Kita Milik Allah dan Akan Kembali Kepada Allah Tabaraka wa Taala

Sumber : Khutbah Idul Fitri 1446 H

Ditulis ulang oleh: Admin

Foto bagian depan masjid dengan teks: Kita Milik Allah dan Akan Kembali Kepada Allah Tabaraka wa Taala

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ  

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ  

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا، أَمَّا بَعْدُ

فَإِنْ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

  
Jama’ah shalat ‘Idul Fithri yang dirahmati oleh Allah.
  
Pertama-tama marilah kita menundukkan kepala kita, mengucapkan segala puji kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, Dzat yang telah memberikan kita kehidupan ini. Senantiasa memuji kepada Allah Ta’ala, Dzat Pencipta langit dan bumi, Dzat yang telah menciptakan kita semuanya, Dzat yang telah memberikan kita rezeki, Dzat yang telah memberikan kita hidayah. Segala puji senantiasa marilah kita sampaikan kepada Allah Ta’ala, satu-satunya Dzat yang wajib untuk kita ibadahi dengan tidak menyekutukan apa pun dengan-Nya.

Shalawat dan salam marilah kita senantiasa panjatkan kepada makhluk terbaik yang diciptakan oleh Allah untuk menjadi panutan kita semuanya, Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang kita sangat nanti-nantikan syafa’at beliau besok di Yaumul Qiyamah.

Makna Ramadhan dan ‘Idul Fithri 
 
Jama’ah rahimakumullah, kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati oleh Allah,  
Kita telah menjalankan apa yang telah diwajibkan oleh Allah di Bulan Ramadhan, bulan yang senantiasa dinanti-nantikan oleh kita semuanya. Senantiasa menjadi harapan bagi kita semuanya di bulan tersebut untuk mendapatkan maghfirah, untuk mendapatkan ampunan dari Allah, agar supaya kita terlahir kembali menjadi manusia-manusia yang tidak banyak menanggung beban dosa.

Tema Khutbah: Innaa Lillaahi wa Innaa Ilaihi Raaji’uun  

Jama’ah ‘Idul Fithri yang dirahmati oleh Allah,  
Pada kesempatan yang mulia ini, sedikit kami akan menyampaikan sebuah khutbah dengan tema: Kita ini milik Allah dan kita akan kembali kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Kenapa kami memilih tema yang sebenarnya sudah familier bagi panjenengan semuanya? Kita semuanya In Syaa Allah bisa melafalkannya, sudah terbiasa melafalkannya: Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Kita semuanya milik Allah dan pasti akan kembali kepada Allah Ta’ala. Akan tetapi, apakah semuanya memahami dengan keyakinan yang benar bahwa kita semuanya milik Allah? Apakah semua meyakini bahwasanya kita semuanya akan kembali kepada Allah Ta’ala? Apakah semua orang yang bisa mengucapkan kalimat tersebut meyakini bahwa nanti akan ada Yaumul Hisaab, akan menghadap Allah Ta’ala untuk mempertanggungjawabkan semua yang kita lakukan sewaktu kita di dunia?

Perjalanan Manusia dari Nol hingga Akhir
  
Untuk itu, jama’ah rahimakumullah,  
Kita akan coba mengingatkan kembali memori kita, ingatan kita terhadap diri kita sendiri: bagaimana perjalanan kita sebagai manusia, dari mulai titik nol sampai nanti kepada titik finish, seperti apa yang telah dijelaskan oleh Allah dan Rasul-Nya. Sungguh terang benderang bagaikan hari ini, tidak ada yang tersembunyi sedikit pun.

Juga seluruh jalan-jalan kebaikan sudah ditunjukkan oleh Allah beserta pahalanya. Seluruh jalan-jalan kemaksiatan dan dosa sudah diperingatkan oleh Allah dan Rasul-Nya dengan balasannya juga. Kita diminta untuk memanfaatkan apa-apa yang telah diberikan oleh Allah kepada kita semuanya untuk bisa merenungkan dengan hati yang kita punya: apakah kita sudah meyakini, sudah mengimani kalimat Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun?

Asal Penciptaan Manusia  

Jama’ah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah,  
Kita semuanya dahulunya sama sekali bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Kita tidak tahu dari mana kehidupan kita diberikan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:  

هَلْ أَتَىٰ عَلَى الْإِنسَانِ حِينٌ مِّنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُن شَيْئًا مَّذْكُورًا  

Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? QS. Al-Insan: 1

Keadaan di mana kita semuanya tidak tahu ruh kita, arwah kita, berada di mana. Ketika kita berada di alam rahim ibu kita, siapa yang mengirimkan ruh kehidupan kepada kita? Itu semuanya kita tidak mempunyai pengetahuan tentang hal tersebut. Lalu Allah meniupkan ruh-ruh kita yang telah dipersiapkan oleh Allah untuk kita semuanya, sehingga kita menjadi makhluk yang bernyawa.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: 
 
إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا. إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا  

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya, karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir. QS. Al-Insan: 2-3

Tujuan Penciptaan: Untuk Beribadah  

Fase-fase awal kehidupan umat manusia seluruhnya adalah makhluk-makhluk yang tidak mengerti apa-apa. Allah memberikan kita penglihatan, Allah mengadakan kita pendengaran, Allah memberikan kita hati. Semuanya bukan untuk sesuatu yang sia-sia. Manusia tidak diciptakan hanya untuk bermain-main. Manusia diciptakan bukan hanya untuk makan minum. Manusia diciptakan oleh Allah untuk menyembah kepada-Nya, untuk kembali nanti menghadap Allah Ta’ala.

Ini makna hakiki daripada Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Kita diciptakan oleh Allah, kita tidak punya apa-apa. Kita tidak berkuasa atas apa pun yang ada dalam diri kita. Semuanya nanti akan kembali pada masanya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
  
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ  

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? QS. Al-Mu’minun: 115

Apakah manusia mengira bahwasanya Kami, Allah, menciptakan manusia main-main, hanya sekadar bermain-main? Apakah manusia juga mengira bahwasanya kalian semuanya tidak akan kembali kepada Allah? Sungguh buruklah orang-orang yang mempunyai pemahaman bahwasanya dia tidak akan dikembalikan kepada Allah.

Kita semuanya milik Allah dan pasti akan kembali kepada Allah.

Nikmat Allah yang Tak Terhitung  

Lalu Allah menurunkan kita, melahirkan kita dari rahim ibu-ibu kita menjadi seorang makhluk yang sempurna, alhamdulillah. Allah membimbing kita, bagaimana menunjukkan jalan-jalan kebaikan kepada kita. Tanpa ada yang mengajari, kita bisa berbaring, kita bisa duduk, kita bisa jongkok, kita bisa merangkak, berjalan, berlari. Itu semuanya atas kemurahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Makanya sangat tidak masuk akal ketika banyak manusia yang tidak tahu berterima kasih kepada Allah. Berapa banyak nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita semuanya. Tidak pantas kalau kita tidak menyembah Allah Tabaraka wa Ta’ala. Seluruh manusia itu kelaparan kecuali Allah memberi makan. Seluruh manusia itu telanjang ketika Allah memberikan dia pakaian. Maka nikmat mana lagi yang mau kita dustakan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahilhamd

Ujian Kehidupan: Islam, Iman, Ikhlas 
 
Allah Ta’ala menguji manusia ketika sudah memasuki usia dewasa: menguji dengan Islam, menguji dengan iman, menguji dengan ikhlas. Sehingga kita nanti akan terpilih di antara manusia, siapa yang paling takwa di hadapan Allah Ta’ala.

Kita diuji dengan Islam. Kita memasuki, mengucapkan kalimat syahadat:  

لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ  

Ya, ujian pertama. Kita semuanya In Syaa Allah lulus di hadapan manusia, akan tetapi di hadapan Allah Ta’ala siapa yang terus mengatakan laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah, karena ada ujian berikutnya.

Ya, kita dibebani oleh Allah Ta’ala sebagai bentuk perwujudan kesaksian kita bahwasanya laa ilaaha illallah. Kita dibebani dengan syariat agama. Kita dibebani dengan shalat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 
 
الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ  

Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir. HR. At-Tirmidzi no. 2621, An-Nasa’i no. 463, Ibnu Majah no. 1079. Dishahihkan oleh Al-Albani

Kita diuji dengan hal ini. Kita diuji, diperintah oleh Allah Ta’ala melalui lisan Nabi-Nya yang mulia untuk mendirikan shalat lima waktu. Kita diuji senantiasa diuji dengan bertingkat-tingkat oleh Allah Ta’ala sampai maut menjemput kita. Siapa yang lulus ujian pertama, berarti bisa naik ke level berikutnya.

Yang sudah menjalankan kewajiban shalat lima waktu berarti akan disayang oleh Allah, dinaikkan derajatnya, dinaikkan tingkatnya, diuji dengan perintah-perintah yang lain. Puasa contohnya, yang sudah kita lakukan. Hanya ditunjukkan oleh Allah Ta’ala bagi orang yang beriman, orang-orang yang percaya akan adanya balasan terbaik dari Allah Ta’ala.

Sekaligus juga Allah mensyariatkan kita zakat, baik zakatul fithri maupun zakat mal, sebagai bentuk bukti daripada keimanan kita kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Siapa yang beriman kepada Allah, siapa yang beriman kepada Rasulullah, maka dia cukup mengatakan: Kami diperintah shalat, kami shalat. Kami diperintah puasa, kami berpuasa. Kami diperintah zakat, kami menunaikan zakat. Itu makna orang yang beriman. Itu makna daripada kalimat laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah. Bukan hanya ucapan di lidah, bukan hanya ucapan di mulut. Harus dimasukkan ke dalam hati kita dan diterjemahkan dalam tindak-tanduk kita sehari-hari.

Sakaratul Maut dan Alam Kubur  

Jama’ah rahimakumullah, Allah senantiasa menguji manusia dalam seluruh jenjang kehidupannya sampai datangnya suatu saat Allah memberikan peringatan:

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
 
وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَٰلِكَ مَا كُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ  

Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya. QS. Qaf: 19

Orang yang rajin shalat, orang yang rajin puasa, orang yang rajin berzakat akan menemui sakaratul maut. Begitu juga orang yang tidak mau beribadah kepada Allah akan menemui sakaratul maut. Sama saja, tidak ada bedanya. Semuanya akan mati. Kita semuanya akan kembali kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Kemudian kalian semua makhluk, manusia semuanya akan mati, dan semuanya akan dibangkitkan menghadap Allah Ta’ala sendiri-sendiri dan bertelanjang bulat. Kita akan menghadap Allah semuanya.

Lalu kita akan memasuki fase setelah kehidupan di dunia ini, kita memasuki alam akhirat. Manusia, baik yang beriman, baik yang kafir, baik yang fasik, yang rajin shalat, yang tidak mau shalat, yang puasa, yang tidak puasa, semuanya akan memasuki alam kubur. Semuanya akan ditanya oleh Allah Ta’ala: Siapa Rabbmu? Apa agamamu? Dan siapa nabimu?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
  
فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللَّهُ، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا دِينُكَ؟ فَيَقُولُ: دِينِيَ الْإِسْلَامُ، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ؟ فَيَقُولُ: هُوَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  

Maka datanglah dua malaikat lalu mendudukkannya dan bertanya kepadanya: Siapa Rabbmu? Maka ia menjawab: Rabbku Allah. Keduanya bertanya: Apa agamamu? Ia menjawab: Agamaku Islam. Keduanya bertanya: Siapa lelaki yang diutus di tengah kalian ini? Ia menjawab: Dia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. HR. Abu Dawud no. 4753, dishahihkan Al-Albani

Kita semuanya kalau di dunia mungkin masih bisa menjawabnya. Akan tetapi besok di alam kubur kita tidak semudah itu. Apa pun yang kita laksanakan di dunia ini akan kita bawa ke alam kubur untuk menghadapi malaikat Munkar dan Nakir. Siapa yang biasa menjalankan syariat agama Allah, biasa mentauhidkan Allah dengan tauhid yang benar, biasa beribadah kepada Allah dengan ibadah yang benar, dia akan bisa menjawab pertanyaan: Siapa Rabbmu? Siapa yang tidak, maka dia tidak akan menjawab, tidak akan bisa menjawab, dan akan dipukul oleh malaikat, dan dia akan menjerit. Jeritannya didengar oleh seluruh makhluk kecuali manusia dan jin. Ujian-ujian ini semuanya bertingkat-tingkat. Kita semuanya akan mengalaminya.

Hari Kiamat dan Padang Mahsyar  

Tahapan alam kubur sampai kapan? Sampai hari Kiamat. Lalu kita dibangkitkan oleh Allah Ta’ala dengan keadaan seperti saat kita mati. Bagi yang mati dalam keadaan beriman, dia dibangkitkan dalam keadaan beriman. Siapa yang mati dalam keadaan bermaksiat kepada Allah, dia dibangkitkan dalam keadaan bermaksiat di jalan Allah.

Ini sebuah jalan yang sangat terang benderang. Kita diberi Allah pendengaran untuk mendengarkan. Kita diberi Allah penglihatan untuk melihat. Kita diberi Allah hati untuk menelaah, mentadabburi: Apakah yang saya dengar betul? Apakah yang saya lihat betul? Ini hati, hati yang membuat seseorang beriman kepada Allah Ta’ala.

Lalu kita dikumpulkan di Padang Mahsyar untuk mempertanggungjawabkan apa-apa yang kita lakukan di dunia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: 
 
هُنَالِكَ تَبْلُو كُلُّ نَفْسٍ مَّا أَسْلَفَتْ وَرُدُّوا إِلَى اللَّهِ مَوْلَاهُمُ الْحَقِّ وَضَلَّ عَنْهُم مَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ  

Di tempat itu tiap-tiap diri merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakannya dahulu dan mereka dikembalikan kepada Allah Pelindung mereka yang sebenarnya dan lenyaplah dari mereka apa yang mereka ada-adakan. QS. Yunus: 30

Semua yang kita punya di dunia kita tinggalkan, tanpa satu pun yang kita bawa kecuali amal-amal. Proses di Padang Mahsyar waktu yang sangat lama dan kita semuanya akan mengalaminya, tergantung dari kondisi kita. Lalu diputuskan oleh Allah: siapa yang berhak masuk Surga, siapa yang berhak masuk Neraka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:  

وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًا... وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا...  

Orang-orang kafir dibawa ke Neraka Jahannam berombong-rombongan... Dan orang-orang yang bertakwa kepada Rabbnya dibawa ke dalam Surga berombong-rombongan... QS. Az-Zumar: 71, 73

Ajakan Memilih Jalan Hidup  

Jama’ah rahimakumullah, itulah proses kehidupan kita. Terang benderang seperti siang hari. Makanya pada kesempatan yang berbahagia ini, di hari yang berbahagia ini, mari kita tentukan hari ini. Kita tentukan apakah kita mau menjadi penghuni Surga atau mau menjadi penghuni Neraka.

Silakan tentukan hari ini. Saat ini juga jalannya sudah jelas. Jalannya sudah terang benderang.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: 
 
وَقُلِ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ فَمَن شَاءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاءَ فَلْيَكْفُرْ  

Dan katakanlah: Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu; maka barangsiapa yang ingin beriman hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin kafir biarlah ia kafir. QS. Al-Kahfi: 29

Allah Maha Kaya, kita manusia yang fakir membutuhkan rahmat dari Allah Ta’ala. Jalan ini sudah jelas, Allah senantiasa menjelaskan kepada kita:

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: 
 
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ  

Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam. QS. Al-Baqarah: 256

Siapa yang mau masuk Surga, silakan menempuh jalan masuk Surga. Siapa yang mau masuk Neraka, monggo. Tentukan pilihan kita hari ini. Mumpung kita masih hidup, mumpung masih diberi kesempatan oleh Allah Ta’ala untuk memperbaiki diri.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahilhamd.

Harapan dan Doa  

Jama’ah rahimakumullah,  
Mudah-mudahan apa yang kami sampaikan bisa mengubah hati kita semuanya. Kita semuanya benar-benar tidak mempunyai apa pun. Kita ini milik Allah Ta’ala. Seluruh kehidupan yang ada pada diri kita milik Allah dan semuanya akan kembali kepada Allah. Ya, kita hanya bisa berharap agar Allah memberikan kita ampunan, agar Allah Ta’ala senantiasa menerima amal-amal kita. Pada akhirnya keputusan semuanya di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahilhamd.

Akhirnya marilah kita menundukkan kepala berdoa kepada Allah di hari ini, dan berniat di hari ini untuk segera bertaubat kepada Allah, segera menuju ampunan dari Allah, segera menuju Surga-Nya Allah yang seluas langit dan bumi. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Doa Penutup 
 
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ.

يَا اللَّهُ، يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، نُنَاجِيكَ يَا اللَّهُ، هَبْ لَنَا هِدَايَةً، هَبْ لَنَا رَشَادًا. يَا اللَّهُ لِنَلْقَاكَ بِغَيْرِ ذُنُوبٍ كَثِيرَةٍ يَا اللَّهُ. يَا اللَّهُ تَقَبَّلْ أَعْمَالَنَا يَا اللَّهُ، تَقَبَّلْ تَوْبَتَنَا، لَا يَقْبَلُ التَّوْبَةَ إِلَّا أَنْتَ يَا اللَّهُ. يَا اللَّهُ يَا رَبِّ، أَنْتَ مَالِكُنَا، إِلَيْكَ رَاجِعُونَ يَا اللَّهُ.

اغْفِرْ لَنَا، اغْفِرْ لِأَبْنَائِنَا، اغْفِرْ لِجَمِيعِ أَهْلِنَا وَأَصْدِقَائِنَا وَإِخْوَانِنَا أَجْمَعِينَ. يَا اللَّهُ اهْدِهِمْ لِيَعْلَمُوا أَنَّا جَمِيعًا سَنَرْجِعُ. يَا اللَّهُ يَا رَبِّ، إِيَّاكَ نَسْأَلُ، نَسْأَلُكَ الْهِدَايَةَ يَا اللَّهُ، لِنَسْتَقِيمَ عَلَى شَرِيعَتِكَ حَتَّى الْمَمَاتِ، حَتَّى تَأْتِيَنَا سَكَرَاتُ الْمَوْتِ.

يَا اللَّهُ يَا رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا. يَا اللَّهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ لَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ. يَا اللَّهُ يَا رَبِّ يَسِّرْ أُمُورَنَا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ. وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Penutup dan Permohonan Maaf  

Saya bukanlah yang terbaik di antara kalian. Saya manusia biasa yang lemah, tidak ada kelebihan apa pun dari panjenengan. Apa-apa yang sudah kami sampaikan, yang sudah kami ajarkan, kalaupun diikuti itu pilihan panjenengan. Kalaupun tidak diikuti itu juga pilihan panjenengan.

Saya bukan orang yang paling benar. Saya bukan orang yang paling pintar. Banyak kesalahan-kesalahan yang mungkin kami lakukan. Saya pribadi ataupun keluarga saya ataupun anak-anak kami. Semua yang kami lakukan kami tidak mengharapkan apa-apa, tidak mengharapkan balasan, bahkan tidak ucapan terima kasih saya tidak mengharapkan.

Akan terjadi kesalahan, pasti ada. Baik secara pribadi maupun anak-anak saya, istri saya, keluarga besar saya. Kalau ada kekurangan, kesalahan mohon untuk segera dimaafkan. Kami menitipkan juga anak kami, keluarga kami. Bila di dalam bermasyarakat banyak kesalahan, mohon untuk dimaafkan. Kami bukan keluarga terbaik. Kami seperti panjenengan semuanya, tidak ada bedanya. Yang membedakan kita Allah Ta’ala tahu, mana di antara kita yang terbaik amalnya.

Itu saja yang bisa kami sampaikan. Taqabbalallahu minna wa minkum, semoga Allah menerima amalan kami dan amalan panjenengan semuanya. Billahi taufiq wal hidayah, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Transkrip : Khutbah Idul Fitri 1446 H

Pembicara Ustadz : Sri Kusdiyono

Ditulis Ulang oleh : Admin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silsilah Keluarga Keturunan Eyang Mursyid Cikadu Lumbir

Silsilah Keluarga Keturuan Eyang Mahmud cikadu Lumbir

Referensi Silsilah Keluarga Cikadu Lumbir