Ikhlas Beragama: Kunci Persatuan, Ringannya Amal, dan Terkabulnya Doa

Sumber: Khutbah Jumat
Penceramah: Ustadz Sri Kusdiyono
Ditulis: Admin

📖 Baca Kumpulan Transkrip Khutbah Jumat & Id di sini.
Mihrab dan mimbar Masjid Al Furqon Cikadu Lumbir dengan tema khutbah Ikhlas Beragama Kunci Persatuan
Khutbah Jumat Youtube Lumbir Mengaji

Khutbah Pertama

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، ونعوذُ باللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، ومِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا، أَمَّا بَعْدُ

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهُدَى هدى مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عليهِ وَسلَّم، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

Jamaah Jum’ah rahimakumullah,
Pertama-tama marilah kita senantiasa berusaha memanjatkan syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat dan karunia-Nya. Sehingga sampai hari ini di akhir bulan Ramadan tahun ini, insyaAllah kita semuanya masih diberi keistiqamahan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.

Kita senantiasa berusaha sabar untuk menjalankan ketaatan kepada Allah, sabar dalam menjauhi seluruh larangan-larangan Allah Ta’ala, dan sabar dalam menghadapi apa-apa yang diujikan Allah kepada kita semuanya.

Menyikapi perselisihan dengan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah

Jamaah Jum’ah rahimakumullah, pada hari ini kita menghadapi perselisihan pendapat. Kita harus bisa menyikapinya dengan bijak, dengan senantiasa mengedepankan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman dalam melangkah di dalam masalah agama ini.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika hendak memulai salat, beliau biasanya menghadap kepada jamaah. Seolah-olah komandan pasukan benar-benar memperhatikan barisannya, lalu bersabda yang kurang lebih artinya:  

سَوُّوا صُفُوفَكُمْ، فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ تَمَامِ الصَّلَاةِ  

“Luruskan barisan kalian, karena meluruskan barisan termasuk kesempurnaan salat.” HR. Bukhari no. 723, Muslim no. 433

Beliau juga bersabda:  

لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ  

“Luruskan barisan kalian, rapatkan barisan kalian, jangan bengkok-bengkok dan jangan berselisih. Karena jika shaf kalian tidak rapat dan tidak lurus, Allah akan menjadikan hati kalian berselisih.” HR. Abu Dawud no. 662, dishahihkan Al-Albani

Ini pelajaran bagi kita semuanya, bahwa setiap Muslim harus menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai panutan satu-satunya. Ketika terjadi perselisihan, kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: 
 
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ  

“Maka jika kalian berselisih tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir.” QS. An-Nisa: 59

Melihat kepada dalil Al-Qur’an, melihat kepada hadis Rasulullah, dan menyerahkan perkara-perkara perselisihan untuk bisa diselesaikan oleh ulil amri, yaitu pemerintah kita.

Ikhlas: tidak mengharap balasan manusia

Jamaah rahimakumullah, tidak semua orang bisa berpikiran seperti itu. Tidak semua orang bisa mendapatkan hidayah untuk berpikir jernih. Agar kita bisa mendapatkan pemikiran yang jernih, salah satu caranya adalah kita harus mengikhlaskan ibadah kita.

Sedikit kami sampaikan faedahnya beragama secara ikhlas. Tidak ada tendensi politik, tidak ada tendensi organisasi, tidak ada tendensi pribadi, tidak ada tendensi mencari dunia. Yang ada hanya lillahi ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Insan:  

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا  

“Sesungguhnya kami memberi makan kepada kalian hanyalah untuk mengharapkan wajah Allah. Kami tidak menghendaki balasan dari kalian dan tidak pula ucapan terima kasih.” QS. Al-Insan: 9

Ini ciri makhluk yang ikhlas dalam beribadah. Syiar ikhlas kita dalam beribadah adalah seperti itu. Kita beribadah murni lillahi ta’ala, tidak mengharapkan balasan dari manusia, bahkan tidak mengharapkan ucapan terima kasih pun.

Kalau kita beramal lalu di dalam hati mengharapkan, “Kok orang ini tidak berterima kasih ya?”, ini mengurangi rasa keikhlasan kita. Allah mengajarkan: kami tidak mengharapkan balasan apapun dan juga tidak mengharapkan terima kasih. Cukup bagi kita terima kasih dari Allah Ta’ala. Balasan dari Allah Ta’ala itu lebih baik.

Menyembunyikan amal lebih utama

Makanya Allah Ta’ala memberi tuntunan kepada kita. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman: 
 
إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ  

“Jika kamu menampakkan sedekahmu maka itu baik. Akan tetapi jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu.” QS. Al-Baqarah: 271

Kita boleh kadang menyiarkan ibadah kita agar memberikan pelajaran kepada orang di sekeliling kita. Akan tetapi, kata Allah, kalau memang tidak ada kepentingan untuk menyiarkannya, lebih baik kita sembunyikan ibadah-ibadah kita. Khususnya untuk ibadah-ibadah sunnah.

Kita usahakan agar tersembunyi dari orang-orang. Ketika kita bersedekah, Rasulullah mengajarkan: kalau kita bersedekah dengan tangan kanan, tangan kiri kita tidak mengetahuinya. 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
 
وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ  

“Dan seorang laki-laki yang bersedekah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan tangan kanannya.” HR. Bukhari no. 1423, Muslim no. 1031

Agar supaya hati kita terjaga keikhlasannya. Karena dengan ikhlas ini nanti kita akan mendapatkan faedah yang sangat banyak.

Faedah pertama ikhlas: amal ringan menjadi berat di sisi Allah

Yang pertama kata para ulama, ketika kita mengamalkan segala sesuatu dengan ikhlas, amalan yang ringan bisa menjadi berat di sisi Allah Ta’ala.

Setiap kita beramal, kalau kita murni lillahi ta’ala, kalau kita benar-benar memurnikan niat kepada Allah, maka amalan yang ringan akan bernilai sangat besar di mata Allah.

Rasulullah senantiasa mengabarkan kepada kita:
  
الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ  

“Iman itu tujuh puluh sekian cabang. Yang paling tinggi adalah ucapan La ilaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan.” HR. Muslim no. 35

Amalannya sederhana: menghilangkan gangguan. Mungkin ada duri di jalan, ada batu di jalan, kita singkirkan. Kalau kita melakukannya dengan ikhlas lillahi ta’ala, akan berpahala sangat besar.

Bahkan kata Rasulullah:  

لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ  

“Jangan sekali-kali meremehkan perbuatan baik sedikitpun, meskipun hanya dengan berwajah ceria ketika bertemu dengan saudaramu.” HR. Muslim no. 2626

Amalan-amalan yang kelihatannya remeh, kalau kita lakukan dengan ikhlas lillahi ta’ala, akan berat timbangannya di sisi Allah Ta’ala.

Faedah kedua ikhlas: mudah mewujudkan cita-cita

Yang kedua di antara manfaat kita beribadah dengan ikhlas adalah mudah untuk mewujudkan cita-cita. Kadang ketika seorang itu gagal dalam kehidupan, rupanya itu biasanya karena tidak mengikhlaskan niatnya.

Misalnya ada seorang gagal dalam berumah tangga, itu biasanya karena dari awal dia membina rumah tangganya tidak dengan dasar keikhlasan. 

Ketika misalnya ada seorang mubaligh, di tengah jalan dia gagal, tidak bisa membawa jamaahnya, tidak bisa memberikan pengaruh yang positif di lingkungannya, kenapa? Sebabnya karena dari awal niatnya itu tidak lillahi ta’ala.

Dan sebagainya. Sangat banyak contoh yang bisa kita kemukakan.

Makanya, ikhlas ini kata para ulama, ketika kita berusaha ikhlas lillahi ta’ala dalam setiap tindak-tanduk kita, pasti akan diridhai oleh Allah Ta’ala. Dan ketika Allah sudah meridhai amalan-amalan kita, pasti Allah akan menjadikan semuanya mudah.

Apa yang kita cita-citakan akan dimudahkan oleh Allah.  
Allah berfirman:  

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ  

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” QS. At-Thalaq: 2-3

Akan tetapi itu semuanya harus dengan keyakinan. Agama ini harus dengan keyakinan. Beribadah ini harus dengan keyakinan. Termasuk kita pada hari ini. Yang yakin hari ini Idul Fitri silakan, yang yakinnya besok silakan. Itu semuanya akan dipertanggungjawabkan sendiri-sendiri.

Kita besok di Yaumul Kiamat akan menghadap Allah satu baris, satu demi satu, mempertanggungjawabkan apa yang sudah kita perbuat di dunia ini.

Ketika berani melakukan segala sesuatu, sekali lagi ikhlas lillahi ta’ala. Niatnya ikhlas lillahi ta’ala. Mau ber-Idul Fitri hari Jumat ikhlas lillahi ta’ala, mau hari Sabtu ikhlas lillahi ta’ala. Kita siapkan jawaban kita kepada Allah Ta’ala nanti. Apa jawaban panjenengan? Kenapa panjenengan mengikuti Jumat? Kenapa panjenengan mengikuti Sabtu? Semuanya akan dimintai satu persatu.

Jadi monggo, ini senantiasa kita mengikhlaskan segala macam ibadah yang kita lakukan.

Faedah ketiga ikhlas: doa mudah dikabulkan

Yang ketiga kata para ulama adalah membuat doa mudah dikabulkan.

Ada beberapa saudara, teman, ikhwan yang merasa: “Saya bangun masjid kok tidak rampung-rampung ya? Banyak kendala.”

Saya sampaikan saran: mungkin panjenengan harus lebih ikhlas dalam meniatkan awalnya. InsyaAllah, kalau ikhlasnya benar, Allah akan melihat niat kita. Allah akan mempermudah segala macam urusan.

Dan itu benar-benar bisa kita rasakan. Panjenengan mungkin bisa merasakannya sendiri. Ketika niat kita ikhlas dalam segala macam urusan, akan dimudahkan oleh Allah Ta’ala. Akan tetapi ketika niatnya tidak ikhlas lillahi ta’ala, dilalah akan ruwet segala sesuatunya. Ini yang harus kita jadikan pelajaran.

Jamaah rahimakumullah, ada beberapa lagi, tapi tiga faktor ini cukup untuk kita jadikan renungan. Agar kita melangkahkan agama ini dengan keyakinan yang mantap. Agama ini dibangun di atas keyakinan, tidak boleh kita beragama ragu-ragu. Termasuk terkait Idul Fitri, panjenengan tidak boleh ragu-ragu. Yang Jumat juga harus yakin, yang Sabtu juga harus yakin. Semuanya akan dimintai tanggung jawab masing-masing pribadi.

Jangan sampai kita menjadi orang yang ragu-ragu.  
Allah berfirman:  

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ  

“Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” QS. Al-Baqarah: 147

Kebenaran itu dari Allah. Tidak boleh ada manusia mengklaim benar sendiri. Kalau mau mengklaim benar sendiri, cocokkan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kalau sudah cocok dengan Al-Qur’an dan Sunnah, boleh dia klaim kebenaran. Karena Al-Haqqu min Rabbik, wa la takunanna minal mumtarin. Jangan sampai kita menjadi orang-orang yang ragu-ragu.

Mudah-mudahan kita semuanya dirahmati oleh Allah. 
 
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ  
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ مُبَارَكًا عَلَيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى  
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ  
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ  
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ أَمَّا بَعْدُ

Menjaga iman setelah Ramadan

Jamaah rahimakumullah,  
Sebenarnya kami pribadi, ketika memasuki akhir-akhir bulan Ramadan kadang merasa hampa, sedih. 

Ketika di bulan Ramadan, kaum muslimin hiruknya luar biasa, semangatnya luar biasa. Akan tetapi begitu memasuki bulan Syawal, semangat yang ada di bulan Ramadan biasanya pudar.

Kita, ketika beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, semestinya bisa menjaga iman kita. Iman seseorang itu kata Rasulullah naik dan turun. Ada masa semangat, ada masa malas.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
  
لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةٌ، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ، فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّتِي فَقَدِ اهْتَدَى، وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ  

“Setiap amal itu ada masa semangatnya, dan setiap masa semangat ada masa futurnya. Barangsiapa yang masa futurnya di atas sunnahku, maka dia telah mendapat petunjuk. Dan barangsiapa yang masa futurnya kepada selain itu, maka dia akan binasa.” HR. Ahmad no. 6471, dishahihkan Al-Albani

Apa yang bisa kita ambil pelajaran dari hadis yang mulia ini? Kita sebagai kaum muslimin harusnya menyadari bahwa iman kita kadang naik kadang turun. Ketika naik, alhamdulillah. Tapi ketika turun, panjenengan jaga. Jaga agar jangan sampai turunnya itu terlalu ke bawah. Ada batasan standar. Kita harus paham, ketika iman kita sedang turun, harus kita cepat-cepat perbaiki agar naik lagi.

Ketika kita sehabis Ramadan kok merasa turun, apalagi dipompa lagi, dimotivasi lagi, agar bisa minimal istiqamah. Walaupun kita tidak mungkin sanggup untuk istiqamah terus dalam beragama ini, kadang naik kadang turun itu manusiawi. Akan tetapi mudah-mudahan sehabis Ramadan ini kita masih menjaga keimanan kita semuanya.

Minimal masjid itu salat lima waktunya masih ramai. Mudah-mudahan Allah memberikan kita semuanya istiqamah, memberikan kita semuanya kemudahan dalam menjalankan ibadah kita kepada Allah Ta’ala.

Pada akhirnya, marilah kita memohon kepada Allah agar supaya Allah memudahkan segala macam urusan-urusan kita di dunia dan akhirat.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا  
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ  
اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ  
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ  
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ  
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا  
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ  
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ  

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ  
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ  
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Silsilah Keluarga Keturunan Eyang Mursyid Cikadu Lumbir

Silsilah Keluarga Keturuan Eyang Mahmud cikadu Lumbir

Referensi Silsilah Keluarga Cikadu Lumbir

Empat Jalur Penulis Silsilah Keluarga Cikadu Lumbir