Hikmah Qurban, Syiar Islam & Istiqomah
Sumber : Khutbah Idul Adha 1441 H
Ditulis ulang oleh: Admin
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا، أَمَّا بَعْدُ
فَإِنْ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
Jamaah Idul Adha rahimahkumullah.
Yang pertama-tama marilah kita senantiasa memanjatkan syukur kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Allahu Akbar. Yang sudah memberikan segala nikmat-Nya kepada kita semuanya, terutama nikmat keimanan, nikmat Islam, nikmat kesehatan kita.
Sehingga pada hari ini, hari yang sangat mulia di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, hari yang sangat membuat kita berbahagia. Kita masih bisa berkumpul, masih bisa beribadah kepada Allah dengan penuh tawadhu, dengan penuh kerendahan hati pada kesempatan yang berbahagia ini.
Ironi Umat: Menganggap Remeh Syiar Idul Adha
Kami akan sampaikan beberapa hikmah daripada ibadah kurban yang disyariatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
Dari zaman dahulu kala, kita di masyarakat secara umum menganggap remeh. Secara umum masyarakat kita menganggap kecil pelaksanaan salat Idul Adha. Sehingga sangat banyak di kalangan kita umat Islam, atau umat Muslim secara keseluruhan, tidak menganggap bahwa ini adalah hari raya. Kita tidak menganggap bahwa hari ini adalah syiar agama Allah ta’ala yang harus senantiasa kita agungkan agar supaya tetap eksis di tengah-tengah kita.
Ya ma rahimahkumullah, berapa banyak dari kita yang mengaku beragama Islam akan tetapi mereka tidak mau mengagungkan syiar Allah pada saat Idul Kurban. Sehingga mereka merasa tidak perlu untuk melaksanakan salat Idul Adha, barangkali apalagi untuk ikut menyembelih hewan kurban.
Berapa banyak dari kita yang sebenarnya hanya punya sangat kemampuan, yang mungkin akan tetapi tidak mau menjalankan ibadah kurban.
Kita sadar, kita semuanya paham. Untuk saat hari ini saya yakin, terutama di daerah Lumbir, di kecamatan Lumbir insyaallah sekitar lima puluh persen semestinya sudah mampu untuk berkurban. Akan tetapi pada kenyataannya berapa persen? Antum punya pendengaran bisa, eh apa hitung sendiri. Ini menandakan bahwasanya masyarakat Muslim kita sangat kurang kesadarannya dalam mengagungkan syiar-syiar agama Allah.
Hakikat Kurban: Yang Sampai Hanya Takwa
Untuk itu mari kita mencoba mengeksplorasi: sebenarnya kenapa Allah subhanahu wa ta’ala mensyariatkan ibadah kurban kepada kita semuanya?
Daging-daging kurban dan darah hewan kurban, akan tetapi yang sampai kepada Allah adalah ketakwaan kalian.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj: 37)
Hikmah Pertama: Mengukur Besar Ketakwaan
Hikmah yang pertama disyariatkannya ibadah kurban adalah untuk mengukur seberapa besar ketakwaan kita kepada Allah ta’ala.
Allah tidak melihat besarnya hewan kurban. Allah tidak melihat besarnya, berapa panjangnya untuk mengeluarkan harta untuk berkorban. Yang dilihat adalah ketakwaan kita, seberapa patuh kita kepada aturan agama Allah ta’ala. Itu yang dilihat oleh Allah: keikhlasan kita di dalam menjalankan aturan agama. Allah itu yang dilihat oleh Allah.
Tidak ada gunanya kita ikut berkurban dengan dasar riya, dengan dasar pamer, dengan dasar karena hanya mengikuti kebiasaan. Tidak ada gunanya. Yang dilihat oleh Allah hati kita. Hati kita dilihat oleh Allah.
Wa ta’ala yang sudah memberikan kita kehidupan hayat. Allah yang sudah menciptakan yang hidup dan yang mati agar diuji oleh Allah siapa dari kalian yang terbaik amalnya.
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)
Kita diberikan kehidupan oleh Allah untuk diuji siapa di antara kita yang terbaik amalnya, bukan yang terbanyak hartanya, bukan yang tertinggi pangkatnya. Sama sekali tidak. Kita diuji oleh Allah sesuai dengan kesanggupan kita, yang paling kecil.
Tanggung Jawab Sesuai Jabatan
Sebagai kepala keluarga kita diuji oleh Allah dengan hal tersebut. Sebagai kepala RT misalnya diuji dengan hal tersebut, begitu selanjutnya ke atas. Semakin tinggi jabatan kita, semakin besar tanggung jawab, semakin besar pahala, sekaligus semakin besar dosa kita.
Itulah Allah-lah yang menciptakan kehidupan dan kematian agar supaya kita diuji siapa di antara kita yang terbaik amalnya, bukan terbanyak hartanya. Kehidupan dan kematian adalah milik Allah ta’ala.
Mengingat Kematian Saat Berkurban
Ketika kita menyembelih hewan kurban, kita harus ingat bahwasanya kematian itu ada di depan mata kita. Kematian senantiasa mengejar-ngejar kita. Bisa jadi kita nanti pulang ke rumah, kematian menjemput kita.
Mau kapan lagi kita akan beribadah kepada Allah, tunduk patuh kepada Allah, kalau bukan sekarang mumpung kita masih diberi kehidupan oleh Allah ta’ala?
Menghidupkan Syiar Islam
Allahu Akbar Allahu Akbar walillahil hamd. Jamaah yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
Hikmah berikutnya dari syariat agama Allah yaitu berkurban adalah dalam rangka menghidupkan syiar agama Allah, dalam rangka untuk senantiasa membuat agama Islam ini semakin besar.
Walaupun saya tegaskan: walaupun tanpa kita, dengan beribadah kepada Allah, Allah tetap Maha Besar. Walaupun semua manusia di dunia tidak beribadah kepada Allah, tidak mengurangi kebesaran agama Allah, tidak mengurangi kebesaran zat Allah subhanahu wa ta’ala.
Kita yang membutuhkan untuk beribadah kepada Allah. Sementara Allah tidak butuh ibadah kita. Allah tidak butuh sapi-sapi, tidak butuh kita. Kita yang membutuhkan rahmat dan kasih sayang Allah.
Syiar agama ini harus senantiasa kita tegakkan. Salah satunya adalah ibadah kurban. Bukan hanya itu, syiar-syiar yang lain harus kita tegakkan.
Salah satu syiar agama Islam yang penting untuk kita senantiasa tegakkan adalah salat berjamaah di masjid. Itu syiar yang paling besar dalam agama ini. Kalau Idul Adha, Idul Fitri ibadah tahunan, sedangkan salat jamaah lima waktu itu syiar harian yang harus kita tegakkan.
Agama ini bisa tegak ketika manusia masih mendirikan salat berjamaah. Tetapi ketika masyarakat Muslim masih tidak mau untuk salat berjamaah di masjid, syiar agama Allah akan pudar di daerah tersebut. Ketika syiar agama Allah pudar, hilanglah sedikit demi sedikit Islam dari lingkungan kita.
Mengingat Ujian Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam
Hikmah berikutnya adalah dengan disyariatkannya ibadah kurban ini kita ingat kilas balik dengan sejarah Nabi Ibrahim yang diuji oleh Allah dengan ujian yang demikian berat: diperintah oleh Allah untuk menyembelih putranya sendiri. Ujian mana yang lebih berat daripada itu?
Akan tetapi berkat kesabaran, berkat ketakwaannya kepada Allah ta’ala, maka ujian cobaan kepada Nabi Ibrahim berakhir dengan diberikannya ganti oleh Allah ta’ala.
Apa yang bisa kita pelajari dari hal ini: seberat apapun cobaan yang kita hadapi, kalau kita menghadapinya dengan benar, dengan tetap berpegang teguh kepada aturan agama Allah, kita akan memperoleh hasil yang pasti manis.
Hikmah Musibah Pandemi
Kita sedang menghadapi musibah yang besar: musibah penyakit pandemi yang disebabkan oleh virus. Virus adalah ciptaan Allah ta’ala dan Allah tidaklah menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia.
Maaf, Allah tidak menciptakan virus Corona dengan sia-sia. Semuanya ada hikmahnya, agar supaya kita semakin tunduk kepada Allah ta’ala. Betapa kekuasaan Allah sangat besar, hanya dengan binatang yang super kecil di dunia, kacau balau. Panjenengan tidak bisa apa-apa. Bisa apa manusia? Bisa apa sapi yang demikian besar? Saya ditundukkan oleh Allah. Langit yang semua dibikin luas, ditundukkan oleh Allah.
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي الْأَرْضِ
“Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah telah menundukkan untukmu apa yang ada di bumi. (QS. Al-Hajj: 65)
Antum asadul kholqul amin samawatin. Apakah manusia menganggap kalian semua menganggap bahwa kalian itu lebih besar daripada langit? Padahal Allah meliputi langit. Langit bertasbih menyembah kepada Allah.
Sementara panjenengan sombong manusia. Sombong tidak mau menyembah kepada Allah. Merasa dirinya lebih besar dari langit, lebih besar daripada matahari.
جماعة رحمكم الله تبارك وتعالى ماها رحمن ماها رحيم ماها غفور
Maha pengampun. Maha penyayang kepada kita semuanya. Kalaulah Allah tidak sayang kepada kita, sudah pasti kita dibiarkan saja, biarkan terserah mau ngapain.
Hanya karena Allah kasihan kepada kita, sayang kepada kita sehingga ditunjukkan jalan yang benar.
Penutup: Istiqomah & Doa
Tugas kita manusia: kami dengar, kami taat. Ketika kita jalani dengan halus insyaallah, seluruh ujian yang kita hadapi, kita akan lalui dan suatu saat nanti kita akan keluar dari ujian ini dengan kemenangan insya Allah ta’ala.
Allahu Akbar Allahu Akbar.
La ilaha illallah Allahu Akbar.
Allahu Akbar walillahil hamd.
Jemaah Idul Adha yang dirahmati oleh Allah, pada akhirnya marilah kita senantiasa meningkatkan motivasi diri kita sendiri untuk bisa senantiasa istiqomah menjalankan syariat agama Islam ini.
Kita diperintah oleh Allah untuk masuk ke dalam agama ini secara kaffah, secara keseluruhan. Jangan se-demil-demil kata orang Cikadu. Kita masuk ke dalam agama ini secara kaffah secara keseluruhan. Kita berislam di seluruh aspek kehidupan kita, dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi kita Islam.
Agar supaya diridhoi oleh Allah ta’ala, agar supaya kita dimasukkan ke dalam surga-Nya Allah ta’ala. Pada akhirnya marilah kita memohon kepada Allah agar supaya kita semuanya senantiasa diberi kemudahan oleh Allah subhanahu wa ta’ala di dalam menjalankan segala kehidupan kita, aktivitas kita. Agar supaya kita senantiasa diberi keimanan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, senantiasa ditingkatkan ketakwaan kepada Allah ta’ala.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْدًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ
مُبَارَكًا عَلَيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضٰى
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا
إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
اَللّٰهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ
وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا أَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
Transkrip : Khutbah Idul Adha 1441 H
Pembicara Ustadz : Sri Kusdiyono
Ditulis Ulang oleh : Admin

Komentar
Posting Komentar