Bahaya Riba dan Ancaman Allah dalam QS. Al-Baqarah 275-279
Sumber: Kajian
Penceramah: Ustadz Sri Kusdiyono
Ditulis: Admin
📖 Baca Kumpulan Transkrip Kajian Lumbir Mengaji di sini
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Jamaah subuh rahimakumullah, marilah kita lebih mengencangkan ikat pinggang di akhir bulan Ramadhan ini.
Menangkap pahala akhir Ramadhan
Agar pahala yang disediakan oleh Allah untuk kita semuanya tidak terlepas dari kita. Jangan biarkan berlalu tanpa kita bisa menangkapnya. Pahala yang disediakan oleh Allah kepada kita semuanya sangatlah banyak, tergantung pada kita. Apakah kita mau mengambil kesempatan itu atau tidak. Ini semuanya sudah barang tentu menjadi pilihan bagi kita semua.
Tentang uzur dalam penyampaian
Sebelumnya mohon maaf, saya kadang pelat dalam berbicara karena kondisi gigi. Kadang ketika sedang membaca Al-Qur’an pun terasa sulit karena harus menekan gigi yang sakit. Mudah-mudahan tidak mengurangi keberkahan, dan mudah-mudahan Allah mengampuni kita semuanya.
Lanjutan kajian surat Al-Baqarah
Jamaah rahimakumullah, kita akan lanjutkan kajian kemarin terkait dengan ayat-ayat Allah Ta’ala di akhir surat Al-Baqarah. Allah sudah memberikan pelajaran kepada kita semuanya terkait zakat, infak, sedekah. Dan juga Allah memberikan pelajaran bagi kita kaum muslimin agar menjaga martabat diri kita.
Agama tidak menyulitkan dan batasan meminta-minta
Akan tetapi Allah Ta’ala juga tidak menjadikan agama ini sebagai sesuatu yang membuat kita sulit dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun Allah melarang kita untuk meminta-minta kepada manusia, akan tetapi untuk hal-hal tertentu Allah membolehkannya.
Misalnya antara orang tua dan anak itu tidak masalah. Antara suami dan istri tidak masalah saling meminta segala sesuatu. Ini sudah barang tentu sesuatu yang memang seharusnya. Begitu juga dalam kehidupan bermasyarakat, ketika kita memiliki sesuatu yang tidak terlalu bernilai, ketika kita memintanya kepada tetangga, insyaAllah tidak akan mengandung ancaman seperti yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
مَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَيْسَ فِي وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ
"Seseorang senantiasa meminta-minta kepada orang lain sehingga ia akan datang pada hari Kiamat dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun di wajahnya. [HR. Bukhari no. 1474 dan Muslim no. 1040]
Penutup bab infak dan awal pembahasan riba
Ini adalah rangkuman dari pelajaran yang sudah kita sampaikan. Kita akan lanjutkan pada ayat berikutnya. Allah Ta’ala berfirman:
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
"Orang-orang yang menginfakkan hartanya pada malam dan siang hari secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. [QS. Al-Baqarah: 274]
Terang-terangan keduanya diperbolehkan, baik itu secara sir ataupun secara terang-terangan untuk memberikan contoh kepada orang yang lain. Maka bagi mereka pahala mereka di sisi Tuhan mereka, tidak ada ketakutan dan tidak juga bersedih hati.
Ini akhir dari ayat-ayat terkait sedekah dan infak. Kita tidak akan melanjutkan terkait infak dan sedekah, akan tetapi kita cukupkan. Lalu Allah melanjutkan dengan ayat-ayat mengenai riba.
Hikmah digandengkannya sedekah dengan riba
Allah Ta’ala menggandengkan sedekah, infak, zakat dan sebagainya dengan permasalahan riba. Ini menjadi sebuah pelajaran bagi kita, bahwasanya di dalam ajaran agama Islam terkandung nilai sosial yang sangat luar biasa agar kita ta’awun, saling tolong.
Lanjutan: Pembahasan Riba QS. Al-Baqarah: 275
Asal usul riba dari Yahudi
Di kita ini adalah warisan dari orang-orang Yahudi, orang-orang Yahudi yang dilaknat oleh Allah Ta’ala. Allah memulai dengan firman-Nya dari mulai ayat yang ke dua ratus tujuh puluh lima.
Allah Ta’ala berfirman:
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ
"Orang-orang yang memakan riba tidak akan berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena sentuhan setan. [QS. Al-Baqarah: 275]
Permisalan pemakan riba di dunia dan akhirat
Ini permisalan di kehidupan dunia maupun di kehidupan akhirat. Para ahli tafsir menyampaikan bahwasanya para pemakan riba besok di Yaumul Kiamat ketika dibangkitkan dari kubur, kita semuanya akan dibangkitkan dari kubur, semuanya berjalan menuju padang mahsyar.
Keadaan manusia di Padang Mahsyar tergantung amal
Kita semuanya tergantung daripada amal, amal kita bagaimana. Kita bangkit dari alam kubur menuju padang mahsyar. Ada yang berlari, ada yang berjalan, ada yang naik mungkin kalau diibaratkan di sini ada yang bersepeda, ada yang motor, ada yang naik bis Asean, ada yang naik bis ekonomi, ada yang naik pesawat dan sebagainya. Tergantung daripada amalan.
Kita ada juga yang berjalan, ada yang berlari, ada yang merangkak, ada pula yang ngesot, ada yang berjalan kepalanya di bawah. Itu banyak sekali keadaan-keadaan manusia pada saat itu bermacam-macam, berbeda-beda.
Khusus pemakan riba dibangkitkan seperti orang ayan
Dan khusus untuk pemakan riba, mereka dibangkitkan dalam keadaan seperti orang yang terkena penyakit ayan, epilepsi. Seperti apa? Gelebek, gelebek. Itu seperti itu nanti besok di hari kebangkitan seorang yang di dunianya pemakan riba dia akan dibangkitkan dalam keadaan seperti itu. Seperti orang yang terkena penyakit, bahkan diriwayatkan oleh para ahli tafsir bahwasanya mereka berjalan sambil mencekik ke lehernya sendiri. Dan ini pasti akan terjadi.
Makna permisalan: tidak peduli halal haram
Ketika nanti di hari berbangkit para ulama tafsir juga menyampaikan, kalimat ini menandakan bahwa seorang pemakan riba dia ketika hidup di dunia seperti seorang yang terkena penyakit ayan. Artinya tidak melihat halal dan haram, tidak peduli halal dan haram dia berjalan. Ngodor kayak babi, kayak celeng. Tidak melihat halal dan haram, tidak peduli tetangga, tidak peduli siapa. Yang penting dia pikirannya mencari keuntungan itu. Pemakan riba itu seperti itu.
Syubhat pemakan riba: jual beli sama dengan riba
Allah mengibaratkan para pemakan riba ini seperti itu. Kenapa demikian? Kita lanjutkan dulu ayatnya, nanti penjelasannya dilanjutkan.
Allah Ta’ala berfirman:
ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا
"Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka berkata: sesungguhnya perdagangan jual beli itu seperti juga sama dengan riba. Mereka mengatakan demikian. [Lanjutan QS. Al-Baqarah: 275]
Bantahan terhadap syubhat "adol duit"
Loh nyong kan ada adol. Adol duit pada baik, kalau adol kelambi itu mereka beralasan seperti itu, apakah betul? Betul. Kadang-kadang mungkin panjenengan juga berpikir: kan pada baik dodolan. Saya dodolan uang, dia dodolan kelambu juga mencari untung. Akan tetapi sekali lagi Allah menandaskan...
Dampak buruk riba
Riba, Allah Yang mempunyai segala urusan, Yang mengatur segala macam urusan pasti akan mengetahui dampak buruk daripada transaksi yang mengandung unsur riba.
Kelihatannya kecil mungkin, kelihatannya mungkin sama-sama butuh antara yang utang maupun yang mengutangi itu. Akan tetapi itu semuanya nanti akan mencekik perekonomian seseorang ketika dia sudah terlilit dengan hutang yang bertumpuk.
Karena riba ini menumpuk. Menumpuk ketika bunganya tidak bisa, nanti akan menumpuk digabung dengan pokoknya, nanti akan berbunga sedemikian seterusnya seperti itu.
Perbedaan riba dengan jual beli
Dan ini yang tidak sama, tidak sama dengan jual beli. Kalau jual beli kita menjual, sudah itu. Makanya Allah mengharamkan riba dan menghalalkan jual beli.
Allah Ta’ala berfirman:
وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
"Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. [QS. Al-Baqarah: 275]
Dan ini yang menjadi apa namanya, alasan orang-orang yang menghalalkan riba.
Sikap setelah datang ilmu tentang haramnya riba
Kita lanjutkan. Maka barang siapa yang sudah datang pelajaran terkait haramnya riba dari Tuhannya, maka dia berhenti dari transaksi riba, baik dari meminjam uang dengan riba atau minjam uang dari riba. Dua-duanya.
Dua-duanya, barang siapa yang ketika sudah diberi pemahaman terkait haramnya riba dan dia mau berhenti, tidak meminjam sistem riba dan juga tidak meminjami dengan sistem riba.
Urusan yang sudah terlanjur
Allah melanjutkan, baginya apa-apa yang sudah. Lalu yang sudah, yang sudah terjadi di belakang hari, maka urusannya diserahkan kepada Allah. Mungkin akan diampuni, akan diberi balasan. Tergantung seberapa keikhlasan orang tersebut ketika sudah meninggalkan riba.
Tapi insyaAllah kalau kita semuanya benar, benar bertobat kepada Allah, ketika kita sudah pernah melakukan transaksi riba di masa lalu, insyaAllah semuanya akan diampuni oleh Allah Ta’ala itu ketika kita sudah memahami ayat-ayat terkait haramnya riba.
Ancaman bagi yang kembali setelah tahu hukumnya
Akan tetapi ketika mereka sudah tahu, akan tetapi mereka tetap melaksanakan transaksi riba tersebut, maka Allah mengancam. Barang siapa yang kembali melakukan transaksi riba setelah diberitahu oleh Allah bahwa itu adalah haram,
فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
"Maka mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. [QS. Al-Baqarah: 275]
Jamaah rahimakumullah,
Tujuan syariat Allah dalam muamalah
Allah Ta’ala mengatur kehidupan manusia agar bisa berjalan dengan sebaik-baiknya, agar kemakmuran bisa dirasakan oleh semua manusia, agar keadilan bisa dirasakan oleh semua manusia. Sistem ribawi adalah yang membuat orang kaya menjadi semakin kaya dan miskin semakin miskin.
Sebab orang terjerat riba
Jamaah rahimakumullah.
Kenapa orang bisa terjerat kepada riba hutang dengan ribawi? Apakah karena mereka kalau tidak hutang ribawi orang madang? Pertanyaannya seperti itu kira-kira menurut panjenengan.
Tidak, boten, boten gih. Yang paling sering terjadi adalah karena mereka menginginkan sesuatu kebutuhan-kebutuhan yang sekunder bukan primer. Memaksakan kehendak, keinginannya tinggi. Karena belum punya uang maka jalan pintas dia hutang dengan cara riba, sehingga ketika sudah terjerat hutang tersebut dia susah untuk bangkit.
Artinya apa? Gali lubang tutup lubang. Salah e sinten? Salah e dewek.
Hutang dalam Islam dan akibatnya
Dalam agama Islam berhutang boleh, akan tetapi lebih mulia kalau kita tidak punya hutang.
Mulia kita tidak punya hutang. Ya kalau kita punya hutang, panjenengan punya hutang banyak tiap hari ada dua tiga orang ke rumah nyamper panjenengan, harus umpetan ngisor. Ngesel kerembeng. Umpetan.
Hina akhirnya apalagi kalau ketemu dengan yang punya kita berhutang. Kita punya hutang ketemu rasanya kelicutan.
Ini sesuatu yang harus kita ingat. Agama Islam tidak membuat kesulitan, akan tetapi kadang-kadang kita sendiri yang membuat kehidupan kita menjadi sulit. Kita punya keinginan yang tinggi padahal kita tidak atau belum mampu.
Ini yang membuat kadang seorang itu terjerumus kepada hutang yang mengandung riba, padahal itu diancam oleh Allah Ta’ala agar supaya kita berhenti. Jamaah rahimakumullah.
Hadis laknat pelaku riba
Ada beberapa hadis dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam terkait riba. Yang pertama, dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
لَعَنَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ
"Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melaknat pemakan riba, yang memberi makan riba, penulisnya, dan dua saksinya. Beliau bersabda: mereka itu sama. [HR. Muslim no. 1598]
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melaknat. Muhammad Nabi kita itu melaknat pemakan riba, penyetor riba. Yang meminjam kalau pemakan riba berarti yang meminjamkan, penyetor riba berarti nasabahnya yang meminjam. Lalu penulis transaksi riba, sekretarisnya, dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba. Kata beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam semuanya sama dalam dosa, tidak ada bedanya.
Sikap tegas terhadap riba
Ini yang harus kita tekankan, yang harus kita senantiasa masukkan dalam diri kita. Kita hindari segala macam transaksi yang jelas-jelas diharamkan oleh Allah Ta’ala. Ingat ya,
فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
"Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. [QS. Al-Baqarah: 275]
Barang siapa yang kembali melakukan transaksi riba sesudah datang pelajaran kepadanya, maka dia akan menjadi penghuni neraka selama-lamanya selagi dia tidak bertobat.
Tegas jangan mentolerir yang haram
Jamaah rahimakumullah, gini maksudnya kita harus tegas hal-hal seperti ini. Tidak mentolerir. Sekali lagi jangan mentolerir hal-hal yang sudah jelas-jelas haram.
Karena setan ini kadang memutar-balikkan perkataan agar supaya seolah-olah itu adalah baik. Contoh misalnya judi menjadi apa? Sumbangan Sosial Berhadiah. Dulu pernah ada SDSB, Sumbangan Sosial Berhadiah, padahal itu judi togel. Sama saja itu tapi dirubah namanya menjadi Sumbangan Sosial Berhadiah.
Setan membungkus keburukan dengan nama baik
Pengenjenengan tahu bir? Tahu nih bir? Bir itu minuman khamer yang mengandung khamer. Padahal bir itu dalam bahasa Arab maknanya adalah kebaikan. Syaiton yang mengajar itu. Bir itu dalam bahasa Arab artinya kebaikan. Ini syaiton pekerjaannya, pekerjaannya setan yang seolah-olah membungkus keburukan dengan kejelekan.
Kita kembali kepada hadis Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Hadis tentang azab pemakan riba saat Mi’raj
Jamaah rahimakumullah, dalam hadis yang lain Rasulullah ketika beliau melakukan Mi’raj. Mi’raj itu adalah naik dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha. Sidratul Muntaha itu di atas langit yang ketujuh. Di dalam perjalanannya beliau dibawa jalan oleh Jibril, dibawa jalan ngintip neraka. Ngintip neraka, lalu beliau menceritakan:
Kami mendatangi sungai yang airnya merah seperti darah. Tiba-tiba ada seorang lelaki yang berenang di dalamnya. Dan di tepi sungai ada orang yang mengumpulkan batu banyak sekali. Lalu orang yang berenang itu mendatangi orang yang telah mengumpulkan batu sembari membuka mulutnya. Dan orang yang mengumpulkan batu tadi akhirnya menyuapi batu ke dalam mulutnya orang yang berenang tersebut. Orang yang berenang tersebut akhirnya pergi menjauh sambil berenang. Kemudian ia kembali lagi kepada orang yang mengumpulkan batu. Setiap ia kembali ia membuka mulutnya, lantas disuapi batu tersebut ke dalam mulutnya.
Ini gambaran ya. Lalu Nabi menyatakan aku bertanya kepada keduanya apa yang sedang mereka lakukan berdua. Mereka berdua berkata kepadaku: berangkatlah. Maka kami pun berangkat. Dalam lanjutan hadis tersebut dikatakan: adapun orang yang datang dan berenang di sungai lalu disuapi batu, itulah pemakan riba. [HR. Bukhari no. 1386]
Diibaratkan ya. Siksa mereka besok di Yaumul Kiamat seperti orang yang tenggelam di sungai darah.
Ya mungkin. Mungkin kenapa diistilahkan dengan lintah darat, lintah. Kan kudunya neng banyu gih. He lintah pegawainya apa? He he, menghisap darah. Pemakan riba diibaratkan sama. Mama mereka menghisap darah manusia sehingga orang tersebut ketika dihisap darahnya lama kelamaan apa? Mati gih, mati secara ekonomi ini maksudnya ya.
Di akhirat nanti orang-orang pemakan riba ini akan disiksa oleh Allah, ditenggelamkan ke dalam sungai, sungai darah. Di sekelilingnya, di sekeliling sungai tersebut terdapat orang-orang yang siap dengan batu. Ketika sampai di ujung satunya, ya, mulutnya dibuka dileboni. Waktu ya, tidak boleh keluar dari sungai tersebut. Lalu dia berenang lagi ke tepian yang lain sampai di tepi, sama seperti itu dibuka mulutnya lalu dijejali batu begitu seterusnya.
Kalau kita melihat ya, ancaman-ancaman Allah terkait riba ini sangat-sangat keras. Ya, ada banyak sekali hadis-hadis Rasulullah terkait riba, mengerikan. Sebegitu mengerikan apa yang akan ditimpakan oleh Allah kepada orang-orang ini. Akan tetapi memang yang membutuhkan keimanan. Karena yang namanya dodolan duit itu lagi nge gampang ngletek, gampang gelis, gelis sugih ya.
Iya, tapi panjenengan bisa berkaca dari kehidupan yang terjadi sekeliling kita, bagaimana nasib orang-orang pemakan riba. Karena memang nanti di ayat berikutnya Allah mengancam orang-orang yang makan riba.
Kita lanjutkan ayatnya.
يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ
"Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa. [QS. Al-Baqarah: 276]
Allah menghancurkan riba. Ya, Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang kafir, ya orang-orang yang tidak mau diberi pelajaran, menutupi kebenaran yang datang dari Allah dan Rasul-Nya.
Dan Atsim, Atsim itu banyak melakukan dosa, sudah diberitahu akan tetapi mereka tetap menjalankan dosa-dosa yang dilarang oleh Allah Ta’ala. Ya, lalu pada ayat berikutnya Allah perintahkan kepada kita orang-orang yang beriman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba yang belum dipungut, jika kalian orang-orang yang beriman. [QS. Al-Baqarah: 278]
Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba yang panjenengan miliki, jika kalian semua adalah orang-orang yang beriman. Kalau mengaku beriman, tinggalkan, hilangkan sisa-sisa riba, transaksi riba, semuanya hilangkan.
Ya, karena kalau tidak, kata Allah pada ayat berikutnya:
فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ
"Jika kalian tidak berhenti melakukan transaksi riba, maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan mengumumkan perang kepada orang-orang yang melakukan transaksi riba. [QS. Al-Baqarah: 279]
Jika kalian tidak berhenti melakukan transaksi riba maka Allah dan Rasul-Nya mengumumkan akan gendera perang kepada orang yang melakukan transaksi riba. Akan diperangi oleh Allah dan Rasul-Nya. Bentuknya seperti apa, kita bisa lihat ya di masyarakat.
Ta’ala di dalam Al-Qur’an disebutkan pasti benar dan pasti dampak buruknya akan kita rasakan secara instan, artinya akan langsung dirasakan oleh kita. Ya, baik dalam skala kecil maupun skala besar, tergantung. Ya, semakin dalam semakin besar pengaruhnya berarti semakin lintahnya semakin besar ya. Semakin banyak dia menghutangkan kepada orang, berarti semakin banyak orang yang sengsara. Itu makanya siksaannya, azabnya dari Allah juga berbeda-beda, tergantung seberapa besar dia membuat kerusakan di dalam kehidupan masyarakat, tatanan masyarakat.
Ya, riba ini tidak besar tidak kecil, sama saja semuanya kalau itu memberikan tambahan kepada hutang yang kita hutangkan kepada orang lain, itu namanya riba.
Jamaah rahimakumullah, itu dulu ya. Mudah-mudahan kita bisa melanjutkan karena masih lumayan panjang ya, terkait riba ini.
Ya, tiba di dalam agama Islam, di dalam syariat agama Allah ya, kita diperintahkan untuk senantiasa berbuat ikhlas, berbuat baik kepada sesama manusia. Jangan justru menjadi lintah darat yang menghisap darah manusia, sehingga mereka menjadi terpuruk secara ekonomi. Jamaah rahmah Allah.
Itu saja ya. Kita akhiri dengan quranul majid.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
Maha Suci Engkau ya Allah dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Aku memohon ampun kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Komentar
Posting Komentar