Muhasabah Diri: Menimbang Amal Sebelum Dihisab di Hari Kiamat

Sumber: Khutbah Jumat
Penceramah: Ustadz Sri Kusdiyono
Ditulis: Admin

📖 Baca Kumpulan Transkrip Khutbah Jumat & Id di sini.
Mimbar Masjid Jami Cikadu Lumbir, Muhasabah Diri: Menimbang Amal Sebelum Dihisab di Hari Kiamat

Khutbah Pertama

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، ونعوذُ باللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، ومِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا، أَمَّا بَعْدُ

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهُدَى هدى مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عليهِ وَسلَّم، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ 

Pertama-tama marilah Kita senantiasa memanjatkan syukur kita kepada Allah atas segala nikmat dan karunia yang sudah diberikan kepada kita semuanya. Sehingga kita sampai hari ini masih diberi kekuatan oleh Allah untuk bisa menjalankan seluruh aktivitas kita dalam rangka peribadatan kita kepada Allah Ta’ala.

Allah memberi hidayah kepada kita agar bisa istiqamah di dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena itulah, untuk itulah kita diciptakan oleh Allah sebagai manusia yang mempunyai kewajiban untuk menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Puasa sebagai sarana mengangkat derajat

Kita memasuki akhir daripada bulan Ramadan. Kita sudah digembleng oleh Allah dengan berbagai macam amalan-amalan yang berusaha mengangkat derajat kita sebagai manusia.

Karena apapun yang diperintahkan oleh Allah adalah sebuah beban yang kita laksanakan agar supaya Allah mengangkat derajat kita dengan perintah-perintah tersebut.

Allah tidak membutuhkan ibadah kita sebenarnya. Kalaupun kita tidak beribadah kepada Allah juga tidak apa-apa bagi Allah. Akan tetapi Allah memberikan pilihan kepada kita semuanya dengan berbagai macam ibadah dan pahalanya, agar Allah mengangkat derajat kita.

Siapa di antara mereka yang taat kepada Allah, siapa di antara mereka yang tidak taat kepada Allah. Sehingga Allah memberikan ketentuan-ketentuan syariat untuk diikuti.

Dalam bulan puasa ini, kita sudah dilatih oleh Allah untuk berpuasa dengan dasar keimanan dan ikhtisaban.

Rasulullah bersabda:  

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ  

“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadan dengan dasar keimanan dan mengharap ridha Allah, dia akan diampuni dosa-dosanya.” HR. Bukhari no. 38, Muslim no. 760

Pengangkatan derajat kita di mata Allah adalah ketika kita mampu melaksanakan puasa kita dengan penuh keikhlasan. Hanya dan hanya mengharap ridha Allah. Tidak mengharapkan yang lain. Tidak memiliki niat yang lain di dalam beribadah kepada Allah, terutama di bulan puasa atau ketika kita berpuasa di bulan Ramadan.

Salat tarawih sebagai pelengkap

Lalu Allah juga memberikan aturan syariat atau rangkaian syariat yang lain. Dalam hadis yang lain Rasulullah bersabda:  

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ  

“Barangsiapa salat di bulan Ramadan, salat lail, salat tarawih dengan iman dan ikhtisab, maka dia akan diampuni dosa-dosanya.” HR. Bukhari no. 37, Muslim no. 759

Setelah kita siangnya berpuasa, kita dituntut oleh Allah untuk menahan nafsu kita, malamnya kita dilatih oleh Allah untuk banyak beribadah kepada Allah, mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan salat malam, atau yang biasa kita kenal dengan salat tarawih.

Allah mengatur itu semuanya agar supaya Allah mengangkat derajat kita. Allah memberikan ujian kepada kita semuanya agar nanti terlihat siapa yang keimanannya benar, siapa yang keimanannya tidak benar.

Kita diuji bulan Ramadan ini. Orang-orang yang keimanannya benar pasti dia akan menjaga puasanya, akan menjaga salat tarawihnya sampai akhir. Akan merasa sayang ketika dia tidak menjalankan ini.

Seperti itu kita dilatih oleh Allah Ta’ala untuk berusaha menjadi hamba-hamba Allah yang terbaik. Hamba-hamba Allah yang senantiasa bisa _sami’na wa atha’na_, mengamalkan apapun yang datang dari Allah Ta’ala, apapun yang datang yang sahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bersegera untuk melakukan kebaikan-kebaikan.

Lailatul Qadar di 10 malam terakhir

Lalu setelah kita dilatih selama awal-awal di bulan Ramadan, di akhir bulan Ramadan Allah juga memerintahkan kita untuk melakukan pendekatan kepada Allah secara lebih intens lagi. Dengan Allah menurunkan atau menjadikan satu malam yang lebih baik bagi kita daripada seribu bulan.

Di akhir bulan Ramadan, di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, Allah menjadikan di antaranya salah satu di antaranya adalah malam Lailatul Qadar. Kita diberi motivasi oleh Allah untuk berusaha mendapatkannya.

Kita diberi kemauan, taufik dan hidayah. Tidak semuanya di antara kita mungkin ada, tapi tidak semuanya yang berusaha dengan sebenar-benarnya untuk mencari atau mendapatkan malam Lailatul Qadar tersebut. Padahal ini adalah karunia dari Allah Ta’ala.

Betapa sangat mulianya, betapa sangat sayangnya Allah. Kalau kita sebagai kaum muslimin tidak mendapatkan keutamaan malam Lailatul Qadar, ketika kita mendapati malam Lailatul Qadar tersebut, kita akan diberikan pahala lebih baik daripada seribu bulan, atau delapan puluh tiga tahun, bahkan sepanjang umur kita mungkin.

Makanya sangat merugi kalau kita tidak mendapatkannya. Jamaah rahimakumullah, kita masuk sepuluh hari terakhir. Monggo, kencangkan ikat sarung panjenengan, ikat pinggang dikencangkan. Mempersiapkan diri, mempersiapkan fisik, mempersiapkan hati terutamanya untuk lebih giat lagi dalam beribadah.

Perbanyak amal-amal saleh, utamanya salat malam. Perbanyak itu agar supaya kita tidak tertinggal kereta. Ya, saudara-saudara kita yang lain mendapatkan malam Lailatul Qadar, sementara kita hanya mendapatkan mimpi yang buruk mungkin karena kebanyakan tidur.

Zakat fitrah menambal puasa

Jamaah rahimakumullah, di antara syariat agama Allah di bulan Ramadan ini, Allah mewajibkan di akhir bagi orang-orang yang berpuasa adalah zakatul fitrah. Sebagai penyempurna bagi orang-orang yang berpuasa.

Fungsinya zakat fitrah adalah untuk menambal puasa kita. Ketika puasa kita kadang mungkin diselipi dengan perbuatan-perbuatan yang sia-sia, atau banyak melakukan dosa-dosa, maka itu semuanya ditambal dengan zakat fitrah.

Dan perlu kita memahami juga bahwasanya Allah mewajibkan zakat fitrah itu sebagai bentuk sebuah pelatihan kepada kita. Agar sadar bahwasanya zakat fitrah nilainya masih sedikit, yaitu sekitar dua setengah kilogram sampai tiga kilogram per orang.

Itu dirasa kalau hari ini, insyaAllah panjenengan semuanya tidak ada yang keberatan untuk mengeluarkan hal tersebut. Mungkin ada beberapa yang kalau keluarganya banyak merasa keberatan, akan tetapi insyaAllah masih bisa.

Dan ini oleh Allah sebagai bentuk pelatihan yang diberikan kepada kita semuanya untuk apa? Untuk menaati kewajiban zakat yang lebih besar.

Zakat mal: dari yang baik-baik

Allah berfirman:  

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ  

“Wahai orang-orang yang beriman, infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu.” QS. Al-Baqarah: 267

Wahai orang-orang yang beriman, orang-orang yang percaya, orang yang mengakui Islamnya: _Anfiqu min thayyibati ma kasabtum_. Infakkanlah bagian dari apa yang menjadi usaha kalian dari yang baik-baik. Karena Allah tidak menerima kecuali yang baik-baik.

Allah tidak menerima kalau usahanya misalnya usaha buka menjadi bandar togel, Allah tidak menerima. Usaha ribawi, bank harian, Allah tidak menerima. Haram. Usaha-usaha yang lain yang tidak diridhai Allah, Allah tidak akan menerima zakat-zakat dari harta-harta seperti itu.

Makanya Allah menyampaikan: _min thayyibati ma razaqna, min ma kasabtum_. Infakkanlah dari hasil usaha kalian yang baik-baik. _Minat thayyibat_. Sehingga Allah hanya menerima yang baik-baik.

Lalu Allah melanjutkan: “Dan dari hasil bumi yang Kami keluarkan untuk kalian.” Dan ini yang sedang kita nikmati secara umum. Kita sedang memasuki masa panen.

Ya, bagi yang mempunyai hasil bumi yang sudah mencapai nisab, nisabnya adalah tujuh ratus dua puluh kilogram gabah kering, maka sudah wajib untuk dikeluarkan zakatnya. Dan ini adalah perintah wajib dari Allah Ta’ala.

Di bulan Ramadan kita dilatih untuk mengeluarkan zakatul fitrah agar supaya kita sadar, kita rela untuk mengeluarkan zakat yang lebih besar lagi yang wajib.

Dan ini semuanya kita digembleng, dilatih hati kita untuk terbiasa merelakan. Menyadari bahwa itu semuanya adalah harta-harta titipan Allah yang diberikan kepada kita untuk fakir miskin. Itu bukan harta panjenengan. Kelebihan yang panjenengan miliki, sekali lagi itu bukan hak panjenengan. Panjenengan tidak berhak untuk memakannya. Haram hukumnya.

Ini yang harus kita pahami. Akan tetapi sudah barang tentu panjenengan, kita semuanya, tidak dipaksa oleh Allah Ta’ala. _Sing gelem, monggo. Ora gelem, nggih resikone dewe-dewe._ Itu seperti itu. Agama selalu seperti itu. Allah tidak pernah memaksa.

Jamaah rahimakumullah, itulah di antara hal-hal yang harus kita mantapkan di akhir bulan Ramadan. Kita mantapkan puasa kita agar supaya lebih bermakna lagi. Isi dengan kegiatan-kegiatan yang bisa memperbaiki kualitas puasa kita. Jangan isi dengan segala sesuatu yang tidak bermanfaat.

Lalu malamnya juga demikian. Kita isi dengan berbagai macam kegiatan yang bisa mendekatkan diri kepada Allah. Lalu kita persiapkan fisik kita, kita persiapkan pikiran kita untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

Di akhirnya kita persiapkan harta kita untuk bisa membayar apa-apa yang sudah menjadi kewajiban kita dengan sukarela, dengan keimanan dan ikhtisab. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kita kemudahan untuk bisa mencapai itu semuanya.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ  
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


Khutbah Kedua 

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى  
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ  
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ  
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ

Jamaah rahimakumullah,

Allah Ta’ala perintahkan kita bertakwa di mana pun berada. Takwa inilah yang menyelamatkan kita dunia akhirat. Celaka orang yang hanya ingat Allah di masjid, tapi lalai di luar masjid.

Pentingnya Muhasabah Diri

Kenapa kita harus muhasabah? Karena ini perintah Allah, Rasulullah, dan kebiasaan ulama salaf. Agar selamat dunia akhirat.

Allah berfirman dalam QS. Al-Hasyr: 18-19

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ  

“Wahai orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Artinya: Siapkan bekal sebelum mati. Sudah cukupkah amal kita untuk selamat dari neraka dan masuk surga?

*Hadis Orang Bangkrut di Akhirat*

Rasulullah ﷺ bersabda: أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟  
“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?”

Sahabat jawab: “Orang yang tak punya dirham dan harta.”

Beliau ﷺ bersabda: “Orang bangkrut dari umatku adalah yang datang hari kiamat bawa pahala shalat, puasa, zakat. Tapi ia pernah mencaci, menuduh, makan harta haram, menumpahkan darah, memukul orang. Maka pahalanya diberikan ke orang yang dizalimi. Jika pahala habis sebelum lunas, dosa mereka ditimpakan padanya, lalu ia dilempar ke neraka.” HR. Muslim no. 2581

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ مُبَارَكًا عَلَيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى  
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ  
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ  
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى أَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ  
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ  
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ  
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا  
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ  
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ  

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ  
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silsilah Keluarga Keturunan Eyang Mursyid Cikadu Lumbir

Silsilah Keluarga Keturuan Eyang Mahmud cikadu Lumbir

Empat Jalur Penulis Silsilah Keluarga Cikadu Lumbir

Referensi Silsilah Keluarga Cikadu Lumbir