiknya.
Bukan dari orangnya. Akan tetapi yang dilihat adalah hatinya.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengabarkan kepada kita dalam sebuah hadis:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
"Ingatlah, sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika baik maka baiklah seluruh tubuh. Dan jika rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ingatlah, ia adalah hati" [HR. Bukhari no. 52]
Rasulullah menyampaikan sesuatu yang harus kita pahami.
Bahwasanya sesungguhnya di dalam jasad kita, di dalam tubuh kita ada segumpal daging.
Ketika baik maka baik keseluruhan tubuh kita.
Dan ketika buruk maka keseluruhan tubuh kita menjadi buruk.
Ingatlah kata Rasulullah bahwa bagian tersebut adalah hati kita. Hati kita yang ada di dalam dada kita.
Tidaklah seorang yang mempunyai perbuatan baik atau perbuatan buruk, semuanya tergantung daripada hatinya.
Hatinya yang sudah terbentuk dari muda, dari kecil.
Hati Adalah Tempat Mengendapnya Keyakinan
Hati kita tempatnya semua keyakinan yang kita rangkum dalam kehidupan kita.
Karena memang kita diciptakan oleh Allah mempunyai indra-indra yang bisa menangkap semua yang masuk ke dalam diri kita.
Lalu menyaringnya dan ada yang mengendap-ngendapnya di dalam hati kita.
Segala sesuatu yang baik ataupun yang buruk tergantung mana yang lebih dominan.
Semuanya mengendapnya ada di dalam hati kita.
Kalau yang mengendap adalah kebaikan-kebaikan, nilai-nilai kebaikan.
Maka hati kita menjadi hati yang baik.
Sehingga ketika hati kita baik, semua anggota tubuh kita akan melakukan kebaikan-kebaikan. Karena hati yang menyuruhnya.
Akan tetapi ketika yang tersimpan di dalam hatinya dari mulai kecil sampai dewasa semua informasi-informasi ternyata yang tersimpan adalah keburukan-keburukan.
Maka seluruh yang dia kerjakan, yang dia lakukan semuanya buruk.
Ini penting untuk kita pahami.
Dan hati kita, hati manusia secara umum adalah yang lebih dominan adalah hati-hati yang seperti disebutkan oleh Allah:
فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ
"Dalam hati mereka ada penyakit" [QS. Al-Baqarah: 10]
Tiga Macam Hati Menurut Para Ulama
Dalam syariat kita, para ulama menjelaskan hati ini ada tiga macam:
Kalbun Salim, Kalbun Mayyit, Kalbun Marid.
Hati yang sehat, yang selamat. Hati yang sakit. Dan hati yang mati.
Yang selamat sangat sedikit jumlahnya.
Yang mati banyak. Yang mati orang yang hatinya mati. Berarti dia sudah tidak bisa mendengarkan kebenaran. Tidak mau memahami kebenaran.
Menutup mata dan telinganya untuk semua kebenaran.
Itu hatinya mati. Bahkan Allah sudah mengunci mati hati mereka.
Dikunci sehingga tidak lagi bisa menerima kebenaran-kebenaran.
Apapun yang disampaikan terkait kebenaran, orang yang hatinya mati tidak akan bisa menerimanya.
Hati Yang Selamat Dan Hati Yang Sakit
Sedangkan hati-hati yang selamat, insyaAllah walaupun itu sedikit itu bisa kita raih.
Sementara hati yang marid itu yang sangat banyak secara umum manusia.
Lebih banyak manusia yang hatinya berada dalam kategori kalbun marid, hati yang sakit.
Hanya memang penyakit hati ini masing-masing dari kita hampir semuanya memilikinya. Hanya tergantung apakah besar atau kecil, atau dominan atau tidak.
Karena penyakit hati ini sangat, sangat banyak.
Dan wajib bagi kita semuanya untuk senantiasa berobat.
Ya bukan hanya untuk penyakit fisik. Penyakit fisik mudah untuk mengobatinya.
Ke dokter misalnya, ya mudah mengobatinya. Pusing ya sudah ada obatnya.
Segala macam penyakit fisik mudah untuk disembuhkan.
Hati ini yang kadang-kadang sangat-sangat sulit. Semuanya berpangkal di hati kita.
Metode Agar Hati Tetap Sehat: QS. Al-Insyirah
Dan di antara cara-cara agar hati kita tetap sehat, Allah dan Rasul-Nya sudah memberikan bermacam-macam metode.
Metode agar supaya hati kita selamat. Diantaranya Allah berfirman:
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانصَبْ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَب
"Maka apabila kamu telah selesai dari suatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap" [QS. Al-Insyirah: 7-8]
Apa maknanya? Ketika kalian sudah selesai melakukan sesuatu, kerjakan yang lain.
Artinya apa? Kita dalam hidup ini tidak boleh terlalu panjang angan-angan kita.
Kita fokus kepada apa yang kita hadapi hari ini.
Kita konsentrasi terhadap apa yang kita bisa kita lakukan hari ini terkait dengan kebaikan-kebaikan.
Jangan terlalu berangan-angan yang kosong.
Ayatnya sederhana akan tetapi maknanya luar biasa.
"Fa-idza faraghta fanshab wa ila rabbika farghab" Kepada Tuhanmu kalian berharap.
Kalau hati kita kita biasakan untuk sibuk dengan apa yang kita hadapi. Kita sibuk misalnya kita sadar bahwa kita sangat kekurangan dalam ilmu agama.
Makanya kita sibukkan diri kita dengan mempelajari agama kita.
Lalu kita sibuk dengan yang bisa kita manfaatkan hari ini untuk kehidupan kita, untuk menopang kehidupan kita. Apa saja.
Yang bekerja untuk berkonsentrasi dengan apa yang dia kerjakan.
Jangan terlalu panjang angan-angan.
Karena ketika kita terlalu panjang angan-angan membuat hati kita tambah sakit.
Sekali lagi ketika hati kita sakit, semuanya menjadi sakit. Ini berhubungan.
Jika rusak hatinya maka seluruhnya. Seluruh tindak tanduk kita akan membuat kerusakan.
Contoh Penyakit Hati: Ragu, Sombong, Iri, Ujub, Riya
Jamaah Rahimakumullah. Sekali lagi diantara tuntunan syariat agama Islam agar supaya kita rajin untuk terapi.
Terapi di dalam penyakit hati kita.
Penyakit itu sangat banyak. Penyakit hati ya. Diantaranya penyakit hati adalah:
Keragu-raguan terhadap kebenaran agama.
Keragu-raguan terhadap segala macam yang datang dari Allah dan Rasul-Nya. Tidak mau menerima kebenaran.
Kesombongan.
Banyak sekali penyakit hati. Ada iri, ada dengki, ada hasad. Ada ujub.
Ujub itu apa? Ujub itu merasa dirinya mempunyai kuasa terhadap dirinya sendiri.
Bahwasanya ketika dia berhasil melakukan sesuatu, itu merasa bahwa itu hasil dari dirinya. Tidak ada campur tangan dari Allah.
Padahal kita apapun yang kita lakukan, kita tidak bisa menentukannya sendiri.
Itu semuanya adalah hidayah dari Allah. Sehingga tidaklah pantas kita ujub kepada diri sendiri.
Apa artinya? Semua yang kita lakukan tidaklah bisa kita lakukan kecuali Allah mengizinkannya. Itu yang harus kita pahami.
Begitu juga riya. Riya bahkan riya termasuk yang berat. Ujub, riya ini berat.
Akan bisa merusak amal-amal kita.
Dan banyak sekali insyaAllah di lain kesempatan kita kaji satu persatu.
Bagaimana caranya agar supaya kita bisa menghilangkannya. Minimal mengurangi.
Karena kalau hati ini sudah dihinggapi bermacam-macam penyakit hati.
Penyakit yang kalau ada isinya hasad, isinya iri, isinya dengki.
Akhirnya kalah semuanya, hancur sendiri. Ini Ramadhan.
Itu Jamaah Rahimakumullah.
Itulah makanya penting untuk kita semuanya berusaha memperbaiki.
Patokan Allah Menilai Ibadah Adalah Hati
Ya, memperbaiki hati kita. Karena memang yang dijadikan patokan oleh Allah dalam menilai sebuah ibadah adalah hati kita.
Allah berfirman dalam Al-Quran:
لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ
"Tidaklah sampai kepada Allah daging-dagingnya maupun darahnya. Akan tetapi yang sampai kepada Allah adalah ketakwaan kalian" [QS. Al-Hajj: 37]
Paham maknanya. Allah tidak melihat bentuk ibadahnya seperti apa.
Akan tetapi Allah melihat seberapa hati kita, keikhlasan hati kita ketika kita menjalankan itu semuanya.
Dalam ayat yang lain Allah berfirman:
لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ
"Bukanlah sebuah kebaikan kamu menghadap timur atau barat. Akan tetapi kebaikan itu adalah beriman kepada Allah, dan hari akhir, beriman kepada malaikat, beriman kepada kitab-kitab dan seterusnya" [QS. Al-Baqarah: 177]
Dalam hadis Rasulullah bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk fisik kita dan harta kita. Akan tetapi yang dilihat adalah hati dan amalan kita" [HR. Muslim]
Makanya penting untuk kita senantiasa membuat hati kita bersih.
Agar supaya apa yang kita lakukan menjadi benar.
Karena hati merupakan penentu amalan anggota tubuh kita.
Apakah mata kita mau menjadi baik, kuping kita menjadi baik, atau tangan dan kaki kita apakah mau menjadi baik, itu tergantung daripada hati kita.
Hati Sebagai Penyaring Perbuatan
Hati. Cara orang Jawanya ngomong "nyurasa".
Yang menyaring itu hati. Yang menjadi penyaring perbuatan baik buruk kita adalah hati kita.
Hati yang salim senantiasa ketika mau melakukan sebuah kesalahan, hati kita sudah menyatakan bahwa itu tidak benar.
Alhamdulillah kalau seperti itu berarti hatinya masih sehat. Masih punya penyaring.
Akan tetapi ketika kita sudah tidak punya penyaring, kita melakukan segala sesuatu, dosa, kemaksiatan, kesalahan. Akan tetapi hatinya tidak bisa menyaring, menganggap bahwa hal itu benar. Ini kan repot.
Hati ini adalah tempatnya kebahagiaan. Yang bahagia, yang sedih, yang senang itu semuanya ada di hati.
Makanya untuk kita senantiasa berusaha untuk membersihkan hati kita.
Agar supaya kita menjadi orang-orang yang selamat hatinya.
Jamaah Rahimakumullah. Sedikit kami melanjutkan kajian kemarin.
Kenapa saya membukanya dengan hati tadi, karena memang segala macam amalan kita itu sangat bergantung dari hati kita.
Mau kita mengimani ataupun mengkafirkan ataupun dalam syariat ini, itu semuanya tergantung daripada hati kita.
Mau seberapa pun saya menjelaskan ayat-ayat Al-Quran kepada kita semuanya.
Pentingnya Menata Dan Membersihkan Hati
Kalau hatinya tidak ditata itu tidak akan bermanfaat. Tidak akan bermanfaat.
Makanya penting untuk menata hati, membersihkan hati.
Kalau hati kita masih banyak diliputi penyakit-penyakit.
Tapi kalau hatinya bersih, InsyaAllah akan menambah kebaikan.
Ketika mendengarkan ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya akan senantiasa bertambah ketakwaannya kepada Allah Ta'ala.
Pada kemarin pagi saya sudah sampaikan Al-Baqarah ayat 187. Pada poin pokoknya adalah kita sebagai manusia adalah diciptakan oleh Allah.
Tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah Ta'ala.
Di dalam setiap aspek kehidupan kita.
Kita luruskan niat kita di dalam rangka ta'abud, menghamba kepada Allah.
Semua aspek kehidupan. Dan yang paling banyak di kita pada umumnya, kita paling banyak menghabiskan waktu kita dengan orang-orang terdekat kita yaitu dengan keluarga terdekat.
Dengan anak dan istri. Makanya Allah memberikan perhatian khusus terkait hal ini.
Allah memberikan gambaran, patokan bagaimana kita menjadikan pergaulan kita yang biasa-biasa menjadi sebuah hal yang bernilai ibadah.
Ini penting untuk kita pahami.
Makanya ketika kita menjalani segala sesuatu yang berhubungan dengan keluarga kita jalani dengan ikhlas. Niatkan untuk beribadah kepada Allah Ta'ala.
Apapun yang kita kerjakan, yang kita lakukan dari kebaikan-kebaikan.
Bahkan kemarin kami sampaikan, sampai ketika kalian menyuapi sesuatu, suapan makanan kepada istri kalian, semuanya akan dinilai sebagai ibadah.
Bernilai sama dengan sedekah.
Suami Istri Adalah Pakaian: QS. Al-Baqarah 187
Dalam Al-Baqarah 187 Allah menyampaikan kepada kita bahwasanya:
"Istri kita adalah pakaian bagi kita dan kita adalah pakaian bagi istri-istri kita."
Fungsi pakaian kemarin saya mengingatkan kembali biar lebih punya wawasan.
Yang pertama adalah untuk menutup aurat.
Maknanya di antara suami istri harus saling menutup kekurangan masing-masing. Kekurangan, aib, ataupun keburukan-keburukan antara suami dan istri semestinya tidak boleh keluar.
Bahkan untuk perkara-perkara penting. Perkara-perkara di dalam kamar tidur misalnya, haram untuk keluar.
Haram sama sekali tidak boleh keluar dari rahasia itu.
Hanya milik seorang suami dan istri.
Menjaga Rahasia Rumah Tangga
Senantiasa menjaga walaupun dengan kerabat terdekat, kecuali ada kepentingan.
Kalau memang tidak ada kepentingan untuk memberitahukan kepada orang tua ataupun kepada saudara, tidak usah diberitahukan.
Ada seorang akhwat, seorang ibu-ibu daerah sini juga bertanya kepada kami, "Ustaz, saya memang suami saya tidak bisa mencukupi kebutuhan tapi Alhamdulillah saya sabar.
Bahkan untuk makan saja kadang-kadang ada, kadang-kadang tidak katanya.
Tapi InsyaAllah benar. Apakah salah kalau saya tidak memberitahukan orang tua?"
Saya jawab itu jawaban yang paling betul.
Ya memang seperti itu. Walaupun kita kekurangan, kalau mungkin bisa kita menutupinya, seorang istri jangan.
Lalu malah mengadu kepada orang tuanya.
Misalnya ataupun menceritakan keburukan-keburukan tentang suaminya atau kebalikannya lah, dua-duanya.
Alhamdulillah orang yang bertanya memahami secara hukum syariat, sehingga dia menjalankan kehidupan tanpa harus menjelek-jelekkan suaminya di hadapan orang tuanya atau saudara-saudaranya.
Fungsi Pakaian: Melindungi Pasangan
Hal ini yang sesungguhnya yang harusnya menjadi acuan kita semuanya.
Baik sebagai seorang istri maupun sebagai seorang suami.
Suami itu tadi menjadi pakaian satu sama lain.
Di antara fungsi pakaian adalah untuk melindungi si pemakainya.
Melindungi dari kepanasan, dari kedinginan, dari angin, dari segala macam kotoran.
Itu mengandung implikasi pemahaman bahwasanya agar kita semuanya, kaum suami maupun istri, berusaha menjaga betul-betul.
Istri dan suaminya dari segala sesuatu yang menyakitkan. Jangan malah.
Jangan malah seorang suami menyakiti istrinya atau seorang istri menyakiti suaminya. Jangan.
Karena memang di antara fungsi berpakaian itu tadi untuk melindungi si pemakainya.
Untuk melindungi si pemakainya dari bermacam penyakit tersebut.
Makanya aneh ketika ada suami yang menyakiti istrinya, baik menyakiti dari perkataan ataupun secara fisik.
Berarti dia belum memahami. Belum memahami.
Ya mungkin manusiawi kalau sekali dua kali, hal yang sedikit masih bisa dimaklumi.
Tapi kalau sampai misalnya memukul istrinya, atau menyakiti istri dengan kata-kata yang kasar.
Begitu juga seorang istri menyakiti suami dengan kata-kata yang kasar.
Karena kata-kata kadang-kadang lebih tajam daripada pedang. Lebih menyakitkan daripada fisik.
Ini penting untuk kita pahami dan awasi.
Di antara fungsi pakaian adalah untuk saling melindungi.
Melindungi benar-benar, dilindungi. Jangan sampai malah justru bisa merusak.
Dan di antara fungsi kita berpakaian adalah untuk berhias.
Untuk menjadikan kita menjadi lebih indah.
Semestinya sudah seperti itu, seorang suami istri saling melengkapi satu sama lain.
Islam Mengajarkan Rumah Tangga Harmonis
Ya, akan lebih. Agama Islam mengajarkan kita untuk senantiasa harmonis di dalam berumah tangga.
Saling terbuka dalam segala macam urusan.
Saling memahami hak dan kewajiban masing-masing.
Walaupun "walahunna mitslul ladzi alaihinna bil ma'ruf, wa lirrijali alaihinna darajah" [QS. Al-Baqarah: 228] itu patokannya.
Walaupun istri mereka punya bagian sesuai dengan kewajibannya.
Akan tetapi Allah berfirman "walirrijali alaihinna darajah".
Akan tetapi kaum laki-laki mempunyai derajat yang lebih tinggi dari mereka.
Ini fitrah. Ini adalah ketentuan dari Allah Tabarakawata'ala, tidak akan bisa berubah.
Ini yang harus saling dipahami agar tidak terjadi miskomunikasi.
Ketika kita mau sedikit membahas terkait ayat-ayat Al-Quran ini, InsyaAllah kehidupan kita berkeluarga tidak seadanya makan, tapi lancar InsyaAllah.
Jamaah Rahimakumullah. Itu saja.
Mau saya tambahi tapi tidak cukup juga.
Karena memang kalau kita berbicara Al-Quran, Qadarullah, Subhanallah, sangat panjang lebar pembahasannya kalau kita mau menafsiri Al-Quran secara detail.
Sangat banyak nilai-nilai yang bisa kita kaji bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran dan mengingatnya. Kecuali ulul albab, orang yang mempunyai pengetahuan.
Ya itu semuanya. Mudah-mudahan di akhir bulan Ramadhan ini kita masih bisa untuk berusaha membuat hati kita menjadi bersih.
Hati kita menjadi qalbun salim.
Hati kita menjadi qalbul salim.
Ya menjadi hati yang selamat sehingga apa-apa yang kita kerjakan akan bernilai baik di mata Allah Ta'ala.
Akan bermanfaat di dunia dan akhirat.
Kita akhiri dengan Kafaratul Majelis:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
"Subhanakallahumma wa bihamdik, asyhadu an laa ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik"
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Komentar
Posting Komentar